
Naira selalu menolak Okan, karena ia memang tidak suka lelaki yang bersikap dingin. Semakin ia menolak semalin Okan mengejarnya, Okan bagai terkena karma cinta, dulu Naira sangat di benci dan dijauhkan sama Okan, tetapi kali ini Okan yang di acuhkan.
Saat Naira memantau renovasi gedung untuk panti tersebut, Okan di sana terlebih dulu.
“Apa lagi yang dia inginkan sih, kemarin aku sudah bilang tidak mau di masih datang,” gumam Naira melihat Okan yang sedang duduk di kursi di bawah pohon.
“Aku datang lagi Nai, kali ini dengan kepakatan yang berbeda, kalau begitu bagaimana kalau kita menikah tidak ada surat perjanjian yang perlu kamu tanda tangani” Okan menatap serius.
“Aku sudah bilang berapa kali Pak Okan, saya tidak ingin menikah dengan bapak baik hanya sebatas kontrak atau hanya rasa kasihan, bapak minta tolong sama orang lain saja,"pungkas Naira.
“Astaga Nai, kamu keras kapala bangat, masa kamu tidak ada rasa suka padaku sedikitpun”
“Perasaan tidak bisa dipaksa Pak Okan”
“Begini …. Ibu suka dengan kamu, ibu senang kamu jadi menantu di rumah, Chelia juga kamu sudah kenal”
“Lalu?”
“Ya, jika benaran kamu tidak suka denganku, kan, ada mereka”
“Maaf aku tidak bisa,” ujar Chelia menolak.
Tunangan Okan meminta balikkan lagi pada Okan bahkan ia membawa keluarganya ke rumah Okan, untuk memperbaiki hubungan mereka kembali.
Giovani akhirnya setuju menikah, tetapi entah apa yang dipikirkan Okan ia menolak mantan kekasihnya.
Okan memang sangat keras, kalau ia merasa sudah di sakiti, ia tidak akan mau memaafkannya. Karena mantan kekasihnya terus menerus menganggunya ia meminta Naira untuk menikah dengan saat itu juga.
Namun permintaan itu di tolak mentah-mentah sama Naira, ia tidak ingin terlibat.
Tetapi semakin di tolak Okan semakin mengejarnya.
“Ayolah Nai … katanya kamu sudah memaafkan aku, tapi kenapa tidak mau membantu?” Tanya Okan.
“Saya tidak bisa Pak, saya minta maaf,” ujar Naira. Ia meninggalkan Okan di lokasi proyek sementara ia pergi.
“Keras kepala bangat wanita ini,” ujar Okan menatap Naira.
Naira seperti biasa ia membantu adik-adik panti mengumpulkan botol-botol bekas dari setiap restoran dan cafe.
Anaka-anak pantai itu sudah terbiasa mencari tambahan untuk mereka dan Naira juga terkadang ikut mengumpulkan barang barang bekas, baru saja ia memarkirkan mobilnya dan menghampiri adik-adiknya di tempat biasa.
“Kakak lama, kami sudah lapar ,” ujar salah seorang dari adik panti.
“Maaf iya, tadi kerjaan kakak banyak, ayo kita makan dulu.” Naira mengajak mereka untuk makan.
“Jadi lu gembel …!?”
Suara itu mengagetkan Naira seorang gadis cantik berdiri di belakangnya.
“ Gioavani?”
“Iya ini gue … gara-gara lu gembel hidup gue susah”
Tidak ingin adik-adik itu mendengar mereka bertengkar, Naira meminta mereka pergi makan duluan.
__ADS_1
“Nanti, kakak menyusul pergilah duluan”
“Baik Kak”
Setelah anak-anak malang itu pergi, Naira menatap tajam pada Giovani, Naira wanita yang berani.
“Ada apa?” Tanya Naira.
“Harusnya gue yang bertanya sama lu, ada hubungan u sama Okan”
“Saya tidak mau ikut campur urusan kalian berdua, tanya saja sama Okan”
“Justru dia tidak mau katakan, makanya gue bertanya ama Lu!”
“Okan saja tidak mau bicara sama kamu apa lagi saya,” ujar Naira santai.
“Lu tidak ada sopannya orang lagi bicara ditinggal pergi." Wanita itu marah.
“Saya akan sopan jika anda sopan’
“Kam-”
“Apa yang kamu lakukan?” Okan datang.
“Nah … ini orangnya datang kalau ingin tahu, tanya saja sama Pak Okan,” ujar Naira.
Ia meninggalkan Okan dan Naira, ia menemui anak-anak itu di warung makan.
“Kenapa … harus dia?” Tanya Giovani marah.
“Aku tidak mau”
“Itu urusan kamu,” ujar Okan ingin menghampiri Naira.
Tetapi tangannya di tahan Giovani.
“Apa kamu yakin meninggalkanku?”
“Ya, pergilah kembali ke Jerman,” ujar Okan meninggalkan wanita yang pernah megisi ruang hatinya.
Tetapi kali ini, tempat di hati Okan sudah tidak ada lagi mantan kekasihnya, ia hanya ingin Naira, wanita yang pernah ia hina dan ia kucilkan.
“Nai!Tunggu sebentar,” panggil Okan.
Wanita bertubuh tinggi itu memasukkan karung hasil mulung asik-adiknya ke bagasi ke belakang.
“Ada apa Pak Okan?”
“Nai … apapun yang dikatakan Giovani tolong jangan diambil hati, dia hanya marah padaku”
“Oh … tidak apa-apa Pak Okan, itu hal biasa, sebaiknya bicarakan dengan baik-baik,” ucap Naira dengan santai.
“Kamu mau kemana?”
“Saya mau pulang Pak Okan, memangnya mau kemana lagi?”Naira kesal.
__ADS_1
“Nai … ayolah aku sudah mengejarmu selama beberapa minggu inj, masa kamu tidak memberiku kesempatan, aku hanya mengajak kamu jalan, apa itu berat bagimu?”
‘Maaf Okan aku bukanya egois, tetapi lihat diriku saat ini, aku hanyalah seorang gadis pemulung, apa kata teman-temanmu nanti’
“Aku tidak punya waktu,” balas Naira dan ia masuk ke salam mobil dan pergi.
Meninggalkan Okan yang masih berdiri di depan super market.
*
Saat tiba di pantai, ibu panti kembali menjodohkannya pada lelaki pilihannya.
“Bu … kenapa selalu menjodohkanku aku bisa memilih lelaki yang baik yang jadi suamiku”
“Ibu tidak mau nasipmu seperti ibu, menua tanpa menikah, saat kita tua tidak ada keluarga itu menyatikatkan Nai”
“Aku masih ingin sama Ibu dan anak- anak panti ini”
“Jika kamu menikah nanti akan ada temanmu bertukar pikiran dan kalian bisa bersama- sama”
“Bu, aku belum ada niat untuk menikah, tolong jangan menjodohkan aku lagi, aku malu,” ujar Naira.
“IBu hanya mengingat pesan almarhum ibumu yang berpesan agar aku menjagamu sampai menikah, ibu tidak punya waktu lagi, ibu hanya ingin melihatmu menikah. Kamu bawa paca ke rumah, Ibu sudah senang”
“Baiklah Bu, nanti aku akan bawa,” ujar Naira tanpa berpikir panjang karena ia belum punya kekasih.
Ia berangkat kerja.
“Ada apa muka lecet bangat,” ujar Jordan mereka bertemu di proyek renovasi genung senam tersebut.
“Aku pusing, ibu panti selalu memaksaku menikah”
“Aku malah ingin cepat-cepat menikah, setidaknya punya kekasih deh, aku pusing sama mami yang selalu menginginkan Chelia jadi menantunya. "Jordan juga curhat.
“Bagaimana kalau kita menikah saja Jo,” ujar Naira bercanda.
“Ayo,” balas Jordan.
Naira tertawa ngakak, ia berpikir Jordan percaya, tetapi melihat wajah Jordan yang serius, tawa Naira berhenti seketika menatap Jordan dengan serius, lalu ia bertanya;
“Kamu hanya bercanda kan?”
“Tidak … aku serius, Nai.”
“Haaa … Jordan! Kita sahabat, kita teman sudah lama ….” Naira kaget.
“Karena itu Nai, jika kita menikah kita sudah kenal satu sama lain. Bagaimana?"
Jordan mengajak Naira menikah apa berhasil?
Bersambung.
Bantu like dan komen, bantu share juga karya ini.
Terimakasih
__ADS_1