Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Cuaca Dingin Bikin Nagih


__ADS_3

Setelah  menjelajahi berbagai kota wisata  seperti yang ibunya pernah  lakukan, Hara akhirnya merasa sangat  bahagia. Bisa melakukan perjalanan seperti yang ibunya lakukan,  ia juga menyandingkan foto sang ibu dan fotonya.


Saat ibunya berpose dengan  beberapa teman-temannya, Hara  bersama dengan pasangan hidupnya.


Satu minggu mereka di Negara Norwegia.


“Menang aku donk Bu,” ujar Hara saat ia  meletakkan foto ibunya di samping foto  dirinya dan Leon.


“Kok, menang kamu, maksudnya ?” Tanya Leon.


“Ibu berfoto dengan teman-temannya sedangkan aku berpose dengan suamiku,” ujar Hara.



Leon tidur telungkup di kasur seluruh tubuhnya  ditutupi selimut, hanya menyisakan kepala.  Mulutnya tidak berhenti mengemil. Lalu duduk menyadarkan siku tangan di bantal.


“Hai Bos...! Kamu gak salah ... dari tadi kamu mengemil terus?"


“Dingin, bawaannya ingin makan terus,” ujar Leon.


“Kamu tidak takut pulang dari sini nanti timbangan naik drastis?"


“Tidak, justru seksi kalau gemuk,." Leon tersenyum.


“Ayo , keluar  dari kamar biar badannya bergerak, biar jangan makan terus di ranjang,” protes Hara.


Leon  menggeleng, ia enggan keluar dari kamar hotel walau tungku pemanas sudah dinyalakan, tetapi tubuh Leon  belum terbiasa menerima dinginnya cuaca di kota tersebut.


“Hara,  ayo kita pulang, aku tidak tahan dengan  dingin udara di sini,” ujar Leon bahkan ia tidak mau mandi beberapa hari.


Mereka berangkat di pertengahan bulan Desember  suhu udara semakin dingin, tiap hari puncak salju  di negara Eropa bulan Desember.


“Sebentar saja ayo! Kita main  seluncur salju," bujuk Hara.


“Salju ….? Oh tidak Hara. Tidak aku akan membeku nanti." Leon menolak.


“Iya sudah aku sama Kak Ken sama Bram iya, kamu di sini saja."


Tidak ingin istrinya dilirik bule-bule tampan, Leon dengan berat hati mau.  Bahkan pakaian yang ia pakai  semua serba tiga lapis, ia hanya duduk  mengawasi Hara main skating dengan Ken dan Bram. Leon ternyata tidak suka udara dingin apalagi salju.


Ia hanya duduk menghabiskan  beberapa gelas kopi panas dan beberapa cemilan sembari melihat istri memuaskan keinginannnya.


Ia sedikit lega karena ada Bram dan Ken yang menjaga Hara.


“Non …! Bos kayak ikan bandeng  gak berhenti mengunyah ,” ujar Bram tertawa.


“Gak tahu tuh  bosmu ... di kamar juga  dia ngemil mulu. Aku  yang malah capek melihat mulutnya ngunyah terus ,” ujar Hara, ikut tertawa. “Untung kalian berdua ikut ada teman bermain."


“Bos itu tidak suka udara yang terlalu dingin Non. Dari dulu saat dia China sama di jepang juga, saat turun salju di sana, dia akan pulang ke Jakarta,” ujar Ken.


“Benarkah?” Hara terdiam.


“Bos itu alergi udara  yang terlalu dingin, telapaknya akan bintik-bintik merah jika  berada di salju,” ujar Ken.


“Kok dia gak pernah bilang samaku?” ujar Hara.


“Mungkin bos  tidak ingin mengecewakanmu  Non,” ujar Ken.

__ADS_1


“Oh … pantas saja. Aku udahan saja, kalian dua teruskan iya, nanti kalau puas  baru kembali ke hotel,” ujar Hara ia kembali pada Leon.


“Uda?” Tanya Leon saat  Hara meninggalkan area seluncuran.


“Susah dingin , ayo kita kembali ke hotel." Hara menggenggam telapak tangan suaminya.


“Baguslah, ayo, aku ingin ngompol celana saking dinginnya di luar." menggigil.


Hara tertawa mendengar suaminya ingin mengompol.


Mereka berdua berjalan menuju hotel, sementara Ken dan Bram masih  memuaskan diri  bermain.


Hara menggenggam  tangan Leon  sampai di hotel, ia membuka  sarung tangan Leon yang di dobel sampai beberapa lapis.


Benar kata Ken tangan Leon ada bintik- bintik kecil seperti gigitan nyamuk.


“Apa ini?” Tanya  meraba telapak tangan Leon.


“Aku akan seperti itu kalau  musin salju ,” ujar Leon jujur.


“Kok kamu gak bilang? Hara menatapnya dengan wajah sedih .


“Tidak apa-apa. Hanya  bintik-bintik merah tidak sakit nanti juga akan pulih sendiri, kalau kita   meninggalkan kota ini.”


“Kita akan pulang tapi aku ingin mengunjungi   beberapa tempat lagi kastil suku Viking,” ujar Hara.


“Peninggalannya ?”


“Iya tahu kan sejarah suku Viking dalam sejarah di sebut suku perompak.”


“Viking Bandung?” Tanya Leon lagi.



“Oh Film The Viking sutman? " Tanya Leon.


" Iya" Hara mengangguk.


“Apa kita boleh mengunjungi beberapa kastil lagi, habis itu kita akan pulang. " Hara memelas.


“Baiklah,” ujar Leon, lagi-lagi ia mengalah, ia paling tidak bisa menolak keinginan Hara.


“Apa ibumu juga datang ke castil-castil itu?" Tanya Leon penasaran.


“Tidak, kalau ini keinginanku sendiri, aku ingin melukisnya nanti,” ujar Hara.


“Baiklah" Leon setuju.


Hara melompat tiba-tiba melingkarkan tangannya dileher suaminya. Tubuh Leon mundur beberapa langkah hilang keseimbangan, lalu tubuhnya, terhempas kebelakang, untungnya jatuh ke ranjang.



“Aduh Hara …. Kamu  membuat pinggangku patah,” keluh Leon memegang pinggangnya.


“Aku hanya melompat pelan,  kamu tidak bertenaga. Apa salju itu juga membuat tubuhmu  tidak bertenaga?” Tanya Hara menduduki perut suaminya.


“Iya dingin membuatku lemah,” ujar Leon.

__ADS_1


“Wah …. padahal aku mau mengajakmu main kuda-kudaan empat ronde makanya mengajakmu masuk ke hotel,” ujar Hara, ia hanya bercanda.


“Benar Iya ….?” Leon langsung menanggapinya dengan serius. Ia membalikan tubuh istrinya  jadi posisi di dibawah.



“Kamu mah …! Gak bisa diajak bercanda .... Tadi malam kan sudah,” ujar Hara tertawa.


“Kan, kita lagi kerja keras untuk mencetak anak,” ujar Leon melepaskan  pakaian Hara dengan cepat, lalu tangannya menekan remote pemanas ruangan.


“Tapi tidak setiap  malam juga kaliii … !" Teriak Hara meras geli saat Leon mengigit pusarnya, bukannya  romantis Hara malah ngakak, karena Leon tidak mau melepaskan jaket yang ia pakai.


“Jangan tertawa aku lagi ***** ini." Leon memberi kecupan di mana-mana. Tetapi Hara tidak berhenti tertawa melihat ulah sang suami  pakaian bawahnya di buka, tetapi jaket tebal  bagian atas tidak di lepas.


“Kamu membuatku geli .... Kamu seperti orang-orangan sawah,” ujar Hara, ia terus saja tertawa.


“Hara aku kedinginan,” keluh Leon tetapi tidak menghentikan aktivitasnya, memberi banyak tanda merah menyala di dada dan leher sang istri dan menanggalkan pakaian istrinya semuanya.


“Aku tidak mau gaya beginian ....Ini membuatku kehilangan selera." Hara menarik selimut menutupi  tubuh polos itu.


“Begini saja … ini gaya baru,” ujar Leon menarik selimut yang menutupi tubuh polos istrinya lagi.


“Aku geli, bagaimana kamu  melakukannya saat kamu berpakaian seperti itu? itu tidak adil .... Aku lepas pakaian semua. Namun, kamu masih mengenakan pakaian,” ujar Hara masih saja tertawa  terpingkal-pingkal ....


Karena jaket yang di pakai Leon, jaket bulu.  Sementara, ia melepaskan  semua celananya tetapi atasnya tetap pakai jaket bulu-bulu . “Kamu terlihat seperti beruang  coklat."


“Tidak apa-apa yang penting kan pedangnya kelihatan yang mau dimasukkan pedangnya  bukan badannya,” ujar Leon lagi, ia memegang tongkat miliknya.


“Leon kamu membuatku geli ….! Kamu  niat bangat sih,  udah gak usah,” ujar Hara menarik selimut.


“Uda diam. Sini aku masukkin "Leon menahan selimut.


Hara masih saja tertawa melihat ulah suami yang takut kedinginan, Namun menginginkan aktivitas tubuh yang hot. Leon masuk ke dalam selimut, Hara masih tertawa geli. Lalu Leon  melakukannya sendiri, ia membuka  sela kaki istrinya  dan memasukkan  pedang miliknya.


Tidak ada lagi istilah foreplay ini langsung afterplay ….


 Melakukan beberapa dorongan, Hara akhirnya berhenti tertawa, saat ada rasa yang  nikmat di bagian tubuhnya,  saat  cuaca dingin keinginan untuk menyatukan tubuh  sering kali lebih  kuat.  Memberi  beberapa hentakan, Leon akhirnya melepaskan jaket bulu yang ia pakai, karena aliran hawa panas mengalir dari tubuhnya.


“Ganti posisi iya, Woman on top” ujar Leon.


Mereka berdua melakukan gaya Woman on top, di mana dalam aktivitas ini. Hara yang lebih menguasai banyak permainan dan lebih banyak bergerak.


Leon mendapatkan puncak kenikmatan duluan, sementara Hara menyusul. Akhirnya suara mereka berdua mengerang panjang. Hara  bermandikan keringat, kali ini, ia  yang lebih capek,  Hara  merebahkan tubuhnya di samping Leon.


“Aku capek … Bos,” ujarnya memeluk tubuh Leon.



Leon mengecup keningnya sebagai ucapan terimakasih atas kenikmatan yang di berikan  istrinya. Leon kembali menarik selimut dan meringkuk, bahkan untuk membersihkan diri, ia hanya melakukannya sebentar, lalu melompat lagi atas ranjang. Udara semakin dingin karena salju semakin tebal .


Leon bekerja keras  mencetak anak dengan Hara.  Hampir tiap saat,  ia minta jatah karena cuaca dingin yang mendukung.


Bersambung


Jangann lupa vote dan like Iy kak biar authornya semakin semangat. Bantu fomosikan juga boleh iya kakak. Agar pembaca semakin meningkat.


Terimakasih untuk kakak @syalala dan Leksi Anastasia, @JUNA,@Ika wati yang selalu memberiku hadiah tambahkan berupa koin.

__ADS_1


I LOVE FULL UNTUK KALIAN SEMUA PARA PEMBACA KESAYANGAN. SEHAT SELALU YA SEMUA.


__ADS_2