
Setelah menjelajahi berbagai kota wisata seperti yang ibunya pernah lakukan, Hara akhirnya merasa sangat bahagia. Bisa melakukan perjalanan seperti yang ibunya lakukan, ia juga menyandingkan foto sang ibu dan fotonya.
Saat ibunya berpose dengan beberapa teman-temannya, Hara bersama dengan pasangan hidupnya.
Satu minggu mereka di Negara Norwegia.
“Menang aku donk Bu,” ujar Hara saat ia meletakkan foto ibunya di samping foto dirinya dan Leon.
“Kok, menang kamu, maksudnya ?” Tanya Leon.
“Ibu berfoto dengan teman-temannya sedangkan aku berpose dengan suamiku,” ujar Hara.
Leon tidur telungkup di kasur seluruh tubuhnya ditutupi selimut, hanya menyisakan kepala. Mulutnya tidak berhenti mengemil. Lalu duduk menyadarkan siku tangan di bantal.
“Hai Bos...! Kamu gak salah ... dari tadi kamu mengemil terus?"
“Dingin, bawaannya ingin makan terus,” ujar Leon.
“Kamu tidak takut pulang dari sini nanti timbangan naik drastis?"
“Tidak, justru seksi kalau gemuk,." Leon tersenyum.
“Ayo , keluar dari kamar biar badannya bergerak, biar jangan makan terus di ranjang,” protes Hara.
Leon menggeleng, ia enggan keluar dari kamar hotel walau tungku pemanas sudah dinyalakan, tetapi tubuh Leon belum terbiasa menerima dinginnya cuaca di kota tersebut.
“Hara, ayo kita pulang, aku tidak tahan dengan dingin udara di sini,” ujar Leon bahkan ia tidak mau mandi beberapa hari.
Mereka berangkat di pertengahan bulan Desember suhu udara semakin dingin, tiap hari puncak salju di negara Eropa bulan Desember.
“Sebentar saja ayo! Kita main seluncur salju," bujuk Hara.
“Salju ….? Oh tidak Hara. Tidak aku akan membeku nanti." Leon menolak.
“Iya sudah aku sama Kak Ken sama Bram iya, kamu di sini saja."
Tidak ingin istrinya dilirik bule-bule tampan, Leon dengan berat hati mau. Bahkan pakaian yang ia pakai semua serba tiga lapis, ia hanya duduk mengawasi Hara main skating dengan Ken dan Bram. Leon ternyata tidak suka udara dingin apalagi salju.
Ia hanya duduk menghabiskan beberapa gelas kopi panas dan beberapa cemilan sembari melihat istri memuaskan keinginannnya.
Ia sedikit lega karena ada Bram dan Ken yang menjaga Hara.
“Non …! Bos kayak ikan bandeng gak berhenti mengunyah ,” ujar Bram tertawa.
“Gak tahu tuh bosmu ... di kamar juga dia ngemil mulu. Aku yang malah capek melihat mulutnya ngunyah terus ,” ujar Hara, ikut tertawa. “Untung kalian berdua ikut ada teman bermain."
“Bos itu tidak suka udara yang terlalu dingin Non. Dari dulu saat dia China sama di jepang juga, saat turun salju di sana, dia akan pulang ke Jakarta,” ujar Ken.
“Benarkah?” Hara terdiam.
“Bos itu alergi udara yang terlalu dingin, telapaknya akan bintik-bintik merah jika berada di salju,” ujar Ken.
“Kok dia gak pernah bilang samaku?” ujar Hara.
“Mungkin bos tidak ingin mengecewakanmu Non,” ujar Ken.
__ADS_1
“Oh … pantas saja. Aku udahan saja, kalian dua teruskan iya, nanti kalau puas baru kembali ke hotel,” ujar Hara ia kembali pada Leon.
“Uda?” Tanya Leon saat Hara meninggalkan area seluncuran.
“Susah dingin , ayo kita kembali ke hotel." Hara menggenggam telapak tangan suaminya.
“Baguslah, ayo, aku ingin ngompol celana saking dinginnya di luar." menggigil.
Hara tertawa mendengar suaminya ingin mengompol.
Mereka berdua berjalan menuju hotel, sementara Ken dan Bram masih memuaskan diri bermain.
Hara menggenggam tangan Leon sampai di hotel, ia membuka sarung tangan Leon yang di dobel sampai beberapa lapis.
Benar kata Ken tangan Leon ada bintik- bintik kecil seperti gigitan nyamuk.
“Apa ini?” Tanya meraba telapak tangan Leon.
“Aku akan seperti itu kalau musin salju ,” ujar Leon jujur.
“Kok kamu gak bilang? Hara menatapnya dengan wajah sedih .
“Tidak apa-apa. Hanya bintik-bintik merah tidak sakit nanti juga akan pulih sendiri, kalau kita meninggalkan kota ini.”
“Kita akan pulang tapi aku ingin mengunjungi beberapa tempat lagi kastil suku Viking,” ujar Hara.
“Peninggalannya ?”
“Iya tahu kan sejarah suku Viking dalam sejarah di sebut suku perompak.”
“Viking Bandung?” Tanya Leon lagi.
“Oh Film The Viking sutman? " Tanya Leon.
" Iya" Hara mengangguk.
“Apa kita boleh mengunjungi beberapa kastil lagi, habis itu kita akan pulang. " Hara memelas.
“Baiklah,” ujar Leon, lagi-lagi ia mengalah, ia paling tidak bisa menolak keinginan Hara.
“Apa ibumu juga datang ke castil-castil itu?" Tanya Leon penasaran.
“Tidak, kalau ini keinginanku sendiri, aku ingin melukisnya nanti,” ujar Hara.
“Baiklah" Leon setuju.
Hara melompat tiba-tiba melingkarkan tangannya dileher suaminya. Tubuh Leon mundur beberapa langkah hilang keseimbangan, lalu tubuhnya, terhempas kebelakang, untungnya jatuh ke ranjang.
“Aduh Hara …. Kamu membuat pinggangku patah,” keluh Leon memegang pinggangnya.
“Aku hanya melompat pelan, kamu tidak bertenaga. Apa salju itu juga membuat tubuhmu tidak bertenaga?” Tanya Hara menduduki perut suaminya.
“Iya dingin membuatku lemah,” ujar Leon.
__ADS_1
“Wah …. padahal aku mau mengajakmu main kuda-kudaan empat ronde makanya mengajakmu masuk ke hotel,” ujar Hara, ia hanya bercanda.
“Benar Iya ….?” Leon langsung menanggapinya dengan serius. Ia membalikan tubuh istrinya jadi posisi di dibawah.
“Kamu mah …! Gak bisa diajak bercanda .... Tadi malam kan sudah,” ujar Hara tertawa.
“Kan, kita lagi kerja keras untuk mencetak anak,” ujar Leon melepaskan pakaian Hara dengan cepat, lalu tangannya menekan remote pemanas ruangan.
“Tapi tidak setiap malam juga kaliii … !" Teriak Hara meras geli saat Leon mengigit pusarnya, bukannya romantis Hara malah ngakak, karena Leon tidak mau melepaskan jaket yang ia pakai.
“Jangan tertawa aku lagi ***** ini." Leon memberi kecupan di mana-mana. Tetapi Hara tidak berhenti tertawa melihat ulah sang suami pakaian bawahnya di buka, tetapi jaket tebal bagian atas tidak di lepas.
“Kamu membuatku geli .... Kamu seperti orang-orangan sawah,” ujar Hara, ia terus saja tertawa.
“Hara aku kedinginan,” keluh Leon tetapi tidak menghentikan aktivitasnya, memberi banyak tanda merah menyala di dada dan leher sang istri dan menanggalkan pakaian istrinya semuanya.
“Aku tidak mau gaya beginian ....Ini membuatku kehilangan selera." Hara menarik selimut menutupi tubuh polos itu.
“Begini saja … ini gaya baru,” ujar Leon menarik selimut yang menutupi tubuh polos istrinya lagi.
“Aku geli, bagaimana kamu melakukannya saat kamu berpakaian seperti itu? itu tidak adil .... Aku lepas pakaian semua. Namun, kamu masih mengenakan pakaian,” ujar Hara masih saja tertawa terpingkal-pingkal ....
Karena jaket yang di pakai Leon, jaket bulu. Sementara, ia melepaskan semua celananya tetapi atasnya tetap pakai jaket bulu-bulu . “Kamu terlihat seperti beruang coklat."
“Tidak apa-apa yang penting kan pedangnya kelihatan yang mau dimasukkan pedangnya bukan badannya,” ujar Leon lagi, ia memegang tongkat miliknya.
“Leon kamu membuatku geli ….! Kamu niat bangat sih, udah gak usah,” ujar Hara menarik selimut.
“Uda diam. Sini aku masukkin "Leon menahan selimut.
Hara masih saja tertawa melihat ulah suami yang takut kedinginan, Namun menginginkan aktivitas tubuh yang hot. Leon masuk ke dalam selimut, Hara masih tertawa geli. Lalu Leon melakukannya sendiri, ia membuka sela kaki istrinya dan memasukkan pedang miliknya.
Tidak ada lagi istilah foreplay ini langsung afterplay ….
Melakukan beberapa dorongan, Hara akhirnya berhenti tertawa, saat ada rasa yang nikmat di bagian tubuhnya, saat cuaca dingin keinginan untuk menyatukan tubuh sering kali lebih kuat. Memberi beberapa hentakan, Leon akhirnya melepaskan jaket bulu yang ia pakai, karena aliran hawa panas mengalir dari tubuhnya.
“Ganti posisi iya, Woman on top” ujar Leon.
Mereka berdua melakukan gaya Woman on top, di mana dalam aktivitas ini. Hara yang lebih menguasai banyak permainan dan lebih banyak bergerak.
Leon mendapatkan puncak kenikmatan duluan, sementara Hara menyusul. Akhirnya suara mereka berdua mengerang panjang. Hara bermandikan keringat, kali ini, ia yang lebih capek, Hara merebahkan tubuhnya di samping Leon.
“Aku capek … Bos,” ujarnya memeluk tubuh Leon.
Leon mengecup keningnya sebagai ucapan terimakasih atas kenikmatan yang di berikan istrinya. Leon kembali menarik selimut dan meringkuk, bahkan untuk membersihkan diri, ia hanya melakukannya sebentar, lalu melompat lagi atas ranjang. Udara semakin dingin karena salju semakin tebal .
Leon bekerja keras mencetak anak dengan Hara. Hampir tiap saat, ia minta jatah karena cuaca dingin yang mendukung.
Bersambung
Jangann lupa vote dan like Iy kak biar authornya semakin semangat. Bantu fomosikan juga boleh iya kakak. Agar pembaca semakin meningkat.
Terimakasih untuk kakak @syalala dan Leksi Anastasia, @JUNA,@Ika wati yang selalu memberiku hadiah tambahkan berupa koin.
__ADS_1
I LOVE FULL UNTUK KALIAN SEMUA PARA PEMBACA KESAYANGAN. SEHAT SELALU YA SEMUA.