
Hilda dipanggil ke ruangan Leon.
“Dengar, saya tidak mau lagi ada kasus seperti ini terjadi pada saya, ini sangat memalukan, saya sudah bilang, berikan seseorang yang jelas bibit, bobotnya, Bu Hilda!”
“Maaf pak Leon, saya juga kaget, setahu saya, dia anak yang baik dan bukan tipe wanita yang seperti itu, saya juga bingung Pak, niat saya tadinya ingin membantu karena ayahnya sakit."
“Apa kamu pikir saya ngibul?” Wajah Leon menegang menahan luapan amarah.
“Tidak, maksudnya … saya juga kaget, dia pasti telah berubah, padahal saat kami bertemu sebelum jadi sekretaris bapak, dia wanita baik.”
“Kaila biarkan kembali ke hotel utama, ibu Hilda, cari sekretaris yang lain,” ujar Leon pada Hilda.
“Baik Pak.”
Hilda keluar dari ruangan Leon.
Raut wajah Leon sangat tidak bersahabat kali ini, bayangan, saat kejadian yang memalukan yang dilakukan Lily mantan sekretarisnya. Membuat Leon marah besar pada Hilda, karena memberikan padanya seorang sekretaris yang tidak bertanggung jawab.
Padahal tadinya ia sangat percaya karena yang memilih sendiri adalah Hilda, tetapi justru yang pilihan Hilda yang sangat membuatnya shock.
Kini Leon kembali merasa was-was, ia takut wanita itu mengusik keluarganya karena Leon melihat ia wanita yang keras dan punya obsesi besar dalam hidupnya.
Saat Leon pulang ke rumah.
Ia memberikan foto wanita itu pada Bram. Lelaki yang bertanggung jawab untuk keamanan keluarganya, Leon juga Meminta meningkatkan pengawasan tanpa membuat Hara khawatir.
Leon menceritakan kasusnya pada Hara, bukannya ingin menambah beban pikiran. Tetapi ia tidak ingin ada kesalahpahaman kedepannya.
"Apa kamu yakin Tante Hilda yang mengenalnya ?" Tanya Hara dengan wajah serius.
"Iya."
"Sayang, kamu harus lebih hati-hati dalam memilih orang," ujar Hara menasehati.
"Iya, kali ini aku merasa kecolongan." Leon memijit keningnya.
“Bagaimana bisa dia menjadi sekretaris mu?”
“Hilda yang merekomendasikan juga, aku tidak ingin membahasnya lagi, aku hanya tidak ingin wanita gila itu datang kesini, jangan bukakan pintu, aku khawatir dia sudah lama mengincar ku , karena dia juga memiliki nomormu, tadi ia ingin menelepon, aku menggagalkan nya."
" Kalau kamu sudah menceritakan seperti ini, aku lebih tenang. Percayalah kita bisa mengatasi para pengganggu itu, kita sudah melewati masalah lebih dari itu, boleh aku ikut ke hotel, sekali ini saja, "ujar Hara.
“Jangan sayang sangat berbahaya di sana."
"Tidak apa-apa, aku hanya sebentar saja." Hara memegang punggung tangan Leon.
Leon juga menceritakan pada Bu Atin.
__ADS_1
“Apa kamu memenjarakan wanita itu? harusnya kamu melakukan itu, agar tidak ada yang berniat menganggu cucuku lagi,” ucap Bu Atin terlihat gelisah, ia sudah mulai menua dan gampang khawatir walau hanya hal kecil.
“Aku tidak bisa melakukanya Bu, karena tidak ada bukti yang mengarah tindakan kejahatan saat itu, dia ber alibi dia hanya jatuh cinta padaku.”
“Dasar wanita gila itu.Leon berhati-hatilah, Nak.”
“Jangan khawatir Bu, aku sudah menambah keamanan di rumah ini,” ujar Leon sebelum berangkat ke kantor pagi itu.
Kemarin setelah memanggil Hilda kemarin ke kantornya, membahas mengenai Lily dan Leon juga meminta Kaila di kembalikan jadi sekretarisnya lagi.
“Selamat pagi Pak Leon, selamat pagi Ibu Hara ,” sapa Kaila saat Leon tiba di hotel pagi itu.
“Selamat pagi juga, Kai," sahut Hara Leon hanya melongo masuk.
Saat Leon dan Hara masuk, ruangannya sudah terlihat berbeda lagi, kembali ke gaya Kaila. Penataan file di lemari di samping meja kerja Leon sudah rapi dan yang menjadi ciri khas, Kalau di meja Leon sudah ada teh madu, Kaila selalu melakukan itu setiap hari saat ia menjadi sekretaris, Hara hanya mengangguk melihat jadi kerja Kaila.
"Sayang, aku mau rapat, kamu mau nunggu aku di sini, apa mau langsung pulang?"Leon melirik istrinya.
" Aku mau langsung pulang saja, tapi nanti."
"Iya udah, aku rapat dulu iya."
"Iya, aku akan pulang sama supir," ujar Hara, ia melihat-lihat seisi ruangan suaminya.
Leon turun ke untuk rapat, tidak berapa lama Hara keluar dari ruangan Leon.
"Iya Bu," jawab Kaila, tetapi tatapan matanya tidak ada yang bisa menebak.
**
Satu minggu sejak Kaila ada di hotel utama. Wanita cantik yang sudah bertahun-tahun berkerja di hotel itu melakukan semua pekerjaannya dengan baik.
Pagi itu, Leon datang lebih pagi tidak seperti biasanya, kali ini ia datang sangat pagi, Kaila juga belum datang, hanya beberapa pekerja shift malam yang bersiap pulang setelah mendapat pengganti.
Leon tepaksa datang lebih pagi kali ini, karena di rumah ia merasa tidak tenang, ponselnya setiap menit ada yang menelepon, tetapi saat ia mengangkatnya tidak diangkat, ia takut, Hara khawatir karena merasa diteror, Saat ia meminta Bimo mencari nomornya, ternyata posisinya peneror itu ada di hotelnya sendiri.
Saat ia duduk di kursinya, Leon memesan teh hangat ke pelayan hotel, saat ia menutup teleponnya, ponselnya berdering lagi.
“Kamu siapa?” tanya Leon saat ia mengangkat.
Tidak ada suara hanya ingin mengerjainya, nomor tidak dikenal itu menelepon lagi. Leon tidak mau mengangkatnya, tetapi ia mencoba mencari posisi penelepon.
Ia menyimpan benda berwarna hitam itu di dalam laci.
Mengacuhkannya dan membiarkannya berdering dengan lama, ia mencoba menyibukkan diri memeriksa computer dan berkas-berkas di depan matanya.
Tetapi karena ia datang kepagian dan Kaila belum datang. Terpaksa ia menelepon sendiri bagian pelayanan hotel meminta membawa pesannya lebih cepat, Leon juga menambah menu pesanannya, meminta dibuatkan segelas teh jahe.
__ADS_1
Ternyata telepon di ruangan Leon sudah di sadap, saat ia meminta teh jahe , ada hal buruk yang mengincarnya. Leon melupakan satu hal, bahaya dan nasib buruk, bisa datang dari mana saja.
Kalau biasanya Kaila yang selalu menyeduh sendiri pesanan Leon, jadi aman untuknya, tetapi kali ini, ia meminta dari pelayan hotel yang membawanya ke atas kamarnya, melewati banyak kamar dan salah satunya kamar orang yang menerornya melalui telepon. Hal itu juga dimanfaatkan seseorang untuk mencoba mengusiknya dan ingin menghancurkannya.
Tok …. Tok ….
“Masuk!” sahut Leon.
Seorang pelayanan lelaki datang membawakan minuman seperti yang ia pesan.
“Terimakasih,” ucap Leon hanya menoleh sebentar pada seorang lelaki yang memakai seragam pekerja hotel.
“Sama-sama pak,” sahut lelaki itu, meninggalkan ruangan. Sementara Leon masih berfokus pada Layar computer di depan mata.
Satu tangan mengangkat gelas berisi susu jahe, ia akan menghabiskannya selagi hangat, kalau sudah dingin rasanya kurang enak.
Tetapi, setelah ia habiskan isi dalam gelas, ia mulai merasakan ada yang salah dengan tubuhnya, Leon merasa tubuhnya panas bergejolak, meminta sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan saat itu, di tempat itu. Seseorang mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman jahe yang ia pesan.
Leon dibuat tersiksa atas permintaan tubuhnya , Leon sudah berkeringat dingin dan merasakan sakit kepala yang parah, ia sudah menjepitnya dengan kedua kakinya tetapi junior miliknya semakin memberontak.
Junior milik Leon berdiri tegak setelah ada yang memberinya obat perangsang.
“Gila, apa yang mereka lakukan padaku, siapa yang melakukan ini?” Leon mencoba masuk ke kamar mandi mencoba menuntaskan di sana, tetapi sayang, dia semakin menggila. Ia tidak tahan lagi. Pada saat itu juga pintu ruangannya dibuka.
“Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini ?” tanya Leon menatap tajam menyadari kalau ia sudah ke dalam perangkap seseorang wanita gila.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1