Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Leon Masuk Perangkap


__ADS_3

Hilda dipanggil ke ruangan Leon.


“Dengar, saya tidak mau lagi ada kasus seperti ini terjadi pada saya, ini sangat memalukan, saya sudah bilang, berikan seseorang  yang jelas bibit, bobotnya, Bu Hilda!”


“Maaf pak Leon, saya juga kaget, setahu saya, dia anak yang baik dan bukan  tipe wanita yang seperti itu, saya juga bingung Pak, niat saya tadinya ingin membantu karena ayahnya sakit."


“Apa kamu pikir saya ngibul?” Wajah Leon menegang menahan luapan amarah.


“Tidak, maksudnya …  saya juga kaget,  dia pasti telah berubah,  padahal saat  kami bertemu sebelum jadi sekretaris bapak, dia wanita baik.”


“Kaila biarkan  kembali ke hotel utama, ibu Hilda, cari sekretaris yang lain,” ujar Leon pada Hilda.


“Baik Pak.”


Hilda keluar dari ruangan Leon.


Raut wajah Leon sangat tidak bersahabat kali ini, bayangan, saat kejadian yang memalukan yang dilakukan Lily  mantan sekretarisnya. Membuat Leon marah besar pada Hilda, karena memberikan padanya seorang sekretaris yang tidak bertanggung jawab.


Padahal tadinya ia sangat percaya karena yang memilih sendiri adalah Hilda, tetapi justru yang pilihan Hilda yang sangat  membuatnya shock.


Kini Leon kembali merasa was-was,  ia takut wanita  itu mengusik  keluarganya karena Leon melihat  ia wanita yang keras dan punya obsesi besar dalam hidupnya.


Saat Leon pulang ke rumah.


Ia memberikan foto wanita itu pada Bram. Lelaki yang bertanggung jawab untuk keamanan keluarganya, Leon juga Meminta meningkatkan pengawasan tanpa membuat Hara khawatir.


Leon menceritakan kasusnya pada Hara, bukannya ingin menambah beban pikiran. Tetapi ia tidak ingin ada kesalahpahaman kedepannya.


"Apa kamu yakin Tante Hilda yang mengenalnya ?" Tanya Hara dengan wajah serius.


"Iya."


"Sayang, kamu harus lebih hati-hati dalam memilih orang," ujar Hara menasehati.


"Iya, kali ini aku merasa kecolongan." Leon memijit keningnya.


“Bagaimana  bisa dia menjadi sekretaris mu?”


“Hilda yang merekomendasikan juga, aku  tidak ingin membahasnya lagi, aku hanya tidak ingin wanita  gila itu datang kesini, jangan bukakan pintu, aku khawatir dia sudah lama mengincar ku ,  karena  dia juga  memiliki nomormu, tadi ia ingin menelepon, aku menggagalkan nya."


" Kalau kamu sudah menceritakan seperti ini, aku lebih tenang. Percayalah kita bisa mengatasi para pengganggu itu, kita sudah melewati masalah lebih dari itu, boleh aku ikut ke hotel, sekali ini saja, "ujar Hara.


“Jangan sayang sangat berbahaya di sana."


"Tidak apa-apa, aku hanya sebentar saja." Hara memegang punggung tangan Leon.


Leon juga menceritakan pada Bu Atin.

__ADS_1


“Apa kamu memenjarakan wanita itu? harusnya kamu melakukan itu,  agar tidak ada yang berniat menganggu cucuku lagi,” ucap Bu Atin terlihat gelisah, ia sudah mulai menua dan gampang khawatir walau hanya hal kecil.


“Aku tidak bisa melakukanya Bu,  karena tidak ada bukti yang mengarah tindakan kejahatan saat itu, dia ber alibi dia hanya jatuh cinta padaku.”


“Dasar wanita gila itu.Leon berhati-hatilah, Nak.”


“Jangan khawatir Bu, aku sudah menambah keamanan di rumah ini,” ujar Leon sebelum berangkat ke kantor pagi itu.


Kemarin setelah memanggil Hilda kemarin ke kantornya, membahas  mengenai Lily  dan Leon juga meminta Kaila di kembalikan  jadi sekretarisnya lagi.


“Selamat pagi Pak Leon, selamat pagi Ibu Hara ,” sapa Kaila saat Leon tiba  di hotel pagi itu.


“Selamat pagi juga, Kai," sahut Hara Leon hanya melongo masuk.


Saat Leon dan Hara masuk, ruangannya sudah terlihat berbeda lagi, kembali ke gaya Kaila.  Penataan file  di lemari di samping meja kerja Leon sudah rapi  dan yang menjadi ciri khas,  Kalau di meja Leon sudah ada teh madu,  Kaila selalu melakukan itu setiap hari saat ia  menjadi sekretaris, Hara hanya mengangguk melihat jadi kerja Kaila.


"Sayang, aku mau rapat, kamu mau nunggu aku di sini, apa mau langsung pulang?"Leon melirik istrinya.


" Aku mau langsung pulang saja, tapi nanti."


"Iya udah, aku rapat dulu iya."


"Iya, aku akan pulang sama supir," ujar Hara, ia melihat-lihat seisi ruangan suaminya.


Leon turun ke untuk rapat, tidak berapa lama Hara keluar dari ruangan Leon.


"Iya Bu," jawab Kaila, tetapi tatapan matanya tidak ada yang bisa menebak.


**


Satu minggu sejak Kaila ada di hotel utama.  Wanita cantik yang sudah  bertahun-tahun berkerja di hotel itu melakukan semua pekerjaannya dengan baik.


Pagi itu,  Leon datang lebih pagi tidak seperti biasanya, kali ini ia datang  sangat pagi, Kaila  juga belum datang, hanya beberapa  pekerja shift malam yang bersiap  pulang setelah mendapat pengganti.


Leon tepaksa datang lebih pagi kali ini,  karena di rumah ia merasa tidak tenang,  ponselnya setiap  menit ada yang menelepon,  tetapi saat ia mengangkatnya tidak diangkat, ia takut, Hara khawatir karena merasa diteror, Saat ia meminta Bimo mencari nomornya, ternyata posisinya peneror itu ada di hotelnya sendiri.


Saat  ia duduk di kursinya,  Leon memesan  teh hangat ke pelayan hotel, saat ia menutup teleponnya, ponselnya berdering lagi.


“Kamu siapa?” tanya Leon saat ia mengangkat.


Tidak ada suara hanya ingin mengerjainya,   nomor tidak dikenal itu menelepon lagi.  Leon tidak  mau mengangkatnya,  tetapi ia mencoba mencari posisi penelepon.


Ia menyimpan  benda berwarna hitam itu di dalam laci.


Mengacuhkannya dan membiarkannya berdering dengan lama,  ia mencoba menyibukkan diri memeriksa computer dan berkas-berkas di depan matanya.


Tetapi karena ia datang kepagian  dan Kaila belum datang. Terpaksa ia menelepon sendiri bagian pelayanan hotel  meminta membawa pesannya lebih cepat, Leon juga menambah menu pesanannya,  meminta dibuatkan segelas teh jahe.

__ADS_1


Ternyata  telepon di ruangan Leon sudah di sadap,  saat ia  meminta teh jahe , ada hal buruk yang mengincarnya.  Leon melupakan satu hal,   bahaya  dan nasib buruk,  bisa datang dari mana saja.


Kalau biasanya  Kaila yang selalu menyeduh sendiri pesanan Leon,  jadi aman  untuknya, tetapi kali ini, ia meminta dari pelayan hotel yang membawanya ke atas kamarnya, melewati banyak kamar dan salah satunya kamar orang yang menerornya melalui telepon. Hal itu juga dimanfaatkan seseorang untuk  mencoba mengusiknya dan  ingin menghancurkannya.


Tok …. Tok ….


“Masuk!” sahut Leon.


Seorang pelayanan lelaki datang membawakan minuman seperti yang ia pesan.


“Terimakasih,” ucap Leon hanya menoleh sebentar pada seorang lelaki yang  memakai seragam pekerja hotel.


“Sama-sama pak,” sahut lelaki itu, meninggalkan  ruangan. Sementara Leon masih berfokus pada Layar computer di depan  mata.


Satu tangan mengangkat gelas  berisi susu jahe,  ia akan menghabiskannya selagi hangat,  kalau sudah dingin  rasanya kurang  enak.


Tetapi, setelah ia habiskan isi dalam gelas,  ia mulai merasakan  ada yang  salah dengan tubuhnya, Leon merasa tubuhnya panas bergejolak,  meminta sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan  saat itu,  di tempat itu. Seseorang mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman  jahe yang ia pesan.


Leon  dibuat tersiksa atas permintaan tubuhnya  , Leon sudah  berkeringat dingin dan merasakan sakit kepala yang parah,  ia sudah menjepitnya dengan kedua kakinya tetapi junior miliknya semakin  memberontak.


Junior milik Leon  berdiri tegak setelah ada yang memberinya obat perangsang.


“Gila, apa yang  mereka lakukan padaku,  siapa yang melakukan ini?” Leon mencoba masuk  ke kamar mandi mencoba menuntaskan di sana,  tetapi sayang, dia semakin menggila.  Ia tidak tahan lagi. Pada saat itu juga pintu ruangannya dibuka.


“Kamu?  Apa yang kamu lakukan di sini ?” tanya Leon menatap tajam  menyadari kalau ia sudah  ke dalam perangkap  seseorang wanita gila.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2