Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Merasa sangat tersiksa


__ADS_3

Melihat Leon meringis,  dengan wajah tersiksa. Toni dan Zidan berlari  menghampiri sang bos.


“Bos terluka , ayo kita pergi dari sini.” Zidan  ingin menggotong tubuh leon, ia berpikir Leon meringis karena luka di tangan. Ia tidak tahu Leon meringis dengan wajah tersiksa karena hal yang lain.


“Baiklah,  serahkan  sama polisi Pak Wardana, pergilah  ke rumah sakit” ucap seorang polisi  intel berpakaian preman,  ia orang yang di kenal Leon di bagian kepolisian.


“Ah, sial ….!” Leon mengigit kepalan tangannya dengan kuat, menahan hasratnya yang kian semakin  bergejolak.


“Bos, kita akan ke mobil,  biarkan saya yang  akan  mengeluarkan pelurunya itu akan lebih baik”


Zidan dan Toni tidak tahu kalau Leon meringis bukan karena luka tembak di tangan  melainkan karena efek obat  yang ia minum tadi.


Jovita hanya diam melihat wajah  Leon yang semakin tersiksa, ia masih  mencoba bertahan sekuat tenaga, ia tidak memberitahukan Zidan dan Toni tentang apa yang sudah terjadi padanya.


Jika Leon memberitahukan mungkin Zidan  akan mencari solusi. Namun, Leon selalu menempatkan  harga diri di atas  segalanya . Leon  tidak  memberitahukannya, tentang obat perangsang yang ia minum.


‘Mungkin … jika aku tadi yang meminum itu, mungkin aku sudah melepaskan pakaianku dan bertingkah gila, lalu memaksa siapa saja untuk melakukannya’ Jovita membatin, ia memahami perasaan tersiksa yang di rasakan Leon tetapi ia enggan untuk menawarkan tubuhnya walau ia tahu semua itu gara-gara menyelamatkan hidupnya.


“Baiklah lakukan di mobil saja.” Leon mau di bawa ke dalam mobil.


Ia berpikir jika Zidan mengeluarkan peluru dari luka,  mungkin rasa sakit itu akan lebih dominan dan pikirannya akan teralih ke rasa sakit dari luka.


 Setelah sampai dalam mobil, Zidan mengikat lengan Leon dengan kain dan membakar ujung sebuah pisau  tajam    dan membakar  sebuah penjepit.


Lalu ia melakukan operasi darurat ala tentara perang pada Leon,  ia mengeluarkan  peluru dari  lengan Leon.


Jovita yang duduk di  jok belakang mobil hanya bisa menutup mata melihat Zidan  membedah luka  tembak di lengan Leon, lelaki tampan itu melakukannya dengan  sikap yakin dan  tenang. Zidan terlihat sangat  berpengalaman saat melakukannya seakan-akan ia seorang dokter tentara.


Leon tidak meringis ataupun mengeluh  saat Zidan  melakukannya kain yang diberikan Toni untuk ia gigit, ia tidak mengigit nya , tetapi ia merapatkan kedua kakinya, menahannya dengan kuat mencoba mengalihkan pikiran alam sadarnya ke  arah luka.  Ia meminum banyak air berharap efek obat itu hilang.


Namun yang terjadi … ia merasakan aliran darahnya mengalir lebih deras ke bagian  vitalnya.


“Oh sial aku tidak tahan lagi,” ujar Leon keluar dari mobil, ia merapatkan tubuhnya ke body samping mobil,  lalu mencakar kuat badan mobil.


Mereka bertiga, seketika diam dengan mata melongo menatap Leon yang bertingkah tidak biasa.


“Apa yang terjadi?”  Mata Toni mengerjap-erjap bigung.

__ADS_1


(Toeeng …Toeeeng … Kriiik … Kriiik)


 Leon  bertingkah seperti  singa jantan yang kelaparan,  menempelkan badannya ke sisi  mobil dan kedua tangannya mencakar kaca mobil.


“Brengsek  kamu bajingan,” ucap Leon memaki penjahat yang memasukkan obat perangsang itu ke dalam minumannya kini ia jadi bersikap seperti orang yang kehilangan kendali.


Tiba-tiba Rikko menelepon .


“Halo!”


“Zidan  cepat keluar dari sana!”


“Kenapa?”


“Bos narkoba  itu melakukan perlawanan, dia mengirim pasukannya untuk mendapatkan barang miliknya”


Toni  buru-buru keluar dari mobil.


“Bos kita dalam bahaya besar gerbong narkoba itu mengirim pasukannya”


Leon  menelepon teman polisinya agar segera meninggalkan lokasi,  karena pasukan penjahat itu sudah memblokade jalanan keluar.


 Bos berhenti di sini,saya akan mengambil mobil dengan diam-diam.


Zidan mendekati villa itu kembali dan masuk ke dalam mobi dan melajukan mobil, ternyata aksi nekat itu,  dilihat salah seorang  anak buah penjahat.


“Ayo masuk, masuk  cepat!” Zidan tancap gas,  bahkan ia tidak menghiraukan tangannya yang terluka  beberapa hari lalu,  saat  Salsa menjatuhkan vot.


“Mereka  ada di sini! Tangkap!” Teriak  salah seorang dari mereka. Maka aksi kejar- kejaran pun terjadi.


Mobil  penjahat itu mengejar mobil yang di kendarai Zidan,  ia terus melaju melewati  jalanan terjal, ternyata  para penjahat itu semakin banyak.


“Bos kita tidak bisa selamat!  Mereka mengikuti   gps yang ada di mobil ini,  mereka akan mengikuti kita  kemanapun   pergi dan Rikko bilang semua jalanan untuk turun sudah di blokade sama mereka. Bos akan saya turunkan di sini dan kalian berjalan dari jalan setapak,  menuju villa.  Saya tidak bisa mengantar sampai ke sanak karena penjahat itu mengikuti kita. Saya akan mengalihkan perhatian mereka”


“Baiklah”  Leon mengangguk.


Leon dan Jovita melompat dari mobil dan untungnya jatuh di semak-semak dan mulut Jovita di bekap karena mereka di kejar bukan hanya menggunakan mobil tetapi dengan motor cros.

__ADS_1


Setelah mereka pergi.


Leon  membawa jovita berjalan,  melewati  jalanan gelap.


“Kita akan kemana?” tanya Jovita dengan  napas terengah-engah.


“Kita akan ke Villa  berjalanlah sedikit lagi,  akan tiba,” ucap leon menyeret tangan Jovita.


“Kita sudah berjalan sangat jauh melewati hutan gelap ini Pak Leon apa masih jauh?”


“Sebentar lagi,” ucap Leon  merasa tubuhnya  berkeringat dingin,   darah di tubuhnya semakin terasa mendidih.


“Kita akan ke  rumah siapa?” Tanya Jovita penasaran.


“Kita akan ke villaku,” ucap Leon dengan napas yang semakin memburu.


‘ Sial aku merasa sangat tersiksa’ Leon menyeka keringat di dahinya dengan kasar.


Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit dari jalanan setapak, akhirnya  Leon dan Jovita  tiba di sebuah villa yang terlihat unik  karena dibangun menggunakan batang-batang kayu sebagai tiang,  dari luarnya terlihat  sangat mistis,   pahatan kayu besar dan warna kayu itu,  coklat gelap, Villa ini milik bos Naga.


Dari luar terlihat sederhana Namun di dalamnya siapa yang menduga  di dalamnya sangat mewah dan dilengkapi peralatan keamanan yang sangat canggih.


Leon menekan  bel, seorang lelaki berbadan tegap membuka pintu,  setelah Leon mengucapkan kaca kunci barulah pintu dibuka.


“Bos selamat datang.” Lelaki itu bingung melihat Leon yang terlihat berantakan.


Leon  tidak menjawab,  tetapi ia melonggos kearah dapur membuka kulkas memasukkan kepalanya ke dalam frizer. Jovita hanya  diam menatap Leon. Ia merasa kasihan karena Leon terlihat begitu tersiksa disebabkan efek obat tersebut. Setelah memasukkan  kepalanya,  beberapa detik dalam kulkas,  ia  meminum air dingin begitu banyak dan seperti orang kesurupan.


“Bos, apa terjadi sesuatu?”Tanya anak buahnya yang berjaga di Villa itu”


“Bawakan Non Hara ke salah satu kamar,”| pinta Leon. Walau ia tersiksa saat itu, ia tidak  mau meminta pada Jovita,  karena ia sudah berjanji tidak akan melakukannya  lagi  ataupun menyakitinya.


Jovita tidak menolak,  ia mengikuti lelaki bertubuh  tegap itu menuku kamar untuk ia istirahat, membawanya ke salah satu kamar dan kamar yang biasa Leon tempati.


Bersambung ….


 KAKAK SEMUA  MOHOM MAAF BILA UPDATENYA HANYA 1-2. SAYA MAU MINTA   DUKUNGANNYA.   KASIH LIKE VOTE DAN HADIAH DAN KASIH KOMENTAR JUGA DI SETIAP BAB  KALAU BISA BANTU  SHARE IYA KAKAK. AGAR VIWERSNYA NAIK KALAU NAIK,  KITA AKAN UP 3 BAB SATU HARI.

__ADS_1


Mohon bantuanya iya kakak sayang,  terus terang,  satu minggu ini authornya  kurang bersemangat karena  like dan viwernya   hanya sedikit. Jadi saya  meminta dukungan kakak semua iya I love You All.


 Makasih, kakak semua


__ADS_2