
Melihat Leon meringis, dengan wajah tersiksa. Toni dan Zidan berlari menghampiri sang bos.
“Bos terluka , ayo kita pergi dari sini.” Zidan ingin menggotong tubuh leon, ia berpikir Leon meringis karena luka di tangan. Ia tidak tahu Leon meringis dengan wajah tersiksa karena hal yang lain.
“Baiklah, serahkan sama polisi Pak Wardana, pergilah ke rumah sakit” ucap seorang polisi intel berpakaian preman, ia orang yang di kenal Leon di bagian kepolisian.
“Ah, sial ….!” Leon mengigit kepalan tangannya dengan kuat, menahan hasratnya yang kian semakin bergejolak.
“Bos, kita akan ke mobil, biarkan saya yang akan mengeluarkan pelurunya itu akan lebih baik”
Zidan dan Toni tidak tahu kalau Leon meringis bukan karena luka tembak di tangan melainkan karena efek obat yang ia minum tadi.
Jovita hanya diam melihat wajah Leon yang semakin tersiksa, ia masih mencoba bertahan sekuat tenaga, ia tidak memberitahukan Zidan dan Toni tentang apa yang sudah terjadi padanya.
Jika Leon memberitahukan mungkin Zidan akan mencari solusi. Namun, Leon selalu menempatkan harga diri di atas segalanya . Leon tidak memberitahukannya, tentang obat perangsang yang ia minum.
‘Mungkin … jika aku tadi yang meminum itu, mungkin aku sudah melepaskan pakaianku dan bertingkah gila, lalu memaksa siapa saja untuk melakukannya’ Jovita membatin, ia memahami perasaan tersiksa yang di rasakan Leon tetapi ia enggan untuk menawarkan tubuhnya walau ia tahu semua itu gara-gara menyelamatkan hidupnya.
“Baiklah lakukan di mobil saja.” Leon mau di bawa ke dalam mobil.
Ia berpikir jika Zidan mengeluarkan peluru dari luka, mungkin rasa sakit itu akan lebih dominan dan pikirannya akan teralih ke rasa sakit dari luka.
Setelah sampai dalam mobil, Zidan mengikat lengan Leon dengan kain dan membakar ujung sebuah pisau tajam dan membakar sebuah penjepit.
Lalu ia melakukan operasi darurat ala tentara perang pada Leon, ia mengeluarkan peluru dari lengan Leon.
Jovita yang duduk di jok belakang mobil hanya bisa menutup mata melihat Zidan membedah luka tembak di lengan Leon, lelaki tampan itu melakukannya dengan sikap yakin dan tenang. Zidan terlihat sangat berpengalaman saat melakukannya seakan-akan ia seorang dokter tentara.
Leon tidak meringis ataupun mengeluh saat Zidan melakukannya kain yang diberikan Toni untuk ia gigit, ia tidak mengigit nya , tetapi ia merapatkan kedua kakinya, menahannya dengan kuat mencoba mengalihkan pikiran alam sadarnya ke arah luka. Ia meminum banyak air berharap efek obat itu hilang.
Namun yang terjadi … ia merasakan aliran darahnya mengalir lebih deras ke bagian vitalnya.
“Oh sial aku tidak tahan lagi,” ujar Leon keluar dari mobil, ia merapatkan tubuhnya ke body samping mobil, lalu mencakar kuat badan mobil.
Mereka bertiga, seketika diam dengan mata melongo menatap Leon yang bertingkah tidak biasa.
“Apa yang terjadi?” Mata Toni mengerjap-erjap bigung.
__ADS_1
(Toeeng …Toeeeng … Kriiik … Kriiik)
Leon bertingkah seperti singa jantan yang kelaparan, menempelkan badannya ke sisi mobil dan kedua tangannya mencakar kaca mobil.
“Brengsek kamu bajingan,” ucap Leon memaki penjahat yang memasukkan obat perangsang itu ke dalam minumannya kini ia jadi bersikap seperti orang yang kehilangan kendali.
Tiba-tiba Rikko menelepon .
“Halo!”
“Zidan cepat keluar dari sana!”
“Kenapa?”
“Bos narkoba itu melakukan perlawanan, dia mengirim pasukannya untuk mendapatkan barang miliknya”
Toni buru-buru keluar dari mobil.
“Bos kita dalam bahaya besar gerbong narkoba itu mengirim pasukannya”
Leon menelepon teman polisinya agar segera meninggalkan lokasi, karena pasukan penjahat itu sudah memblokade jalanan keluar.
Bos berhenti di sini,saya akan mengambil mobil dengan diam-diam.
Zidan mendekati villa itu kembali dan masuk ke dalam mobi dan melajukan mobil, ternyata aksi nekat itu, dilihat salah seorang anak buah penjahat.
“Ayo masuk, masuk cepat!” Zidan tancap gas, bahkan ia tidak menghiraukan tangannya yang terluka beberapa hari lalu, saat Salsa menjatuhkan vot.
“Mereka ada di sini! Tangkap!” Teriak salah seorang dari mereka. Maka aksi kejar- kejaran pun terjadi.
Mobil penjahat itu mengejar mobil yang di kendarai Zidan, ia terus melaju melewati jalanan terjal, ternyata para penjahat itu semakin banyak.
“Bos kita tidak bisa selamat! Mereka mengikuti gps yang ada di mobil ini, mereka akan mengikuti kita kemanapun pergi dan Rikko bilang semua jalanan untuk turun sudah di blokade sama mereka. Bos akan saya turunkan di sini dan kalian berjalan dari jalan setapak, menuju villa. Saya tidak bisa mengantar sampai ke sanak karena penjahat itu mengikuti kita. Saya akan mengalihkan perhatian mereka”
“Baiklah” Leon mengangguk.
Leon dan Jovita melompat dari mobil dan untungnya jatuh di semak-semak dan mulut Jovita di bekap karena mereka di kejar bukan hanya menggunakan mobil tetapi dengan motor cros.
__ADS_1
Setelah mereka pergi.
Leon membawa jovita berjalan, melewati jalanan gelap.
“Kita akan kemana?” tanya Jovita dengan napas terengah-engah.
“Kita akan ke Villa berjalanlah sedikit lagi, akan tiba,” ucap leon menyeret tangan Jovita.
“Kita sudah berjalan sangat jauh melewati hutan gelap ini Pak Leon apa masih jauh?”
“Sebentar lagi,” ucap Leon merasa tubuhnya berkeringat dingin, darah di tubuhnya semakin terasa mendidih.
“Kita akan ke rumah siapa?” Tanya Jovita penasaran.
“Kita akan ke villaku,” ucap Leon dengan napas yang semakin memburu.
‘ Sial aku merasa sangat tersiksa’ Leon menyeka keringat di dahinya dengan kasar.
Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit dari jalanan setapak, akhirnya Leon dan Jovita tiba di sebuah villa yang terlihat unik karena dibangun menggunakan batang-batang kayu sebagai tiang, dari luarnya terlihat sangat mistis, pahatan kayu besar dan warna kayu itu, coklat gelap, Villa ini milik bos Naga.
Dari luar terlihat sederhana Namun di dalamnya siapa yang menduga di dalamnya sangat mewah dan dilengkapi peralatan keamanan yang sangat canggih.
Leon menekan bel, seorang lelaki berbadan tegap membuka pintu, setelah Leon mengucapkan kaca kunci barulah pintu dibuka.
“Bos selamat datang.” Lelaki itu bingung melihat Leon yang terlihat berantakan.
Leon tidak menjawab, tetapi ia melonggos kearah dapur membuka kulkas memasukkan kepalanya ke dalam frizer. Jovita hanya diam menatap Leon. Ia merasa kasihan karena Leon terlihat begitu tersiksa disebabkan efek obat tersebut. Setelah memasukkan kepalanya, beberapa detik dalam kulkas, ia meminum air dingin begitu banyak dan seperti orang kesurupan.
“Bos, apa terjadi sesuatu?”Tanya anak buahnya yang berjaga di Villa itu”
“Bawakan Non Hara ke salah satu kamar,”| pinta Leon. Walau ia tersiksa saat itu, ia tidak mau meminta pada Jovita, karena ia sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi ataupun menyakitinya.
Jovita tidak menolak, ia mengikuti lelaki bertubuh tegap itu menuku kamar untuk ia istirahat, membawanya ke salah satu kamar dan kamar yang biasa Leon tempati.
Bersambung ….
KAKAK SEMUA MOHOM MAAF BILA UPDATENYA HANYA 1-2. SAYA MAU MINTA DUKUNGANNYA. KASIH LIKE VOTE DAN HADIAH DAN KASIH KOMENTAR JUGA DI SETIAP BAB KALAU BISA BANTU SHARE IYA KAKAK. AGAR VIWERSNYA NAIK KALAU NAIK, KITA AKAN UP 3 BAB SATU HARI.
__ADS_1
Mohon bantuanya iya kakak sayang, terus terang, satu minggu ini authornya kurang bersemangat karena like dan viwernya hanya sedikit. Jadi saya meminta dukungan kakak semua iya I love You All.
Makasih, kakak semua