
Saat makan masakan Leon.
"Kamu banyak makan Hara, nanti kamu kegemukan," Pungkas Leon.
"Kamu benar." Hara naik ke kamar.
“Aduh, salah bicara lagi, sia-sia donk kerja kerasku membuatnya terkesan malam ini, tetapi ujung-ujungnya, ia marah dan menyuruhku tidur di kamar lain nanti. Aku capek,” ucap Leon menyandarkan kepalanya di sandaran kursi meja makan.
“Tidak ada yang sia-sai dalam hidup ini Nak, kamu tadi sudah membuat kami berdua sangat senang. Sana bujuk istrimu, ingat kesehatan anak dan istrimu yang paling penting.”
“Baiklah Bu” Leon naik lagi ke kamar, membuka pintu kamar itu dengan hati-hati.
“Hara! Kamu di mana?” tanya Leon melihat di balkon tidak ada, ternyata Hara ada di kamar mandi mencoba memuntahkan apa yang di makan.
“Aku di sini,” sahut Hara.
“Hara apa yang kamu lakukan?”
“Aku ingin memuntahkan, sebagian yang aku makan.”
“Eh … memang kenapa?”
“Aku merasa begah dan susah berjalan.”
“Tidak usah, ayo kita jalan-jalan keliling rumah ini, agar kamu tidak merasa begah lagi,” bujuk Leon dengan sabar.
“Tidak, entar kamu bilang aku gemuk lagi, eh, tapi ngomong-ngomong tiba-tiba aku tidak suka melihat orang botak lagi, bisa kamu memakai rambut?”
“Ha? Hara, jangan meminta yang aneh-aneh.”
“Kalau begitu jangan muncul di depanku, kamu keluar saja tidur di kamar satu lagi, terimakasih makan malam enak yang kamu sajikan.”
“Kamu ingin aku pergi lagi dari sini?”
“Iya pergi dari sini,” ucap Hara dengan santai.
‘Ada apa dengan Hara, kenapa ia bersikap seenaknya begitu lagi?’
Leon merasa sangat Lelah, capek fisik capek pikiran juga, ia tidak punya tenaga , ia tidak banyak bicara ataupun membantah, hanya berjalan ke depan lemari mengambil beberapa pakaian untuk berganti, ia masuk lagi ke kamar di sebelahnya dan mandi di sana. Ia dulu pernah meminta Hara untuk meminta perhatian darinya, tetapi ia tidak tahu ternyata melelahkan.
Saat ia keluar dari kamar mandi, sebuah notif pesan masuk ke ponselnya.
Keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di pinggangnya, ia meraih ponselnya sebuah pesan dari Piter masuk.
__ADS_1
[Ayo kita minum bersama, aku pusing.] pesan Piter.
“Ada apa dengannya, tidak biasanya ia mengajakku minum bersama? tapi tidak apa, mungkin aku juga butuh minum satu gelas, itu akan membuatku tidur nyenyak.”
[Baik, kita minum di bar dekat hotel.] Balas Leon.
[Iya, baiklah aku jalan sekarang.] Balas Piter
Leon memakai celana santai ia memakai jaket juga , tidak lupa sebuah topi untuk menutupi kepala botaknya. Sebelum pergi ia pamit pada Bu Atin, tidak ingin menambah masalah ia juga pamit pada Hara, mengirim pesan walau , Hara lama membalas. Leon dibuat menunggu beberapa menit,
[Mau kemana?] tanya Hara menjawab pesan Leon.
[Om Piter mengajakku minum bersama.]
[Terus … kamu sekarang dimana, kamu mengabariku setelah kamu keluar?] tanya Hara mencari seakan-akan mencari celah untuk mengajaknya bertengkar lagi.
[Hara … aku belum pergi, aku pamit dulu padamu baru keluar]
[Bohong]
[Kamu keluar dari balkon, aku masih di luar.] Balas Leon.
Hara membuka pintu balkon menoleh ke bawah Leon bersandar di samping mobil melambai pada Hara.
Lalu ia menekan nomor Hara dan meneleponnya.
“Baiklah, jangan lama-lama, bawa Bimo juga untuk supir kamu.”
“Baik Nyonya,” jawab Leon, ia menutup telepon dan meminta Bimo menyetir.
Lalu ia pergi meninggalkan rumah itu, Hara masih berdiri di balkon menatap mobil Leon meninggalkan rumah.
“Kita kemana Bos?” tanya Bimo melirik kaca depan.
“Kita ke Bar Caxna yang dekat Hotel, aku butuh minum Bim, otakku lelah.”
“Baik. Boss.”
“Kamu ikut masuk, apa menunggu di mobil?”
“Saya menunggu di mobil saja Bos.”
“Baik, ponselmu harus tetap aktif.”
“Baik Bos,” jawab Bimo dengan patuh.
__ADS_1
“Baiklah tunggu saya, saya hanya ingin minum dengan, Piter, omnya Hara,” baik Bos.
Leon masuk ingin menemui Piter. Kedua lelaki itu Zidan dan Piter sudah ada di sana.
Kemarahan dari para istri mereka, Hilda tiba-tiba mengamuk tidak suka melihatnya saat botak, padahal ia juga sangat membenci kepala botak licin, tetapi demi menuruti kemauan Hilda ia rela, tetapi saat malam bertemu Hilda, ia marah-marah menyuruhnya pergi kalau ia tidak mau memakai rambut palsu untuk menutupi kelapa botaknya.
“Iya ampun Mi, kamu yang memintaku seperti ini dan aku menurutinya,” teriak Piter.
“Tapi kamu menyeramkan seperti itu, aku tidak suka, tiba-tiba aku merasa mual melihat kepalamu, aku ingin kamu menutupi kepalamu, pakai rambut palsu,” pinta Hilda.
“aku tidak bisa.”
“Baik berarti kamu tidak senang melihat kami, aku yang pergi atau kamu yang pergi?” tanya Hilda dengan nada serius, bahkan tidak ada seorangpun yang mampu menenangkan.
“Baiklah, aku akan pergi, tidurlah, kamu butuh istirahat aku butuh udara segar,” ucap Piter meminta Bu Erna untuk menemani Hilda, ia keluar kebetulan Viky belum pulang karena ada banyak pekerjaan di kantor, ia menyuruh Piter pulang duluan takut Hilda marah.
Tetapi kali ini , bukan pujian yang diterima lelaki yang ikut berkepala botak itu, justru kemarahan dan pengusiran Hilda yang ia terima.
Piter sudah tiba terlebih dulu di bar yang diminta Leon sebuah bar mewah yang sering didatangi para artis dan pejabat, Piter memilih satu meja yang agak pojokan hingga ia bisa melihat leluasa sekitarnya yang baru masuk maupun yang baru keluar.
Ia melambaikan tangan saat melihat leon datang, tidak ada yang tahu kalau itu Leon, karena ia juga menyamarkan penampilannya sebuah topi kupluk dan kaca mata hitam dan jaket kulit, tetapi sebelum masuk ia sudah mengabari Piter kalau ia memakai topi dan kaca mata, maka itu pria botak yang satu ini mengenalnya.
Saat leon berjalan ia terkejut melihat penampilan Piter yang sangat berbeda, kalau Leon terlihat terlihat seperti mafia rusia maka lain halnya dengan Piter, ia terlihat seperti penjahat India.
Mereka bertiga korban kekejaman istri-istri yang sedang hamil.
Leon mengarahkan tinjunya kearah piter dan dibalas lelaki botak itu mereka melakukan salam tos mengunakan tinju tangan.
Piter sudah memesan minuman untuk Leon, ia tahu selera bos besar itu,
Piter menyendok batu es dari ember yang ada diatas meja menuangkannya ke gelas Leon dan Zidan.
Tidak ada obrolan, Leon membiarkan Piter menenangkan pikirannya.
“Dia mengusirku dari rumah” Piter memulai cerita, “ salahku apa coba?”
"Clara selalu ngambek ... dikit - dikit pulang ke rumah orang tuanya," ujar Piter.
Leon masih melipat tangannya di dada, hanya mendengar cerita Piter, Zidan sesekali tangannya mengangkat gelas bersoda itu dan meneguknya beberapa tegukan.
"Kita bertiga di kerjai, kita harus sabar tunggu mereka melahirkan," ujar Leon.
__ADS_1
Bersambung.