
Setelah meneguk minuman dalam gelas tersebut, Leon melawan si gondrong dengan tangan kosong, ia belum menyadari efek minuman yang ia minum.
Sementara Jovita yang melihat Leon hanya bisa menahan napas.
“Apa yang dia lakukan nanti? Kenapa dia meminumnya?” Jovita merasa sangat khawatir.
Leon tidak memiliki senjata sesuai permintaan lelaki itu, ia bersikap gentelemen menepati janji, ia datang tanpa dibekali senjata. Leon berpikir lelaki berambut gondrong ingin melecehkan Jovita dengan memaksanya memberi minuman beralkohol. Leon tidak menyadari kalau si gondrong tadinya hanya ingin memberi perangsang. Perangsang jika dicampur dengan minuman beralkohol efeknya lebih kuat.
“Kamu cari masalah denganku . Brengsek.” Leon sangat marah.
Lalu ia mematahkan kaki kursi kayu, ingin mengunakan menghajar penjahat tersebut. Melihat Leon mengamuk, lelaki yang memiliki rambut panjang itu, tidak mau kalah, dengan gerakan tangan cepat, ia mencabut pistol dari balik jaket dan menembakkannya ke arah Leon.
Door …!
Satu peluruh menembus lengan Leon dan lelaki itu ingin melarikan diri dari pintu belakang.
Mendengar suara tembakan dari dalam, orang-orang yang datang bersama Leon tidak mau kehilangan buruan besar; yakni seorang anak buah gerbong narkoba internasional.
Jika malam itu mereka berhasil melumpuhkan kawanan penjahat ini maka besok pagi akan menghiasi berita karena penangkapan narkoba berkala besar.
Maka saat lelaki itu ingin kabur sebuah tembakan balasan terdengar dari arah pintu depan.
Door …!
Satu tembakan mengenai kaki lelaki gondrong tersebut , matanya semakin panik saat ia menoleh ke kanan- kiri, ternyata Villa itu sudah terkepung.
“Jangan bergerak jatuhkan senjata mu, tempat ini sudah di kepung!” Suara terdengar dari pengeras suara dari balik pintu.
Leon memang cerdas.
Ia datang dengan polisi Satres atau Satuan Reserse Narkotika, Leon tidak mau melibatkan anak buahnya dalam urusan narkoba ini. Saat anak buah penjahat itu sibuk mengawasi anak buah Leon di rumahnya, ternyata di luar dugaan . Leon datang membawa barang sekalian dengan polisi.
“Apa yang terjadi? …. Bukankah mereka bilang anak buah Leon tidak ada yang keluar dari rumah? Lalu mereka siapa?” Lelaki gondrong itu ingin melarikan diri.
Door …
Satu tembakan mengenai kaki kirinya lagi, ia tidak bisa melarikan diri, karena kakinya dua-duanya dilumpuhkan dengan timah panas dari polisi yang sudah mengepung Villa.
Leon seakan-akan tidak menghiraukan luka tembak di lengannya. Ia mendekati tubuh penjahat itu dengan wajah geram.
“Gue gak sebodoh yang lu pikirkan, lu hanya anak bawang yang mencoba menggertak,” ucapnya menggertakkan rahang.
“Ha …Ha … Lelaki tua itu tidak akan membiarkanmu hidup Naga. Kamu dan wanita itu akan dicincang,” ucapnya sembari tertawa.
“Saya tidak perduli siapa bos mu, saya tidak akan pernah takut,” ujar Leon dengan nada tegas.
“Lalu bagaimana dengan wanita cantik itu? Apa kamu pikir dia akan tetap hidup, karena tubuhmu sebentar lagi menginginkannya,” ujarnya menunjukkan tombol bom peledak yang dipasang di tubuh Jovita. Wajah Leon langsung panik, ia menoleh kearah Jovita.
“Brengsek ...! Apa yang kamu lakukan?”
Mata Leon melotot, ia ingin merebut remote bom itu dari tangan penjahat
Lelaki gondrong itu mengangkat remote keatas siap meledakkan.
__ADS_1
“Dia akan hancur lebur DUAAAR …. Hancur,” ucapnya tertawa sumringah.
Saat ingin menekan tombolnya, Leon panik antara ingin memeluk tubuh Jovita atau merebut remote.
Door …
Leon terhempas ke lantai, saat ia berdiri ingin merebut remote itu, wajahnya pucat. Namun …. Telapak tangan lelaki gondrong itu hancur, karena terkena tembakan Zidan. Saat Leon meminta mereka tetap di rumah lelaki berwajah tampan itu, memilih membangkang demi keselamatan sang bos, ia mengikutinya, keluar dari pintu rahasia di rumah Leon, maka saat anak buah penjahat yang mengawasi rumah Leon, tidak melihat Zidan dan Toni keluar.
Anak buah penjahat tersebut memberi laporan, kalau anak buah Leon tidak ada yang keluar dari rumah, si gondrong tertipu, Zidan keluar bersama Toni
Remote bom tersebut terlempar jauh, Leon memungutnya dan berniat melepaskan bahan peledak dari tubuh Jovita. Tetapi, kepanikan terjadi, ternyata bom di tubuh Jovita tidak memakai remote melainkan timer .
“Sial!”Teriak Leon kesal.
Ia memeluk tubuh Jovita yang ketakutan, membayangkan tubuh wanita cantik itu hancur berserak di depan matanya, membuat tubuh Leon iku bergetar, ia panik saat waktu di bom tersebut terus berlari cepat.
“Ada Bom di sini!” Teriak Leon.
Seorang polisi gegana, lengkapnya dengan pakaian keamanan datang mendekat.
“Menjauh lah Pak Wardana, biarkan saya melakukan tugasku dengan tenang”
“Lakukan saja tugasmu Pak Polisi, saya tidak akan menganggu, Anda,” ucap Leon memeluk tubuh Jovita yang ketakutan.
“Pergilah,” bisik Jovita dengan mata berkaca-kaca, ia pasrah.
“Tidak apa-apa, kamu akan selamat, percaya padaku, lihat pak polisi ini, dia akan menyelamatkan kita”
Tubuh Leon menegang, mata melotot dan wajah menghitam menahan sesuatu yang kuat, datang bergejolak dari tubuhnya.
‘Oh, sial …. Apa yang aku minum tadi?’ Ia bertanya dalam hati.
Leon membuang napas pendek-pendek dan mengepal tangan dengan kuat, ia merasakan tubuhnya seakan-akan terbakar.
Polisi gegana kesulitan melepaskan bahan peledak itu dari kaki Jovita, karena terhalang rantai, karena kaki Jovita diikat pakai rantai ke kursi.
Sementara waktu tidak banyak, hanya butuh beberapa menit lagi sebelum bom meledak, sesuai waktu yang sudah diatur.
“Kita dalam masalah, kakinya di rantai ke kaki kursi,” ucap sang polisi.
“Bagaimana kalau rantainya dihancurkan?” Tanya Leon dengan wajah tersiksa.
Ia tidak merasakan luka tembak di tangannya lagi, ada rasa yang lebih kuat yang membuatnya begitu menderita. Obat perangsang yang ia minum diberi dosis tinggi, semakin lama akan semakin panas.
“Kamu percaya padaku?” Tanya Leon menatap Jovita.
“Iya”
“Baik tutup matamu.”
“Zidan apa kamu masih di sana?”
“Iya Bos”
__ADS_1
“Saya percaya padamu, nyawa kami berdua berada di tanganmu, saat ini. Kita tidak punya banyak waktu, hanya hitungan beberapa menit waktu yang tersisa. Kamu bidik rantai di kaki di bagian belakang Jovita”
“Baik Bos”
Zidan si penembak jitu, mengarahkan senjatanya membidik rantai yang mengikat kaki Jovita dengan resiko mematikan. Jika meleset ada dua kemungkinan; Kaki Jovita terkena peluru dan kedua jika kena akan mengenai bom tersebut dan meledak.
Zidan membuat perhitungan dalam otak dan memperhitungkan semua kemungkinan yang paling buruk, teropong senapan itu masih mengarah ke kaki Jovita.
“Bos saya punya cara yang memiliki resiko sedikit”
“Katakan”
“Letakkan besi yang ada di sebelah kanan Bos. Gunakan untuk alas rantai, agar pelurunya tidak menembus kaki Non Hara.”
“Baik”
Dengan cepat Leon memasukkan balok besi di belakang rantai.
“Sudah”
“Baik Bos, saya hitung mundur tiga, dua, satu!”
Door!
Jovita mencengkram lengan Leon yang terluka karena kaget, darah segar dari lengan Leon yang terkena tembak, menetes di lantai. Leon semakin meringis, tetapi bukan karena rasa sakit di lengan, melainkan tuntutan tubuh yang belum terlampiaskan.
Beruntung rantai di kaki Jovita terlepas dan hanya melukai kakinya sedikit, mereka berdua sama-sama berdarah.
Petugas gegana yang datang bersama Leon akhirnya berhasil menjinakkan peledak itu, setelah di lepaskan dari kaki Jovita, waktu berhenti di menit -menit terakhir, ketegangan berakhir.
Namun, ketegangan dari junior Leon semakin menjadi, suara ringisan dari mulut Leon tak mereda, ia semakin merasa tersiksa karena efek perangsang yang ia minum semakin bereaksi, ia merasakan aliran darah, mengalir deras ke arah juniornya.
“AH! Sial ….!” ucapnya mengepal jari-jarinya dengan kuat.
‘Ah, saya tidak tahan lagi, saya butuh pelampiasan, saya bisa gila kalau seperti ini' Leon membatin.
Bersambung ….
jANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1