Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Di belakang lelaki hebat ada istri yang cerdas


__ADS_3

Apa yang dikatakan Hara, akhirnya di lihat dan di rasakan Leon, di hari ia menyamar sebagai OB, ia sudah menemukan hal yang memilukan, salah satu pekerja lepas di perlakukan tidak adil oleh atasannya.


Setelah Banu  pergi setelah Bimo datang Leon masih berdiri diam di belakang hotel, ia merasa sangat marah ia tidak tahu selama ini ada hal yang seperti itu terjadi di hotelnya.


Leon tidak akan tahu hal  itu, kalau saja Hara  tidak meminta menyamar, Hara wanita yang baik ia selalu perduli sama semua orang, karena itulah ia ingin Leon melihat dan merasakannya sendiri kalau ia yang bicara sendiri  dan menjelaskan pada Leon, takutnya kurang jelas, Hara berpikir jika Leon sudah melihat sendiri akan lebih tepat.


“Apa Bos,  masih bertahan?” Tanya Bimo saat melihat wajah marah  Leon.


“Harus! urus lelaki kurang ajar itu, beri dia pelajaran, tapi jangan sampai mati,  dia memalak uang anak-anak juga, tampangnya seperti preman, dia tinggal di mana,siapa yang merekrut, sudah  berapa lama cari tahu …  satu lagi cari tahu tentang namanya Burhan, dia pekerja  harian di sini”


“Baik Bos.” Bimo meninggalkan Leon.


Tidak lama kemudian,  saat Leon masih berdiri di belakang hotel, tiba-tiba Burhan datang lagi membawa roti di tangannya.


“Kamu tidak apa-apa, ini makan? Aku, kan, sudah bilang agar kamu hati-hati dia itu orang yang paling kejam dan jahat, setiap kita gajian akan menyetor uang padanya sebagai uang keselamatan, anak-anak ada yang berapa orang yang melawan,  tetapi saya takut melawan, lebih baik menurut saja dari pada  dapat masalah, aku ingin tetap kerja di sini, aku butuh biaya untuk ibuku berobat, itulah alasanku mau bertahan di sini, kalau tidak sudah lama aku ingin keluar,” ujarnya menyodorkan  sebungkus roti pada Leon.


“Kenapa kalian tidak melapor pada pada atasannya atau sama pemilik hotel?” tanya Leon semakin ingin tahu tentang yang terjadi.


“Dia  mengancam kita,  lagian pemilik hotel mana mungkin perduli, sepertinya …  wajahnya angkuh dan tidak mau mendengar keluhan orang susah seperti kita,” keluhnya sedih, ia tidak tahu orang yang ia sebut pemilik hotel yang angkuh itu ada di sampingnya sedang menyamar.


“Kamu salah, mungkin dia tidak tahu, dia berpikir kalau semuanya baik-baik saja tidak ada masalah,” ujar Leon ia membela diri sendiri.


“Banyak masalah Pak, tetapi ditutupi rapat sama mereka semua, contoh kemarin peralatan yang mereka laporkan rusak di setujui dibeli dari atas, padahal barangnya masih bagus,  bahkan sebagian tidak di beli, mereka  banyak menipu.” Ujar Burhan,  ia menceritakan semuanya pada Leon.


Mendengar semuanya, Leon mengepal tangannya dengan kuat.


‘Mereka … ! menipuku? Cari mati kalian semua’ ujar Leon dalam hati, ia menarik napas panjang menahan letupan emosinya.


“Ceritakan semua padaku, akan, aku laporkan semuanya pada Pak Leon, aku, kan, anak baru.  Kalau dipecat tidak akan masalah, katakan,  apa saja yang kamu tahu, catat dan laporkan padaku besok pagi, aku akan langsung berikan pada Pak Leon,” ujar Leon.


“Tetapi, bagaimana kalau aku dapat masalah?” tanya Burhan dengan tatapan sendu, ia takut kehilangan pekerjaannya.


“Jangan khawatir, aku tidak akan melibatkan mu,” ujar Leon membujuknya.”Bila perlu aku yang akan mengambilnya ke rumahmu.”

__ADS_1


“Baiklah, besok pagi aku akan memberikan  semuanya padamu, makanlah rotinya, sebentar lagi kita akan memindahkan ranjang-ranjang bekas itu ke gudang, padahal ranjangnya masih baru kenapa diganti,” rutuk Burhan.


Ia meninggalkan Leon yang masih duduk di belakang gudang, ia tidak jadi memakan roti yang diberikan Burhan. Wajahnya semakin mengeras, karena marah , matanya memerah setelah mendengar penuturan Burhan,  Leon mengeluarkan ponselnya dan menelepon Hara dan memintanya memeriksa semua nota pembelian barang-barang perlengkapan hotel.


“Baiklah aku  memeriksanya,” ujar Hara.


Ia tersenyum kecil, karena  Leon akhirnya melihat semua dengan matanya sendiri.


           *


Saat sore tiba, akhirnya Banu  mendapat ganjaran atas perbuatan jahatnya.


Saat pulang Bimo menjalankan apa yang dikatakan Leon, Banu baru saja menghidupkan motor bebeknya ingin meninggalkan hotel, tiba-tiba dua orang berpakaian gelap dan menggunakan topi, menyeretnya ke belakang gudang hotel lalu mereka memberi pelajaran pada Banu, menghajarnya hingga babak belur.


“Si-si-siapa kalian apa yang kalian inginkan,” ujar lelaki bertubuh tinggi  itu saat ada dua orang  berbadan tegap mendorongnya masuk ke dalam gudang.


“Dengar! lu jangan-jangan coba malak anak-anak sini atau , lu menerima akibatnya,” ujar yang berpakaian hitam menatapnya dengan tatapan tajam dan tangan terangkat tinggi ke udara dan   meninjunya  wajah Banu, hingga lelaki itu meringis kesakitan, seorang lelaki yang di depannya memelintir tangannya kearah belakang  ia berteriak kesakitan.


“Baik, baiklah saya tidak akan melakukan hal itu lagi, tolong lepaskan saya.”


“Kalau Lu masih melakukannya gue akan mematahkan kedua kakimu,” bentak salah seorang dari merela.


“Ba-baik,” ujar Banu masih memegang tangannya yang di pelintir tadi.


Ia mendapat pelajaran atas perbuatannya, karena ia  berani tadi  menggertak Leon,  ia marah dan meminta Bimo memberinya pelajaran.


                                  


Di tempat lain saat Leon tiba di rumah wajahnya lesu dan terlihat lelah, bagaimana tidak bos besar itu tiba-tiba di suruh memindahkan barang-barang dari gudang tadi.


“Apa semuanya baik?” tanya Hara basa-basi walau ia tahu tidaklah baik, karena ia bisa melihat bagaimana bos besar itu kerja keras memindahkan barang-barang berat itu dari gudang.


“Tidak, aku lelah, mungkin karena aku kurang olah raga belakangan ini, jadi tenagaku tidak kuat mengangkat, barang-barang tadi,” ujar Leon.

__ADS_1


“Bagaimana hari pertama bekerja apa masih kuat?” tanya Hara kemudian membawa segelas susu jahe hangat untuk Leon setelah suaminya itu duduk di sofa.


“Apa Ibu tahu… semua itu dari dulu?”


“Aku juga pernah bekerja di sana, kan, tentu sudah tahu, sudah pernah bilang pada  tante Hilda dan dia memperbaikinya setelah ia pergi, kembali lagi seperti itu bahkan lebih buruk, ada temanku yang sudah bertahun-tahun bekerja di sana tetapi belum menjadi pegawai tetap, bahkan dia bilang gajinya hanya beberapa  kali naik, sementara orang yang baru bekerja di hotel bisa naik jabatan.”


“Kenapa seperti itu?” tanya Leon  menatap istrinya dengan wajah serius.


“Begini sayang, terkadang dalam perusahaan atau dalam sebuah pekerjaan ada namanya dinasti, jika seorang  dari jajaran perusahaan memiliki jabatan yang sedikit tinggi dia akan membawa keluarganya ke perusahaan dengan mudah terkadang tanpa seleksi dan tanpa prosedur  di perusahaan, nah … yang membawa itu membawa saudara lagi dengan hal yang sama begitulah seterusnya, mereka bekerja tanpa skill hanya mengandalkan sokongan orang dalam, mereka  juga bekerja akan setengah hati karena berpikir ada orang dalam nanti yang akan membela mereka.” Hara menjelaskan semuanya.


"Ok, setuju," ujar Leon.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasi untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (tamat)

__ADS_1


__ADS_2