Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Leon merasa kecewa


__ADS_3

Masih dalam pantry.


Dengan tangan gemetaran lelaki bertubuh tinggi kurus itu, menurut, ia menyendok  ke mulutnya tetapi wajahnya langsung berubah saat ia mencicipi sayur dan lauk.


“Ini semua basi, Pak”


“Iya, sekarang kamu bilang basi, mana mungkin kamu tidak tahu kalau mereka menyediakan makanan seperti ini di hotel saya, ini busuk, bau, sampah siapa yang mau makan? Dikasih kucing juga tidak mau makan, apa lagi manusia, saya sudah memberikan nada untuk menyediakan  makan


untuk semua karyawan, tetapi mereka semua makan di luar karena di sini busuk.”Leon sangat marah.


“Maaf Pak, saya akan mengurusnya,” ujar Pak Pur gemetaran.


“Jangan hanya kamu bilang urus, urus, kamu kemana saja selama ini!” bentak Leon.


Hara melihat sekelilingnya, ia berpikir kalau ruangan itu tidak cocok untuk tempat makan. Sebagai seorang lulusan arsitek otaknya langsung berpikir cepat, saat Leon masih marah-marah,  dengan suara tinggi dan sesekali ia menggertak meja di depan bawahannya.


Hara sibuk merancang bangunan itu dalam otaknya.


Bimo mendekat,  niatnya meminta bos perempuannya untuk menghentikan Leon.


“Bu, tolong tenangkan kan si Bos hanya ibu yang  bisa menenangkan yang ada nanti semuanya akan dipecat,” ujar Bimo dengan wajah memelas.


“Biarkan saja Bim, sudah lama juga si bos tidak  marah-marah’ kan?” jawab Hara tersenyum kecil.


“Iya tapi mereka semua jadi ketakutan,” ujar Bimo menunjuk tamu hotel yang kebetulan duduk di kursi pojok.


“Biarkan saja mereka juga tahu itu ditujukan untuk siapa kemarahan Pak Leon, itu semua untuk membela hak para pegawai kelas bawah yang biasa makan di sini, belakakangan ini justru mereka makan di luar , coba kamu hitung berapa banyak uang yang terbuang sia-sia.”


“Apa yang Ibu rencanakan?”


“Saya ingin mengubah bentuknya menjadi ruangan yang nyaman, seperti cafe milik kamu.”


Wajah Bimo langsung tersipu saat  Hara menyinggung cafe desain alay yang ia buat. Bimo sudah bekerja puluhan tahun pada Leon jadi Leon memberinya hadiah satu cafe dan satu rumah, Bimo juga sudah menikah dan memiliki dua orang anak.


“Ibu kok tahu, saya punya cafe alay seperti itu,” ujar Bimo.


“Tapi apa orang yang mendesain cafemu, masih hidup?” tanya Hara tersenyum kecil.


“Itu saya Bu.”

__ADS_1


“Ha, serius jadi lukisan-lukisan nyentrik itu kamu yang buat?” tanya Hara terkejut, menatap Bimo.


“Iya, itu saya, Bu,”ujar Bimo merasa malu.


Mereka  berdua mengobrol akrap menghiraukan Leon yang masih marah-marah, tetapi saat mereka berdua terlihat pembahasan, tiba-tiba Leon berdiri di samping mereke berdua dengan tatapan sinis melihat mereka bergantian.


“Apa yang kalian bicarakan?” Leon menatap mereka berdua bergantian.


“Tadi  Ibu Hara hanya bertanya tentang desain cafe milik saya Bos ,” ucapnya,  memberitahukan, sebelum sang bos  berwajah tegas itu menelannya hidup-hidup.


“Sudah marah-marahnya?” tanya Hara santai.


“Iya aku marah-marah di sana tetapi kalian berdua  tertawa gembira ria di sini,” ujar Leon dengan wajah ketus.


“Begini, aku hanya bertanya pendapat Bimo, aku ingin mendekorasi ruangan ini jadi ruangan yang nyaman untuk makan, ternyata bukan hanya  pegawai yang ke sini,  sering sekali tamu hotel ingin mencoba masakan di sini juga, aku ingin mendekornya agar lebih bagus,” ujar Hara.


“Aku setuju dengan idemu Ibu arsitek, lakukanlah yang terbaik,”  ujar Leon kemarahan di wajahnya  berangsur pulih, ia mendengarkan semua apa yang dikatakan Hara “Baiklah teruskan pembahasan kalian, aku juga mau selesaikan kemarahan ini sama mereka semua."


                                     *


Semua pegawai Hotel yang bersangkutan baik yang tidak ada kaitannya dipanggil ke tempat itu juga. Begitulah halnya jika satu masalah sudah sampai ke tangan Leon akan heboh dan membesar.


“Kalau kamu tidak sanggup menangani hal seperti ini, kamu mundurnya, jangan menyusahkan orang lain karena ketidakmampuan mu.” Ucap Leon pada Pur dengan tegas, lelaki itu  diam. “Ini sangat memalukan, di hotel berkelas seperti ini,  ternyata ada makanan sampah seperti itu.


Saya minta sekarang tempat ini di tutup dan makanan sampah itu dibuang, percuma saya berikan dana, ke sini, ternyata kalian tidak mengurusnya dengan baik,” ucap Leon.


Ia marah besar, tadinya  itu hal-hal kecil, tetapi bila di hitung-hitung dan di kalkulaskikan  semua dana yang diberikan ke Pantry pegawai semua terbuang sia-sia dan pegawainya tetap saja makan di luar. Bahkan hari  itu juga ke lima orang yang bekerja di bagian penyajian makanan langsung dipecat Leon.


“Orang –orang seperti mereka yang berani menyia-nyiakan makanan tidak pantas di hotel saya,” ujar Leon mengeluarkan kelimanya.


“Tetapi saya yang salah Pak,” ujar Pak Pur membela kelima lelaki itu.


“Tidak, harusnya mereka-mereka berpikir, makanan yang mereka sajikan dengan asal sama saja membuang-buangnya uang, walau dengan alasan apapun,  walau kamu hanya memotong uang operasional yang kamu berikan seharusnya mereka menyajikan menu secukupnya tetapi dengan sajian yang layak. Tetapi yang saya lihat tadi sungguh membuatku miris.  Di hotel semewah ini ada segilintir orang yang mencoba menghancurkannku,” ujar Leon.


Leon masih mengadakan rapat di satu ruangan, ia memanggil jajarannya untuk rapat lagi terkait  tempat makan yang disediakan perusahaan.


“Saya memperlakukan ini tanpa ada potongan dari gaji  para karyawan, tetapi menurut laporan yang saya terima ada potongan untuk makan di sini, setelah makan di sini ternyata  makanannya tidak sehat  dan mereka terpaksa beli makan di luar sana,  peraturan apa seperti itu, ini siapa yang melakukan peraturannya?" Semua menunduk tidak ada yang mengaku. Leon semakin marah saat semua tidak mau menjawab.


“Apa lagi  yang kalian kelola yang jadi  bahan untuk lahan korupsi?”

__ADS_1


Semua tidak ada berkutik, bahkan mengangkat wajahnya pun tidak ada berani melakukan.


                           *


Semua barang-barang di ruangan itu dikeluarkan, Hara sendiri yang memimpin barang-barang itu dipindahkan ke gudang, nanti kalau sudah ruangan itu sudah  ia rombak dan siap pakai barang-barang itu akan di pakai lagi.


Bu, bukanlah Bos tidak terlalu berlebihan mengeluarkan mereka semua?” tanya Bimo melirik Hara yang sedang sibuk mengatur orang-orang memindahkan barang-barang itu.


“Dia tahu apa yang di lakukan Bimo jangan khawatir,” ujar Hara menenangkan  Lelaki berbadan besar itu. “Saya juga ingin tugas untuk kamu saya yang mulai memantik api di sebagian pengelolaan gedung mall,  tujuanku untuk membakar tikus-tikus berdasi di perusahaan Leon,” ujar Hara.


“Apa yang harus saya lakukan, Bu?” Bimo siap menerima perintah.


“Saya juga  ingin  beres-beres di pengelolaan mall.”


“Apa yang terjadi di sana, apa ada masalah yang tidak diketahui si bos?” tanya  Bimo ia paling takut kalau ada masalah besar lagi.


“Pak Leon tahu tetapi ia bukan tipe lelaki yang ribet, ia membiarkan mereka berpesta pora, lalu saat ia marah, aku takut, nanti mereka semua dihabisi, aku tidak mau ia mengotori tangannya untuk hal kejahatan lagi, ia sudah banyak berubah sejak sudah punya anak, tetapi jika masih ada yang mencoba mengusiknya, saya takut setan dalam tubuhnya bangun lagi dan semua mereka lenyap itu yang pernah bilang padaku,” ujar Hara, ia tidak ingin Leon marah lagi.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasi untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


 -Aresya(TERBARU)


-Turun  Ranjang( on going)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (tamat)


__ADS_2