
Leon membawa Hara dari hotel ke rumah, ia takut ada yang mencoba mencelakai lagi.
Mobil Leon tiba di depan rumahnya, ia turun menggendong tubuh Hara yang tidur, di bawah pengaruh obat penenang.
Padahal Bu Ina sengaja datang kerumah Leon karena merindukan Hara, sejak Hara menikah dan meninggalkan rumahnya, ia sangat kesepian, ia selalu menyuruh Piter dan Vikky untuk menikah agar ia punya teman.
Saat kedua wanita duduk bercengkrama di teras rumah.
Kedua wanita yang hampir seumuran itu berdiri dengan panik, karena melihat Hara digendong turun dari mobil.
“A-apa lagi yang terjadi kali ini? ", Tanya Bu Atin panik.
“Apa yang terjadi Nak Leon? Kenapa dengan Hara?" tanya Bu Ina, ia panik.
“Bu, Bi, tidak apa-apa, Hara lagi tidur, nanti aku ceritakan tolong ambilkan air hangat Bu,” ucap Leon membawa istrinya ke kamar mereka.
Leon masih merasakan lututnya sesekali bergetar, kejadian hari ini membuat tenaga dan pikirannya terkuras.
Setelah meletakkan tubuh Hara diatas ranjang, ia juga membaringkan tubuhnya terlentang di atas kasur, kedua wanita itu datang membawa air hangat sesuai permintaan Leon.
“Ada apa, Hara kenapa?” tanya Bu Atin memegang dadanya.
“Ia pingsan Bu, sepanjang perjalanan pulang dari hotel ia terus menggigil dan mengigau, berikan aku air hangatnya Bu, Leon menarik laci meja mengeluarkan satu tablet obat dan meneguknya dengan air hangat, satu tablet untuk membuat tubuhnya tetap kuat.
“Apa kamu juga sakit?”
“Aku tidak Bu, Hara yang terlihat sangat lemah.”
“Iya, pasti ada yang membuat takut, kasihan dia,” ucap Bi Ina mengusap kepala Hara.
Melihat kedua wanita itu menatapnya dengan berbagai pertanyaan, mau tidak mau Leon akhirnya menceritakan yang terjadi, baru juga di ceritain, Bi Ina sudah berlinang air mata, tidak terbayang kalau saat itu yang terluka Hara bisa-bisa wanita itu akan ikut pingsan.
“Kapan dia akan hidup tenang? kenapa dia selalu dalam masalah? iya ampun, aku selalu ketakutan memikirkannya,” ucap Bi Ina. mengusap buliran air di sudut matanya. "Kalau kepala Hara terluka lagi, mungkin dia bukan lupa ingatan lagi, mungkin di tidak bisa bertahan .... Nak Leon kepala Hara tidak bisa terbentur lagi," ujar Bu Ina mengingatkan Leon.
“Aku akan selalu menjaganya Bu, percayalah,” ucap Leon menenangkan hati wanita yang sudah merawat istrinya sejak dari kecil itu.
*
Setelah beberapa jam tidur, Hara akhirnya bangun juga, ia membuka kelopak matanya dengan perlahan, wangi harum bunga yang sengaja di letakkan Bi Ina di nakas di samping tempat tidur.
__ADS_1
Ia tersenyum kecil, ia menyadari wanita pengasuhnya ada di rumah Leon.
“Kamu sudah bangun, sayang?” tanya Leon yang duduk di samping, menjaga sepanjang Hara tidur, sebuah buku tebal ia pegang , buku itu menemaninya selama ia menjadi hansip Hara.
“Iya, apa bibi di sini?” tanya Hara masih menatap vas bunga berwarna-warni tersebut.
“Kok kamu tahu, apa kamu tadi sempat terbangun?”
“Itu vas bunganya, hanya bibi yang biasa melakukan itu.”
“Oh … benar, apa kamu sudah kuat? Kalau kamu kuat, kita akan ke bawah tadi om kamu ke sini juga mereka ada di bawah menunggu, aku tidak ingin meninggalkanmu maka aku menunggu di sini.” Ucap Leon.
“Iya, aku sudah kuat, aku ganti pakaian dulu.” Hara ingin bangun, tetapi Leon meminta tetap duduk, ia yang mengambil pakaian istrinya dari lemari, ia bahkan tahu pakaian mana yang Hara suka di rumah.
“Sini, aku bantu membuka pakaianmu.”
“Apa aku tidak mandi dulu?” tanya Hara menatap Leon, ia takut kalau tubuhnya bau keringat.
“Hara… kamu baru pingsan, tubuh masih lemah kamu masih wangi," ucap Leon mengenduskan hidungnya ke leher Hara, Ia memundurkan tubuhnya karena tidak percaya diri.
“Kamu yakin apa aku tidak bau keringat?” tanya Hara lagi,
Leon membuka kancing kemeja Hara satu persatu, menggantinya dengan baju rumah yang lebih nyaman, Leon menggantinya dengan sikap diam wajahnya terlihat datar seakan-akan memikul beban yang amat berat.
"Ada apa?" Hara memegang pipi sang suami.
"Hara aku meminta maaf, karena aku kamu dalam bahaya."
"Itu bukan karena kamu, wanita itu sudah Lama tidak suka denganku, dia wanita stres, mungkin karena dia diceraikan suaminya. Kamu tahu kan wanita kebanyakan punya penyakit akut namanya iri hati"
"Apa kamu yakin tidak ada hubungan dengan Bunox?"
"Aku tidak tahu mereka punya hubungan atau tidak, tetapi wanita itu, banyak musuh di hotel, kerjaan sebar gosip yang tidak jelas. Jadi jangan takut kita akan baik-baik aja, bukan kita berdua tidak boleh stres", biar cepat hamil "ujar Hara, saat Leon merasa cemas, ia tahu Leon pasti banyak mendapat tekanan dari Piter.
Tangan Hara terjulur menyentuh pipi Leon , mata lelaki menatapnya dengan lembut, ia terdiam.
“Jangan khawatir kalau di luar sana aku akan di rumah," ucap Hara dengan tatapan tulus. “Mulai hari ini aku akan menurut apapun yang kamu katakan,” ujarnya lagi.
Leon seolah - seolah Mendapatkan kekuatan besar, saat Hara bicara seperti itu, ia memeluk tubuh Hara.
__ADS_1
" Terimakasih sayangku .... Karena mengerti aku," ujar Leon, Ia mengusap buliran air dari ujung matanya.
Lalu ia Membawanya turun, di lantai bawah Piter, Hilda dan Vikky juga datang sedang terlihat obrolan santai dengan ibunya.
“Hara, sayang kamu sudah bangun?” Bi Ina menghampirinya, wanita paru baya itu memeluk Hara.
“Bi, aku kangen,” ucap Hara memeluk tubuh Bi na dengan erat.
Hilda menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di gambarkan, matanya berkaca-kaca melihat Hara mendapat banyak kasih sayang dari semua orang terdekatnya, walau ia sudah yatim piatu. Tetapi masih bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu seperti Bi Ina dan Bu Atin.
Hilda juga yatim piatu, ia tidak punya orang tua bahkan tidak punya sanak saudara, ia hanya punya piter lelaki yang menjadi kekasihnya saat ini. Namun, lelaki itu tak kunjung melamarnya.
Piter yang duduk di sampingnya, menyadari perasaan Hilda, ia bisa melihat mata wanita itu berkaca-kaca.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Piter menatapnya dengan tatapan bingung, ia tahunya Hilda wanita yang super kuat wanita tanggung, tetapi, kali ini, wanita itu terlihat berurai air mata, terlihat rapuh dan sedih.
“Aku iri dengan bu Hara, dia wanita yang beruntung karena dikelilingi orang-orang yang menyayanginya,” ucap Hilda mengejap-ejapkan matanya untuk menghilangkan gumpalan awan dari matanya.
“Hei, jangan seperti itu, ada aku yang selalu untuk kamu, kamu tidak tahu apa tujuanku membawamu ke sini?"
Hilda hanya menggeleng, ia berpikir hanya akan menjalani hidup yang ada di depannya dengan sebaik-baiknya, karena takdir jodoh sudah ada yang mengaturnya, ia tidak mau banyak menuntut Piter lagi untuk menikahinya dengannya, lelah dengan hal seperti itu.
"Hilda, aku tidak tahu sampai kapan umurku tetapi .... -"
"Apa?Kamu mau bilang kalau kamu ingin meninggalkanku Lagi!" potong Hilda marah. Ia marah pada Piter.
Tiba-tiba Piter terdiam, kalimat romantis yang ia hapal beberapa minggu ini buyar semua, padahal niatnya tadi ingin melamar Hilda di depan Leon.
Ia sudah merencanakannya jauh- jauh hari dengan Viky.
'Astaga ... aku jadi lupa semua Kalimatnya, Bagaimana ini? ' Piter terdiam.
Niat ingin melamar Hilda, tetapi Piter mendadak lupa semua kalimat karena Hilda mengagetkannya tadi.
"Ayo lakukan," bisik Vikky yang ikut Membantu ia duduk di samping Piter.
"Aku jadi lupa," ujar Piter.
Bersambung.
__ADS_1