
05:30 WIB
Pantai Indah Kapuk(PIK).
Disebuah kavling perumahan mewah, dalam suasana pagi yang tenang. Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang memecahkan ketenangan. Suara tembakan itu terdengar dari sebuah rumah mewah berlantai tiga yang terletak di tepi pantai. Tepatnya di kediaman Leon Wardana.
Mendengar suara tembakan itu, semua anak buah Leon berhamburan berlari ke kamar sang bos dengan menenteng senjata masing-masing.
Leon keluar dari kamar menggendong tubuh Jovita yang sudah bersimbah darah, bahkan membanjiri pakaiannya, darah segar itu memenuhi wajah cantik Jovita. Bahkan menetes sepanjang jalan, di mana Leon berlari membawa Jovita turun dari lantai tiga.
Tetesan darah itu bukan hanya dari luka Jovita, tetesan darah juga mengalir dari luka tembak yang dialami Leon.
“Ambilkan Mobil!”Teriak Leon.
Rikko, Toni, Iwan berlari cepat mengambil posisi masing-masing, sebuah mobil sport hitam yang di kendarai Iwan berhenti di depan.
Leon masuk mengendong tubuh Jovita. Toni dan Rikko keluar mengendari motor besar mengambil posisi membuka jalan untuk mobil.
Dalam mobil itu wajah Leon menegang bercampur panik, satu telapak tangannya ia tempelkan di sisi leher Jovita yang terluka untuk menghentikan darah yang mengalir.
Jovita terbatuk-batuk, selain terluka parah, ia juga terserang kepanikan, karena dalam pikirannya ia telah menembak Leon.
“Bertahanlah … kamu tidak akan mati semudah itu,” ucap Leon menggertak kan rahangnya dengan kuat, memperlihatkan urat-urat di lehernya saling menarik dan mengeras, ia terlihat emosional, bahkan tanpa ia sadari air dalam matanya menetes dan mengenai wajah Jovita.
“Uhuk …uhuk … uhuk” Tubuh Jovita tiba-tiba mengalami kejang-kejang.
“Tenanglah … kamu akan baik-baik saja,” ucap Leon memeluk di dadanya, wajah Leon memerah, tubuhnya ikut bergetar menahan perasaan takut.
Takut kehilangan gadis berpita merah itu, wanita yang ia incar dari sejak kecil hingga dewasa.
“A-a-aku kedinginan Leon,” ujar Jovita dengan bibir bergetar, wajahnya benar-benar pucat seperti kapas.
“Cepatlah Brengsek!” Teriak Leon pada Iwan yang sedang menyetir, padahal lelaki bertubuh kekar itu sudah berusaha keras menerjang jalan yang sedang macet.
Bahkan Toni dan Rikko nyaris baku hantam dengan pengendara mobil karena Toni memaksa mundur agar mobil yang di kendarai Iwan bisa lewat.
“Baik Bos” Jawab Iwan tanpa membantah, ia melajukan mobilnya dari jalur pejalan kaki, agar bisa melewati kemacetan .
Sudah seperti dongeng klasik yang selalu kita dengar dari tahun ke tahun, kalau ibu kota dilanda kemacetan setiap hari, apalagi di jam pagi.
Iwan sadar akan hal itu, maka itu … ia menerjang jalur pejalan kaki agar bisa lewat, tidak perduli teriakan orang-orang kepadanya.
__ADS_1
“Leon aku capek …,” ucap Jovita dengan suara pelan.
Leon mendengarnya tetapi ia tidak mau menyahutnya, ia menggantikannya dengan pelukan yang semakin erat. Setelah mengalami kejang-kejang karena banyak hampir kehabisan darah, Jovita akhirnya tidak sadarkan diri, saat ia pingsan telapak tangannya terlentang, ternyata bukan hanya leher yang terluka telapak tangganya menggenggam kuat pecahan gelas kaca dan alhasil telapak tangan itu juga terluka.
“Siaaalan apa kamu lakukan …?” ujar Leon dengan suara tertahan meraih telapak tangan Jovita yang terluka, lalu meletakkannya di dadanya.
Dengan usaha keras, akhirnya mobil itu tiba di sebuah rumah sakit swasta
Saat tiba, beberapa dokter sudah menunggu di depan rumah sakit dan beberapa perawat .
Toni sudah mengabari dokter pribadi Leon yang saat itu bertugas di rumah sakit itu juga.
Leon mengendong Jovita ke ranjang dan perawat lelaki itu berlari mendorong ranjang rumah sakit, membawa Jovita ke ruangan UGD, tangan seorang dokter wanita menekan luka di leher Jovita, bahkan saat ia didorong pun, darah masih menetes dari telapak tangan Jovita yang terluka. Tidak terbayang berapa banyak darah yang ia buang saat itu.
“Tunggu di luar saja Pak, biarkan dokter yang mengambil alih,” ucap seorang dokter menahan Leon di depan pintu.
Pundak Leon naik turun menahan perasaan gugup, ia bahkan tidak menghiraukan luka di pinggangnya.
Toni, Rikko dan Iwan ikut berdiri dengan wajah panik, bahkan Iwan tidak menyadari kalau ia hanya memakai celana kolor ke rumah sakit itu, karena saat suara tembakan itu terdengar pagi itu, ia masih tertidur.
Maka saat ada suara ‘dor’ dari kamar sang bos, dengan refleks ia berlari menyambar pistol di bawah bantal dan berlari ke arah kamar Leon.
Iwan baru menyadari saat seorang suster keluar dari ruangan Jovita tersenyum geli melihat Iwan, ternyata terong miliknya menegap dengan angkuh di balik celana kolor bermotif klub sepak bola itu.
“Oh buseet … sial! Aku gak pakai celana,” ucapnya menutup terong miliknya dengan kedua telapak tangannya.
Ia menghampiri Toni dan berkata;
“Berikan aku jaket mu, aku tidak pakai celana”
Mungkin kalau tidak ada Leon, Rikko sudah tertawa sambil guling-gulingan melihat rekan kerjanya hanya pakai kolor, atau mungkin ia akan menjahilinya.
Tetapi dalam situasi genting seperti saat itu.
Hal lucu seperti itupun bukan hal lucu lagi di mata mereka. Mereka bertiga hanya diam dengan wajah menegang , karena darah dari tubuh Leon juga menetes di lantai rumah sakit.
Mereka tidak ada yang berani mendekat atau hanya sekedar bertanya.
Tanpa protes Toni memberikan jaket miliknya pada Iwan. Toni dan Rikko berpakaian lengkap, jaket kulit sebagai ciri khas pengawal pribadi Leon. Karena mereka berdua pagi itu masih berjaga dapat giliran shif jaga sampai pagi, sementara Iwan dapat shif sore .
Setelah memberikan jaket kulit berwarna hitam itu pada Iwan, Toni memberanikan diri mendekati Bos Leon.
__ADS_1
“Bos, kamu terluka?” Toni berdiri di depannya.
Tetapi bukan sambutan baik yang di terima Toni Hong ia malah mendapat balasan ….
“Menyingkir lah dari hadapanku brengsek, sebelum aku melenyapkan mu. Pergi jauh dari hadapanku jangan sampai aku melihatmu!” Leon bahkan mengarahkan benda berbahaya itu di kening Toni. Ia berpikir semua itu terjadi karena Toni.
Lelaki bermata sipit itu hanya bisa diam.
‘Sumpah! Demi rambut gimbal Mak Lampir …. Dia tidak tahu di mana letak kesalahannya saat itu’
“Baik Bos,” ucap Toni menjauh dari Leon.
Walau dalam hati lelaki keturunan Tionghoa itu protes, tetapi ia sadar , perkataan Leon tidak bisa dibantah dan tidak boleh ada protes. Leon hanya membutuhkan dua jawaban dari anak buahnya yakni;
Baik Bos ….!
Siap Bos ….!
Selainnya akan dianggap sebagai bantahan. ‘Bos selalu benar’
Ketiga lelaki berwajah tampan itu anak buah yang paling berpengaruh di kerajaan bisnis Leon. Toni Hong keturunan Tionghoa dari suku Dayak pedalaman Kalimantan. Ia memiliki kemampuan menggunakan senjata-senjata dari sukunya, seperti Mandau, sumpit beracun. Rikko lelaki berkebangsaan Jepang yang ahli dalam pedang, tadinya satu perguruan dengan Leon dan memutuskan ikut dengannya, ia ahli beladiri juga
Iwan seorang mantan tentara yang melarikan diri, karena menghajar atasannya saat bertugas di Kalimantan. Leon menyelamatkannya saat ia terluka parah di hutan, ia memutuskan keluar dari tugasnya sebagai abdi negara dan ikut dengan Leon.
Ia memiliki keahlian di bagian senjata dan bisa menerbangkan helikopter.
Leon memiliki formasi pertahanan yang bagus, karena ketiga anak buahnya. Walau mereka bertiga memiliki keahlian masing-masing . Jangan lupakan Sang Bos juga tidak kalah hebat, ia memili kemampuan yang di miliki semua anak buahnya, dan bahkan memiliki kelebihan dari ketiga anak buahnya yakni;
‘Lebih Kejam’
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)