Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Istana dan wanita-wanita cantik


__ADS_3

Istana Dan Wanita


Setelah wanita penghangat tubuh Leon masuk ke kamar.


Jovita Hara berjalan menyusuri  sudut rumah,  mata Jovita teralih dengan interior dan desain rumah Leon.


“Oh, kamu orang yang teliti juga, butuh  perhitungan yang matang untuk membuat konsep seperti ini,” ucap Rara  menatap takjub dengan interior rumah Leon.


 Jovita berdiri di balkon rumah, di sungguh kan pemandangan yang indah, Pantai Indah Kapuk.


Kemudian matanya beralih ke desain rumah milik Leon.


Jovita sangat mengagumi rumah itu setiap sudut bangunan rumah, membuatnya takjub.


Leon seorang Raja tanpa Ratu, ia memiliki semuanya, harta, kekuasaan dan kenikmatan dunia, semua ia miliki, hanya satu yang tidak di miliki yaitu Cinta,  ia tidak memiliki cinta dalam hati.


“Punya segalanya  tetapi tidak memiliki cinta dan tidak punya hati untuk apa? Mungkin hatimu  sudah kamu berikan dimakan anjing,” ujar Jovita.


Ia masih berdiri di balkon  menikmati udara malam, sementara ia berdiri menikmati hembusan angin. Sementara Leon menikmati aktivitas panas bersama wanita cantik bergaun merah itu.


Jovita berjalan kembali,  menyusuri setiap sudut dalam ruangan sampai-sampai ia hampir nyasar.


Rumah di lengkapi Bar, tempat karaoke.


“Gila … ini rumah apa mall sih, lengkap semua.


mana dapur.”  Jovita   berjalan, ternyata ia nyasar dan  masuk keruangan yang ada bioskopnya.


 “Gila ni orang, dia nonton sama siapa?” Tanya Jovita, ia tidak berhenti-henti  meneliti ke semua ruangan.


Dengan usaha yang keras akhirnya ia menemukan dapur,


 “Ini dia dapurnya tapi apa ....! Ini dapur apa lapangan  bola sih, luas benar.” Jovita tersenyum, kecil dengan pandangan menyusuri kabin dapur rumah Leon.


Dalam dapur, wanita paruh baya tampak tersenyum padanya.


“Bi Atin? Bibi di sini juga, bukannya di Kalimantan?” Tanya Jovita   ia memeluk tubuh wanita paru baya itu, akhirnya ia merasa  tidak merasa sendirian lagi,   punya teman mengobrol .


“Kamu pasti sudah lapar Non, sini duduk, Bibi buatin sup hangat buat kamu ,” kata si bibi seperti biasa wanita itu selalu baik pada Jovita.


 Mulai saat ia di pedalaman, hingga di kota di Kalimantan, kini ia di Jakarta juga bertemu, wanita itu selalu bersikap baik padanya.


“Boleh Bi, aku sudah lapar bangat,” kata Jovita. Ia duduk di meja makan berwarna coklat, bentuknya memanjang seperti  meja rapat.


“Non, kenapa Pak Leon memintamu keluar?”

__ADS_1


“Oh, dia  lagi ingin di manjakan sama wanita cantik namanya red rose,” ujar  Jovita terlihat ceria, tidak ada raut wajah kecewa ataupun sakit hati.


Bi Atin hanya tersenyum datar mendengar cerita Jovita.


Saat ia duduk tiba-tiba seorang wanita cantik datang, ia tak kala cantik dengan wanita yang saat itu,  lagi menghangatkan tubuh Leon.


Bi, tolong rebus daun sirih dong buat salsa,” wanita cantik itu menyodorkan beberapa lembar  daun sirih untuk direbus.


Matanya  menatap sinis pada Jovita, tatapan yang menyepelekan.


“Baik Non salsa, letakkan saja di atas meja"


“Ini, lu bersihkan dulu nanti,” katanya menyuruh Jovita.


Ia tidak mau menambah atau membuat masalah, ia menerimanya.


“Baik.”  Jovita membawanya menuju wastafel dan mencucinya dengan bersih.


“Nanti suruh dia yang bawa ke kamarku ya Bi,” pintanya dengan manja.


“Biar saya yang bawa Non, Ini Jovita,” kata Bi atin mencoba memperkenalkan Jovita.


“Iya, tapi pembantu di sini’ kan?”


“Bukan Non,  Bos yang bawa dia,” ujar Bi Atin.


“Ia belum dapat predikat bunga Non, tapi dia salah satu wanita bos Leon juga …  jadi tolong kalian saling menghormati,”ujar  Bi Atin.


“Belum dapat bunga, jadi belum wanitanya Bi, bagaimana sih, paling juga entar di jadikan pembantu,” ucap wanita itu sinis.


“Iya Bi …  mbak Salsa benar, aku jadi teman bibi saja nanti  di bagian dapur,” ujar Jovita.


Demi apapun, ia lebih memilih jadi pembantu dari pada bersama Leon.


“Iya kan bibi, dia saja sadar diri,” ujar Salsa tertawa sinis.


Ia  meninggalkan dapur dan masuk ke kamarnya.


Terlihat Bi Atin menarik napas berat.


“Kenapa kamu bilang seperti itu padanya Non? Saat semua wanita  berlomba menjadi wanita Leon kenapa kamu malah menolak?”


“Gaklah Bi, aku memilih jadi pembantu saja,Tapi mereka itu siapanya Leon, Bi?” Tanya Jovita.


“Mereka wanitanya Pak Leon, saling merebut ingin menghangatkan ranjang tuan Naga, kenapa kamu malah tidak mau?” tanya  Bi Atin.

__ADS_1


“Haaa … jadi wanitanya?  Ogah gue Bi,  lebih baik dekat sama bibi saja,” ujar Jovita, memeluk pinggang wanita itu dengan hangat, seakan wanita itu ibunya.


Ia duduk kembali dan mulai menyantap makanan


Matahari sudah mulai pergi,  perlahan meninggalkan cakrawala membawa cahaya mentari, meninggalkan warna jingga yang terlukis indah di langit.


Kini malam sudah datang menyapa, rumah mewah milik Leon terlihat sangat indah saat  malam hari.


Malam itu, Jovita sebisa mungkin menghindar dari Leon, ia bersembunyi di kamar Bi Atin, hanya kamar itu yang tidak di pasang CCTV. Walau kamar asisten rumah tangga, kamar Bi Atin terlihat luas di lengkapi tv dan pendingin ruangan, dan ranjang yan empuk.


“Wah ini seluas kamar Jovita dulu, ranjangnya empuk, ada kamar mandinya juga dalam kamar, bibi orang yang beruntung, padahal  dulu asisten rumah tangga kami kamarnya sederhana, hanya sepetak,” ujar Jovita, matanya sibuk mengawasi semua dalam seisi kamar bibi Atin, ia merebahkan tubuhnya dan menyambar remote TV di atas nakas di samping ranjang menekan tombol on, awalnya ia ogah-ogah an menonton.


Tapi saat ia mengonta-ganti canel, ia melihat berita tentang Beni.


Ia di temukan dalam keadaan babak  belur, di satu ruko di arah Mangga Dua, di mana ia diculik saat itu. Saat Jovita hampir jadi pemeran film biru.


Di samping tubuhnya,  ada dua orang tidak bernyawa, keduanya korban penganiayaan dan tangan keduanya di patahkan.


“Bukan kedua orang itu yang hampir memperkosaku? Waktu dalam ruko saat Leon datang menyelamatkanku?”


Mata jovita membesar


 ”Ini ulahnya,  Leon pasti menghajar kedua orang itu karena menyentuhku”


 Jovita mengingat saat di Kalimantan,  saat anak buahnya menonjok keningnya,  Kabarnya Leon menghajarnya sampai hampir mati. Ia mengingat ucapan Leon ‘Tidak ada yang boleh menyentuh milikku’


“Kamu memang lelaki menakutkan ular Naga,” ujar  Jovita membiarkan TV menyala dan menarik selimut dan tidur.


Padahal Leon mencarinya sampai pusing, bolak-balik melihat  monitor cctv nya, mencarinya ke setiap sudut rumahnya dan meminta anak buahnya berpencar.


Saat Leon pusing mencari jovita, wanita cantik bertubuh ramping itu, sudah bermimpi indah.


Bersambung ....


Bantu Vote  like dan kasih hadiah juga, iya kakak,


 Agara authornya semangat up tiap hari.


 Baca juga;


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2