
Malamnya , Dokter masih berjuang keras untuk mencari tahu penyebab kebutaan yang dialami Jovita, mereka kembali membawa Jovita ke ruang beda akan melakukan pemeriksaan saraf di bagian kepala, wanita cantik itu masih berjuang untuk sembuh.
Leon sangat depresi melihat kondisi Jovita yang kembali tidak sadarkan diri , setelah mengalami kejang-kejang untuk kedua kalinya. Melihat kemarahan Leon direktur rumah sakit mendesak para dokter untuk bekerja keras untuk kesembuhan Jovita karena direktur rumah sakit itu tidak ingin Pemilik PT. Wardana Kontruksi itu marah.
Nama Leon Wardana Atau PT. Wardana Kontruksi cukup di kenal juga di rumah sakit tersebut, karena selain kejam, lelaki berwajah tegas itu juga punya rasa sosial tinggi, entah itu tulus dari hati atau hanya sebuah alibi untuk menutupi bisnis gelap yang Leon geluti.
Nama Leon terdaftar sebagai salah satu penyumbang dana besar, untuk anak-anak penderita kangker di rumah sakit itu, dana besar itu disalurkan di bawa pengawasan dr Billy, para dokter tidak tahu sebelumnya bagaimana tampang dan wujud orang yang memberi sumbangan, untuk rumah sakit mereka, hanya tahu namanya saja, tetapi tidak tahu bagaimana wujud asli dari Leon Wardana.
Si cantik Jovita Hara.
Leon menggertak dan mengancam direktur rumah sakit karena Jovita Hara belum sadar.
Barulah mereka tahu, kalau lelaki itu Leon Wardana dan wanita cantik itu istrinya, Hara Wardana.
Seorang perawat berbisik pada rekannya.
"Bukankah gadis muda itu terlihat lebih cocok jadi keponakannya dari pada istrinya?" bisik pada rekannya.
Mata Billy menatap tajam, pada sang perawat, barulah ia diam.
“Aku tidak mau tahu dr.Billy! Wanitaku harus sembuh. Bagaimana pun caranya. Lakukan apa saja. Apa saja!”Leon menatap tegas pada dr. Billy.
Dokter muda berkulit putih itu hanya bisa mengiyakan semua permintaan Leon.
“Baik Pak Leon, tenanglah para dokter lagi berusaha keras,” ujar Billy dengan wajah lelah mata sipitnya terlihat semakin kecil karena kurang tidur.
“Ini sudah satu hari … Dia belum mendapatkan perubahan,” ucapnya dengan wajah tegas, ia mondar-mandir seperti setrikaan di ruangan perawatannya, berdecak pinggang.
Leon belum pulih sempurna tetapi … seolah-olah tidak merasa sakit lagi.
“Lalu kapan dia akan dipindahkan ke ruangan ini?” tanya lagi.
Dokter Billy menutup mata sekejap lalu ia berkata lagi;
“Bersabarlah Pak Leon dia masih dalam ruangan khusus yang memiliki alat untuk mendukung kesembuhannya”
“Apa alat-alat itu tidak bisa dipindahkan ke ruangan perawatan ini?” Tanyanya lagi, ia berdiri menatap jalanan ibu kota dari jendela ruangan VVIP yang ia tempati.
Billy mengelus dadanya lagi lalu ia menjawab;
“Tidak bisa Pak Leon, butuh beberapa hari memindahkan instalasi listriknya kalau harus dipindahkan, karena alat-alat itu dihidupkan dengan tenaga listrik,” ucapnya lagi, ia berusaha keras agar nada suara tetap stabil, kalau saja itu pasiennya yang lain, mungkin Billy sudah memberinya suntikan rabies biar gila sekalian.
Tetapi ini Leon, Bos Naga yang tidak memiliki rasa takut untuk hal apapun dan emosinya terkadang tidak bisa dikontrol kalau ia sedang marah.
Leon diam, matanya menatap pintu masuk, ada Rikko yang akan datang melapor.
“Baiklah Dokter, aku mengerti,” ujar Leon.
“Baiklah Pak Leon, kalau begitu aku keluar dulu”
“Baiklah,” ucap Leon, ia mengangguk saat ia melihat Rikko datang.
Dokter Billy merasa sangat senang saat ada Rikko penyelamatnya, kalau Rikko tidak datang mungkin ia akan mati berdiri atau mengalami kejang-kejang, seperti Jovita, menghadapi pertanyaan dan tekanan Leon padanya, ia keluar dan menghirup napas lega.
__ADS_1
Di sisi Lain.
Si tampan Toni Hong harus menahan rasa sakit karena luka bakar yang ia alami malam itu.
“Bagaimana?” Tanya Leon menatap Rikko dengan tatapan tegas, ia bertanya setelah dr Billy meninggalkan ruangan itu.
“Semua berjalan baik Bos, Toni bisa mengatasinya”
“Kamu yakin Toni tidak meninggalkan jejak?”
“Semuanya habis terbakar dan beberapa peti kemas pengiriman hari itu ikut di bakar juga”
“Bagus, bawa barang itu ke gudang. Ingat! Saya tidak mau ada masalah sedikitpun. Suruh Iwan mengawasi, lakukan larut malam”
“Baik Bos.” Rikko menelepon , Iwan agar membawa barang itu ke gudang.
Leon bahkan tidak bertanya bagaimana keadaan Toni, jelas-jelas ia tahu bahaya yang di hadapi Toni. Ia bertarung nyawa demi melakukan pekerjaannya . Ia harus rela tangan kirinya terbakar, demi bisa mengeluarkan barang yang disita pihak beacukai.
Toni bertaruh nyawa, sebelum peti kemas itu dipindahkan petugas untuk dibongkar besok . Toni masuk melalui pipa pembuangan air bersama anak buahnya dan bekerja sama dengan seorang bagian bongkar muat barang di pelabuhan.
Setelah barang milik sang bos di keluarkan, ia membakar peti kemas itu untuk membuat alibi kebakaran, ternyata malang untuk si tampan Toni, api menyambar sarung tangan karet yang ia pakai, karena ada ada tumpahan bensin di sarung tangannya.
Tetapi ia bersikap profesional, walau tangan terluka, ia menuntaskan tugasnya dengan baik, barang kiriman itu bisa keluar dari pelabuhan.
l
Toni terluka
**
Penghianatan dan dihianati sudah hal biasa dalam dunia bisnis. Kali ini pun terjadi, setelah Toni berhasil mengeluarkan paket kiriman dari pelabuhan dengan susah payah.
Sekolompok penjahat tengik mencegat mereka di jalanan sepi. Ia meminta orang melakukan perampasan di jalan.
Toni saat itu, lagi memejamkan matanya dalam mobil, setelah tangannya yang terkena sambaran api hanya di bungkus dan ia minum obat pereda sakit dan Iwan mengawal mobil dari belakang.
Tiba-tiba saat jalanan sepi tepatnya di arah Cileungsi daerah industri, tiba-tiba mencegat mobil menggunakan batang pohon besar yang di bentangkan tepat di tengah jalan, alhasil ke tiga mobil itu tidak bisa bergerak.
Iwan yang mengendarai motor di belakang langsung bertindak cepat. Ia mematikan mesin motor dan menjatuhkannya ke semak-semak , lalu ia bersembunyi meminta bantuan pada Rikkko. Dugaannya benar.
Sekelompok orang memakai penutup kepala, membawa golok panjang dan balok dan celurit, langsung mengacuhkan ke arah ke tiga mobil yang membawa barang kiriman .
“Keluar … Keluar Lu “ Seorang mengacuhkan golok panjang pada sopir.
Toni yang tiduran di bangku belakang, menunduk dan mengeluarkan pistol miliknya dari balik pinggang sikapnya waspada, bersembunyi di bawah jok mobil, ia menunggu aba-aba dari Iwan, ia menekan alat di komunikasi di kupingnya.
“Dasar preman kampung kalian tidak tahu berhadapan dengan siapa, Bos akan mencincang kalian kalau sudah berani menyentuh barangnya,” gumam Toni masih menunduk.
“Tahan Ton, tunggu perintah dari Bos,” bisik Iwan dari balik semak.
“Baik”
Bisa saja Toni dan Iwan menghabisi mereke dengan tembakan. Namun, bos Leon memberi perintah jangan ada masalah.
Maka mereka harus menunggu perintah dari Leon.
Di rumah sakit.
Rikko melaporkan keadaan darurat itu pada Leon.
“Bos, ada masalah, pengiriman barang kita dihadang, di daerah Cileungsi”
__ADS_1
Leon tampak tenang hanya menggosok-gosok ujung hidungnya dengan tangannya.
“Sepertinya ada yang membocorkannya," ucap Rikko
“Jenis apa mereka?" Tanya Leon raut wajahnya serius.
“Menurut Iwan hanya gabus kecil”
“Baiklah tunggu aba-aba dari saya," ujar Leon merasa lega, ia sempat berpikir mereka dicegat polisi Intel atau saingan sesama mafia.
Leon menelepon seseorang, kepala preman di wilayah itu.
Karena Leon berpikir kalau hanya menghadapi preman kampung atau yang mereka sebut ikan gabus kecil . Leon tidak perlu mengerahkan anak buahnya, bisa saja ia meminta Rikko menerbangkan helikopter miliknya dan menurunkan tepat di tempat kejadian.
Tetapi Jika ia melakukan itu kehebohan akan terjadi karena suara helikopter , kalau itu di Kalimantan sudah hal biasa karena daerah hutan.
Untuk menghadapi gabus kecil , ia juga harus menghadapinya dengan gabus kecil juga. Maka Leon meminta bantuan pada seseorang kepala preman yang memegang kendali di daerah itu.
Lelaki berkumis itu asli orang di situ juga, jadi ia bisa mengerakkan orang-orangnya, Maka puluhan motor meluncur membantu Toni dan Iwan
Tepat saat ingin memaksa buka. Melihat puluhan motor datang dari jauh, orang -orang yang memakai penutup kepala itu, ternyata melakukan perlawanan.
Salah seorang dari mereka mengarahkan pistol .
“Dor …!”
Suara tembakan terdengar dan satu peluru bersarang di lengan Iwan, melihat rekanya tertembak Toni tidak bisa menahan diri.
Ia mengabaikan perintah Leon demi rekannya, ia dan rekannya yang lain keluar dari mobil.
Door!”
Salah seorang dari mereka tertembak dan keenam rekan Toni serentak mengarahkan senjata mereka ke arah preman yang mencegat itu.
Melihat yang mereka hadapi mafia kelas kakap, mereka seketika terdiam, saling menatap satu sama lain.
Mereka hanya bawa golok balok dan celurit sementara Toni dan orang-orangnya sudah menenteng pistol bahkan salah seorang rekan Toni mengarahkan shotgun tipe combat KJX yang mampu menghancurkan mereka sekaligus.
“Minggir lu pada ....! dari pada kehilangan kepala!” ujar salah seorang anak buah Leon.
Tidak ingin mati konyol, mereka mundur, apalagi saat melihat orang-orang naik motor datang membantu mereka.
“Oi anak mana Lu” Teriak kepala preman bertato itu saat motornya itu tiba.
Mereka kabur menggotong temannya yang terluka, kabur dengan tangan kosong. Toni dan Iwan tidak ingin mengundang perhatian warga, meminta orang-orang itu menyingkirkan batang kayu besar itu. Paket itu selamat masuk ke dalam gudang penyimpanan . Tetapi Iwan terluka di lengan mereka berdua sama-sama terluka.
Tetapi percayalah, anak buah Leon yang coba berkhianat itu mungkin saat itu sudah mengalami senam jantung. Leon pasti akan mencari dan mendapatkannya. Lalu menjadikan tubuhnya nanti, jadi arena latihan tembak tubuh penghianat itu akan di bolongin dengan pistol di hadapan anak-anak buahnya yang lain.
Bersambung
Baca juga;
Bantu Vote dan like dan kasih komentar dan hadiah juga iya Kakak
agar semangat terus updatenya.
-Cinta untuk sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)