
Malam semakin larut, udara malam semakin menusuk sampai ke tulang-tulang, Leon juga bukan robot, dengan pakaian berlengan pendek seperti itu, ia juga merasa tulang-tulangnya terasa mati rasa, jari- jarinya mulai kaku.
Namun demi Jovita, ia bertahan dan tidak mau terlihat lemah di hadapan Jovita.
Leon melirik ke belakang, api unggun milik penjahat itu sudah mulai meredup.
“Hara”
“Hmm”
“Apa kamu tidur?"
“Tidak Pak, tapi jari-jemariku tidak bisa di gerakkan.”
Leon meraih jemari tangan Jovita, mengurut-urutnya meletakkan di mulut Leon meniup napas hangatnya di telapak tangan.
“Ayo kita menghampiri api unggun mereka”
“Apa yang ingin kita lakukan? Bagaimana kalau mereka hanya ingin menjebak kita?”
“Maka kita akan cari tahu, aku tidak ingin hanya menunggu”
“Tubuhku seperti patung Pak, tidak bisa digerakkan lagi,” ujar Jovita berdiri.
“Apa kamu mau aku gendong lagi?”
Leon jongkok meminta Jovita naik ke punggungnya.
“Jangan menggendongku dengan cara seperti itu, aku tidak pakai celana bagai mana kalau penunggu hutan ini marah, karena aku memperlihatkan bagian belakangku, menganggapku tidak sopan,” ujar Jovita ia menolak di gendong di punggung Leon.
Karena jaket milik Leon yang ia pakai hanya mampu menutupi setengah bagian belakangnya, jika di gendong belakang bagian panggulnya akan terlihat jelas Jovita berpikir tidak ingin dianggap tidak sopan, oleh para mahluk kasat mata sebagai penunggu hutan itu.
“Ya, kamu benar, baiklah.” Leon menggendongnya di di depan.
Leon menepati janjinya ia tidak macam-macam, melihat Jovita merasa kurang nyaman dengan pakaiannya, Leon bahkan sampai melepaskan pakaian kaos singlet berlengan pendek tersebut menutup bagian bawah Jovita.
“Eh tidak usah, nanti Bapak bagaimana?”
“Tidak apa, kulitku keras bagai kulit badak angin tidak akan masuk,” ujar Leon.
Leon menurunkan tidak jauh dari perapian.
“Aku merasa mereka menunggu kita datang,” bisik Jovita menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
“Aku juga berpikir seperti itu.” Leon menunjuk keatas pohon ternyata para penjahat itu memanjat ke pohon. Leon bergerak mundur pelan-pelan bersembunyi di balik pohon.
Nyaris mereka berdua masuk dalam jebakan musuh, untung Leon cepat menyadari situasi.
"Kita akan melewati mereka," ujar Leon, para penjahat itu menunggu mereka di jalan, satu- satunya akses keluar yang bisa di lewati.
“Ha? Bagaimana kalau mereka melihat kita,” bisik Jovita.
“Percayalah kita mampu melakukannya,” ujar Leon meminta Hara jangan panik.
__ADS_1
“Aku takut"
“Percayalah, aku ini bocah Tarzan aku tahu situasi hutan,"
“Tapi aku sangat takut”
Leon selalu punya cara untuk melewati rintangan, mereka berjalan dari semak- semak menghindar dari dari jalanan setapak yang di jaga anak anak buah Bokoy.
Ia mengunakan kaos miliknya menutupi bagian kaki jovita.
"Apa yang Bapak lakukan?"
"Kulitmu sangat putih seperti susu"
"Lalu?"
"Kalau sesuatu yang putih melintas di kegelapan itu sangat mencolok, apa lagi di lihat dari atas pohon"
"Apa kulitku yang putih ini jadi bencana?"
"Tidak, itu anugrah, salah satu lambang kecantikan. Nah sebelum kecantikanmu jadi bencana, lebih baik kita mencegah"
Leon juga menggunakan dahan untuk menutupi tubuh mereka saat melewati penjagaan dari orang- orang Bokoy, berkat trik jenius Leon mereka berdua mampu melewati orang orang tersebut. Bahkan melewati dua orang berdiri membelakangi mereka berdua.
Jika Jovita berpikir dengan otaknya, mereka akan tertangkap, tetapi tidak untuk Leon, melewati bahaya seperti itu sudah hal biasa untuknya. Ia masih mengendong Jovita yang memegang batang dahan. Jadi mereka seperti batang pohon saat berdiri, orang orang itu tidak menyadari karena angin bertiup sangat kencang malam itu, menggoyang dahan- dahan pohon membuyarkan konsentrasi mereka.
Akhirnya Leon berhasil melewati penjagaan itu, jalanan itu akses satu-satunya keluar dari hutan.
Jovita bernapas akhirnya, saat Leon menggendongnya, ia menahan napas dan menutup mata karena ketakutan.
"Apa mereka tidak mengikuti kita?"
"Itu baru kelompok kedua, masih ada regu yang lain tersebar di dalam hutan ini, tadi saat aku turun menjemputmu, aku melihat ada bedeng di kebun, kita akan berjalan ke sana, sebentar lagi hujan"
Leon benar, setelah mereka berjalan , tidak berapa lama lagi ada bedeng petani Jovita merasa ada harapan hidup, saat leon membuka paksa rumah bedeng ada galon minum.
Melihat ada gelas, ia meminta Leon menuangkannya. Dan meminumnya dengan sikap buru-buru, terlihat seperti sudah berhari- hari tidak minum. Leon melihatnya dengan prihatin.
"Apa kamu lapar?"
"Iya lapar bangat," keluh Jovita memegang perutnya.
Leon mengeledah isi bedeng milik petani tidak, tetapi tidak menemukan apa- apa.
“Tidak ada makanan.” Wajah Leon lemas.
" Tidak apa-apa setidak ada air minum dan satu selimut tebal ada lampu teplok kita bisa bertahan malam ini"
Tidak berapa lama hujan deras akhir datang.
"Kita tidak bisa menghidupkan lampu, cahaya nanti akan mengundang perhatian mereka. Tidurlah di dalam aku akan berjaga di luar"
"Aku takut, bagai mana kalau ada ular"
__ADS_1
Leon melihat ada jendela kecil arah belakang, jika anak buah Bokoy datang dari depan mereka bisa melarikan diri dari belakang.
"Baiklah kamu tidur di pangkuanku, aku akan melubangi dinding ini sedikit, dari sini saja aku mengawasi mereka"
Jovita duduk di depan Leon meletakkan kepalanya di dadanya, membungkus tubuh mereka dengan selimut, untung ada satu selimut tebal milik petani dalam bedeng, menyelamatkan mereka berdua dari kedinginan.
"Tidurlah, aku akan menjagamu, nanti subuh Rikko akan menjemput kita di atas," ujar Leon menyentuh pipi Jovita dengan telapak tangannya. Mereka tidak bisa saling melihat, karena lampu teplok sudah mati.
"Tanganmu sangat dingin , sini masukkan ke dalam, biar hangat." Jovita memasukkan telapak tangan Leon tepat di atas perutnya. Leon tersenyum kecil merasakan kulit perut Jovita lembut dan sangat hangat. Namun lama - kelamaan Leon merasa sangat mengantuk mereka sama- sama tertidur.
Jovita terbangun, saat mendengar ada orang lain di luar.
Ia membuka mata ternyata sudah pagi.
"Pak Leon, bangun," bisik Jovita menepuk wajah Leon yang masih tidur pulas. Leon membuka mata melihat Jovita menunjuk keluar.
Dengan cepat ia mencabut pistol dari pinggangnya dan meminta Jovita berjongkok.
Saat ia mengintip Leon menarik napas lega.
“Rikko masuklah saya di dalam”
Wajah Jovita langsung sumringah ternyata Rikko yang datang. Rikko dan dua orang bawahan Leon ikut masuk.
“Kak Rikko, syukurlah”
“Bos, kita harus cepat keluar dari sini mobil ada di atas” Zidan mengawasi di atas bukit.
“Baiklah bawa Non Hara bersamamu, saya akan mengalihkan perhatiannya”
“Tetapi apa Pak Leon di sini kenapa tidak ikut kami?”
“Bawa dia ke Villa dia akan lebih aman di sana. Saya dan Zidan akan mengawasi dari belakang.”
“Maaf non bisa kamu berganti pakaian pakaian ini.” Rikko memberikan satu bag. Leon dan Jovita memakai pakaian yang sama dengan semua anak buah Leon semua pakai jaket hitam dan kaca mata.
Jovita ikut Rikko sementara Zidan dan Leon membuat jebakan agar anak buah Bunox tidak bisa dengan mudah keluar dari hutan. Leon memutus jembatan kayu akses keluar dan membuat jalan dari timur longsor hingga mobil mereka terjebak dan mobil itu juga dibuat kempes ban.
“Biarkan mereka berputar-putar di dalam hutan, agar Bunox lebih gila lagi,” ujar Leon. Ia dan Zidan dan dua orang bawahannya tersenyum licik saat memutus jalan keluar dari hutan.
Leon dan Zidan meninggalkan hutan setelah membuat anak buah Bunox berputar-putar di dalam hutan untuk mencari jalan keluar.
Bersambung …
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI 3 BAB UPDATE SATU HARI., SELAMA TUJUH HARI. BANTU BERI KOMENTAR YANG BANYAK DI SETIAP BAB.
LIKE DAN VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA.
Terimakasih untuk kakak uju dan yang memberikan hadiah berupa tips berupa koin.
Dukungan kakak semua membuatku semakin semangat untuk update cerita ini setiap hari.
Terimakasih kakak semua.
__ADS_1