Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Terkepung


__ADS_3

Saat Leon  masih berdiri  dan tenggelam dalam pikirannya, ia dikejutkan dengan  ponsel yang bergetar di saku celananya, seseorang meneleponnya dengan nomor baru.


“Halo siapa?” Tanya Leon, melihat nomor tidak terdaftar  raut wajahnya serius.


“Hara dalam bahaya tolong lindungi dia”


“Halo ini siapa?” Leon berdiri tegak.



“Saya Piter, bodyguard Non Hara, saya lagi terkepung anak buah Bokoy, saya mendengar mereka bicara kalau  mengikuti Non Hara ke pemakaman”


“Hara ….?”


Leon memutuskan panggilan teleponnya dan bergegas menuju mobil.


Ia menelepon Rikko.


“Kalian dimana?”


“Iya ini baru saja tiba di kuburan Bos, tadi Non Hara ke rumah sakit memeriksa luka di tangannya”


“Dengar! Hara dalam bahaya, suruhan Bokoy mengikuti kalian di sana”


“Saya akan tiba di sana tiga puluh menit lagi. Para bajingan itu pasti menunggu kalian  di turunan jalan pulang. Diam di sana sampai saya beri perintah”


“Baik Bos”



Rikko berlari ke arah Jovita.


“Ada apa Kak?”


“Bersikaplah tenang. Anak buah Bokoy mengikuti kita”


“Lalu aku harus bagaimana?”


“Bos akan tiba dalam beberapa menit lagi”


“Ha! Pak Leon?”


“Ya, kamu turun ke arah sungai. Bos menunggumu di bawah, dia mengambil jalan pintas”


“Bukan arah sungai itu jurang?”


“Iya, Bos akan datang menjemputmu ke sana”



Jovita Hara mulai panik.


“Lalu apa yang aku lakukan saat ini. Lalu bagaimana dengan, Kak Rikko?”


“Jangan pikirkan kami Non Hara, kamu yang paling penting”


“Berpura-puralah  mencabut rumput”


“Tapi rumputnya tidak ada Kak”


“Oh. Taburkan saja bunga yang  kamu bawa tadi”


Jovita melakukannya apa yang dikatakan Rikko.


Disisi lain.


Melihat Leon keluar dari mobil lalu berlari kearah sungai Iwan ikut berlari dan menelepon leon.


“Bos ada apa? Kami di belakang Bos”


“Oh tidak sia-sia kalian jadi pembangkang”


“Ada apa Bos?”


“Hara dalam bahaya Iwan ikut saya. Zidan dan Ken bawa mobil saya,   bantu Rikko arah kuburan. Ingat mereka menunggu  di jalanan turunan menuju kuburan,” ujar Leon.

__ADS_1


“Baik Bos,” Zidan melajukan mobilnya.


“Mari kita habisi mereka,  kebetulan tanganku  sudah gatal ini,” ucap Ken bersemangat, ia  memeriksa  isi peluru  pistol miliknya.


Saat mereka  bekerja maka alat komunikasi di kuping otomatis akan menyala.


“Tes, tes Ko, kami menuju ke sana,” ujar Zidan yang mengemudi mobil yang di kendarai Leon tadi.


“Ok siap Bro, hati-hati sepertinya  jumlah mereka banyak. Aku khawatir  penembak mereka  sudah mengarahkan senapan ke arah Jovita”


“Lakukan  Formasi  sayap burung,”pinta Rikko lagi.


Ketegangan semakin  terasa saat Rikko meminta  dua rekannya melakukan formasi sayap burung. Tehnik menggunakan tubuh mereka sebagai tameng untuk melindungi  tubuh Jovita dari sasaran penembak Jitu.


“Saya sampai Bos,” ujar Zidan dia mengambil jalur Lain dan memanjat pohon, melakukan  tugasnya sebagai penembak Jitu.



Ia mengarahkan  teropong senapan laras panjang itu ke segala arah, ternyata benar. Seorang penembak mengarahkan  senjatanya ke arah Jovita.


“Bos saya mendapatkannya, seoang penembak”



“Lumpuhkan !”


“Siap Bos”


Zidan mengarahkan senapannya kearah dahan pohon besar, seorang penembak menemplok di dahan besar dengan pakaian menyerupai dahan pohon, hingga tidak ada yang menyadarinya, untungnya Zidan mempelajari  keadaan situasi, jadi, ia mengambil posisi yang berlawanan dengan arah sang penembak. Zidan butuh mata yang sangat teliti melihat pergerakan sang musuh,  saat lelaki itu  mengerakkan tubuhnya mengambil posisi yang tepat saat itulah, Zidan melihatnya.


"Saya tiba. Lakukan!" Pinta Leon memberi arahan.


"Siap Bos!"


Zidan sang penembak Jitu, mengarahkan airsoftgun tipe XY9 tanpa suara letusan, ke arah sang musuh


Diiitsss ....!


Bruaak


Leon memegang tangan Jovita.


“Buka pakaianmu!”


“Apa?”


“Cepat sebelum mereka  menyadarinya”


Iwan membelakangi Jovita yang sedang membuka  jaket dan blues biru dan memberikan pada Iwan.


“Berikan wig yang dari tasmu,” ujar Leon.


Jovita memang selalu membawa wig  dan kerudung di dalam tasnya, untuk menyamar. Tetapi ia tidak tahu kalau Leon  tahu hal itu. Ia memberikannya, lalu, Leon membuka jaketnya untuk Jovita pakai. Jadi Iwan yang berlari  ke arah Rikko sebagai Jovita, itu artinya Leon mengorbankan anak buahnya demi keselamatan Jovita.


Mereka yakin bukan hanya satu orang yang  di kerahkan untuk mencelakai Jovita.


“Ayo kita pergi dari sini”


Door ....!


Dooor ....!


Suara tembakan terdengar beberapa kali di area kuburan orang tua Jovita, karena kebetulan pemakaman milik keluarganya  jauh dari pemukiman.


Suara tembakan itu berasal dari senjata  milik Ken yang datang dari arah bawah, ia sengaja menembak ke udara untuk mengalihkan perhatian mereka, agar Iwan yang berpura-pura jadi Jovita itu  bisa masuk ke dalam mobil. Saat ada tembakan Iwan buru-buru masuk  ke dalam mobil .


Mobil meninggalkan pemakaman dan berpura-pura dilindungi dua orang dengan cara diapit kanan-  kiri, sementara Zidan mengkawal dari belakang, saat di turunan akhirnya yang  mereka takutkan terjadi. Lima orang lelaki membentangkan pohon dan mengacuhkan senjata pada mobil mereka.


“Uang keamanan untuk melintas,” ujar mereka.


“Kami hanya mengantar Nona muda kami untuk ziarah Bang,’ ujar anak buah Leon yang membawa mobil.


“Saya tidak perduli. Uang keamanan siapa yang melintas di wilayah saya harus bayar keamanan,” ujar lelaki bertampang sangar tersebut . Tetapi mata mereka tertuju pada Iwan yang berpura-pura jadi wanita dan bertingkah ketakutan.


“Baiklah, berapa Bang?” Iwan merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan tiga lembar, itu sudah nominal paling banyak  untuk preman kampung seperti mereka seharusnya.

__ADS_1


Namun, mereka menolak karena tujuannya, bukan uang, melainkan nyawa.


“Berikan  kami seratus juta!”


“Ha!?” Iwan yang  kaget mendengar nominalnya hampir ketahuan penyamarannya  ia ingin mendongak.


Untungnya Rikko  mendorong kepalanya ke arah bawah.


“Kita terjebak Bos target ada lima orang,  jika kita melenyapkannya dijalanan sepi ini tidak akan ketahuan”


“Zidan bidik  salah satu dari mereka tetapi jangan sampai mati," ujar Leon.


“Baik Bos”


Zidan yang berada di mobil bagian belakang keluar dari mobil dan mengambil posisi dari atas pohon, ia sengaja mengganti memakai airsoftgun yang memiliki suara ledakan  besar.


“Dooor!


“Auuuh”Lelaki sok jago itu terkapar  degan kaki terluka parah.


“Eh penembak jitu! Penembak,” anak buah Iwan pura-pura heboh  agar mereka takut.


Benar saja , para preman yang hanya mengandalkan otot besar itu, ketakutan mereka  melarikan diri saat Zidan menembakkan  kedua kalinya  tepat di depan mereka.


Mereka lari , tetapi bukan itu  musuh sesungguhnya, mereka hanya di gunakan hanya sebagai penghalang. Bokoy tidak memberikan anak buah  yang hanya menggunakan balok  dan parang, ia akan memfasilitasi anak buahnya dengan senjata canggih, bahkan lebih canggih dari Leon.


Saat mereka mundur Rikko  dan kedua rekannya turun untuk menyingkirkan batang pohon.


Tinggallah Iwan dalam mobil.


Saat ia  ia duduk dalam mobil ternyata seseorang keluar dari semak masuk ke dalam mobil.


“Salam dari Bosku”


Jaaap ....


"Aaaa ....!" Iwan merintih sakit.


Seseorang menusuk perut Iwan dengan pisau, tetapi saat melihat wajahnya bukan Jovita ia kaget.


Tidak mau kehilangan buruan  Iwan yang mengalami luka tusuk menangkap tangan  orang yang menusuknya.


“Ada di  sini!”


Mereka semua berlari dan menyergap lelaki itu .


“Bos kami mendapatkan seseorang tapi Iwan  mendapat luka tusuk”


Mata Leon  melotot panik, benar kata Piter yang mereka  incar hanya Jovita.


“Bos pergi jauh dari sana. Mereka akhirnya  menyadari penyamaran kita”


“Baiklah, bawa keparat itu dengan keadaan hidup, cepat pergi dari sana bawa Iwan ke rumah sakit”


“Baik bos”


“KIta harus pergi dari sini,” ujar Leon membawa Jovita menjauh dari pinggir sungai”


Bersambung …


KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI UP SELAMA TUJUH HARI. BANTU KOMENTAR, LIKE DAN VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA, PADA KAKAK


 @ Syalala @Nurtati @Ida cyank dan kakak lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu.


Maaf bila tidak bisa balas komentarnya satu-satu, tetapi  saya selalu membaca komenter dari kakak semua.


Jangan  lupa baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2