
Saat Leon masih berdiri dan tenggelam dalam pikirannya, ia dikejutkan dengan ponsel yang bergetar di saku celananya, seseorang meneleponnya dengan nomor baru.
“Halo siapa?” Tanya Leon, melihat nomor tidak terdaftar raut wajahnya serius.
“Hara dalam bahaya tolong lindungi dia”
“Halo ini siapa?” Leon berdiri tegak.
“Saya Piter, bodyguard Non Hara, saya lagi terkepung anak buah Bokoy, saya mendengar mereka bicara kalau mengikuti Non Hara ke pemakaman”
“Hara ….?”
Leon memutuskan panggilan teleponnya dan bergegas menuju mobil.
Ia menelepon Rikko.
“Kalian dimana?”
“Iya ini baru saja tiba di kuburan Bos, tadi Non Hara ke rumah sakit memeriksa luka di tangannya”
“Dengar! Hara dalam bahaya, suruhan Bokoy mengikuti kalian di sana”
“Saya akan tiba di sana tiga puluh menit lagi. Para bajingan itu pasti menunggu kalian di turunan jalan pulang. Diam di sana sampai saya beri perintah”
“Baik Bos”
Rikko berlari ke arah Jovita.
“Ada apa Kak?”
“Bersikaplah tenang. Anak buah Bokoy mengikuti kita”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Bos akan tiba dalam beberapa menit lagi”
“Ha! Pak Leon?”
“Ya, kamu turun ke arah sungai. Bos menunggumu di bawah, dia mengambil jalan pintas”
“Bukan arah sungai itu jurang?”
“Iya, Bos akan datang menjemputmu ke sana”
Jovita Hara mulai panik.
“Lalu apa yang aku lakukan saat ini. Lalu bagaimana dengan, Kak Rikko?”
“Jangan pikirkan kami Non Hara, kamu yang paling penting”
“Berpura-puralah mencabut rumput”
“Tapi rumputnya tidak ada Kak”
“Oh. Taburkan saja bunga yang kamu bawa tadi”
Jovita melakukannya apa yang dikatakan Rikko.
Disisi lain.
Melihat Leon keluar dari mobil lalu berlari kearah sungai Iwan ikut berlari dan menelepon leon.
“Bos ada apa? Kami di belakang Bos”
“Oh tidak sia-sia kalian jadi pembangkang”
“Ada apa Bos?”
“Hara dalam bahaya Iwan ikut saya. Zidan dan Ken bawa mobil saya, bantu Rikko arah kuburan. Ingat mereka menunggu di jalanan turunan menuju kuburan,” ujar Leon.
__ADS_1
“Baik Bos,” Zidan melajukan mobilnya.
“Mari kita habisi mereka, kebetulan tanganku sudah gatal ini,” ucap Ken bersemangat, ia memeriksa isi peluru pistol miliknya.
Saat mereka bekerja maka alat komunikasi di kuping otomatis akan menyala.
“Tes, tes Ko, kami menuju ke sana,” ujar Zidan yang mengemudi mobil yang di kendarai Leon tadi.
“Ok siap Bro, hati-hati sepertinya jumlah mereka banyak. Aku khawatir penembak mereka sudah mengarahkan senapan ke arah Jovita”
“Lakukan Formasi sayap burung,”pinta Rikko lagi.
Ketegangan semakin terasa saat Rikko meminta dua rekannya melakukan formasi sayap burung. Tehnik menggunakan tubuh mereka sebagai tameng untuk melindungi tubuh Jovita dari sasaran penembak Jitu.
“Saya sampai Bos,” ujar Zidan dia mengambil jalur Lain dan memanjat pohon, melakukan tugasnya sebagai penembak Jitu.
Ia mengarahkan teropong senapan laras panjang itu ke segala arah, ternyata benar. Seorang penembak mengarahkan senjatanya ke arah Jovita.
“Bos saya mendapatkannya, seoang penembak”
“Lumpuhkan !”
“Siap Bos”
Zidan mengarahkan senapannya kearah dahan pohon besar, seorang penembak menemplok di dahan besar dengan pakaian menyerupai dahan pohon, hingga tidak ada yang menyadarinya, untungnya Zidan mempelajari keadaan situasi, jadi, ia mengambil posisi yang berlawanan dengan arah sang penembak. Zidan butuh mata yang sangat teliti melihat pergerakan sang musuh, saat lelaki itu mengerakkan tubuhnya mengambil posisi yang tepat saat itulah, Zidan melihatnya.
"Saya tiba. Lakukan!" Pinta Leon memberi arahan.
"Siap Bos!"
Zidan sang penembak Jitu, mengarahkan airsoftgun tipe XY9 tanpa suara letusan, ke arah sang musuh
Diiitsss ....!
Bruaak
Leon memegang tangan Jovita.
“Buka pakaianmu!”
“Apa?”
“Cepat sebelum mereka menyadarinya”
Iwan membelakangi Jovita yang sedang membuka jaket dan blues biru dan memberikan pada Iwan.
“Berikan wig yang dari tasmu,” ujar Leon.
Jovita memang selalu membawa wig dan kerudung di dalam tasnya, untuk menyamar. Tetapi ia tidak tahu kalau Leon tahu hal itu. Ia memberikannya, lalu, Leon membuka jaketnya untuk Jovita pakai. Jadi Iwan yang berlari ke arah Rikko sebagai Jovita, itu artinya Leon mengorbankan anak buahnya demi keselamatan Jovita.
Mereka yakin bukan hanya satu orang yang di kerahkan untuk mencelakai Jovita.
“Ayo kita pergi dari sini”
Door ....!
Dooor ....!
Suara tembakan terdengar beberapa kali di area kuburan orang tua Jovita, karena kebetulan pemakaman milik keluarganya jauh dari pemukiman.
Suara tembakan itu berasal dari senjata milik Ken yang datang dari arah bawah, ia sengaja menembak ke udara untuk mengalihkan perhatian mereka, agar Iwan yang berpura-pura jadi Jovita itu bisa masuk ke dalam mobil. Saat ada tembakan Iwan buru-buru masuk ke dalam mobil .
Mobil meninggalkan pemakaman dan berpura-pura dilindungi dua orang dengan cara diapit kanan- kiri, sementara Zidan mengkawal dari belakang, saat di turunan akhirnya yang mereka takutkan terjadi. Lima orang lelaki membentangkan pohon dan mengacuhkan senjata pada mobil mereka.
“Uang keamanan untuk melintas,” ujar mereka.
“Kami hanya mengantar Nona muda kami untuk ziarah Bang,’ ujar anak buah Leon yang membawa mobil.
“Saya tidak perduli. Uang keamanan siapa yang melintas di wilayah saya harus bayar keamanan,” ujar lelaki bertampang sangar tersebut . Tetapi mata mereka tertuju pada Iwan yang berpura-pura jadi wanita dan bertingkah ketakutan.
“Baiklah, berapa Bang?” Iwan merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan tiga lembar, itu sudah nominal paling banyak untuk preman kampung seperti mereka seharusnya.
__ADS_1
Namun, mereka menolak karena tujuannya, bukan uang, melainkan nyawa.
“Berikan kami seratus juta!”
“Ha!?” Iwan yang kaget mendengar nominalnya hampir ketahuan penyamarannya ia ingin mendongak.
Untungnya Rikko mendorong kepalanya ke arah bawah.
“Kita terjebak Bos target ada lima orang, jika kita melenyapkannya dijalanan sepi ini tidak akan ketahuan”
“Zidan bidik salah satu dari mereka tetapi jangan sampai mati," ujar Leon.
“Baik Bos”
Zidan yang berada di mobil bagian belakang keluar dari mobil dan mengambil posisi dari atas pohon, ia sengaja mengganti memakai airsoftgun yang memiliki suara ledakan besar.
“Dooor!
“Auuuh”Lelaki sok jago itu terkapar degan kaki terluka parah.
“Eh penembak jitu! Penembak,” anak buah Iwan pura-pura heboh agar mereka takut.
Benar saja , para preman yang hanya mengandalkan otot besar itu, ketakutan mereka melarikan diri saat Zidan menembakkan kedua kalinya tepat di depan mereka.
Mereka lari , tetapi bukan itu musuh sesungguhnya, mereka hanya di gunakan hanya sebagai penghalang. Bokoy tidak memberikan anak buah yang hanya menggunakan balok dan parang, ia akan memfasilitasi anak buahnya dengan senjata canggih, bahkan lebih canggih dari Leon.
Saat mereka mundur Rikko dan kedua rekannya turun untuk menyingkirkan batang pohon.
Tinggallah Iwan dalam mobil.
Saat ia ia duduk dalam mobil ternyata seseorang keluar dari semak masuk ke dalam mobil.
“Salam dari Bosku”
Jaaap ....
"Aaaa ....!" Iwan merintih sakit.
Seseorang menusuk perut Iwan dengan pisau, tetapi saat melihat wajahnya bukan Jovita ia kaget.
Tidak mau kehilangan buruan Iwan yang mengalami luka tusuk menangkap tangan orang yang menusuknya.
“Ada di sini!”
Mereka semua berlari dan menyergap lelaki itu .
“Bos kami mendapatkan seseorang tapi Iwan mendapat luka tusuk”
Mata Leon melotot panik, benar kata Piter yang mereka incar hanya Jovita.
“Bos pergi jauh dari sana. Mereka akhirnya menyadari penyamaran kita”
“Baiklah, bawa keparat itu dengan keadaan hidup, cepat pergi dari sana bawa Iwan ke rumah sakit”
“Baik bos”
“KIta harus pergi dari sini,” ujar Leon membawa Jovita menjauh dari pinggir sungai”
Bersambung …
KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI UP SELAMA TUJUH HARI. BANTU KOMENTAR, LIKE DAN VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA, AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA, PADA KAKAK
@ Syalala @Nurtati @Ida cyank dan kakak lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu.
Maaf bila tidak bisa balas komentarnya satu-satu, tetapi saya selalu membaca komenter dari kakak semua.
Jangan lupa baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1