
“Itu artinya kamu mangaku kalah padaku?” tanya Leon gaya angkuhnya masih tetap ada.
Maxell tertawa berdecak dengan jengkel atas kesombongan Leon .
“Ini bukan menang atau kalah, tetapi ini tentang hati, sekuat apa cintamu padanya dan sebesar apa usahamu menjaganya. Cinta bukanlah tentang bagaimana kita memilikinya, tetapi, cinta yang aku miliki pada Hara berbeda, aku ingin melihatnya bahagia itu sudah membuatku ikut bahagia, untuk apa aku berusaha mendapatkannya dan memiliki kalau nantinya dia tidak bahagia bersamaku? cinta tidak harus memiliki,” ujar Maxell.
“Itu artinya kamu melihat dia bisa bahagia bersamaku dan kamu juga mengaku kalau hanya aku yang bisa mencintainya dengan tulus?” ucap Leon sekarang nada suaranya terlihat sangat yakin.
“Iya, dia lebih memilihmu dari padaku, jaga dia dengan baik, dia milikmu dan aku kakak iparmu,” ucap Maxell dengan gaya cuek, lalu ia menyodorkan tangannya untuk di salim Leon, sebagai tanda kalau ia adalah kakak iparnya. Tetapi apa Leon mau menerima itu ….?
“Apa?” tanya Leon, keningnya berkedut dan kedua mata memincing kesal menatap Maxell yang menyodorkan punggung tangannya ke hadapan Leon.
“Kamu harus salim tanganku karena aku adalah kakak iparmu, sekarang,” ucap Maxell masih menyodorkan tangannya ia menahan tawa.
“Jangan harap!” jawab Leon dengan gaya cuek melewati Maxell tangan lelaki itu ia abaikan begitu saja.
Maxell tertawa kecil melihat wajah Leon yang terlihat kesal saat ia menyuruhnya mencium tangannya.
Leon berjalan menuju lemari kecil yang ikut di angkat ke lantai atap, mengambil beberapa minuman kaleng dan membawa beberapa potong ayam goreng sebagai teman untuk mereka minum.
“Temani aku minum malam ini, di sini.”
“Apa aku tidak menggangu kalian berdua nanti.” Maxell mengedipkan kedua alisnya.
Hubungan keduanya mulai mencair saat Maxell memberi pengakuan kalau ia tidak ada niat lagi ingin merebut Hara dari Leon.
“Dalam situasi ini, tidak ada waktu memikir hal bermesraan,” ujar Leon.
Tiba- tiba Hara datang, ia kembali mengalami sakit kepala saat menyadari ada bahaya mengintai mereka.
Maxell membuka kalung yang dipakai Hara dan mendudukkannya, ia baru tenang dan bisa di kendalikan, tadinya Leon sudah panik ingin menelepon dr. Billy.
Namun, saat Maxell bertindak cepat, Leon diam hanya bisa melihat, apa yang dilakukan Maxell pada Hara, benar saja, wanita itu bisa dijinakkan dan ia mulai duduk dalam tenang.
Leon baru yakin obat yang di racik ayah Maxell memang manjur dan bisa menyembuhkan Hara.
*
Hara tertidur setelah makan, Maxell juga meletakkan aroma terapi itu dalam wadah bentuk uap, berhasil membuat Hara merasa tenang, ia juga bisa mengendalikan dirinya, saat matanya lelah memandang keindahan bintang-bintang di langit barulah ia tertidur.
Kini, Leon duduk berdua dengan Maxelll menikmati minuman kaleng yang di pesan Leon dari hotel.
__ADS_1
Mata Leon sesekali melirik kearah Hara, mata yang penuh kewaspadaan menjaga istrinya.
“Jangan khawatir, obat aroma terapi itu akan membuatnya tidur nyenyak.” Maxell membuka botol kaleng ke dua, sedangkan Leon baru meneguk beberapa teguk.
“Iya, aku tidak tahu akan hal itu.”
“Iya. Kamu memang belum banyak tahu tentang Hara, Pak Wardana itu harus banyak bertanya padaku,” ucap Maxell meledeknya.
“AH …. Baru itu saja, kamu sudah sombong,” pungkas Leon, menatap Maxell dengan senyum menyeringai dengan raut wajah jengkel, menghadapi sikap Maxell yang seakan-akan, lebih dulu mengenal Hara, ia tidak tahu kalau Leon sudah mencintai istrinya dari ia memakai seragam putih merah.
“Lagian mana ada suami yang tidak tahu istrinya mendapat pesan dari pria asing?” ujar Maxell.
“Selama ini aku selalu menyadap ponselnya.”
“Tetapi aku berpikir kalau aku terlalu menekannya ia semakin stres, jadi aku memberi dia sedikit kebebasan, aku tidak tahu kalau kamu melakukan itu,” ujar Leon.
Mata Leon memincing kesal.
“Kamu harusnya lebih waspada,” balas Maxell.
“Kamu dengar dulu!” bentak Leon mulai merasa naik bagian sarafnya.
“Aku hanya bertanya pada dokter pribadiku, tentang apa yang dialami Hara menurut analisisnya Hara mengalami Babyblues sindrom, karena dokter sering menemui pasien yang seperti itu, itu menurut dokter. Situasi yang kami lihat beberapa hari ini dari Hara memang seperti itu, maka aku memutuskan seperti itu.” leon menjelaskan.
“Pak Wardana tidak boleh asal memvonis seperti itu, bagaimana kalau kamu memberinya obat yang salah, harus benar-benar bawa ke dokter langsung jangan lewat telepon,” ujar Maxell mengajarinya.
“Itu tidak akan terjadi, aku sama ibu tadinya akan membawanya ke dokter untuk kontrol bulanan, tetapi kemarin ia mengamuk dan kekeh tidak mau, aku dan ibu hanya menduga dan belum memberi obat-obatan.”
“Sungguh suami yang teledor,” ujar Maxell.
“Hentikan bualanmu dokter muda, jangan sok bijak, siapapun bisa melakukan kesalahan,” ucap Leon, mulai terbawa emosi dengan sikap Maxell yang terus-terusan memojokkannya.
Dorongan minuman itu mulai membuatnya lancar berkata-kata. Leon tidak ingin ia bertambah mabuk, Leon menyingkirkan kaleng minuman itu dari hadapan Maxell, ternyata dia seperti Hara tidak bisa minum banyak otaknya langsung korslet.
Leon tidak memberikannya minum lagi. “ Pak Wardana, kenapa hanya minum sedikit, apa setelah menikah membuatmu berubah?” tanya Maxell tertawa meledek.
‘Ah, kamu sudah mulai mabuk, kalau saja tidak mabuk aku sudah menghajar mu sampai babak belu’ Leon bermonolog dalam hati.
“Kalau aku mabuk dan kamu mabuk siapa yang akan menjaga Hara? tujuan kita ke sini untuk menjaganya’ kan?” Leon berkilah, padahal ia tidak bisa minum banyak, karena memberinya peringatan tidak bisa minum banyak.
“Iya kamu benar, aku juga sebaiknya tidur, tidur di lantai lima di sebrang si penembak itu, karena itu aku bisa mengawasinya, baiklah, sebaiknya turun untuk tidur, jaga istrimu dengan baik” Maxell berjalan sempoyongan.
__ADS_1
Leon masih berdiri melihat Maxell mulai berjalan meninggalkannya. Ia mengarahkan tangannya memanggil salah satu anak buahnya untuk membantu Maxell turun.
“Terimakasih anak muda karena kamu memaafkan aku,” ujar Leon masih menatap punggung Maxell yang meninggalkannya.
Malam sudah larut, Leon tidak bisa tidur malam ini, menjaga Hara menjadi hal utama, tetapi di balik itu, ia juga merasa khawatir, walau orang yang mengincar mereka sudah tewas namun orang memerintahkannya masih berkeliaran.
“Jangan khawatir Bos, istirahatlah, kami akan berjaga sepanjang malam ini,” ujar Zidan.
“Bagaimana dengan Zidan dan Toni?” Tanya Leon.
“Kami masih berjaga di sini Bos, jangan khawatir, untuk saat ini tidak ada yang mencurigakan.”
“Bagaimana dengan polisi?” Tanya Leon dengan alat komunikasi mereka.
“Bimo bisa mengatasinya, polisi tidak tahu kalau bajingan itu meledakkan tubuhnya, ia mengunakan peledak khusus yang fokus menargetkan tubuhnya.“
“Baiklah kabari aku kalau perkembangan."
“Baik Bos,” jawab mereka bertiga serentak.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1