Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Mabuk


__ADS_3

“Itu artinya  kamu mangaku kalah padaku?” tanya Leon gaya angkuhnya masih  tetap ada.


Maxell tertawa berdecak dengan jengkel  atas kesombongan Leon .


“Ini bukan menang atau kalah, tetapi ini tentang hati,    sekuat apa cintamu padanya dan sebesar apa usahamu menjaganya. Cinta bukanlah tentang bagaimana kita memilikinya,  tetapi,  cinta yang aku miliki pada Hara berbeda, aku ingin melihatnya bahagia itu sudah membuatku ikut bahagia, untuk apa aku  berusaha mendapatkannya dan memiliki kalau nantinya dia tidak bahagia bersamaku? cinta tidak harus memiliki,” ujar Maxell.


“Itu artinya kamu melihat dia bisa bahagia bersamaku dan kamu juga mengaku kalau hanya aku yang bisa mencintainya dengan tulus?” ucap Leon sekarang nada suaranya  terlihat sangat yakin.


“Iya, dia lebih memilihmu dari padaku, jaga dia dengan baik, dia  milikmu dan aku kakak iparmu,” ucap Maxell dengan gaya  cuek, lalu ia menyodorkan tangannya untuk di salim Leon,  sebagai tanda kalau ia adalah kakak iparnya. Tetapi apa Leon mau menerima itu ….?


“Apa?” tanya Leon, keningnya   berkedut dan kedua mata memincing kesal menatap Maxell yang menyodorkan punggung tangannya ke hadapan Leon.


“Kamu harus salim tanganku karena aku adalah kakak iparmu, sekarang,” ucap Maxell  masih menyodorkan tangannya ia menahan tawa.


“Jangan harap!” jawab Leon dengan gaya cuek melewati Maxell tangan lelaki itu ia abaikan begitu saja.


Maxell tertawa kecil melihat wajah Leon yang terlihat  kesal saat ia menyuruhnya mencium tangannya.


Leon berjalan menuju lemari kecil yang ikut di angkat ke lantai  atap,  mengambil beberapa  minuman kaleng dan  membawa beberapa potong ayam goreng sebagai teman untuk mereka minum.


“Temani aku minum malam ini, di sini.”


“Apa aku tidak menggangu  kalian berdua nanti.” Maxell mengedipkan kedua alisnya.


Hubungan keduanya  mulai  mencair saat Maxell memberi pengakuan kalau ia tidak ada niat lagi ingin merebut Hara dari Leon.


“Dalam situasi ini, tidak ada waktu memikir hal  bermesraan,” ujar Leon.


Tiba- tiba   Hara datang, ia kembali mengalami sakit kepala saat menyadari ada bahaya mengintai mereka.


Maxell  membuka kalung yang dipakai Hara dan mendudukkannya,  ia baru tenang  dan bisa di kendalikan, tadinya Leon sudah  panik  ingin menelepon dr. Billy.


Namun, saat Maxell  bertindak cepat, Leon diam  hanya bisa melihat,  apa yang dilakukan Maxell  pada Hara, benar saja,  wanita itu bisa dijinakkan dan ia mulai duduk dalam tenang.


Leon baru yakin obat yang di racik ayah Maxell memang manjur dan  bisa menyembuhkan Hara.


*


Hara tertidur setelah makan,  Maxell  juga meletakkan aroma terapi itu dalam  wadah  bentuk uap,  berhasil  membuat Hara  merasa tenang,  ia juga bisa mengendalikan dirinya, saat matanya lelah memandang keindahan bintang-bintang di langit barulah ia tertidur.


Kini, Leon duduk berdua  dengan Maxelll menikmati minuman kaleng  yang di pesan  Leon dari hotel.

__ADS_1


Mata Leon sesekali melirik kearah Hara, mata yang penuh kewaspadaan menjaga istrinya.


“Jangan khawatir, obat  aroma terapi itu akan  membuatnya tidur nyenyak.” Maxell membuka botol kaleng ke dua, sedangkan Leon baru meneguk beberapa teguk.


“Iya, aku tidak tahu akan hal itu.”


“Iya. Kamu memang belum banyak tahu tentang  Hara, Pak Wardana itu harus banyak bertanya   padaku,” ucap Maxell meledeknya.


“AH …. Baru itu saja, kamu sudah sombong,” pungkas Leon, menatap Maxell dengan senyum menyeringai dengan raut wajah jengkel, menghadapi sikap Maxell yang  seakan-akan, lebih dulu mengenal Hara, ia tidak tahu kalau Leon sudah mencintai istrinya dari ia memakai seragam putih merah.


“Lagian mana ada suami yang  tidak tahu istrinya mendapat pesan dari pria asing?” ujar Maxell.


“Selama ini aku selalu menyadap ponselnya.”


“Tetapi aku berpikir kalau aku terlalu menekannya ia semakin stres, jadi aku memberi dia sedikit kebebasan, aku tidak tahu kalau kamu melakukan itu,” ujar Leon.


Mata Leon memincing kesal.


“Kamu harusnya lebih waspada,” balas Maxell.


“Kamu dengar dulu!” bentak Leon mulai merasa naik bagian sarafnya.


“Aku hanya  bertanya pada dokter pribadiku, tentang apa yang dialami  Hara menurut analisisnya Hara mengalami Babyblues sindrom, karena dokter sering menemui pasien yang seperti itu, itu menurut dokter.  Situasi yang kami lihat  beberapa hari ini  dari Hara memang seperti itu, maka aku  memutuskan seperti itu.” leon menjelaskan.


“Pak Wardana   tidak boleh asal  memvonis seperti itu, bagaimana kalau  kamu memberinya obat yang salah, harus benar-benar bawa ke dokter langsung jangan lewat telepon,” ujar Maxell mengajarinya.


“Itu tidak akan terjadi, aku sama ibu tadinya akan membawanya ke dokter untuk kontrol  bulanan, tetapi kemarin ia mengamuk dan kekeh tidak mau, aku dan ibu hanya menduga dan belum memberi obat-obatan.”


“Sungguh suami yang teledor,” ujar Maxell.


“Hentikan bualanmu dokter muda, jangan sok bijak, siapapun bisa melakukan kesalahan,” ucap Leon, mulai terbawa emosi dengan sikap Maxell yang terus-terusan memojokkannya.


Dorongan minuman itu mulai membuatnya lancar berkata-kata. Leon tidak ingin ia bertambah mabuk, Leon menyingkirkan kaleng minuman itu dari hadapan Maxell, ternyata dia seperti Hara tidak bisa minum banyak otaknya langsung korslet.


Leon tidak memberikannya minum lagi. “ Pak Wardana, kenapa hanya minum sedikit, apa setelah menikah membuatmu berubah?” tanya Maxell tertawa meledek.


‘Ah, kamu sudah mulai mabuk, kalau saja  tidak mabuk aku sudah menghajar mu sampai babak belu’ Leon bermonolog dalam  hati.


“Kalau aku mabuk dan kamu mabuk siapa yang akan menjaga Hara? tujuan kita ke sini untuk menjaganya’ kan?” Leon berkilah, padahal ia tidak bisa minum banyak,  karena memberinya peringatan tidak bisa minum banyak.


“Iya kamu benar, aku juga sebaiknya tidur,  tidur di lantai lima di sebrang si penembak itu, karena itu aku bisa mengawasinya, baiklah,  sebaiknya  turun  untuk tidur, jaga istrimu dengan baik” Maxell berjalan sempoyongan.

__ADS_1


Leon masih  berdiri melihat Maxell  mulai berjalan meninggalkannya. Ia mengarahkan tangannya memanggil salah satu  anak buahnya untuk membantu Maxell turun.


“Terimakasih anak muda karena kamu memaafkan aku,” ujar Leon masih menatap punggung Maxell yang meninggalkannya.


Malam  sudah larut, Leon tidak bisa tidur malam ini, menjaga Hara  menjadi hal utama, tetapi di balik itu,  ia juga merasa khawatir, walau orang  yang mengincar mereka sudah tewas namun orang memerintahkannya masih berkeliaran.


“Jangan khawatir Bos, istirahatlah, kami akan  berjaga sepanjang malam ini,” ujar Zidan.


“Bagaimana dengan Zidan dan Toni?” Tanya Leon.


“Kami masih berjaga di sini Bos, jangan khawatir, untuk saat ini  tidak ada yang mencurigakan.”


“Bagaimana dengan polisi?” Tanya Leon dengan alat komunikasi mereka.


“Bimo bisa mengatasinya, polisi tidak tahu kalau bajingan itu meledakkan tubuhnya,  ia mengunakan peledak khusus  yang fokus menargetkan tubuhnya.“


“Baiklah kabari aku kalau perkembangan."


“Baik Bos,” jawab  mereka bertiga serentak.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2