Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Wanita yang Gigih


__ADS_3

Melihat Leon yang semakin menjauh, Bianca akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan Leon kembali.Ia selalu berpikir apa yang ia inginkan harus ia dapatkan dengan cara apapun.


“Jika aku sudah   menginginkan sesuatu hal, jangan harap aku akan menyerah dan mengalah, kamu yang memilihku duluan, jika aku sudah menyukaimu sampai ke dasar laut pun aku akan mengejarmu,” ucap Bianca, saat melirik mobil yang meninggalkan hotel siang itu.


“Pak kita pulang ke rumah saja , saya capek sekali,” ujar Bianca pada supirnya, setelah ia menunggu Leon dengan waktu yang lama.


Bianca  melakukan hal yang berat untuk pertama kalinya, ia menunggu orang selama itu,  ia sudah menunggu Leon sampai berjam-jam,  tetapi yang didapat bukanlah sebuah pujian atau ucapan terimakasih lebih tepatnya sebuah penghinaan.


‘Tenang, aku bukan wanita yang suka emosian dan gampang marah, aku wanita yang gigih, tidak berhasil kali ini, aku akan  berusaha besok , tidak berhasil besok akan aku coba lusa’ ucap Bianca, wanita cantik itu tertawa  miring,  seakan -akan  ia menertawakan dirinya hari itu.


 Hingga mobil Bianca tiba di rumah, sebuah hunian mewah bak istana di daerah Kelapa Gading Jakarta Utara. Saat masuk  ke kamarnya, Bianca di layani benar-benar seperti tuan putri, tiga orang masuk asisten rumah tangga mengikutinya ke dalam kamarnya, satu orang  menyodorkan panci air hangat untuk merendam kakinya, karena ia mengeluh kakinya pegal,  satu orang memberikan minuman dingin, satu lagi mempersiapkan pakaian dan  untuk perlengkapan mandi.


Hidup Bianca bergelimpangan harta dan selalu mendapatkan apa yang ia mau, ia berpikir Leon mudah ia dapatkan dengan caranya.


Ketiga wanita yang menggunakan seragam itu, terlihat  sibuk mempersiapkan semua kebutuhan Bianca , mereka sudah hapal apa yang ia mau dan apa yang ia inginkan si tuan putri.


“Bi,  aku ingin ganti warna rambutku , jadi warna coklat,”ujar Bianca ia tidak bisa melakukan apa-apa semuanya serba dilayani bahkan saat memasak bubur tadi pagi tiga orang membantunya.


Sangat berbeda dengan Hara, Hara anak orang kaya, tetapi selalu menghormati semua orang, walau itu supir atau asisten rumah tangga.


tetapi tidak mau bersikap manja seperti Bianca.


“Tapi kenapa Non?” wanita paru baya melihatnya dengan bingung, karena Bianca biasa selalu tampil elegan   tidak pernah mewarnai rambutnya dengan warna lain,  selain hitam.


Bianca diperlakukan bak putri  sama kedua orang tuanya. Tetapi untuk  penampilan ia tidak mau berpakaian glamor ia selalu berpenampilan elegan dan berkelas.


Tetapi manusia bisa berubah, apa lagi menyangkut hati, jika hati tersakiti maka otak akan bekerja dan terkadang  tidak berpikir logika.


" Aku hanya ingin tampil cantik Bi, ingin beda,” ucap Bianca.


“Baiklah Non, saya akan panggilkan ke rumah,” ucap wanita dengan dengan hormat.


Bianca mengganti model  rambutnya, ia  berpikir Leon sudah bosan dengan penampilannya yang selalu berpakaian  tertutup, ia ingin mencoba hal yang baru, untuk menarik perhatian Leon


Saat di Kantor Leon tadi siang, ia melihat Kaila sekretarisnya yang terlihat sangat cantik dengan  belahan rok sampai keatas dan  belahan dada terlihat, saat  Leon keluar, Leon berjalan bersama seorang wanita yang bernama Hilda wanita cantik dengan rambut berwarna emas dan berpakaian  sedikit seksi, ia  berpikir Leon berubah sikap padanya karena dikelilingi wanita, cantik, ia ingin seperti mereka juga, ingin tampil cantik dan ingin tampil beda.


“Temenin aku beli pakaian baru,  Bi,” ucap Bianca lagi. Bianca wanita yang gigih ia sudah terbiasa selalu mendapatkan apa yang ia mau, melihat Leon yang semakin menjauh darinya Bianca ingin tampil seksi.

__ADS_1


“Baiklah Non,” jawab wanita itu tapi wajahnya terlihat  bingung dengan sikap Nona muda itu.


Wanita itu benar-benar  mengubah penampilannya demi seorang Leon, Tetapi apa Leon akan meliriknya hanya karena ia mengubah penampilannya?


*


Sementara Leon sudah tiba di rumah Lama Hara yang di Depok.


Leon sudah sepuluh menit berhenti di depan rumah, tetapi, tidak ada tanda- tanda  kehidupan di rumah itu. Bram sudah beberapa kali menekan bel rumah, tapi tidak ada sahutan.


Leon masih menunggu sesekali ia mengawasi sekeliling rumah Jovita. Seorang bapak penjual ketoprak yang biasa menjajakan gerobaknya di depan rumah Jovita datang mendekati Bram.


“Tidak ada orangnya pak, Pak Darma  tadi sudah pergi bawa tas, itu artinya rumahnya kosong,”  katanya, pada pada Bram.


“Keluarga yang lain pada kemana. Pak?”


“Tidak tahu pak, kita juga mencari sama nona muda yang sering  duduk di pendopo itu, tidak pernah kelihatan lagi, saya dengar kabar wanita  muda itu sakit parah”  kata bapak itu dengan wajah terlihat sendi.


“Ok makasih Pak”


“Apa?”


“Itu Pak … kata bapak yang jualan, mereka  tidak  pernah terlihat lagi di rumah, sudah hampir beberapa minggu dan  Nona Hara … katanya  terakhir kabar didengar dia sakit parah,” ucap Bram dengan hati-hati.


Mendengar Jovita sakit parah, wajah Leon  langsung berubah, matanya menatap kearah luar jendela wajahnya seketika menegang.


Bayangan Jovita kembali muncul saat di rumah sakit duduk di kursi roda.


“Kita kembali ke kantor lagi saja,” ujar Leon.


“Tidak pulang ke rumah Pak?  Sudah berminggu-minggu Pak Leon tidak pulang  kecrumah, kasihan ibunya, pasti khawatir,” ucap Bram mengingatkan Leon.


Ia tahu bi Atin  wanita yang ia anggap seorang ibunya  bagi Leon pasti sangat khawatir.


Leon diam, ia merasa Bi Atin tidak sesayang seperti dulu lagi padanya, saat Jovita tidak bersamanya.


“Tidak apa- apa, kita ke Hotel saja, saya mau istirahat  di sana kamu nanti kerumah lihat keadaan ibu, tanyakan kalau ada yang ingin ia butuhkan,” ucap Leon, tapi matanya menatap keluar dengan tatapan hampa, pikirannya kembali melayang jauh kearah wanita yang pernah ia cintai.

__ADS_1


“Baik Bos,” jawab Bram dengan patuh.


Mobil  Leon kembali ke Hotel, hari sudah  hampir malam . Hotel  sudah seperti rumah kedua untuk Leon, ia sengaja  menggunakan satu ruangan  khusus untuk ia tinggal dan untuk di jadikan kantor, Leon menjatuhkan tubuhnya  di ranjang di kamarnya,  tubuh dan perasaannya lelah karena sudah berminggu-minggu Jovita hilang dari peredaran.


Piter benar-benar menepati janjinya kalau ia membuat Leon hampir gila karena perbuatannya sendiri, Leon mencari  tahu keadaan Jovita, tetapi tidak ada titik terang tentang keberadaan Jovita .


“Piter.  Aku tidak salah, kamulah yang memasukkan  nama Hara dalam daftar nama korban kebakaran itu, kalau saja kamu  tidak memasukkannya, aku akan menunggunya sampai saat ini dan tidak akan ada wanita lain di hatiku," ujar Leon. Ia juga benar.


Tetapi Piter juga membela diri.


Ia memasukkan nama Hara demi melindunginya dari incaran Bokoy dan anak buahnya, itu memang benar.


Lalu kalau dua- duanya tidak merasa bersalah . Lalu yang salah siapa? Masak tukang gorengan?


Baik Leon dan Piter sama - sama tidak salah. Namun harus ada yang dikorbankan untuk hal ini.


Apakah Leon akan mengorbankan harga dirinya? Karena janji yang terlanjur terucap untuk menikahi Bianca menyangkut harga diri Leon.


Atau harus Leon mengorbankan perasaan cintanya?


Bersambung ….


KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing

__ADS_1


__ADS_2