Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Manusia Kutup utara


__ADS_3

….PART 32


Manusia Dingin


Kedua lelaki muda yang diajak Jovita untuk mengobrol takut  melihat wajah dingin Leon.


 Mereka tidak percaya kalau Leon hanya seorang bodyguard. Karena penampilan  menunjukkan orang yang berkelas, tidak ingin mendapat masalah, mereka pamit pulang pada Jovita.


Saat ingin berdiri ... ujung pistol di pinggang Leon mengintip, saat jas yang ia kenakan tersingkap ketika ia berdiri.


“Baiklah, sampai jumpa lagi Hara, kalau kamu ingin berkunjung ke rumah ku,  boleh, datanglah,” ujar salah satu dari mereka dengan sikap buru-buru lalu berdiri,  takut-takut melewati Leon.


Mata jovita masih mengikuti kedua lelaki tampan itu sampai keluar, hingga motor besar itu meninggalkan halaman kafe ada rasa iri di dalam tatapan Jovita.


seandainya hidupnya bukan jadi tawanan seperti ini, biasanya  saat sore dan pagi Piter  pengawal keluarganya selalu mengajaknya menaiki motor ninja miliknya .


Ia hanya menghela napas  berat, ia tidak tahu sepasang mata elang menatapnya tajam.


Leon masih menatap sinis pada Jovita, sedangkan anak buahnya terlihat gelisah dan serba salah, ia takut bos Naga itu mengamuk karena membiarkan orang asing mengobrol dengan Jovita.


Suasana hening, Leon masih duduk disebelah Hara, kini matanya melihat layar ponsel di tangannya.


Jovita  dengan satu tangan mengaduk-aduk minuman dalam gelas, terlihat tidak bersemangat, ingin rasanya ia buka baju dan  berteriak-teriak seperti orang gila, biar ramai sekalian dan ia bisa bebas, Jovita sudah kehabisan cara untuk bisa lepas dari Leon.


Leon mendekat dan duduk sebentar di depannya,  tanpa mengatakan apa-apa, membuka borgol itu lagi memasangkan ketangannya.


“Kita pulang!”


“Baik Bos.”


Lelaki berkulit hitam itu berlari keluar mendahului bosnya, meminta supir membawa mobil ke depan Café.


Dalam mobil, Jovita memilih menyenderkan kepalanya di jok mobil dan menutup mata.


Melihat sikap Leon yang  begitu dingin dan kejam,  ingin rasanya ia menggigit lehernya dan menghisap darahnya.


‘Tuhan aku ingin berubah jadi vampir agar aku bisa mengisap darah si   manusia kutub utara ini’ ucap Hara dalam hati, bibirnya tersenyum puas saat ia berhayal menggigit leher Leon sampai berdarah-darah, dan ia mencakar-cakar wajah tampanya dengan kuku panjangnya sampai ia terluka parah.


Walau hanya menghayal bisa melampiaskan  kemarahannya pada Leon, tetapi Jovita tersenyum puas, masih  menutup mata.


Tetapi tiba-tiba suara itu membuyarkan lamunannya.


“Hayalanmu tidak masuk akal,” ucap Leon, seolah-olah ia tahu apa yang dipikirkan olehnya.


Jovita terbangun dan menatap Leon dengan sikap tiba-tiba.


“Apa kamu tahu apa yang aku pikirkan?” tanya Hara menatap Leon, tetapi lelaki si kulkas dua pintu itu diam.


“Apa kamu dukun ?” Tanya Jovita lagi.


Lagi-lagi Leon diam tidak menanggapi pertanyaannya.


“Cekk… “


Leon menoleh kearahnya.


“Ada apa?”


“Apa kamu tidak ingin bilang apa, begitu?  atau bertanya padaku tentang yang duduk tadi?" Jovita menatapnya.

__ADS_1


“Untuk apa?” Leon masih sibuk menatap layar ponselnya.


“Apa kamu tidak pernah menyukaiku sedikitpun?” Tanya Jovita ia masih penasaran dengan Leon.


“Tidak” Jawabnya enteng.


Jovita merasakan kupingnya keluar asap, karena menahan emosinya. Ia merasa terus-terus  diacuhkan membuatnya marah, ia ingin diajak bicara, ia butuh teman bicara, ia bukan patung yang bisa di acuhkan terus –terusan.


“Aku ingin kamu bicara padaku!


Aku tidak ingin diacuhkan, aku tidak biasa hidup dalam keheningan seperti ini, itu membuatku merasa pusing,” ujar Jovita.


“Diamlah … diamlah! Aku malas bicara, aku akan bicara jika ada hal yang penting dibicarakan,  aku tidak suka bicara pada sembarangan orang"


“Oh, kamu mau bilang aku wanita murahan, kamu mau bilang aku wanita kotor, begitu!”


“Jovita Hara… aku bilang, diam lah !” Leon menekan giginya menahan marah.


“Aku tidak mau… aku tidak mau, aku bosan seperti ini Pak Leon Wardana!”


Jovita menghentak-hentakkan kakinya, “Kalau aku tidak mau kamu mau melemparku  dari mobil ini, baiklah lakukan” Jovita menantang.


Supir yang  menyetir merasa  kikuk, ia takut,  melihat kelakuan Jovita, tetapi Leon memang pantas mendapat predikat manusia kutub utara, manusia si kulkas dua pintu, atau manusia batu.


Ia tidak terusik dengan ocehan dan dumalan Jovita,  ia tetap saja  menatap serius  ke layar ponselnya menutup kuping dengan heardset.


Hingga Jovita merasa seperti orang gila,  karena teriak-teriak sendiri, tetapi tidak dihiraukan.  Hingga ia merasa lelah dan diam sendiri.


‘Aku sangat membencimu, suatu saat aku akan membalasmu’ ujar wanita cantik itu menatap tajam kearah Leon, ia diam kelelahan, memilih melihat keluar jendela mobil


Leon kini membuka laptopnya, ia memang pekerja keras dan orang yang disiplin dan tegas, tidak ada satu pekerjaan yang terlewatkan olehnya.


“Pak jangan ke Hotel lagi, kita pulang ke rumah saja,” ujar Leon memberi perintah pada supirnya.


“Baik pak.”


‘Rumah? rumah yang mana lagi? rumah kamu memang banyak iya’ Hara membatin di sela-sela tidurnya.


Jovita memang menutup matanya, tapi ia bisa mendengar pembicaraan antara Leon dan supir.


Sementara ketiga anak buahnya menaiki mobil di belakang, Leon setiap kali mau pergi kemana-mana selalu membawa tiga atau empat orang anak buahnya, yang selalu siap siaga menjalankan perintah sang bos, kapan dan di mana mereka akan selalu siap.


Ia mendengar Leon menelepon seseorang.


“Cris! Barang nanti malam akan masuk melalui laut, perintahkan anak buahmu agar  mengawal dengan baik. Jangan sampai ada kesalahan, kamu paham?”


“Baik Bos,” jawab seseorang dengan patuh di ujung telepon.


‘Barang apa? Wanita cantik? Atau minuman memabukkan atau senjata?’ Hara menebak-nebak dalam hati.


Leon  mengeluarkan ponsel lagi dan menelepon anak buahnya.


“Kita ke rumah,” pinta Leon mengingatkan anak buahnya agar mengikutinya dari belakang.


Mobil mewah model sport itu,  melaju kearah Jakarta di daerah P I K.


Pantai Indah Kapuk, Leon punya istana megah lagi di sana,  daerah  yang dikenal tempat hunian bagi orang berkantong tebal.


Hingga mobil berhenti,

__ADS_1


Rumah berlantai tiga, memiliki halaman yang luas dan memiliki  lapangan golf sendiri,  lapangan senam dan  serta kolam renang yang luas.


Sepertinya Leon membangun rumahnya sendiri,  terlihat dari pilihan interior bergaya minimalis yang rata-rata dinding rumahnya berupa kaca berukuran tinggi, sehingga bisa melihat view luar dan melihat Pantai Kapuk dari dalam rumah.


Jovita seperti melihat istana modern secara nyata, luarnya saja begini bagaimana dalamnya?  Sebagai lulusan arsitek Hara memuji gaya moderen pilihan Leon.


 Leon keluar dari mobil dan berjalan seenaknya, otomatis tubuhnya juga ikut keseret, karena  borgol itu masih mengikat tangan mereka berdua.


Hara ingin protes’ Tetapi demi ****** Merlin’ yakinlah, itu tidak akan berhasil, tidak ada kata membantah dalam kamus Leon.


Rumah Leon yang di Jakarta juga terlihat banyak orang, sama seperti di Kalimantan. Jovita masih mengikuti langkah kaki panjangnya,  hingga tiba di salah satu kamar,  lebih tepatnya sebuah ruangan luas, dalam kamarnya, bernuansa putih ,  di dalamnya ada tempat tidur, pastinya  ini kamar pribadi Leon.


“Bisa kamu membuka benda sialan ini? Kamu tidak berpikir aku bisa kabur dari istanamu ini’ kan?” Jovita menunjuk  borgol di tanganya.


“Ya kamu tidak bisa kabur dari sini, dan  sepertinya kamu juga tidak suka dekat-dekat dengan saya dari tadi, apa karena pesona kedua pemuda yang tadi? kenapa kamu tidak meminta nomor teleponnya?” Tanya Leon sinis.


“Ini orang kenapa malah mengungkit lelaki yang tadi sih?” gumam Jovita pelan.


“Iya aku juga mau kalau kamu bolehkan” ucap Hara pelan dan dapat di dengar Leon.


Matanya  menatap  tajam padanya.


 “Baiklah kalau  kamu ingin seperti itu.


Keluar dari kamar saya.” Leon meminta Jovita keluar dari kamarnya, lalu Leon menekan telepon di kamarnya.”


Panggilkan aku rose red ….Saya  butuh yang segar-segar,” ujarnya menatap sinis  pada Jovita Hara.


Rose red wanita yang berhak menghangatkan ranjang Leon atau wanita yang akan ia tiduri.


‘Apa aku salah juga? Apa aku harus menempel terus padanya, dasar lelaki aneh’ ujar Jovita dalam hati.


Saat ia keluar dari kamarnya,  datanglah wanita cantik yang tingginya semampai, tubuhnya sangat seksi dalam balutan gaun tipis model lingerie berwarna merah. Ditanganya  sebotol anggur, tubuh itu sangat indah dan  bagian dada terpampang nyata.


Mata jovita melotot segede jengkol, menatap dengan takjub, melihat wanita cantik yang melongos melewati tubuh kecilnya.


“Oh iya ampun cantiknya,” ujar Jovita menatap wanita cantik itu dari belakang.


“Si Kulkas dua pintu itu suka wanita yang memamerkan bagian tubuhnya terus …?


Kenapa dia memintaku selalu berpakaian tertutup, dasar aneh! Kamu pikir tubuhku tidak menarik dilihat .


Tubuhku juga cantik.” Jovita mengoceh sendiri, menatap wanita cantik itu,  hingga masuk kedalam kamar Leon.


Bersambung ….


Bantu Vote  like dan kasih hadiah juga, iya kakak,


 Agara authornya semangat up tiap hari.


 Baca juga;


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2