Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Pengasuh anak-anak ll


__ADS_3

Kerepotan Leon masih berlanjut di rumah.


“Oh, baiklah, ayah salah sayang,” ucap  Leon menggaruk kepalanya. Anak-anaknya terbiasa di layani sama pengasuh, ia tidak tahu bagaimana cara memilih pakaian Chelia dan tidak tahu bagaimana mengikat rambut  anak perempuannya.


“Ayah, itu bukan ikat rambut, itu gelang milik Okan,” ujar anak lelaki bertampang dingin itu menatap ayahnya.


“Oh, benarkah, Ayah salah lagi.” Leon tertawa garing, ia merasa konyol karena melakukan semua dengan salah, ia beberapa kali mengusap keningnya yang berkeringat karena  kerepotan.


“Ayah, aku tidak mau pakai ini, aku tidak mau pakai gaun, ini gaun pesta,”keluh Chelia lagi.


“Sayang ... ayah meminta maaf, tetapi ayah capek, tidak tahu  yang mana pakaian yang biasa kamu pakai.”


“Ayah,  bukan wanita pakai gaun hanya ke pesta? Apakah kita mau ke pesta atau  bertemu ibu?” Okan mulai protes dengan mata elangnya menatap  ayahnya dengan tatapan seakan-akan menyalahkannya atas kepergian ibunya.


“Iya,  kamu benar jagoan,  tetapi ayah bigung-“


Tiba-tiba Okan bangun dari  tempat duduk dengan cekatan,  tangannya memilih pakaian  buat dipakai saudara kembarnya.


“Chelia suka pakai ini,  saat kita di Jerman, Om Toni yang membeli ini.”


Leon tiba-tiba terdiam saat  Okan menyebut Toni.


Leon terkejut karena ia tidak pernah membeli keduanya pakaian, ada rasa bersalah, tetapi ia tidak mungkin ia tunjukkan pada kedua bocah kembar itu, Leon merasa kalau itu semua karena ketidakmampuannya menjadi seorang ayah yang baik.


Bocah kembar itu hanya berkata polos,  ia tidak tahu kalau ucapannya  telah melukai hati ayah mereka.


Semuanya sudah beres dan Leon mengeluarkan mobilnya,  sengaja ia tidak membawa supir dan pengasuh anak-anaknya. Ia ingin banyak  waktu bersama keluarganya,  Leon juga berpikir ingin mengurus sendiri kedua anak-anak itu nantinya.


Tidak bisa dipungkiri,  kalau anak dijaga pengasuh. ayah mereka terlalu sibuk, anak- anaknya  merasa kurang mendapat perhatian dan kasih sayang belakangan ini, Leon ingin Memperbaiki Semuanya.


                              *


Dalam mobil Leon berusaha bersikap tenang, ia telah bersiap akan mengasuh  mereka berdua.


Saat tiba di salah satu hotel  milik Leon di daerah Jakarta Utara tepatnya di dalam Ancol.


“Ayah, apa ibu ada di sini?” Tanya Chelia,  mata  itu melotot, saat mobil ayahnya melewati wahana bermain.


Salah satu  tempat area bermain yang paling komplit di ibukota.


Tempat yang masih salah satu tempat favorit semua kalangan karena harga tiketnya yang terjangkau dan murah.


“Iya, ibu ada di hotel kita.”


“Benarkah, apa kami bisa bermain pasir?” Tanya keduanya bersemangat.


Leon hanya tersenyum melihat keceriaan kedua bocah kembar itu, ia tidak tahu hanya bermain pasir saja mereka berdua sudah sangat senang.


“Tentu, apa kalian berdua suka melihat laut atau bermain pasir?” Leon menatap keduanya bergantian lalu berfokus pada kemudinya.

__ADS_1


“Iya sangat Yah, sama seperti ibu yang sangat menyukai lautan dan salju, ayah tahu saat kami di Jerman, ibu selalu membawa kami ke tempat yang menyenangkan pinggir pantai,   hamparan rumput luas, pegunungan dan hutan juga.” Ujar  Okan Chelia.


“Kita akan berliburan  bersama nanti, kita akan melakukan banyak hal bersama ibu.”


“Horee ayah janji?” Tanya Okan menatap dengan  tatapan serius.


“Ayah janji anak-anak, maaf kalau selama ini tidak perah membawa kalian liburan tetapi itu semua ayah lakukan demi menjaga kalian Nak, tetapi kali ini ayah ingin mengubah semuanya.”


“Horeee, kita akan liburan  lagi sama ayah dan ibu.”


“Tapi kali ini ayah mau minta tolong sama kalian berdua, mau’ kan?”


Kedua  anak kembar itu diam menatap serius pada Leon. “Ada apa, Yah?”


“Gini … nanti biar ibu tidak marah sama ayah  dan mau kita ajak liburan bersama,  kita harus berkerjasama.”


“Baik Yah, aku mau.” Chelia mengangguk setuju. Setelah Leon menceritakan semua keinginannya.


  Setelah berkendara, tidak lama kemudian  mereka tiba.


Leon turun di depan lobby melihat atas bos besar yang datang dadakan semua terlihat terkejut, kalau biasanya Leon si bos besar kalau datang ke hotel mereka , akan ada  pemberitahuan tetapi ini datang secara tiba-tiba.


“Selamat pak Leon, apa ada yang saya bantu, Pak?”


“Saya ingin menemui istri saya,  nomor berapa yang dia pakai?”


“Kamar 309 Pak Leon, seperti biasa,” ujar wanita itu.


Leon menyengitkan  kedua alis matanya saat mendengar kata ‘Seperti biasa’ Leon tidak tahu setiap kali Hara merasa sedih ia akan menyempatkan waktu datang ke tempat itu untuk melihat laut.


“Baiklah terima kasih”


Sebuah kamar president suite  kamar yang di tempati Hara saat ini. Leon meletakkannya tas anak-anaknya di kamar lalu membawa mereka berdua keluar kamar untuk mencari Hara.


“Ibu!” Chelia melambai kearah tepi pantai saat Hara duduk menikmati ombak pantai.


Kedua bocah itu berlari kearah Hara memeluknya dengan  erat, seakan-akan mereka sudah tidak melihat Hara selama berbulan-bulan, padahal hanya berapa jam tidak melihat.


Leon hanya berjalan pelan menghampiri Hara terlihat di wajahnya ada perasaan yang bercampur aduk dalam hatinya ada perasaan senang karena Hara batal pergi ke Jerman.


Leon hanya berdiri  di samping Hara.


“Ibu, kenapa  datang sendiri ke sini tidak ajak-ajak kita,” ujar Chelia.


“Ibu hanya ingin mencari udara segar duluan, kalian berdua suka berisik soalnya jadi ibu datang kesini duluan,” ujar Hara bercanda menarik hidung mungil anak perempuannya.


“Ibu, ayah nanti akan mengajak kita jalan-jalan juga menonton bola, naik gunung,  melihat salju turun,” Chelia bercerita panjang lebar saat bersama ibunya.


“Baiklah ibu  mau, sekarang  ada yang mau menyusuri pantai bersama ibu? Tanya Hara menatap  wajah kedua malaikatnya.

__ADS_1


“Mau, aku mau,” ucap keduanya melompat kegirangan.


“Ayah juga harus ikut.” Celia menarik tangan Leon.


Hanya mencari kerang sepanjang bibir pantai kedua bocah kembar itu sudah terlihat sangat gembira ,tawa riang keduanya menghilangkan rasa  penat dalam hati keduanya  menghadapi persidangan beberapa hari lalu sangat menguras emosi dan pikiran untuk Hara.


‘Bahagia itu ternyata sederhana, hanya melihat mereka berdua berlarian begini saja mereka berdua sudah sangat senang, ujar Leon ikut tersenyum kecil saat  Chelia menyiram abangnya dengan air pantai.


Hara duduk membiarkan kedua abang adek itu bermain sepuasnya tanpa ada yang melarang, tanpa banyak aturan.


“Apa kamu tidak merasa lapar?” Tanya Leon tidak sedikitpun mengalihkan perhatiannya pada kedua bocah kembar itu.


Karena bagi Leon ini pertama kalinya untuknya dan keluarganya pergi tanpa pengawal.


Bahkan ia tidak merasa tenang tetap saja ia meminta Bimo dan Bram datang untuk menjaga mereka diam-diam. Hingga keduanya mengabari kalau mereka tiba dan sedang mengawasi  mereka barulah Leon merasa lega.


“Sedikit, tapi anak-anak masih asik main.”


“Aku akan pesan makanan di sini dan tikar kita akan  mengeringkan kulit disini sampai gosong ujar Leon mengulas senyum yang paling menawan.


“Baiklah, boleh anak-anak bisa makan sambil bermain, tetapi kenapa Suster Ana tidak diajak kesini?” Tanya Hara.


“ Tidak ikut nanti aku yang mengurus mereka berdua, kamu tenang saja.”


“Apa kamu  bisa melakukannya, Chelia suka manja kalau mau ke kamar mandi.”


“Bisa, aku ini ayahnya Hara,” ujar Leon  mengulas senyum.


“Baiklah, lakukan saja kalau Pak yakin bisa jadi pengasuh mereka berdua,” ujar Hara. “Aku masuk ke kamar saja,” lanjut Hara.


“Tapi bukankah kamu bilang belum makan tadi?”


“Aku bisa makan di kamar, anak-anak jadi urusanmu saat ini.” Hara menghampiri kedua bocah yang sedang  asik main pasir pantai.


“Ibu, merasa mengantuk, kalian berdua main sama ayah sampai puas,  iya.”


“Ibu mau ke mana?” Tanya Okan.


“Ibu merasa capek bangat.”


“Tetapi ibu tidak akan kemana-mana’ kan?”


“ Tidak ibu ada di dalam kamar nanti.” Hara berjalan menuju kamar.


Ia membiarkan Leon mengurus sendirian karena selalu bilang bisa melakukan sendiri dan Hara ingin memberikan waktu bermain sampai puas untuk anak-anaknya.


 Bersambung


Bantu vote like iya kakak

__ADS_1


__ADS_2