
Akhirnya pagi itu tiba, semua orang memberi pelukan untuk Hara, sebelum masuk ke ruangan operasi, Ibu Atin terlihat khusuk dalam doa untuk kelancaran persalinan Hara. Bu Ina juga, bibirnya selalu komat kami memakan doa keselamatan untuk Hara dan bayinya.
Wajah tegang tidak bisa disembunyikan semua orang yang menemani Hara, Leon terlihat beberapa kali mengusap keringat di telapak tangan.
Sementara, Hara, justru kebalikannya, ia tersenyum ceria, melambaikan tangan pada mereka, sebelum masuk ke dalam ruangan. Tidak lama kemudian ranjang tersebut didorong ke ruangan operasi.
Beberapa dokter dengan berpakaian operasi siap menangani Hara.
Leon ikut ke dalam ruangan operasi, dengan wajah yang semakin menegang yang memutih bagai kapas karena gugup.
“Ibu Hara, bagaimana keadaan anda hari ini?” tanya seorang dokter wanita, ia yang akan memimpin operasi kali ini.
“Baik Dok,” ucap Hara mulai merasa dingin karena ac dalam ruangan itu sangat dingin dan pakaian Hara juga sudah diganti mengunakan pakaian operasi.
“Ibu jangan panik iya, jangan gugup, semua akan baik-baik saja, pikirkan tentang bayi kembar yang akan sebentar lagi akan bertemu dengan ibu,” ucap Dokter itu dengan ramah.
Leon meminta seorang perawat wanita mendokumentasikan persalinan Hara.
“Baik Dok,” ucap Hara, baru ia merasakan kepanikan, terlihat dari genggaman tangannya yang semakin erat memegang telapak tangan Leon.
“Jangan khawatir sayang, aku akan tetap bersamamu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Ucap Leon memberinya kecupan di bibir.
“Ibu Hara rileks iya, saya akan memberi suntikan untuk ibu …,” ucap seorang perawat.
Hara mengangguk, sebuah kain diselimuti di tubuh Hara setelah pakaian yang ia kenakan di lepas, rasa dingin itu semakin menusuk sampai ke tulang-tulang dan saat ia menerima satu suntikan.
Perlahan seluruh tubuhnya tidak merasakan apa-apa, tetapi, matanya masih terbuka dan ia masih tersadar.
Samar-samar ia masih mendengarkan pembicaraan para dokter , ia dapat mendengarkan gunting bedah itu di letakkan, ia juga mendengar pisau bedah itu di letakkan dalam talam perak operasi.
Ia dapat mendengar tetapi tidak dapat merasakan, tetapi saat ia mendengar jalan di perutnya dibuka. Ia merasakan hal yang aneh, setelah itu, ia merasakan kepanikan dan mulai merasa pusing, merasa dadanya memompa tidak beraturan.
‘Jangan sekarang, aku mohon Tuhan. Biarkan bayiku melihat dunia ini dulu’ ucap Hara dalam hatinya.
Tuhan seakan-akan mendengar permintaan kecilnya, ia masih terlihat diam, dengan mata yang dipaksa ditutup, menahan rasa pusing yang semakin menjadi-jadi, hingga suara tangisan bayi memenuhi ruangan operasi.
“Bayi laki-laki! " teriak dokter perempuan itu dengan lantang.
Perhatian mereka semua pada kedua mahluk kecil itu, tidak ada yang melihat ke gugupan Hara di balik kain penghalang kepalanya.
Suara tangisan kedua terdengar.”Perempuan!" Teriak dokter itu lagi, di sambut tawa gembira dari semua petugas medis yang menangani Hara.
“Terimakasih Tuhan, aku siap apapun yang kamu inginkan dalam hidupku,” ucap Hara setelah mendengar suara tangis ke dua bayi merah itu.
__ADS_1
Ia mulai mengalami pendarahan hebat dan rasa pusing di kepalanya semakin menggila , ia hingga tubuhnya bergetar dan ia mengalami kejang.
“Berikan dia bantuan pernafasan! "teriak Dokter melihat tubuh Hara yang kejang.
Baru juga Leon tersenyum bahagia melihat bayi kembar lelaki dan perempuan itu, ia berbalik badan melihat hal buruk terjadi pada Hara, ranjang itu berguncang karena tubuh Hara yang bergetar.
“Haraaaa!” Leon panik.
“Tenang pak, tenang iya, bapak keluar saja dan tunggu di luar,” ujar suster karena khawatir melihat Leon.
“Dok, Dokter, tolong selamatkan istriku,” ucap leon sebelum di giring keluar dari ruangan operasi.
Melihat Leon keluar dari ruang operasi dengan wajah yang panik dengan menahan tangisan, Bu Atin hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan, ia sudah berpikir kalau sudah terjadi hal buruk pada Hara dan bayinya.
“Apa yang terjadi?” tanya mereka semua hampir serentak.
Leon bahkan tidak bisa menjawab, ia terus saja terduduk lunglai, kepalanya menunduk dan kedua telapak tangan mengusap wajah.
Piter dengan cepat memberi Leon botol mineral, wajah keluarga Hara terlihat tegang menunggu dokter keluar dari ruangan operasi itu. Untungnya Piter tidak memperbolehkan Hilda ikut menunggu persalinan Hara, kalau saja ia melihat kepanikan ini, ia pasti akan ketakutan.
“Hara mengalami kejang-kejang Bu,” ujar Leon Bu Atin memeluk Leon.
“Kamu harus kuat, agar istrimu dan anakmu tetap kuat.”
“Syukur Tuhan,” ucap mereka saat mengetahui bocah kembar itu selamat.
“Tetapi Hara belum sadarkan diri, ia masih dalam penangan dokter, dia mengalami kejang-kejang tadi, setelah kedua bayi itu di keluarkan,” ujar leon .
**
Disisi lain.
Toni terbangun dengan wajah yang berkeringat, ia mengalami mimpi buruk, dalam mimpinya ia melihat Hara berjalan di depannya, tetapi saat Toni memanggilnya Hara tidak menyahut. Hanya menoleh sekilas lalu ia berjalan meninggalkannya, berjalan menuju taman di mana saat mereka kecil bermain menunggangi kuda.
“Hara, kenapa kamu tidak mau menyahut saat aku memanggilmu?” ujar Toni dalam mimpinya, ia mendekat . Tetapi Hara pergi menjauh seakan –akan tidak mengenalnya. Toni sedih karena Hara tidak menghiraukan, ia memanggil. Namun, Hara semakin berjalan jauh.
“Haraaaa!”
Toni sangat sedih dalam mimpinya, lalu ia terbangun dari mimpi.
‘Hara apa yang terjadi?’ tanya Toni, ia datang ke rumah sakit.
“Hara sudah dioperasi sekarang, aku berharap kamu baik-baik saja, Hara” ucap Toni bicara sendiri.
__ADS_1
Toni menelepon Bu Atin menanyakan kabar persalinan Hara.
“Halo Bu.”
“Nak! Hara ….”
“Ada apa dengan Hara?” tanya Toni dengan tubuh gemetaran, ia terduduk di lantai di kamarnya, mendengar Bu Atin terisak-isak menyebut Hara, ia sudah merasakan ada hal buruk.
“Dia belum sadarkan diri, dia masih dalam ruang operasi, bagaimana ini Ton?” Bu Atin sangat takut.
“Ibu tenang, jangan panik kasihan Bos, "ujar Toni.
" Ton, Ibu sangat takut, "ujar Bu Atin, ia curhat pada Toni.
Mendengar kekhawatiran, semua orang Toni diam.
" Ibu, tidak akan terjadi apa-apa, Ibu harus kuat, "ujar Toni.
" Lalu apa yang membuatmu menelepon Ibu, apa ada masalah di rumah?
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
Bersambung ….
__ADS_1
Kasihbintang dan bantu review juga, beri komentar dan masukkanya iya, baca juga ceritaku yang lain.