Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Jiwa yang Dipenuhi Dendam


__ADS_3

Leon duduk di ranjang rumah sakit, pikiran melintas ke masa lalu.


Lima belas tahun yang lalu, saat Hara bermain di taman,  di mana ibunya dan ibu Toni ,  menjadi instruktur senam dan guru tari  untuk ibu-ibu pejabat di kota itu, orang dari kalangan orang –orang berduit.


Hara sedang bermain dengan Toni dan  dua orang anak lainya, Toni sudah menyadari kalau lelaki yang biasa mengikuti Hara ada di sana juga sedang mengawasi mereka bermain



Lalu Toni melapor pada Piter yang sedang duduk mengawasi mereka.


“Om, itu orang yang menguntit Hara  ada di sini juga,” bisiknya menunjuk anak lelaki yang terlihat gembel dengan pakaian robek dan kotor dan matanya  menatap tajam bagai  sepasang mata burung elang yang sedang mengawasi buruannya.


“Hei. Sini kamu,” pinta Piter lelaki berbadan  tegap dan rambut plontos, layaknya seorang tentara karena dia baru saja di pecat dari tentara karena dituduh membunuh atasannya.


“Iya,” jawab Leon saat itu, tidak ada raut takut di wajahnya.


“Siapa namamu?”


“Leon,” jawab Leon kecil dengan mata balik menantang.


“Apa kamu mengawasi keponakanku?”


“Iya,” jawabnya berani. Leon dari muda sudah  terlihat  menakutkan apa lagi dengan  tatapan matanya


“Kenapa?”Tanya Piter.


“Karena dia cantik,” jawabnya santai.


Mendengar alasan Leon saat itu,  Piter merasa tidak perlu memukulnya,  karena wanita itu cantik,  memang selalu menarik untuk dilihat mata, barang kali itu yang di pikirkan Piter saat itu makanya ia tidak memukul Leon.


“Kamu sudah remaja, dia masih anak kecil, apa yang kamu harapkan?”


“Menunggu hingga besar nanti.”


“Hai, anak muda! jangan tertangkap lagi  saat melihat anak cantik itu, kamu lihat wanita yang di sana, itu adalah ibunya,  dia wanita yang galak,  akan sangat marah besar kalau dia tahu kamu menguntit putrinya,  dia adalah seorang princess dan aku pengawalnya, jangan tertangkap basah lagi. Ok”


“Baiklah,” jawab Leon  dengan wajah datar.


Leon  pergi, tetapi ia hanya bersembunyi di balik pohon dan ia mengintip Hara yang sedang asik bermain lagi.


“Kenapa Piter?” tanya ibu Hara.

__ADS_1


“Tidak Bu, anak itu hanya melihat Hara dan Toni bermain.”


“Apa dia yang di maksud Toni yang selalu menguntit, Hara? Jangan lengang Pak Piter,  bisa jadi dia berbahaya,” ujar Ibu Toni.


“Baik Bu.”


Dua hari kemudian ada kegiatan di taman  terbuka itu , Hara dan Toni ikut juga. Kali ini mereka berdua belajar berkuda , tetapi Piter kebetulan tidak ikut.


“Ayo sini Foto dulu,” ucap Ibu Toni mengambil foto Toni dan Hara, berdua memegang tali pelanan kuda,  tetapi di belakang mereka ada seorang anak dengan mata menatap sinis dan di tangannya ada sumpit beracun yang siap diarahkan.


Ibu Hara menyadari anak yang di tegur Piter beberapa hari yang lalu itu, masih menguntit, lalu ia menyergap Leon dari belakang pohon.


“Apa yang kamu inginkan …! Kenapa kamu menguntit putriku?”


Paaak …!



Satu gamparan melayang di wajah Leon. ”Kemarin kamu sudah disuruh berhenti, kenapa masih mengikuti? Pergilah … !Aku tidak akan memberikan putri padamu” Ibu Hara hari itu mengusirnya meminta Leon untuk menjauhi putrinya, Leon  hanya diam dengan mata masih menatap sinis penuh kemarahan pada Hara dan Toni.


Saat mereka masih duduk di tengah taman saat  itu,  Leon tidak mau di usir, ia masih berkeliaran.  Ibu Hara berkata pada Toni;


“Baik Tante.” Toni mengangguk ia juga menatap Leon.


“Sampai kalian besar, lalu menikahlah dengan Hara, berjanjilah pada tante.”


“Baiklah aku berjanji tante.”  Lalu ia meminta memakaikan kalung Liontin sebagai ikatan janji, Ibu Hara meminta Toni menghampiri Hara dan memakaikan kalung tersebut di leher Hara.


Lalu tangan mereka berdua di satukan  layak orang yang tunangan.


Leon yang melihat dari jauh dan tidak dapat mendengar hanya bisa menyimpulkan sendiri,  ia semakin marah menatap mereka dengan penuh dendam.


“Foto, foto biar ada kenangan sampai kalian besar nanti,” ucap ibunya Toni.


Leon  semakin marah dan dendam,  hingga muncul sebuah ide, ia menyusun rencana yang amat mengerikan,  sebuah botol yang sudah di isi serbuk yang bisa menyebabkan ledakan dan kebakaran hebat dan di beri sumbu, ia berencana melemparkan ke dalam mobil Hara  yang di dalamnya ada ibunya Hara,  ia ingin menghabisi Hara, Toni, Ibunya Hara dan Ibunya Toni sekalian.


Saat di parkiran  mereka sudah bergegas masuk ke dalam mobil.


“Ibu ke toilet sebentar,” ucap Ibu Hara dan Ibu Toni bergegas pergi.


“Aku juga Toni ikut,” teriak Toni memegang resleting celananya,  mereka bertiga mampir ke toilet sebelum pulang dari taman, tinggallah Hara dalam mobil sendirian. Lalu ia keluar dari mobil menenteng plastik berwarna putih dengan  mata melihat kanan- kiri membawa satu kantong jajanan dan roti dan satu kotak susu dan buah, berlari ke balik pohon di mana Leon sudah bersiap menyalakan obor botol yang akan membakar mereka.

__ADS_1


“Hai, ini untuk kakak, maafkan ibuku iya… jangan marah sama ibuku,”  ucap Hara memberikan plastik jajanan itu ke tangan Leon. “Nama kakak siapa?” tanya Hara. Leon menatap  kaget, ia tidak menduga akan hal ini, ia menatap Hara dengan tatapan  marah, kaget, takut di lihat ibunya lagi bercampur jadi satu.


“Hara kamu di mana?” panggil Ibunya setelah keluar dari toilet.


Karena Leon diam tidak  menyebutkan namanya, lalu Hara berkata;


“Eh, kalau kamu tidak mau menyebutkan namamu …. Aku sebutkan namaku saja, namaku gadis berpita merah,” ucap Hara tertawa lalu menunjuk pita merah kesukaannya,  tertawa manis menunjukkan deretan gigi yang berjajar rapi,  lalu ia berlari kecil masuk ke dalam mobil ibunya, ia terlihat seperti malaikat kecil dengan wajah cantik dengan rambut panjang di kepang dua dan diberi pita berwarna merah.


Sebelum ia masuk ke dalam mobil,  ia melambai kearah Leon mengisyaratkan agar Leon  bersembunyi di balik pohon agar tidak di marahin ibunya.


Saat itu Leon hanya mematung, terkejut dengan apa yang terjadi padanya saat itu, ia memandang kantong plastik yang di berikan Hara kecil padanya saat itu,  karena ia terlalu sibuk mengincar dan mengikuti Hara,  ia sampai lupa mengisi perut.


Biasanya untuk mengganjal perutnya Leon akan memungut sisa makanan dari restaurant  yang biasa di letakkan di samping tempat sampah, biasanya petugas restaurant tidak memasukkannya ke dalam tempat sampah,  tetapi memisahkan  dan meletakkannya di  samping tong besar itu,  karena biasanya ada orang yang mengambilnya untuk ternak dan  sedangkan Leon mengandalkan untuk bertahan hidup.


Leon  menjadi anak gelandangan setelah sepeninggal keluarganya,  merasakan hidup yang keras, pahit makan  dari sisa bekas orang lain.


Saat Hara memberikan makanan itu, Leon baru merasakan rasa lapar, tanpa pikir panjang, ia memakannya dan melupakan tujuan utamanya yang ingin melemparkan botol bersumbu itu ke mobil Hara.


Karena kebaikan Jovita Hara kecil lah Toni, ibu Hara dan Ibu Toni selamat dari kemarahan Leon, jika Leon sampai melemparkan botol tersebut sudah bisa dipastikan  mobil akan meledak dan terbakar. Karena dalam  Botol Leon memasukkan serbuk yang bisa menyebabkan ledakan.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2