
Hari itu, lagi-lagi Hara memilih bolos dari pekerjaan, Leon juga menyadari Hara jalan- jalan bersama Maxell, Leon sangat marah, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa, karena Piter selalu mengawasinya.
Leon tadinya pagi itu berniat ingin kelapangan tetapi batal, ia ingin bicara dengan Maxell.Ia menelepon Nina karena tidak melihat Hara di hotel.
“Apa Hara hari ini masuk?”
“Tidak Pak, hari ini Hara minta izin tidak masuk lagi”
“Kemana dia?”
“Tidak tahu Pak, tadi aku melihat ia keluar bersama tunangannya”
“Baiklah.” Leon menutup teleponnya.
Ia menelepon nomor yang lama sudah tidak perah ia hubungi, Kinan, mantan anak buahnya dulu. Kinan saat itu sudah membuka toko perakitan Komputer setelah Leon memberi mereka pilihan dua tahun yang lalu.
“Kinan!”
“Bos?” Lelaki berkata mata tebal itu terkejut karena Leon menghubunginya.
‘Apa akan terjadi hal besar, kenapa Bos meneleponku?’
“Iya ini saya, saya butuh bantuan lagi”
“Siap-siap Bos.” Lelaki itu sangat bersemangat, ia masih menginginkan bekerja pada Leon lagi.
“Tolong temukan posisi nomor ini sekarang”
“Baik Bos”
Setelah Kinan membantunya, ia keluar dari pintu tersembunyi dan tembus ke parkiran, jadi Piter tidak melihat Leon keluar dari hotel, ia ingin mengikuti Hara.
Ternyata Hara tidak masuk kerja karena ia ada pemotretan di satu studio dan ia mengajak Maxell menemaninya. Leon mengikuti mereka berdua dengan penyamaran.
Saat ingatan Hara pulih, ia dan Maxell terlihat seperti teman, bukan pasangan kekasih.
“Aku tahu … kamu kan bersikap seperti itu Hara, karena kamu wanita yang terhormat,” ujar Leon tersenyum, saat melihat Hara bersikap sopan pada Maxell.
Saat selesai syuting Hara masih bersama Maxell, kini mereka berdua sedang makan di pinggir jalan.
“Hara apa kamu tidak apa-apa makan di pinggir jalan seperti ini?” Tanya Maxell kagum melihat sikap Hara.
“Tidak, aku sama ibu sering makan di pinggir jalan seperti ini, masakan dikaki lima tidak kalah sama masakan di restauran,” ujar Hara.
Walau ia sudah jadi artis tidak membuatnya sombong atau pilih-pilih makanan.
“Jangan melihat dia seperti itu anak muda, aku tidak suka melihatmu melihat tuanganku seperti itu” ujar Leon dari tempat duduknya, ia kesal saat melihat Maxell mencuri-curi pandang pada Hara.
__ADS_1
“Aku akan pastikan kalau kamu hanya menjaga jodohku anak muda, aku tahu kalau Hara akan jadi milikku,” ujar Leon dengan yakin.
**
Saat malam tiba Hara pulang, sementara Maxell kembali ke hotel kesempatan inilah di gunakan Leon untuk bicara dengan dr. Maxell.
Maxell duduk dengan tenang, ia tahu kalau lelaki yang duduk bersama saat ini sama dengannya, sama-sama suka dengan Hara, ia memilih menghabiskan makanannya dan menghiraukan Leon yang duduk masih menatapnya.
“Ok, baiklah mari kita makan dulu, karena untuk bertarung ataupun berperang, harus punya tenaga yang kuat untuk bisa menang,” ucap Leon memberitahukan MIxell secara terang-terangan kalau mereka berdua sama-sama bersaing untuk mendapatkan Hara.
“Itu benar, silahkan dimakan dulu,” balas Maxell mempersilahkan Leon.
‘Gila kenapa tiba-tiba seleraku jadi hilang, kalau begini bisa malah aku yang pingsan di depannya, Leon tiba-tiba tidak berselera untuk makan, mungkin ia merasa Maxell adalah lawan yang tangguh untuknya, ketampanan lelaki itu membuatnya merasa sangat tua, belum lagi umurnya sama dengan Hara, ia mencoba menyuapi satu sendok ke dalam mulutnya, tetapi lambungnya seolah menolak.
Sementara dari arah Lain, ketiga anak buah Leon menonton sang bos.
“Aku yakin Bos akan kalah, dia akan berdiri duluan dengan wajah kusam” ujar Ken.
“Taruhan berapa?” Tanya Bram.
“Gocap,” ujar Ken.
Mereka berdua pertarungan sang bos jadi ajang taruhan.
Zidan hanya bisa menggeleng melihat kedua ulah rekannya,saat ia tegang memikirkan nasip bos dan kabar menegangkan dari kantor polisi, kedua rekannya malah taruhan.
“Apa kamu bisa makan dengan tenang sekarang?” tanya Leon merasa terusik dengan sikap Maxell yang terlihat cuek.
“Saya tipe orang yang tidak ingin membuang-buang dan menyia-nyiakan apa yang aku miliki Pak Wardana …. saya juga tipe orang yang penyayang” ucap Maxell mengusap mulutnya dengan tissu setelah menghabiskan makanan yang ada di piringnya.
“Apa maksudnya?” tanya Leon merasa terusik dengan pernyataan yang di dilontarkan Maxell, hal itu seperti menyentilnya, karena pernah menyia-nyiakan Hara.
Maxell menatapnya dengan senyuman, “Sama seperti makanan ini, saya sudah memesan, maka itu harus memakan dan menghabiskannya agar tidak terbuang dan mubajir, karena itu sudah milikku, sudah membayarnya,” ucap Maxell, jelas-jelas menyindir Leon yang memesan beberapa menu makanan, tapi satupun tidak ada yang ia cicipi.
“Kamu tidak usah menyidir-nyindir saya, selera makanku tiba-tiba hilang karena melihatmu dengan Hara tadi” ucap Leon berterus terang.
“Apa benar kamu suka dengan tunangan saya?” tanya Leon
Bukanya terkejut, Maxell santai karena ia sudah tahu semua dari Hara.
“Hara maksudnya, iya aku menyukai bukan hanya suka, aku bahkan sangat mencintai calon istriku, lagian siapa yang tidak suka dengan wanita seperti dia, ia cantik, baik, ceria yang terpenting kami memiliki banyak kesamaan,” ujar Maxell
Leon sampai panas dingin mendengarnya, ia melonggarkan dasinya ia merasa sesak.
“Kata siapa dia seperti itu, dia tidak sehebat yang kamu katakan, dia wanita yang banyak kekurangan, Hara itu takut mandi di kolam renang, memasukkan jempol tangannya ke mulutnya kalau dia lagi tidur, dia juga suka tertawa lebar kalau lagi makan,” ucap Leon mengetahui banyak hal tentang Hara bahkan hal kecil sekalipun ia sangat tahu.
Mixell sampai-sampai mengangkat kedua alis matanya mendengar Leon menyebutkan dengan detail semua tentang Hara, saat pertama melihat Leon sudah tahu kalau ada sesuatu diantara mereka, tapi ia tidak tahu, kalau Leon sampai sedetail itu mengetahui semua tentang Hara, bahkan ia sampai tahu tentang hal pribadi Hara.
__ADS_1
Termasuk dengan tentang kebiasaan tidur yang memasukkan tangan ke mulutnya, bahkan hal itu berlaku sampai saat itu, Mixell pernah melihatnya juga saat di Jepang.
‘Jadi benar kata Hara kalau Pak Wardana masih mencintainya’
“Bapak ternyata sangat tahu banyak dengan Hara, sejauh mana hubungan bapak dengan Hara?” tanya Maxell, ia ingin mendengar langsung dari Leon
“Iya aku sangat dekat,” ujar Leon.
“Sejauh mana?” tanya Maxell ia ingin mendengar langsung.
“Sangat dekat, tetapi … saya melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan,” ucap Leon matanya menatap jauh. “Tapi aku tidak akan menceritakannya padamu, ini tidak ada hubungannya denganmu”
“Saya ingin tahu, seperti apa calon istri saya”
“Ini tidak ada hubungannya denganmu, kamu hanya orang asing yang tiba-tiba hadir diantara kami berdua, saya bisa memperbaiki hubungan kami percayalah”
“Jangan biarkan gengsi menguasai mu karena gengsi dan ego hanya akan membuatmu menyesal dan menderita. Kalau kamu memang mencintai Hara, kenapa baru sekarang Pak Wardana bicara padaku, kenapa tidak saat kita di Jepang?” Tanya Maxell.
“Aku tidak ingin melihat masa lalu dokter Maxell, aku hanya ingin bilang padamu, pulanglah kembali ke Jepang ini tiket …. Aku sudah membelikannya aku tidak ingin melibatkan mu, ada masalah yang datang dari masa lalu, sangat berbahaya menyangkut nyawaku dan nyawa Hara”
“Berhenti membuat dongeng penghantar tidur untukku Pak Leon, saya bukan anak kecil yang bisa ditakut-takuti,”ujar Maxell marah.
“Dokter muda … begini, aku menghormati ayahmu dan aku mengenalnya, karena itulah aku peduli padamu, aku tidak ingin kamu terlibat antara aku dan Hara, karena ini berbahaya,’ ujar Leon raut wajahnya serius.
“Dengar Pak Wardana, saya tidak takut dengan ancaman anda, besok saya akan pulang, tetapi bersama Hara’
“Terserah, aku sudah memperingatkan mu, jangan menyesal,” ujar Leon meninggalkan meja dengan wajah kusam.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)
__ADS_1