
Kabar Hara bekerja di hotel Leon terdengar juga oleh Toni.
Ada rasa sakit dan sedih di hatinya, ia merasa kalau kesetiannya dan pengorbanannya selama menjaga Hara sia-sia.
‘Apa ini ? kenapa wanita malang itu yang harus menderita ? Apa benar perusahaanya bangkrut sampai Hara dalam keadaan buta juga harus bekerja?’ Toni meras sangat sesak di dalam dadanya.
Ia mendengar Leon akan pulang ke Indonesia, setelah beberapa minggu di Jepang. Hari itu juga Toni kembali datang ke rumah Leon. Saat Piter menjemput Hara malam itu, Toni juga meninggalkan rumah Leon, ia memilih hidup sendiri, Toni tidak mau tinggal dengan Leon, mereka berdua tidak terima saat Leon meninggalkan Jovita Hara. Baik Bu Atin juga sangat berubah, wanita paruh baya itu, ia jarang bicara dengan Leon. Itulah yang sebenarnya membuat hati Leon jadi bertambah bimbang.
Wanita yang ia anggap ibu tidak lagi perduli padanya seperti dulu, di rumah Leon akan makan sendiri, Bu Atin akan memilih menghabiskan banyak waktu di kamar kalau ada Leon ada dirumah. Kalau Leon sudah pergi, barulah ia keluar dari kamar dan menyibukkan diri di taman di depan rumahnya menanam kembang maupun tanaman obat
*
Saat Bu Atin sedang duduk melamun siang itu Toni datang, wanita itu terkejut dan sangat gembira melihat Toni datang, sejak Toni dan Hara bersama wanita paru baya itu sangat kesepian, ia sangat merindukan Hara, tetapi kalau ia pergi mencari Hara ia takut Leon marah.
*
“Bi!” Panggi Toni berdiri di sampingnya.
“Oh Ton.” Bu Atin memeluk lehernya dengan erat ia menangis karena rindu.
“Aku baik-baik saja Bi, jangan khawatir,” ucap Toni.
“Ibu sangat merindukan kalian berdua, kapan kita bisa berkumpul kembali,”? ujarnya dengan tangisan.
Bu Atin duduk kembali.
“Aku juga berharap seperti itu Bi, Apa Bos mau datang hari ini?” Toni melepaskan topi dan masker yang menutupi luka parut di wajahnya. Luka diwajahnya sangat memprihatinkan.
Wajah tampan Toni sebelum kebakaran sudah hilang
“Entah Nak, Bibi tidak begitu mengurusi dia belakangan ini, Bibi merindukan non Hara.”
“Bi, itu yang ingin aku tanyakan sama Bos juga ….”
Bu Atin menatap Toni dengan tatapan menyelidiki.
“Ada apa Nak?” Bu Atin sangat takut kalau Toni sampai marah, kini wanita paruh baya itu merasa sangat menyesal kenapa dulu dia tidak mengizinkan Toni membawa Hara pergi, saat ia masih mengandung, mungkin anak itu masih ada saat ini.
“Hara bekerja di hotel Bos Bi”
“Apa? Bagaimana bisa ?”
“Itu dia yang aku ingin tanyakan sama Bos. Sekarang aku ingin-”
__ADS_1
Saat mereka mengobrol ternyata Leon pulang dan berdiri di depan gerbang.
“Ton, kamu di sini?” Leon mendekat, tetapi wajah mereka berdua masih dingin padanya.
“Iya Bos, saya baru datang ke sini.” Leon ikut duduk di teras rumah.
Ia juga sengaja pulang, niatnya ingin memberitahukan kalau Hara baik-baik pada Bu Atin, karena wanita itu sangat khawatir saat Hara dan keluarganya tidak bisa di temukan.
Melihat Toni terlihat gelisah Leon tahu kalau lelaki berkulit putih itu ingin bicara dengannya.
“Ada apa Ton?” Leon menatapnya dengan tatapan tajam.
“Apa benar Hara bekerja di hotelmu?”
“Iya , karena itulah aku pulang ke rumah, ingin memberitahukan Ibu kalau dia baik-baik saja,” ujar Leon menatap keduanya bergantian.
Kini Bu Atin sudah menjadi seorang ibu baginya, ia sudah memangil wanita itu dengan panggilan ibu.
“Lalu bagaimana?”
“Apanya yang bagaimana?” Tanya Leon mulai memasang wajah mengeras. Tetapi hal itu tidak menyurutkan keinginan Toni untuk mengungkapkan kemarahannya pada sang Bos.
“Bagaimana janjimu untuk menjaga selamanya!” Bentak toni dengan suara meninggi.
“Tidak, kamu tidak bisa membuang wanita malang itu begitu saja”
“Aku tidak membuangnya Ton … aku akan menjaganya bahkan seumur hidupku,” balas Leon.
“Menjaga dengan cara seperti apa? Dengan cara kamu menikahi wanita lain?” Tanya Toni degan menatap tajam.
“Ton, aku akan menyembuhkan matanya dan kamu bisa melakukan operasi untuk pemulihanmu,” ujar Leon.
“Kamu dulu berjanji padaku untuk menjaganya. Kamu dulu yang merebutnya dariku. Apa harus seperti ini ….? Kamu melupakannya karena dia buta, karena kamu sudah punya wanita lain”
“Ton, aku terjebak di dua janji pada dua wanita. Apa ini salahku? AKu tidak tahu kalau Hara masih hidup! Jangan salahkan aku! Salahkan takdir yang mempermainkan hidupku!” Teriak Leon dengan marah juga.
“Takdir bukan di pertanyakan Kenapa dan Mengapa. Tetapi di jalani dan di hadapi ….! Kalau kamu bertanya tentang takdir siapa yang paling menyakitkan? itu Hara. Dia yatim piatu, buta, kehilangan bayinya dan kehilangan kehormatannya gara-gara kamu!” Teriak Toni ini pertama kalinya lelaki itu marah besar pada Leon.
“Itu semua masa lalu Ton, itu semua masa lalu, karena rasa sakit di masa lalulah, aku tidak ingin mengingatnya”
“Kamu pengecut! Kamu memintaku setia dan aku setia. Tetapi kesetiaan ku kamu sia-siakan. Aku berjuang untuk menjaganya untukmu . Namun kamu membuangnya begitu saja. Keparat Kamu!”
“Aku tidak membuangnya, aku akan menjaganya, aku akan menjaga dia seumur hidupku, karena aku sudah berjanji pada mendiang ayahnya dan padanya juga. Tetapi aku tidak berjanji untuk menikahinya”
__ADS_1
“Sama saja, apa kamu tahu betapa terlukanya dia nanti kalau dia sudah pulih. Orang yang dia cintai meninggalkannya! “ Teriak Toni.
Bu Atin hanya bisa menangis melihat pertengkaran Leon dan Toni.
“Hentikan. Kalian jangan bertengkar lagi,” ucap Bu atin dengan tangisan.
“Kamu boleh menikahinya Ton, maafkan aku,” ujar Leon wajahnya sangat pucat.
“Persetan denganmu!” Teriak Toni memberi bogem ke wajah Leon.
Leon tahu dia salah, ia hanya diam saat Toni meninju bibirnya.
“Kenapa kamu baru sekarang kamu bilang seperti itu. Harusnya aku membawa dia saat itu, harusnya aku tidak mendengar nasihat Bibi. Kalau saja saat itu membawanya kabur, anak Hara masih ada, jika saat itu aku membawanya pergi dia tidak akan buta. Kalau saat itu aku membawanya pergi kami bertiga dan anak yang dikandung Hara sudah hidup bersama. Bahkan malam itu, aku membujuknya kabur dari rumahmu karena aku tahu ada bahaya dia menolak pergi …. Dia bilang dia akan menunggu kamu brengsek ….! Sekarang. Kamu meninggalkannya saat dia terpuruk!” Teriak Toni, dia menangis Bu Atin menangis dan Leon juga menangis, hanya saja Leon menangis tanpa suara ia diam tetapi air matanya menetes begitu deras.
“Aku juga tidak ingin seperti ini, aku juga masih mencintainya. Hanya saja janji akan selalu aku di tepati, aku tidak bisa meninggalkan wanita itu begitu saja”
“Lakukanlah, tetapi ingatlah, kamu tidak akan mendapatkan kebahagian, rasa bersalah akan selamanya menghantuimu, kamu mengorbankan kebahagiaanmu demi sebuah janji,” ujar Toni, ia meraih topi hitam miliknya dan ia ingin bergegas.
“Ton, kamu mau kemana Nak.” Bu Atin.
“Aku akan pergi Bi, aku tidak akan menginjak rumah ini lagi. Selama ini aku terlalu percaya pada orang yang salah,” ujar Toni meninggalkan Leon yang masih berdiri membelakangi mereka.
Bu Atin juga meninggalkan Leon, ia pergi ke kamarnya menuntaskan semua kesedihannya di sana ia menangis di dalam kamarnya.
“Akan aku pastikan kamu menyesal telah meninggalkan Hara Leon. Kamu akan menyesal,” ujar Toni menghidupkan motor Ninja miliknya dan ia pergi.
Toni akhirnya memutuskan pergi dari sisi Leon, ia menolak semua bantuan dari Leon.
Bersambung
KAKAK TERSAYAN JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing