
Mereka bertiga datang ke gedung seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Apa semuanya baik- baik saja?” Tanya Hara saat mereka tiba.
“Baik … kita baik,” ujar Kikan.
“Apa, tidak pulang tadi malam?"
Kikan menggeleng.” Ponselku aku tinggalkan di rumah dari kemarin. Kenapa Mbak … Apa Toni mencari ku?” Tanya Kikan.
“Juna menelepon ke rumah mencari ibunya yang tidak pulang-pulang,” ujar Hara.
“Semua akan berubah mulai saat ini,” lirihnya pelan.
Hara menghela napas, ia tidak ingin rumah tangga Toni hancur, tidak ingin anak mereka jadi korban.
Baru berapa merasakan namanya bekerja di pusat olah raga, milik orang tua Hara, mereka tidak merasakan namanya ketenangan, Para suami mereka semakin mengawasinya, bahkan hari itu, mereka dibuat jengkel karena tiba-tiba ingin menutup ruangan olah raga untuk lelaki.
Gedung itu tidak hanya tempat kebugaran untuk wanita, Hara mengkosepnya jadi berbagai pungsi.
Gedung tiga lantai itu ia bagi menjadi tiga bagian, lantai satu jadi lantai senam untuk para wanita, lantai dua ruangan olah raga untuk laki-laki dan lantai tiga Hara mengubahnya jadi sanggar.
Jadi semua gedung itu berfungsi tidak ada yang kosong, apa yang di lakukan Hara di sambut baik mereka semua dan di sambut baik olah beberapa pelanggan, karena tidak jauh-jauh untuk memasukkan anak-anaknya untuk belajar musik.
Hara punya pemikiran yang luas, dengan ditambahnya aktivitas di gedung tentu saja akan menambah lowongan pekerjaan, Hara ingin orang-oran disekitar gedungnya jadi pekerja di sana.
Tetapi hal itu tidak mendapat dukungan dari Leon dan Toni, mereka tidak setuju kalau Hara membuka pusat kebugaran pria.
“Kamu tidak bilang padaku, Hara,” ujar Leon protes.
“Sayang, aku sudah bilang, biarkan kami yang mengurusnya, aku hanya ingin mengembangkannya,” balas Hara.
“Hara, tetap saja harus ada persetujuan dari kami para suami pusat kebugaran di lantai atas itu tidak bagus,” ujar Leon.
Hara merasa sangat kesal saat Leon mencampuri semuanya, ia tahu tujuan Leon apa.
Saat mereka lagi makan siang keluar, salah satu pegawai Hara laporan, kalau lantai tiga di tutup Leon, pada hal baru beberapa hari buka dan peminatnya juga banyak karena kebetulan tempatnya dekat asrama polisi.
“Apa yang ayah lakukan?” Tanya Hara saat Leon menutup ruangan kebugaran tersebut.
“Menutupnya tidak bagus banyak lelaki di sini, karena kalian semua perempuan.”
“Kamu yang menganti pegawai lelaki dan menggantinya dengan pegawai perempuan,” ujar Hara.
“Karena itu … gedung ini khusus senam untuk wanita saja,” ujar Leon.
Hara membuang napas panjang ia melirik ke tiga sahabatnya Clara dan yang lainnya hanya diam. Hara ingin marah, karena mereka ber empat sudah bekerja keras untuk membentuk ruang senam itu jadi ramai dan mereka bahkan menambah beberapa pekerja.
__ADS_1
“Kami ber empat sudah bekerja keras Leon, bahkan beberapa hari ini kami sampai tidak tidur untuk merenovasi itu, tetapi seenaknya kalian menutupnya,” ujar Hara.
“Bu …. kami hanya tidak ingin kalian di ganggu para lelaki itu,” kilah Leon.
“Aku tidak ingin Kikan bekerja di sini,” ujar Toni. Ia datang dengan Ken dan Zidan.
“Harusnya Kak Toni ngomong dari awal, kenapa setelah kami bekerja keras Kakak baru bicara kalau tidak suka kalau kakak Kikan di sini,” ujar Hara dengan suara menahan amarah.
“Bu, begini … Toni hanya ingin istrinya pulang kembali ke rumah,” ujar Leon meredakan amarah istrinya.
“Yah, kalau mereka ingin para istrinya pulang ke rumah lagi, harusnya bicara baik-baik pada mereka dan meminta maaf,” ujar Hara.
“Bu, aku tidak mau ikut campur, mereka hanya minta tolong kalau gedung senam laki-laki di tutup, jadi, aku bantu,” ujar Leon.
“Kamu setuju begitu saja, lalu apa Ayah memikirkan kerja keras istrimu ini untuk mengerjakan itu?” tanya Hara menghela napas lelah. Ia meninggalkan Leon.
Melihat mereka Zidan datang Clara dan Kikan keluar.
“Aku tahu itu ulah mereka,” ujar Rebeka ia ikut keluar.
“Bukankah mereka yang ingin kita mencari kesibukan kenapa mereka protes,” ujar Kikan.
“Baiklah kalau mereka tidak ingin kita bekerja di sini, ayo kita cari kegiatan yang menyenangkan, kebetulan sepupuku punya lapangan golf dia pernah memintaku mengurusnya,” ujar Clara.
“Itu lebih oke, kita bisa bertemu para pejabat di sana.
“Sampai kapan kamu akan meninggalkan rumah? Apa kamu tidak kasihan pada Juna?” Tanya Toni.
“Dia sudah besar Pak Toni jangan khawatir, dia juga tidak membutuhkan diriku lagi,” ujar Kikan acuh.
“Ayo kita pulang, kamu sudah terlalu lama meninggalkan rumah”
“Tidak aku tidak akan pulang ke rumah yang kamu beli dengan uangmu itu, aku akan bekerja seperti yang kamu bilang … lalu aku akan membeli rumah untuk sendiri”
“Kikan berhentilah bersikap seperti anak-anak, ingat umur kita sudah tua,” ujar Toni.
“Justru … aku ingin di masa tuaku saat ini, aku ingin menikmati namanya kebebasan, tidak ada tekanan, tidak ada kata-kata penghinaan yang aku dengar, aku ingin menikmati namanya hidup bebas sebelum aku mati menua,” ujar Kikan dengan wajah sedih.
Clara dan Kikan yang duduk di samping Kikan, ikut merasakan apa yang dikatakan Kikan, karena nasip mereka bertiga sama, sama-sama diabaikan para suami.
Tidak lama kemudian Zidan juga datang, tetapi yang membuat hati Clara sedih lelaki bertampang dingin itu tidak pernah mengatakan apa-apa.
Tidak meminta pulang dan tidak meminta maaf dan tidak meneleponnya sama sekali.
“Kita akan memperbaiki semuanya,” bujuk Toni lagi.
“Kami bertiga berkencan dengan lelaki muda,” ujar Clara.
__ADS_1
“APAAA!?”
Ketiga lelaki itu sangat terkejut.
“Sejak kapan kamu jadi wanita murahan seperti ini?” Tanya Zidan dengan tatapan jijik pada Clara.
“Sejak kalian tidak menganggap kami ada.”
“Ayo kita berpisah, kamu wanita yang menjijikkan,” ujar Ken menatap Rebeka.
“Baiklah ayo.”
“Apa?” Ken terkejut.
“Untuk hak asuh anak, kamu boleh memilikinya dan aku juga tidak akan meminta hartamu,” ujar Rebeka .
Ken terdiam, ia tidak menduga ucapannya di setujui Rebeka, Toni tidak berani bicara ia takut Kikan meminta pisah juga darinya.
“Aku menunggumu di rumah, kita akan bicara di rumah,” ujarnya pelan ia membalikkan tubuhnya.
“Aku tidak akan pulang lagi ke rumah Pak Toni,” balas Kikan juga.
Toni terdiam ia mengepal tangannya dengan kuat, ia takut salah bicara dan membuat semuanya hancur, ia tidak menyahut apa, Toni berjalan menuju mobil.
“Apa yang akan terjadi, aku tidak menginginkan perpisahan,” ujarnya meletakkan kepala di atas kemudi setir. Kini ia menyesali sikapnya pada Kikan selama ini.
Bersambung ...
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasi untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (tamat)
__ADS_1