
Tidak perlu kata-kata untuk menenangkan hati seorang wanita yang terluka, cukup berikan dada untuk sandarannya, maka setengah dari beban di dadanya, kan, terasa terlepas.
Melepaskan kesedihan dengan tangisan akan terasa ringan, karena jikan kamu sedih menangislah kalau kamu gembiralah maka tertawa lah , karena roda hidup akan selalu berputar.
“Kamu sudah merasa lega?” Leon menatap wajah Hara.
Hara hanya mengangguk kecil, ia tidak menangis lagi, mengangkat wajahnya dari dada Leon, dada yang ia jadikan tempat menyandarkan kepalanya dan menampung air mata kesedihan, kini kemeja milik Leon sudah basah kuyup karena menampung air mata dari mata sang istri.
*
Ketika mereka sedang duduk, Celia datang dengan wajah sedih, ia sedih saat melihat ibunya menangis.
“Apa ibu menangis? Ibu sakit? Apa karna Celia nakal?” tangan mungilnya menyentuh pipi Hara, mata cantik dengan bulu mata panjang itu berkaca-kaca, ia akan menangis kalau melihat Hara menangis.
“Oh. Putri cantik ayah sedih, ibu tidak apa-apa sayang, ibu hanya sedih karena, Oma Ina telah pergi untuk selamanya, maka itu Ibu menangis.” Leon menggendong dan mendudukkan di pangkuannya.
Okan berdiri di depan mereka, tatapan misteriusnya tidak akan ada yang bisa menebak, wajah, sifat kedua anak kembar itu sungguh bertolak belakang.
Jika Chelia peka dan cenderung periang, maka tidak untuk anak lelaki berhidung mancung itu, ia akan diam menerka-nerka sendiri dan menyimpan dalam hatinya semua yang di lihat.
“Abang Okan mau peluk ibu? Ibu lagi sedih.” Hara merentangkan tangannya minta sebuah pelukan pada anak berwajah tampan tersebut, mata bermanik indah itu menatap kearah Leon, lalu berpindah neneknya, ia terdiam sejenak, seolah-olah mempertimbangkan permintaan ibunya, menghembuskan napas kecil dari bibirnya. Barulah ia mendekati Hara, lalu memeluk ibunya. “Apakah Oma tidak kembali lagi, Bu?” Tanya Okan menatap wajah Hara.
“Iya sayang, wanita baik itu tidak akan bangun lagi selamanya dia sudah kembali pada penciptanya, bertemu suaminya di surga.” Ujar Hara memeluk Okan dengan sentuhan lembut di pipinya.
“Ibu, minta saja sama Tuhan agar oma di bangunkan lagi.”
Hara tersenyum ketir.
“ Itu tidak bisa sayang, setiap orang akan mati, Tuhan yang menentukan hidup semua orang. Orang yang sudah mati tidak akan bisa hidup lagi kecuali Tuhan itu yang menghidupkan kembali.”
Okan hanya menggaruk kepalanya, tidak paham apa yang dikatakan Hara, melihat kebingungan di wajah Okan, Leon hanya mengacak-acak rambut Okan menatapnya dengan senyuman kecil.
“Bersiaplah kita akan kesana” Bu Atin mengingatkan.
“Sayang, nanti jangan menangis lagi iya, aku takut kamu sakit,” ujar Leon mengingatkan istri.
“Iya sayang, kamu tidak boleh sedih,” ujar Okan, mereka semua tersenyum. Setiap kali Leon memanggil Hara dengan panggilan sayang, Okan dengan polosnya, akan ikut memanggil ibu dengan sebutan sayang.
“Baiklah, akan aku usahakan,” ujar Hara.
*
__ADS_1
Rumah duka,
Dalam satu ruangan, sebuah kain berwarna putih telah membalut tubuh Bu Ina, telah terbujur kaku, seorang wanita yang sudah mulai menua, kerutan-kerutan penuaan sudah mulai menghiasi wajahnya.
Bu Ina dulu, pernah punya satu impian ingin punya rumah sederhana, beruntung Hara dan Leon mewujudkan impian itu. Kini, untuk berangkat ke peristirahatannya yang terakhir, Bu Ina di berangkatkan dari rumahnya setelah disholatkan. Beberapa tetangga membantu memandikan jenazah dan semua perlengkapan untuk pemakamannya. Ia akan dimakamkan sebelum matahari terbenam.
Tidak lama kemudian akhirnya Hara datang.
Melihat Hara datang, Piter dan Viky berdiri dan memeluknya, dari semua yang ada di sana Hara yang paling dekat dengannya, memperlakukan sebagai putrinya.
Hara memeluk Piter dengan tangisan pilu.
“Om, kenapa ibu pergi begitu saja, kenapa dia tidak bilang kalau dia sakit?” ujar Hara dalam pelukan Piter.
“Ibu pergi dengan caranya sendiri Hara, dia tidak ingin kita sedih.”
“Apa aku masih boleh memeluknya untuk terakhir kalinya Bu?” Tanya Hara pada ibu-ibu yang melantunkan ayat-ayat Alquran.
“Dia putrinya Bu,” ujar Piter.
“Silahkan Neng,” ujar seorang Ibu yang memakai kerudung berwarna hitam.
Hara mendekati tubuh kaku yang dibalut kain putih itu, air mata kembali mengalir deras bagai anak sungai.
Leon duduk di samping Hara mendampinginya, ia menggenggam telapak Hara, mengingatkannya untuk tidak terlalu sedih demi kesehatan Hara.
“Sayang , sudah iya. Biarkan ibu pergi dengan tenang, ikhlaskan dia,” ujar Leon mengusap punggung tangan Hara.
“Tapi aku belum melakukan apa-apa untuknya, dia sudah keburu pergi, aku menyesal,” ucap Hara ia mencium kening Bu Atin untuk terakhir kalinya.
“Melihatmu sembuh itu hal yang paling membahagiakan untuk Ibu,” ujar Leon menenangkan.
“Hatiku sakit sekali.”
“Sudah sayang, jangan menangis lagi Ibu sudah tenang,” Leon memeluknya
Tidak lama kemudian ternyata Toni datang bersama Kikan dan Putra mereka yang berusia dua tahun. Toni dan Kikan sudah punya anak .
Hara dan Toni pernah sama-sama di asuh Bu Ina saat mereka masih kecil, Toni tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya, hanya saja Bapak satu anak itu tidak mengeluarkan suara, ia hanya duduk diam menatap wanita berhati baik itu.
Walau Bu Ina berbeda keyakinan dengan mereka semua, tetapi, wanita itu selalu mengingatkan anak-anak itu beribadah sesuai keyakinan masing-masing.
__ADS_1
Setelah di sholat kan, akhirnya Bu Ina akan di antarkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir di samping suaminya. Masa kontraknya sudah habis di dunia ini, ia menghadap akan menghadap Sang penciptanya, mempertanggungjawabkan amal perbuatanya selama di dunia, ia akan bertemu dengan mereka yang sudah dipanggil terlebih dulu, ia akan bertemu dengan suaminya jika jalan mereka sama.
Bu Ina dan suaminya dimakamkan di pemakaman keluarganya di Bogor, karena di sanalah suaminya dan kedua orang tua dan kedua adek Hara di kubur, karena Hara sudah menganggap Bu Ina bagian keluarganya.
“Maafkan aku Ibu, maaf karena belum sempat membahagiakanmu selama hidupmu, terima kasih sudah mau menjadikan aku jadi anakmu, terimakasih atas kasih sayangmu selama ini,” ucap Piter berucap pelan.
Lelaki berbadan tegap itu tidak bisa menyembunyikan Air matanya, akhirnya ia menangis dan ada rasa penyesalan dalam hati, banyak hal yang belum ia lakukan, keinginan Bu Ina, salah satunya;
Ia ingin melihat Vikky berumah tangga, tetapi hal itu belum kesampaian. Walau umur lelaki itu yang sudah memasuki usia empat puluh lima tahun, belum juga menikah
Vikky juga terlihat sangat sedih, Hara, Viky, Piter yang mendapat kasih sayang seperti ibu sendiri, semua kasih sayang dari seorang ibu, mereka dapatkan dari Bu Ina . Akan tetapi, wanita itu sudah pergi selama-lamanya.
‘Maafkan aku ibu’ ucap Vikky dalam hati, ia melempar tanah ke liang lahat, sebagai tanda perpisahan.
Alunan ayat- ayat suci mengantar Bu Ina ke peristirahatannya dan para pekerja pengali kuburan, mulai menutup kain putih dengan tanah, Hara semakin terisak, Leon sampai harus memegang pundaknya menahan tubuhnya agar tidak tumbang.
“Selamat jalan,, sampaikan salamku untuk keluargaku, aku cinta kalian semua,” ujar Hara menabur bunga di gundukan tanah yang masih basa itu.
Wanita yang selama ini mengurusnya sudah pergi selamanya, tidak ada lagi yang datang menjenguknya setiap minggu, tidak ada lagi wanita yang selalu menelepon mengingatkannya untuk minum obat, mengingatkan menjaga kesehatan, tidak ada lagi yang datang membawanya bunga-bunga yang indah. Mengingat itu, air mata Hara semakin deras menyusuri pipinya.
Banyak yang ia sesali dalam hidupnya, tetapi penyesalan akan selalu datang terlambat
Rasa kehilangan itu akan terasa sangat menyakitkan, saat orang yang ia cintai itu sudah tiada.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)