Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Pingsan


__ADS_3

Leon sangat marah saat Jovita menuduh Bokoy sebagai pembunuh orang tuanya, ia berpikir kalau Jovita asal menuduh.


“Sekarang katakan apa rencana mu padaku, apa kamu ingin membalas ku? Teriak Leon dengan suara meninggi, badai hebat terjadi lagi di rumahnya. Hara berpikir bagaimana caranya agar orang-orang yang ia cintai ikut terlibat dalan bahaya.


“Kamu tidak apa-apa Hei, Jovita jawab aku,  kamu tidak apa-apa?” Leon menyentuh bahunya, ia berpikir kalau Jovita hanya menghindari pertanyaan.


Leon menarik tangannya untuk berdiri, membalikkan  badan Jovita pucat dan ber keringat dingin, matanya meredup.


“A-a-aku sakit, tanganku sakit,” Jovita menjatuhkan  badannya di dada Leon dan ia pingsan,


“ Hara! Apa yang terjadi?” Leon merangkul dengan sangat erat.


 “Apa yang terjadi?” ia, mengusap-usap pundaknya dengan penuh perhatian, Leon berpikir Jovita pingsan karena ia ingin menembaknya tadi.


Tapi saat menyentuh tangannya ada sesuatu yang basah mengenai kulit tangan , luka di bagian otot tangan.  Leon mengangkat tubuh Jovita ke ranjang lalu menidurkannya.


“Apa ini?” Leon membuka blues yang berlengan  panjang yang di pakai Jovita, saat  sudah terbuka matanya melotot kaget. Luka yang perban terlepas, luka sayatan pisau itu menganga tidak di jahit, bahkan sudah mulai bernanah


 “Busyet! Luka  apa ini? Kamu luka parah, tapi kamu menahannya gila kamu.” Ucap Leon panik.


Dengan sikap buru-buru, ia menyambar ponselnya dari atas nakas di samping tempat tidur.


“ Iwan panggilkan dokter Billy, gunakan Helikopter biar cepat,” pinta Leon dengan panik.


Ia mengigit kepalan tangannya dengan wajah sangat khawatir melihat  Jovita terluka hal yang menakutkan untuknya.


“Baik Bos.” Iwan dan Rikak berlari ke lantai atap, Iwan dan Rikko membawa Helikopter untuk menjemput  dokter Billy dokter muda yang biasanya  di pakai Leon.”


“Apa Bos menyakiti Non Hara?” Tanya Rikko ikut panik.


“Tidak mungkin gue tahu bos itu sangat sayang sama  Non Hara,” balas Iwan kata Iwan.


“Mungkin Non Hara yang ingin menyakiti dirinya,” Iwan  menurunkan Helikoter dan mendarat di depan rumah Billy.


Dokter muda berkulit putih itu sudah bersiap menunggu jemputan karena Rikko sudah terlebih mengabarinya sebelum  menjemput.


Membawa beberapa peralatan  kedokterannya, Billy berlari kearah helikopter, mereka berdua dengan sigap membantunya membawa alat-alat, milik dokter Billy. Leon punya dua dokter yang biasa menanganinya dokter Bram dan dokter Billy, hanya  dokter Bram sangat sibuk,  jadi Billy yang selalu dapat tugas menangani kebutuhan Leon.


Helikopter berwarna biru, terbang meninggalkan kediaman dokter.


“Apa Pak Naga yang sakit?” tanya Dokter Billy,  suaranya keras karena suara bising dari Helikopter.

__ADS_1


“Bukan, Non Hara.”


“Oh, ok”


                     *


Tidak  berapa lama suara Helikopter sudah terdengar di atap rumah,  Bi Atin terlihat membantu Jovita mengganti pakaian yang terkena noda  dari luka tangannya wanita itu masih pingsan.


 Tok … Tok ….!


“Masuk Dok”


Iwan membantu Dokter membawa alat-alat itu kedalam kamar Leon, Bi Atin keluar, Iwan juga keluar. tinggal Dokter dan Leon.


“Wah… lukanya parah begini, ini bukan luka baru,d ia terluka apa?”  Dokter menyengitkan mata menatap Leon.


“Jangan menatapku seperti itu. Aku juga tidak tahu Dok, dia pingsan tadi”


“Oh. Non Hara wanita yang kuat, ini harusnya di jahit biar lukanya cepat pulih dan cepat kering,  takutnya infeksi, kita harus  menjahitnya, ia hanya pingsan kita harus menyuntik lokal” Dokter Bram membuka tas.


Dokter Billy menyuntik penghilang rasa sakit di sekitar lukanya dan  membersihkan luka itu dengan kapas  dan alkohol, sepertinya  tenaga suntikan itu tidak dirasakan Jovita, saat di jahit, ia terbangun dan menjerit kesakitan


“Bisa  pegangin Pak Naga,” ujar dokter menatap tajam pada Leon karena Leon tiba-tiba menegang saat melihat Jovita berteriak kesakitan.


 “Aku menggunakan  dosisnya  yang sedikit, maka itu ia merasa kesakitan”


“Ok baik Dok”Leon dengan sikap ragu, ia mendekat dan memangku setengah badan Jovita,  Dokter berwajah tampan itu melanjutkan menjahit luka di tangan Jovita.


“AAA …  sakit! Jovita terduduk lagi, tapi Leon menahannya dari belakang merangkul tubuhnya kepala Leon ia tempelkan di leher, Jovita menjerit-jerit menahan rasa sakit dari tangannya. Pundaknya terlihat naik-naik turun, hingga akhirnya ia pingsan lagi.


“Tidak apa-apa, ini sudah selesai,”ujar  memotong memotong benang jahit.


“Apa dia tidak apa-apa, Dokter?”


“Harusnya tidak  apa-apa, tapi wanita muda ini melakukan apa?, tidak mungkin melakukan hal yang berbahaya, kan?” Bily menatap wajah Leon dengan sinis


“Iya kurang hati-hati”


“Bos harus  berperana menjaga, sepertinya, wanita ini melakukan kegiatan yang berbahaya, aku tidak tahu persisnya, luka di tangannya dilakukan dari jarak dekat seperti gerakan tiba-tiba, tapi bukan hanya ini lukanya,  di kaki juga ada luka panjang, walau tidak separah luka ditangannya, aku menduga luka -luka di kaki ini, karena ia melompat, kalau tidak, ia merangkak menekan tubuhnya kebawa, kamu bisa bayangkan bagaimana wanita lemas inj merangkak dari lorong sempit. Lihat kaki putih mulusnya, semua penuh luka, bagaimana ia menjalani hidupnya selama ini. Pak Leon bukanya kamu sudah berjanji padaku untuk menjaganya?”


“Dokter jangan membahas hal yang lain-lain dulu”

__ADS_1


“Pak Naga jika Bapak tidak bisa menjaganya saya sudah bilang saya akan menjaganya. Karena saya berhutang budi pada ayahnya"


“Dokter Bily jangan memperburuk keadaan. Dia ingin melakukan hal yang berbahaya semua di luar pengetahuan saya”


“Aku punya ide agar wanita ini selamat dan bisa kamu jaga”


“Apa?”


“Apa ingin dia  tetap hidup. Kamu tidak ingin dia terus mencari  siapa pelaku pembunuh keluarganya”


“Iya,” ujar Leon tetapi matanya menatap sedih luka lecet di sekujur lutut kaki Jovita dan di sikut tangannya. Luka karena merangkak dari  pipa pembuangan.


‘Aku tidak tahu kalau kamu mengalami hari yang begitu menyakitkan seperti ini,” ucap leon menatap luka di tubuhnya.


“Kalau kamu ingin wanita dibawah kendali mu lakukan  hal yang penting”


“Apa?”


“Nikahin dia,” ujar dokter Billy


“Apa harus menikahinya, apa tidak ada jalan lain?” Wajah Leon panik, pernikahan hal paling ia benci dan dia juga sudah  menolak Jovita untuk menikah mana mungkin ia menjilat ludahnya sendiri.


“Itu salah satu Jitu untuk mengendalikan seorang wanita agar tetap di sisimu. Jadi Pak Naga berhak atas  segala hidupnya dan berhak melarangnya . Jika kamu tidak menikahinya saat kamu mengatur hidupnya . Dia akan berpikir kamu terlalu otoriter dan menyepelekan segala aturan yang kamu buat karena dia berpikir kamu tidak berhak mengatur hidupnya”


“Dokter Billy menikah  bukanlah  satu kewajiban yang penting. Menikah bukanlah satu-satunya cara untuk melindungi wanita. Pemikiran anda terlalu dangkal,” ujar leon kesal.


Merasa  pendapatnya kurang di hargai, Billy merasa jauh lebih kesal,  setelah menjahit luka Hara ia membereskan peralatannya  dalam diam lalu ia meninggalkan kamar Leon.


Bersambung ….


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2