
Mengetahui sedikit petunjuk tentang yang terjadi membuat Hara semakin penasaran. Ia akhirnya menemui Bimo ingin menanyakan kejadian yang sebenarnya.
Karena tidak mungkin baginya menanyakan langsung pada Leon, Karena setiap Hara datang menemui Leon, lelaki itu tidak mau bicara padanya selalu bilang ingin tidur.
Hari kedua saat Hara menemui Leon lagi.
“Sayang, masalah apapun akan semakin ringan jika kita membaginya,” ucap Hara di hari kedua, ia berharap Leon mau membuka diri dan menceritakan padanya, ia tidak akan marah walau Leon sudah meniduri wanita lain. Ia hanya ingin Leon jujur dan terbuka, keterbukaan dalam satu hubungan akan terhindar dari masalah besar, Hara juga berpikir sebagai istrinya , berhak tahu tentang semua yang terjadi.
“Sayang ... berikan aku waktu, jujur, semua kejadian ini sulit bagiku ,” ujar Leon.
“Aku bisa mati pemasaran,” balas Hara.
“Suatu saat nanti aku akan ceritakan, kamu pulanglah, kasihan anak-anak, pasti mencari kamu.”
“Kenapa menjadikan anak-anak jadi alasan mengusirku? Aku hanya ingin merawat mu, apa salah?” Hara mulai kesal, ia baru datang tetapi sudah menerima pengusiran.
Melihat Hara marah, Leon menarik napas panjang ia tidak mau Hara marah. …
“Sayang … maaf ini sangat berat untukku, bahkan aku kehilangan keberanian menatapmu, tetapi ketahuilah semua itu bukan karena kemauanku.”
“Kemauan apa?” Kedua alis Hara menyengit tanda bingung.
“Maafkan, aku janji suatu hari nanti, aku akan menceritakan semuanya padamu, biarkan aku fokus untuk mengurus urusan hukum dulu.”
“Baiklah, istirahatlah.”
Hara keluar dari ruangan Leon, ia menemui meja Bimo.
.
“Eh Non Hara, ada apa Non?” lalu Bimo memberi kode pada anak buahnya agar meninggalkan mereka, karena Hara ingin mereka berdua yang bicara.
“Bimo, ada apa sebenarnya? tolong ceritakan padaku.”
Bimo terlihat gelagapan dan gelisah saat mendengar permintaan istri dari bosnya.
“A-a- kenapa tidak bertanya pada bos langsung Non?”
__ADS_1
“Dia tidak mau Bim, aku juga berhak tahu, apa yang terjadi sebenarnya’ kan?”
“Maaf Non, bos saja tidak memberitahukan Non, lalu siapa aku yang harus memberitahukan?” Bimo orang yang patuh pada bosnya, ia tidak mau membocorkan sedikitpun pada Hara tentang apa yang terjadi. Bahkan ia menolak memberikan rekaman yang ia pegang.
‘Baiklah aku akan mencari sendiri, aku bukan wanita yang lemah seperti yang kamu bayangkan Bimo, kamu tidak tahu, aku juga sudah pernah melakukan hal gila saat menjadi tawanan Leon dulu, bahkan aku ikut terlibat menghabisi nyawa orang yang menembak keluargaku’ Hara membatin.
“Baiklah, jangan katakan pada Leon kalau aku bertanya tentang rekaman itu.”
“Baik Non.”
Hara meninggalkan Bimo, lelaki itu hanya menunduk dengan rasa bersalah karena tidak bisa memberitahukan pada Hara tentang apa yang terjadi, karena Leon sendiri yang sudah memerintahkan tidak boleh membocorkan apapun.
Maka Hara memulai dari kantor polisi, tindakan nya sangat nekat, ia meninggalkan hotel, bahkan ia tidak memakai supir.
Ini pertama kali baginya melakukan hal itu, karena setelah menikah dengan Leon, ia selalu dijaga.
Hara menyamarkan penampilannya memakai rambut palsu dan memakai kaca mata hitam , lalu ia menaiki taxi yang ia berhentikan di depan mall, ia berusaha menghindari titik cctv.
Ia menuju kantor polisi, setelah beberapa lama berkendara akhirnya tiba di kantor polisi, Hara beruntung lelaki yang bernama Iptu Danar itu melayaninya dengan baik.
“Apa kamu wartawan?”
“Maaf Bu kami tidak boleh sembarangan kasih informasi, semua masih tahap penyelidikan Bu,” ujarnya lagi.
“Tapi saya istrinya Pak, bukan orang lain, Pengacara suami saya yang memintaku datang ke sini karena semua keluarga khawatir dengan kejadian ini, Ibu mertua saya sudah tua, apa bapak mau dia mati karena Penasaran? "
Polisi itu terlihat sangat hati-hati, setelah memeriksa data Hara dan bicara pada atasan akhirnya Hara di perbolehkan.
“Oh, Baiklah,” ucap polisi saat Hara menunjukkan bukti kalau ia istri Leon.
Hara terpaksa berbohong agar polisi itu mau membantunya.
“Saya kehilangan kontak dengan suami saya sejak kejadian itu , saya tidak tahu asistennya membawa suami saya kemana?”
“Apa yang bisa saya bantu?” ucap Lelaki berseragam polisi itu dan membawa Hara ke dalam ruangannya.
“Tolong katakan kejadian yang sebenarnya Pak, karena saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, banyak berita yang membuat saya dan ibu mertua khawatir dan banyak wartawan yang menunggu di depan rumah kami.”
__ADS_1
“Baiklah, menurut pengakuan pelaku. Korban di beri obat perangsang yang sudah di campur narkoba, dalam dosis tinggi, dan jika ia tidak menuntaskan keinginan hasrat tubuhnya saat itu, ia akan mati perlahan, Pelaku mengancamnya dengan itu dan meminta korban melakukannya dengan wanita yang bernama Lily, dan melakukan juga pada orang yang bernama Bianca, lalu ingin di rekam."
"Lalu?"
“Korban menolak dan lebih memilih menahan sakit.” potong polisi berusaha menenangkan Hara.
“Apa wanita yang bernama Lily itu tidak tidur dengan suami saya?”
“Tidak, menurut pengakuan pelaku, sekretarisnya membawanya ke kamar saat korban sudah sekarat, lalu mengunci dari kamar, saat itulah Kaila sekretarisnya meminta bantuan.”
“Apa hanya itu?
“Iya, menurut pengakuan para pelaku antara bos dan sekretarisnya tidak terjadi apa-apa, karena saat mereka mendobrak pintu, korban masih meringkuk akibat pengaruh obat dengan pakaian masih utuh , mereka hanya meminta bantuan di dalam kamar itu,"
‘ Kaila?’ Hara membatin.
Wajah Hara terdiam sejenak saat mendengar Kaila membawa Leon ke kamar.
“Baiklah terimakasih Pak,” ucap Hara, ia yakin dan sangat yakin kalau Leon melampiaskannya pada Kaila . Untuk membuktikan Hara mencari bukti untuk mengungkap kebenaran seperti yang ia pikirkan.
Membayangkan Leon mengalami hal seburuk itu, Hara merasakan lututnya bergetar hebat.
‘Dasar wanita jahat, tega sekali kamu melakukan itu pada Leon , pantas ia merasa terluka, ia merasa kehilangan harga diri di depanku' ucap Hara dalam.
Ia memutuskan ingin kembali diam –diam ke hotel, ia berniat mencuri rekaman itu dari Bimo, karena yakin ada bukti dalam rekaman, makannya Leon sampai menyembunyikan dari polisi.
Dalam taxi pulang, tatapan mata Hara terlihat menatap kosong sampai-sampai ia lupa memberitahukan alamat tujuannya.
“Non kita turun di mana? Saya sudah bertanya tiga kali tapi Nona tidak mendengar,” ucap bapak supir taxi berseragam biru dan lambang burung tersebut , lelaki paruh baya itu menatap kearah kaca dengan tatapan lelah.
Ia sampai meminggirkan kendaraanya, karena Hara sejak naik taxi melamun sepanjang jalan.
“Oh, maafkan saya pak, kita ke Ichiro Hotel pak.”
“Baik Non.”
Ia kembali berkelana dalam pikirannya, ia membayangkan Leon memaksa Kaila berhubungan agar nyawanya selamat.
__ADS_1
‘Bagaimana cara Leon mengajak Kaila, apa ia memaksanya atau Kaila yang suka rela memberikannya?
Bersambung ….