
Leon tidak bisa menolak, walau ia merasa sangat kesal, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak karena sejatinya ia kehilangan kunci borgol pembawa bencana itu.
‘Bagus’ Jovita membatin bibirnya tersenyum licik.
Berjalan di depan seperti menyeret tangan Leon,
Anak buah Leon yang melihat mereka tampak menahan tawa, melihat model pakaian Hara yang di gunting dibagiin tangan agar bisa dipakai, mereka tersenyum kecil melihat kelakuan Jovita yang menyeret tangan Bos mereka, tetapi raut wajah Leon terlihat kesal dan datar.
“Aku masak apa iya, coba kita lihat dulu,” ucap Jovita setelah mengikatkan tali slemek di pinggangnya, Leon diam dan hanya mengikuti kemana Jovita menyeret tangannya , tangan satunya sengaja ia gunakan untuk memegang buku dan membaca buku pura-pura serius.
Salsa dan Sabrina ikut berdiri di kabinet dapur, melihat kelakuan Jovita.
“Apa yang terjadi Bi, kenapa tangan mereka berdua diborgol seperti itu. Lalu kenapa model baju mereka seperti itu?"
Tanya Salsa wajahnya terlihat tidak suka, apa lagi wanita yang bersama bosnya seorang wanita yang baru kemarin sore baru datang ke tempatnya.
“Bibi tidak tau pastinya Non, tapi katanya tuan Naga memborgol tangan Jovita dan tangannya, ternyata dia kehilangan kunci borgolnya.”
“Memang tidak bisa dipotong apa? kenapa Bos mau saja di seret-seret begitu. Panggilkan tulang las saja,” ujar Sabrina, tangannya memangil anak buahnya Leon.
“Tidak usah Non, anak-anak lagi mencari kuncinya,” ujar Bu Atin, ia lebih suka melihat Leon seperti itu.
Jovita berdiri, ia berpikir , tiba-tiba rencana mau memasak Mie instan ingin berganti menu.
“Aku tidak ingin memasak mie instan, aku ingin ganti menu,” ucap Jovita menatap Leon ia mengangkat kedua alisnya di kedip-kedipkan pada Leon. Ia tidak ada rasa takut lagi pada Lelaki bertampang dingin itu.
“Jangan macam-macam!" ucap Leon tegas, matanya masih menatap buku ia tidak terusik, raut wajahnya masih terlihat dingin, tetapi sekali-kali ia melirik dengan ujung matanya melihat apa yang dikerjakan Jovita.
“Aku ingin masak yang spesial kamu mau makan apa, aku mau masakin, aku pintar masak,” ucap Jovita menatap wajah Leon,
“Aku tidak mau …. Buruan atau aku menyeret mu keluar dari sini”
“Baiklah, aku masak capcay saja deh menu sehat bahannya komplit nih"
“Aku tidak mau lama-lama berdiri di dapur ini, Jovita Hara…! Jadi cepatlah!” ucap Leon menekan kalimatnya.
“Tidak lama kok Pak Leon Wardana …!” Balas Jovita, mata Leon menyipit saat Jovita menyebut namanya dengan lengkap.
Ia mengeluarkan Sosis, bakso, jamur ,pilet ayam dan sayur-sayuran saat ia mengeluarkan bahan-bahanya, yang tadi mata Leon terfokus ke buku yang ia pegang, ia penasaran juga dengan bahan-bahan yang di keluarkan Jovita dari kulkas.
“Baiklah, aku akan mengerjakan dengan cepat Pak Leon, jadi bersabarlah sebentar,” ujar Jovita, tangannya dengan cekatan, memotong-memotong bahan-bahan. Kali ini, Leon ternyata terusik juga matanya tidak lagi melihat buku di tangannya.
Tetapi ia menonton Jovita yang cekatan memotong –motong bahan-bahan, mungkin ini pertama kalinya ia melihat orang memasak.
Ia terlihat kebingungan melihat jenis-jenis sayuran, termasuk jamur yang di potong Jovita, ia memincingkan alisnya melihat sayuran berwarna hitam itu.
__ADS_1
“Dari pada kamu menonton aku .... Bagaimana, kalau kamu bantuin, potong-potong sayurnya,” ujar Jovita melirik Leon.
“Ogah!” Leon menatap buku itu kembali.
“Baiklah kalau kamu tidak mau, ini hal mudah bagiku, gini-gini aku jago masak dan aku juga pernah ikut pelatihan untuk masak memasak dan mengikut perlombaan, dan aku memenangkannya,” ucap Jovita bercerita panjang lebar pada Leon, ia ceria dan bersemangat saat bercerita.
Walau Leon tidak menanggapinya, tetapi setidaknya ia mendengarkan.
“Aku tadinya ingin menjadi seorang istri yang baik buat … ah sudahlah si brengsek itu, dia sudah milik orang lain, mungkin aku saja jadi istrimu bagaimana?”
Ucap Jovita bercanda, mata Leon melotot tajam menatap Jovita, ia terlihat marah.
"Jangan mimpi," ujar Leon acuh.
Sikap asli Jovita Hara terlihat saat itu, wanita yang ceria dan energik. Ia bersinar bagai bintang di kegelapan.
“Baiklah, baiklah aku hanya bercanda, aku tau kamu tidak suka wanita jelek, kamu wanita yang dipermak. Tapi bagaimana kalau…-“
Belum juga ia menyelesaikan kalimatnya , ia lagi memotong sosis di tangannya tidak pakai tatakan Leon marah.
“Kamu bisa diam gak? lama-lama kamu makin lancang mengomentari kehidupanku. Jangan mengurus si kehidupan pribadiku!” Tidak sengaja sikut Leon mengenai pisau yang di tangan Jovita, saat itu juga tangannya di iris pisau, jadilah bahan-bahannya yang di potong berwarna merah.
“Auuuh!” Hara meringis memegang jari-jarinya.
“Ahh, kamu manusia sialan,” Jovita yang terluka tapi ia juga yang marah-marah.
“Aku bilang, jangan bawel, kamu tau gak mulutmu itu terlalu bawel, aku tidak menyukainya ....!" Bentak Leon dengan suara meninggi.
“Sudah kita obatin lukanya dulu,” Bi Atin membalut luka Hara.
“Tidak apa-apa Bi, ini hanya luka kecil, berikan saya plester nya saja, ini sayang sudah saya potong-potong bahan-bahanya,” Kata Jovita.
“Saya tidak mau berdiri dan melihat kamu di sini.” Leon menolak
“Lelaki sejati orang yang menepati janji,” ucap Jovita membalas menatap tajam pada Leon.
“Aku tidak mau mendengar ocehan mu”
“Baiklah, aku akan diam," balas Jovita.
“Saya bantuin iya Non,” Bi Atin, mencuci sayuran yang bernoda merah
“Sudah Bi, selanjutnya, biar aku saja, aku bisa sendiri. Bibi duduk saja,” kata Jovita.
Akhirnya ia menempati janjinya, suasana dapur tiba-tiba jadi hening, ia diam wajahnya juga terlihat sedih.
__ADS_1
“Selamat ulang tahun buat kita Bu, ini hari ulang kita berdua, biasa kita masak capcay setiap kali merayakan ulang tahun,” ujar Jovita menghembuskan napas panjang. Wajahnya penuhi awan gelap bahkan bendungan di matanya hampir tumpah.
Tetapi ia menahannya, ia mengejap-ngejapkan matanya agar bendungan itu tidak jadi tumpah dan akan sangat memalukan jika Leon melihatnya
Leon kini hanya berdiam, ia menyesali dirinya, karena ulahnya tidak hati-hati , jadinya sikutnya menyenggol tangan Jovita.
Ia menatap ke arah kakinya, bahkan sepatunya ternyata terkena noda dari luka tangan Jovita.
Melihat Jovita diam, Leon merasa serba salah, di satu sisi ia tidak suka melihat wanita itu bersedih, di satu sisi ia tidak ingin mendengar Jovita menyingung soal kehidupan pribadinya.
‘Hadeh …. ada apa denganku’ ujar Leon dalam benaknya saat suasana jadi hening ia juga tidak suka.
“Masih lama gak?” Tanya Leon memulai memecah keheningan
Jovita diam tidak menjawabnya, ia lebih baik menyelesaikan masakannya, dengan begitu ini bisa mengobati rasa rindunya pada kedua orang tuanya.
“Kamu tuli? Aku bertanya," ujar Leon tapi Jovita masih diam, ia sibuk mengonseng-onseng sayuran dalam penggorengan sebelu disiram dengan air, kini hanya menunggu mendidih. Ia mencicipinya dan rasanya sudah pas, ia baru berhenti.
Setelah sudah matang dan rasanya sudah pas ia menuangkan ke wadah.
Membawanya ke Meja makan, ia duduk, Leon juga duduk, tangan berdua di letakkan di atas meja.
“Bi, saya juga makan, saya sudah kelaparan,” ujar Leon wajahnya terlihat datar.
“Iya Pak, tapi .... Non Salsa dan Sabrina mau ikut gabung makan, boleh, Pak?”
Mata Leon menatap Jovita, tetapi Jovita kali ini menatap dengan serius sebuah surat kabar yang ada di atas meja.
“Iya boleh Bi suruh saja, saya juga butuh teman makan,” ujar Leon melirik Jovita dari ekor matanya.
Tetapi wanita cantik itu tidak menghiraukannya, Jovita menatap serius pada lembar Koran yang di baca, ada hal yang menyangkut kedua orang tuanya di dalam berita.
‘Apa yang dibaca sih sampai-sampai tidak menghiraukan orang bicara’ Leon membatin.
Bersambung.
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)