Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Sebuah pengakuan saat dia mabuk


__ADS_3

Setelah marah pada Jovita  ia keluar dari  kamar dan meninggalkan kamar.


“Apa salahku, dia seperti orang yang lagi pms sih, marah-marah tanpa sebab,” ujar Jovita.



Ia tidak tahu kalau Leon menunggunya  makan  malam,  Leon sendiri tidak mengabari Jovita telebih dulu,  bagaimana Jovita tahu?


Leon  selalu berpikir apa yang ia pikirkan  maka itulah yang akan terjadi. Mungkin jika ia mengabari terlebih dulu, Jovita mungkin akan memikirkannya, tetapi  yang ia lakukan ia mempersiapkan segalanya dengan begitu  baik, tetapi, tidak  tidak memberi kabar pada Jovita, akhirnya ia kecewa sendiri.


Leon tidak tahu, kalau wanita itu mahluk yang unik dan ingin selalu di mengerti, dibujuk dirayu pasti akan luluh bukan malah ditekan. Apa lagi  diremehkan.


 Sementara  Leon  meluapkan kekesalannya pada minuman,  ia pergi   salah satu bar miliknya.  Bar, clup malam, dan diskotik Ini ladang bisnis terbesar buat Leon , ia memiliki puluhan clup malam mewah dan Bar yang tersebar di beberapa kota,  ini yang membuat pundi keuangan Leon tidak habis-habis tujuh turunan.  Jika pemasok minuman keras di tanah air kesulitan memasukkan  minuman ber-alkohol   dari negara lain ke Indonesia, apa lagi sejak pemerintah menaikkan bea masuk.


Maka hal itu,  tidak untuk Mafia yang satu ini, ia bisa memasukkan minuman  bermerek tanpa ada masalah, Leon di kenal kebal hukum.


Bisnis inilah yang membuatnya menjadi mafia  yang tidak tersentuh, di  bar Leon akan di temukan minuman yang tidak di miliki bar- bar lain.  Maka tidak heran yang datang ke Bar milik Leon para pejabat dan artis dan tentunya tidak sembarangan masuk, agar bisa menikmati segala kemewahan di bar itu, harus memiliki kartu keanggotaan  terlebih dulu dan kartu itu sebagai indentitas yang dibawa,  setiap kali ingin masuk .



Leon memasuki ruangan VIP  bar miliknya di Kalimantan.


“Bos,  selamat datang” sapa Zidan anak buah Leon yang memegang kendali di bar tersebut.


“Buatkan saya  seperti biasa”


“Baik Bos”


Zidan sudah tahu  minuman kesukaan Leon, meminta bartender  mengambil pesanan sang bos. Sebuah botol kaca ber-ukiran indah Pasion Azteca Platinum, sala h satu minuman termahal,  jangan tanya harganya,  pasti selangit.


Tidak lupa Zidan  membawakan seorang wanita cantik untuk menemani sang bos di dalam kamar.


Di sisi lain .


Jovita kembali ke kamarnya dan mandi,  rasa capek membuat  sangat mengantuk.


Ia datang lagi ke kamar Leon, tetapi karena lelaki bertampang tegas itu lagi bersenang-senang di bar, jadi,  Jovita kembali ke kamarnya dan tertidur.


Leon  pulang dari bar sudah pagi ia juga sangat mabuk.


Layaknya orang mabuk, ia tidak ingat kalau ia lagi marah pada Jovita.


“Kamu kemana Jovita …  kenapa tidak datang ke kamarku,” ujar Leon dengan suara teler khas orang mabuk.


Ia menelepon Toni.


“Bangunkan Jovita dari kamarnya untuk menemaniku tidur!”


Toni menyengitkan alisnya, ia melirik jam di dinding  sudah jam tiga pagi.


“Baik Bos”


Leon mematikan sambungan teleponnya. Lelaki berwajah tampan itu  menarik napas berat, ia tidak tega kalau harus membangunkan Jovita.



“Kenapa harus Hara sih,  kan, ada Sabrina,” ujar Toni menggaruk kepala dengan kasar.


Ia memutuskan mengetuk pintu kamar Jovita , ia sungguh merasa tidak enak menggangunya tidur. Tetapi,  ia tidak mau  Leon  mengamuk dan melampiaskan kemarahannya pada mereka semua jika ia menolak.

__ADS_1


Tok … Tok …


Beberapa kali ketukan wanita cantik itu membuka pintu dengan mata setengah tertutup.


“Ada apa, Kak?”


“Hara, maaf, maaf bangat kalau aku membangunkan mu”


“Iya ada apa?”


“Bos mencari mu ke kamarnya memintamu tidur di kamarnya”


Jovita melirik ke dinding  ke arah jam yang mengantung di kamarnyam sudah jam tiga pagi lewat sepuluh menit.


“Sepagi ini?” Tanya Jovita dengan mata berat.


“Iya, tolong  …  kalau kamu tidak ke sana kita semua nanti yang kena imbasnya,” ucap Toni memelas.


“Baiklah Kak,” Jovita memakai switer menutup pakainya yang berlengan pendek. Karena sejak ia tidur dengan  Leon, ia selalu memakai pakaian tertutup, ia tidak mau Leon tergoda pada tubuhnya.


“Kamu masuk saja iya,  aku mau  lanjut tidur lagi, ngantuk bangat.” Toni  meninggalkan Jovita,


 Tok … Tok …!


“Masuk,” sahut Leon dari dalam kamar.


“Saya datang Pak”


“Kamu dari mana , kenapa meninggalkan ku. Kemari lah tidur,” pintanya



“Apa Bapak mabuk, bau tubuh bapak  membuat  saya  ingin muntah.” Ia menolaknya.


“Apa kamu menolak saya  lagi?”


“Saya tidak menolak Pak Leon, tetapi setidaknya hargai saya sebagai manusia,” ujar Jovita terbawa emosi.


“Apa maksudnya?”


“Setidaknya bapak mandi dulu sebelum mengajakku  tidur bersama bapak, tubuh bapak  bau  farfum wanita.  Itu membuatku jijik”


“Apa jijik …?”


“Pak leon   saya juga  manusia bukan robot”



“Jovita,  saya hanya memintamu tidur satu bantal,  saya tidak memintamu untuk  memuaskan ku, apa hanya itu … Apa kamu tidak bisa melakukannya?”


“Pak Leon saya mau, melakukan tugasku dengan baik membantu bapak untuk tidur, tetapi bukan dengan keadaan seperti itu, tubuh bapak lengket dari tubuh wanita lain lalu bapak memelukku, itu membuat merasa merinding dan jijik,” ucap  Jovita menatap Leon dengan tatapan jijik dan bergelidig.



“Hentikan tatapan jijik itu jovita … itu menyakiti perasaan saya …” Leon sangat marah.


“Pak Leon, saya harap bapak punya sedikit hati yang mengerti perasaan seorang wanita”


“Saya tidak melakukan apa-apa Jovita, saya  juga tidak ingin ketergantungan  padamu. Saya juga   tidak ingin mengemis satu pelukan darimu,  untuk membuat saya tidur. Saya juga membenci kalau harus bergantung padamu"

__ADS_1


“Saya tidak membahas masalah ketergantungan Pak Leon yang saya mau Bapak mandi dulu jika bersama wanita lain, baru datang ke saya, kenapa bapak tidak mandi dulu,  sebelum mengajak saya tidur bersama”


“Apa saya  hanya ingin tidur harus mendengar aturan mu?”


“Ini bukan aturan Pak Leon, tetapi ini sebuah sikap atau sebuah perasaan.  Kamu ngamar dengan wanita lain   keringat kalian berdua saling menyatu dan …-”



“Hentikan, Hentikan kamu tidak pantas mengajariku tentang bagaimana bersikap dan berprilaku. Harusnya malam itu saat orang tuamu dihabisi, saya juga membiarkanmu lenyap!” Wajah Leon sangat marah.


Jovita langsung terdiam sejenak.


“Bapak tidak pantas menyingung kedua orang tua saya seperti itu, saat kamu melenyapkannya dan menculik putrinya  merusak depannya dan menyekapnya, seolah-olah itu tidak cukup sampai di situ …. Kamu menjadikannya boneka tidurmu. Apa hidupku lelucuan untukmu!”


“Asal kamu tahu anak kecil …! Bukan saya yang melenyapkan keluargamu. Ketahuilah!  Saya menahan mu  di sini bukan hanya sekedar untuk menjadikanmu boneka tidur, tapi saya juga ingin melindungi mu. Satu hal lagi, walau ayahmu menghancurkan keluarga saya, tetapi saya ikut prihatin  dengan apa yang kamu alami. Tadinya saya  berpikir kalau saya melakukan itu padamu hati ini akan senang dan dendam di hati ini.  akan terbalaskan. Tetapi  saat saya melakukanya padamu rasa sakitnya di hati sama,  seperti saat orang-orang  suruhan ayahmu melakukan pada kakak perempuanku. Apa kamu pikir ini adil  untukku!”


“Itu bukan ayah saya Pak Leon,  bapak boleh pegang kata-kata saya dan akan saya buktikan suatu saat nanti  kalau itu bukan kerjaan ayahku”


“Pergilah Jovita dari kamar ini … Jangan pernah datang lagi , Jangan pernah muncul lagi di hadapanku … Walau saya nanti karena tidak bisa tidur, saya tidak akan meminta anda datang ke sini lagi”


Jovita keluar dari kamar leon  saat di kamar ia menangis lagi. Bukan hanya ia yang menangis sedih.


Leon juga  duduk membantu,  ia mengusap dengan kasar ujung matanya.


“Leon membuat pengakuan saat ia mabuk, selama ini ia menyembunyikan  kebenaran kalau  yang menghabisi orang tua Jovita bukanlah  orang-orang suruhannya. Ia membiarkan jovita menganggap dirinya sebagai pelaku agar Jovita tidak mencari pelakunya lagi.



“Ibu, ayah.  Siapa yang melakukan ini pada kalian. Kalau bukan dia yang melakukannya. Lalu penjahat yang mana yang melakukan itu pada kalian?” ujar Jovita.


Kini hati Jovita  mulai bingung lagi , apa yang dikhawatirkan  Leon padanya  akhirnya terbukti, ia berniat mencari tahu siapa yang melenyapkan  keluarganya, ia tidak bisa tidur lagi.


“Aku akan  mencari tahu siapa yang melakukanya, jika aku masih bekerja aku punya kesempatan mencari tahu siapa pelaku yang menghabisi keluargaku,” ujar jovita,  ia tidak tidur lagi, ia memeriksa gambar desain proyek yang ia kerjakan dengan ia bekerja ia  berpikir punya kesempatan keluar mencari tahu.


Di sisi lain Leon mengusap   wajahnya dengan kasar.


“Saya janji tidak akan membutuhkanmu lagi anak kecil.   Walau saya mati sekalipun,” ujar Leon, ia membuka laci  di samping  ranjang, mengambil obat penenang beberapa butir dan menenggaknya, obat itulah yang akan membuatnya tidur.


Apakah  Leon bisa  melepaskan Jovita, seperti janjinya ? Lalu bagaimana dengan jovita.  Apakah dia akan  kabur lagi dari Leon,  untuk mencari tahu siapa pelaku yang menghabisi semua anggota keluarganya? Ikuti tiap hari iya.


BERSAMBUNG …


MAAF KAKAK  HANYA MAMPU UPDATE DUA BAB DULU UNTUK SAAT INI NANTI KALAU KESIBUKAN DI DUNIA NYATA SUDAH BERKURANG KITA AKAN USAHAKAN UP 3 BAB.


Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2