
Pukul 07:00
Jovita membuka matanya, saat pantulan mentari menyapanya, sinar pagi menyilaukan kelopak matanya yang tertutup. Ia melihat seberkas cahaya yang mengintip malu-malu dari gorden berwarna coklat dari kamar itu.
Matanya terbuka sempurna, melihat langit-langit kamarnya mencoba mencari tahu keberadaan tubuhnya saat ini.
“Aku di mana?” Tanya Jovita melirik ke sebelahnya.
Saat menoleh ke sebelahnya, mahluk berwajah tegas menatapnya dengan tatapan datar, duduk santai dengan tangan melipat di dada.
‘Oh aku ada di mana? Kenapa ada manusia si kulkas dua pintu ini di sini?” tanya Jovita dalam hati.
Ingatannya belum pulih, ia belum bisa mengingat apa yang terjadi.
Ia mencoba duduk tetapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing.
“Ah …. kepalaku sangat sakit.” Leon tidak membantunya bangun atau menolongnya untuk duduk, ia hanya berkata;
“Tidurlah lagi, tubuhmu masih lemah”
“Apa yang terjadi?”
Leon tidak menjawab, ia hanya duduk diam kali ini matanya sibuk membaca berita dalam koran.
‘Oh jovita selamat bertemu kembali dengan manusia kutup utara …. Oh Kak Damian ….!’ Ia memaksa duduk menyingkapkan selimut dari tubuhnya.
“Mau kemana ?” tanya Leon menatapnya dengan tatapan dingin.
“Kak Damian bagaimana?” Tanya Jovita ia berdiri.
“Kamu diam jangan pernah membuat masalah lagi.” Leon menunjuk Jovita, Leon memakai kaos singlet berlengan pendek memperlihatkan luka tembak di lengan Leon. Potongan-potongan ingatan Jovita perlahan pulih, kejadian malam itu, kini ia ingat lagi.
“Oh, Kak Damian? Toni? Bagaimana ….?” Tanya Jovita.
Saat Jovita Hara mengingat Damian dan Toni. Namun melupakan dirinya, di sinilah ada hati yang terasa mendidih lagi. Leon menatap dengan tajam.
Ia keluar dari kamar dan menutup pintu dengan kuat.
Paaang!
“Suruh dia beres-beres!” Ujar Leon dengan ketus.
Ia meminta Rikko untuk meminta ia bersiap.
Tidak lama kemudian, Rikko masuk ke kamar.
“Bagaimana keadaanmu Non Hara?”
“Bagaimana dengan kak Damian?” Jovita balik bertanya, buliran kristal kembali berjatuhan dari pipi cantiknya.
“Jangan khawatir Hara, dia sudah di bawa ke kampung halamannya, bos yang mengurus pemulangan jenazahnya”
“Bagaimana dengan Toni?”
__ADS_1
“Dia sudah kembali ke Jakarta tadi malam, dia dirawat di sana”
“Oh …. Ya ampun kenapa jadi seperti ini?”
“Hara kita akan kembali ke Jakarta, sekarang. Kita tidak boleh lama-lama di sini”
“Kenapa?”
“Akan ada bahaya besar yang akan terjadi”
“Apa lagi Kak?”
“Villa yang dibakar Bos tadi malam, itu milik Bos gerbong narkoba yang di kenal paling sadis. Itu artinya kita sedang mengusik sarang lebah dan kita akan siap tersengat bisanya”
“Maksudnya mereka akan mengincar kita”
“Iya, Aku yakin, mereka akan mengincar kita, maka itu akan kembali ke Jakarta”
Jovita terdiam, Jovita mengingat sesuatu.
“Ada apa?”
“Aku melihat salah seorang pembunuh keluargaku lagi, aku melihat tanda di lehernya,” ujar Jovita.
“Non Hara. Dengar dalam situasi. Tolong jangan menyinggung apapun … Bos dalam situasi buruk. Jika ia mengamuk yang kena kami, jadi tolong sekali ini saja,” ucap Rikko, wajahnya terlihat sangat lelah.
Jovita hanya mengangguk tanda paham.
*
Di sisi lain.
Seorang lelaki paru baya mengamuk mendengar villa miliknya terbakar.
“Semua karena gadis muda itu bos, sebenarnya Naga tidak ingin mengusik kita. Namun, dia meminta orang-orangnya membawa ke sana,” ujar lelaki berambut pirang melirik lelaki bertato kepala harimau.
Lelaki tua itu bangkit dari kursi kebesarannya, menatap tajam pada sang anak buah.
“Jadi kamu belum menyingkirkannya?”
“Naga, melindunginya Bos”
Paaak
Satu tamparan keras mendarat di pipi sang pemilik tato kepala harimau itu, ia orang yang diperintah untuk menghabisi Jovita.
“Kamu menghancurkan bisnis saya. Menyingkirkan itu saja kamu tidak becus ....! Kamu tidak akan pernah bisa seperti Naga. Kamu tidak punya kemampuan. Singkirkan wanita itu atau kepalamu yang jadi gantinya!” ucap sang pria dengan nada tinggi.
“Baik Bos”
“Serahkan pekerjaan ini ke saya aja Bos, maka saya akan membawa kepala gadis muda itu ke hadapan Bos”
Dalam bisnis selalu ada namanya menjatuhkan dan dijatuhkan.
“Baik, butik kan pada saya. Jika kamu bisa memberikan kepala gadis muda itu pada saya. Kamu akan saya berikan memegang blok Timur”
Bolok timur atau kampung narkoba, sebuah hunian, di sudut Ibu kota Jakarta yang tak bisa tersentuh polisi karena dihuni para preman dan gerbong narkoba.
“Baik Bos.” Lelaki berambut gondrong bersemangat.
__ADS_1
“Tapi coba berikan foto gadis muda itu untuk saya lihat. Saya sudah lama tidak bertemu dia. Terakhir kami bertemu saat dia datang bersama ayahnya”
“Ini Bos.”
Memberikan foto Jovita.
“Oh .... Iwan, putrimu sangat cantik, persis seperti istrimu. Pantas Naga sangat melindunginya, pemburu yang melindungi buruannya,” ujar lelaki paru baya itu, sembari tertawa kecut.
Maka tugas pemburuan Jovita Hara berpindah tangan, kini yang memburunya seorang gangster motor yang di kenal lebih sadis.
*
Bar Leon, terpaksa di tutup hari itu dan ia meminta anak buahnya berjaga di lokasi. Karena menurut informasi yang di terima Rikko dari seorang temannya yang seorang gangster motor di jakarta meminta datang ke jogja membuat konvoi dengan tujuan membuat kekacauan di Bar Leon
Lelaki yang mereka panggil Gondrong itu, tahu kalau Jovita dan Leon menginap di Bar milik Leon.
Pagi itu setelah Jovita sadar,mereka akan kembali k e Jakarta. Leon tidak ingin menambah keributan, maka ia memutuskan menutup bar miliknya sementara waktu.
Leon meminta Santo untuk membayar orang untuk tambahan menjaga tempat hiburan malam ,itu jika geng motor itu datang mereka bisa menghalau.
“Lakukan dengan baik,” ujar Leon berjalan menuju atap.
“Baik .” Santo berjalan di samping Leon, ia ikut mengantar bos sampai atap.
Dalam heli berwarna putih itu, Jovita sudah duduk dalam diam, pikirannya berkecamuk, rasa bersalah menghantuinya, Ada banyak kata-kata ‘seandainya’
Leon hanya melirik Jovita masih dengan tatapan sinis. Ia menyalahkan semua yang terjadi karena keras kepala Jovita.
Suara helikopter mulai menderu . meninggal kota Jogja yang meninggalkan banyak kenangan yang manis dan kenangan yang menyedihkan.
Jovita menatap jendela.
“Selamat tinggal Jogja, kenangan indah satu hari yang aku lalui dengan Kak Damian, akan aku kenang seumur hidupku, akan aku ceritakan pada anak-anakku kelak, kalau ibu mereka punya kakak lelaki yang datang seperti angin dan pergi seperti angin juga, singkat. Tetapi terlukis di hatiku begitu dalam dan indah.
Satu Hari cukup menghapus luka selama ini. Terimakasih Kak Damian tertawalah bersama kekasih abadi mu di sana' Jovita bermonolog dalam hati.
Air mata itu mengalir deras begitu saja. Leon yang duduk di sampingnya melihat Jovita menangis, tetapi ia memilih diam, ia tidak suka melihatnya menangis, ia memakai kaca mata hitam dan menyandarkan kepalanya di jok.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya burung besi itu mendarat di istana Leon yang di Jakarta. Jovita sejak dari Jogja sampai di Jakarta ia tidak berani membuka mulut ia merasa bersalah.
Saat turun dari helikopter menatap kota Jakarta dari lantai tiga rumah Leon
‘Selamat datang Hara di istana Leon. Hidupmu akan kembali seperti di neraka’ Jovita membatin.
Bersambung....
JANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN AUTHORNYA000
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)