Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Lamaran


__ADS_3

Saat duduk  dengan diam beberapa menit akhirnya Piter berdiri dengan  wajah  tegang, ia mengepal tangannya menahan gugup, mereka semua terdiam menatap lelaki berbadan tegap itu.


“Abang, mau ngapain?” tanya Hilda  bingung.


“Maaf,  mungkin  situasinya tidak tepat, tapi aku sudah merencanakan ini juah- jauh hari, "ucap Piter membuat  mereka semua diam menyimak.


Lelaki yang berasal dari  bagian timur Indonesia itu memang tidak pernah romantis, ia selalu terlihat serius.


Ia  beberapa kali  manarik napas berat, dan tangan terlihat bergetar karena grogi.


“Apa yang ingin dia sampaikan sih, kenapa di begitu grogi? tanya Hara berbisik.


“Entahlah, Bibi juga tidak tahu,” ucap bi Ina menatap dengan serius kearah Piter. Piter, Vikky dan Hara sudah ia anggap seperti anak  sendiri.


Setelah bergelut dengan perasaannya sendiri, Piter beberapa kali menarik napas panjang, matanya sesekali menatap Viky, seakan-akan meminta bantuan pada lelaki yang seumuran dengannya itu.


Vikky menganggukkan kepalanya memberinya kode.


Tiba-tiba ia berlutut di depan Hilda mengeluarkan sebuah kotak kayu berhiaskan pita biru, dari balik jaketnya.


“Maukah kamu menikah denganku?” ucap Piter dengan suara bergetar dan pundak naik turun.


Ternyata yang membuat dia  duduk tegang bagai patung dari tadi,  itu semua karena  ingin melamar kekasihnya, ia sengaja membawanya ke rumah Leon agar Leon tahu kalau wanita itu dilamar olehnya.


“Aaaahh….” Hilda berdiri histeris, ia kaget dengan apa yang dilakukan Piter padanya. Ia tidak pernah menduga kalau ia akan di lamar Piter di saat hatinya sudah mulai layu.


“Ayo jawab cepat,” ucap Bi Ina ikut kegirangan karena  itu adalah harapannya juga, ia ingin Hilda di bawa kerumahnya secara resmi sebagai istri.


Mata semua orang yang ada dalam ruangan itu tertuju pada Hilda, wanita itu masih terkejut, ia berdiri menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


“Aku mau,”  jawabnya melompat kegirangan seperti anak kecil yang mendapat hadiah yang di inginkan.


Piter tanpa ragu memeluknya di saksikan semua keluarganya.

__ADS_1


“Maaf kalau di situasi seperti ini aku melakukanya, sebenarnya aku dan Viky sudah mempersiapkannya beberapa minggu ini, kami mencari  hari yang tepat, Namun, ada saja kejadian yang menganggu keluarga kita, karena itulah  selalu tertunda, aku meminta maaf sama Hilda karena membuatnya menunggu terlalu lama,” ucap Piter.


“Tidak apa-apa Bang, aku senang hari ini, maaf pak Leon kalau saya bersikap seperti anak-anak,” ucap Hilda menatap malu-malu pada Bosnya.


“Om Piter bisa romantis juga, aku juga mau di lamar romantis seperti itu,” ucap Hara senyum-senyum manja.


Mata semua orang menatap kearah Leon, lelaki itu hanya  mendengus kecil mendengar ucapan istrinya karena ia juga pernah melakukan hal yang romantis  saat pertama kali melamar Hara.


Melihat  Leon mendengus kesal, mereka semua tertawa.


“Ini baru kali ini bang Piter bersikap romantis mbak, biasanya dia kaku seperti kanebo kering,” ledek Hilda melirik Piter.


“Baiklah, kapan rencana akan berlanjut ke pelaminan, aku akan membiayai semuanya ,” ucap Leon.


“Haa bos serius?” tanya Hilda menatap bos dengan wajah  sumringah.


“Iya, anggap saja  kamu dapat THR dari saya,” ucap Leon.


“Kenapa Om?”


“Aku ingin menyelesaikan proyek kita terlebih dulu agar tidak ada beban dalam hati,” ucap Piter.


Hara langsung diam, mengingatkannya pada kedua orang tuanya, itu proyek yang seharusnya di kerjakan dengan ayahnya, gambarnya sudah selesai bahan bangunannya sudah dibeli segala surat-suratnya sudah diurus. Akan tetapi, takdir  berkata lain, Ayahnya tewas oleh orang yang akan ia bangun hotelnya.


"Baiklah Om lakukan yang terbaik Hara akan selalu mendukung Om," ujar Hara.


Setelah ia berpikir lagi, tidak seharusnya ia ikut meneruskan proyek itu lagi.


“ Om, kalau berat lebih Kita batalkan saja tidak apa-apa ,” ucap Hara. Ia tau mau membahayakan nyawa orang karena proyek tersebut.


Mereka semua terdiam, wajah Hara kembali mendung. “Tidak harusnya aku mengungkit itu, aku harusnya tidak membangun hotel itu lagi, hal itu mengingatkanku pada siapa orang yang mencelakai orang tuaku. Kalau aku ingin membangun seharusnya tidak ada sangkut pautnya lagi dengan orang itu, kita batalkan saja Om. Leon benar."


“Kamu yakin Hara?” tanya Piter, ia mendekat memegang tangan Hara dengan lembut,  keakraban mereka berdua terkadang membuat orang merasa iri. “Apa kamu tidak akan menyesali keputusan kamu lagi?” Piter menatap langsung ke dalam manik-manik  mata Hara.

__ADS_1


“Aku yakin Om, maaf kalau aku menyusahkan kalian dengan segala permintaanku yang  kadang tidak masuk akal,” ucap Hara merasa menyesal.


“Tidak ada yang seperti itu Hara, om percaya sama kamu,” ucap lelaki itu, memeluk tubuh Hara.


“Aku ingin melihat om menikah dulu, urusan  pekerjaan nanti kita akan bicarakan, aku ingin melihat Om menikah dan bahagia itu keinginan Om."


"Oh, Hara kamu sudah dewasa, bahkan lebih dewasa dari yang aku pikirkan," ujar Piter memeluk Hara dengan erat, suasana haru tiba-tiba terjadi.


"


Dengan segala pertimbangan Hara memutuskan mengehentikan  pembangunan hotel itu. Ia pikir-pikir lagi, mulai ia minta ingin membangun Leon sangat menentangnya, bukan hanya itu , ia sudah hampir beberapa kali celaka gara-gara ingin meneruskan pembangunan hotel itu, ia berpikir kalau ayahnya juga tidak menginginkan meneruskannya,    banyak sekali masalah setiap kali Hara berencana membahasnya mengenai rencana itu.


Belum lagi saat pertengkarannya dengan Leon dalam ruang rapat.


Maka itu, ia berpikir untuk membatalkan rencananya, sebagai gantinya ia berniat gedung  olahraga milik ibunya ia sudah bertahun-tahun kosong tidak terurus , Hara ingin merombaknya.


“Terus apa yang kamu rencanakan?”  Vikky menatapnya kearah keponakanya.


“Aku pikir, aku akan merenovasi gedung senam milik ibu saja om, seperti yang om bilang pada Hara waktu itu.”


“Ah, itu om sangat mendukung, keputusan  yang kamu pilih  sudah benar Hara, lupakan proyek yang jauh itu, walaupun kita meneruskannya akan bertambah sakit kepala, karena lahannya saat ini sudah jadi lahan sengketa, aku tidak ingin membahasnya di sini, sama saja membuka luka lama, karena itulah Leon menolaknya,” ucap Vikky.


Hara melirik suaminya, Leon menatapnya dengan senyum kecil, ia tidak Ingin Hara merasa semakin bersalah.


“Baiklah, kalau Hara sudah memutuskan, aku akan tetap mendukung, jadi kita saat ini lagi berbahagia karena lamaran romantis yang dilakukan pak Piter, jadi…  ayo kita rayakan, lupakan sejenak masalah pekerjaan,” ucap Leon mencairkan suasana .


Hara merasa bersalah karena terlalu memaksakan keinginannya selama ini, ia  tidak berpikir panjang, apa yang dilakukanya menyakiti hati banyak orang karena menyangkut luka masa lalu.


Ia kembali tegar dan bersikap ceria, mengingat hari ini, hari yang paling dinantikan,  pernikahan untuk Piter, lelaki yang ia gambarkan sebagai malaikat pelindung untuknya.


Bersambung


Bantu like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2