Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Rencana Menggagalkan Kedatangan Maxell


__ADS_3

Kabar Hara kembali bekerja terdengar pada Leon, saat itu ia masih berbaring malas di ranjang kamar di hotel.


Memang beberapa hari ini, ia malas mau melakukan apapun, tepat saat Hara menghilang.


Leon mengangkatnya dengan malas,hanya tangannya yang bergerak meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas bersama dengan beberapa botol-botol yang sudah kosong, hal itu akan terulang lagi dan terulang lagi, setiap kali ia tidak mampu mengendalikan pikiran dan hatinya.


Belum juga ponselnya ia dapat,  tapi tangannya menyenggol botol kosong itu dan jatuh ke lantai


Praang …!


Suara pecah dan berserakan di lantai, tapi hal itu tidak lantas membuatnya terbangun, ia masih saja dengan gaya malasnya, mencoba meraih benda pipih yang menyebabkan  getaran yang sangat menganggu pendengarannya.


Ia meraih dan mendapatkannya tapi lagi-lagi tangannya menyenggol  botol bening itu untuk kedua kalinya menyebabkan suara botol pecah tapi ia tidak terusik juga.


Leon benar- benar hancur saat Hara  menghilang beberapa hari ini, bahkan sekelas Zidan dan polisi suruhannya tidak mampu menemukan Hara. Apa lagi beredar kabar kalau Maxell memesan satu kamar di hotel, ia akan  datang ke Indonesia untuk menemui Hara. Ia takut Hara marah dan membuat keputusan yang mengejutkan.


Leon hanya membuka matanya dan membalikkan tubuhnya, membiarkan tubuhnya pada posisi terlentang,  matanya melihat layar ponselnya melihat si penelepon pengganggu itu yang menyebabkan kekacauan di kamarnya, saat matanya mengerjap membaca ada nama  Kaila.


“Iya kenapa?”


“Pak, Mbak Hara kembali bekerja, ada di bawah”


“Hara …?”Ia bangkit dari ranjangnya dan menginjak pecahan botol kaca yang  ia pecahkan dengan tidak sengaja tadi.


“Auuh …!” Leon meringis berjinjit kakinya menginjak beling  pecahan tadi.


“Bapak tidak apa-apa?” suara Kaila terdengar khawatir dari ujung telepon.


“Suruh orang membersihkan kamarku” pinta Leon.


“Apa yang terjadi Pak?”


“Saya hanya menginjak pecahan botol kaca.”


                              *


Di sisi lain Hara sudah melakukan pekerjaannya seperti biasa, sibuk mengatur orang bawahannya membersihkan kaca Hotel dan ia j sibuk mengangkut    daun –daun yang mengotori  kolam renang.


Leon datang dengan kaki berjinjit karena petaka  botol pecah.


‘Hara syukurlah kamu baik-baik saja ucap Leon, hanya melihat hara sebentar, ia tidak bisa mendekat karena Piter yang mengawasi Hara.


Melihat Piter duduk Leon kesal padahal niatnya tadi ingin bicara dengan Hara kalau bisa ia ingin memeluk. Tetapi karena Piter mengawal Hara, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


“Kenapa dia tidak jadi pegawai  hotel saja sekalian,” ujar Leon, memilih mundur tidak mau cari masalah


“Ada apa Bos” Ken ikut berdiri  mereka baru tiba di hotel setelah di telepon Kaila mengabari kalau Hara ada di hotel.


“Apa perlu saya mengurus Piter Bos?"Tanya Zidan.

__ADS_1


“Jangan, nanti masalahnya makin runyam, kontrak  kerja Hara tidak lama lagi di hotel ini, aku tidak punya cara untuk menahannya”


“Ayo kita culik saja Bos lalu kita bawa ke ke rumah yang di Kalimantan, saya yakin Nana mau membantu untuk mengamankannya di sana,” ujar Zidan di otaknya hanya bisa menculik untuk mendapatkan wanita.


'Dasar otak mafia', Ken membatin


Leon  semakin menatap Piter dengan sinis.


“Kamu ada benarnya Zidan .... untuk apa jadi orang  baik kalau kita harus kehilangan orang yang kita cintai,” ujar Leon dengan tatapan sinis ke arah Piter.


“Bos, bagaimana kalau kita bicara baik- baik dengan Piter,” ujar Ken.


“Kamu takut?” Tanya Zidan pelan, ia menyikut tubuh Ken.


“Siapa yang takut, aku hanya berpikir logis, kalau bisa dibicarakan dengan baik- baik, kenapa  harus menggunakan kekerasan,” ujar Ken.


“Kalau Piter selalu mengujiku Ken, jangan salahkan aku kembali jadi monster,” ujar Leon.


Mendengar kedatangan Maxell ke Indonesia membuat hatinya kembali memanas dan merasa kalah saing.


“Zidan dan Ken  kalian saja yang pergi ke Surabaya, aku lagi malas mengurus pekerjaan,” ujar Leon untuk pertama kalinya ia malas  mengurus masalah bisnis.


“Apa ada masalah besar Bos?” Tanya Zidan


‘Tidak apa-apa, aku  hanya merasa untuk apa aku bekerja keras kalau Hara akan meninggalkanmu juga’ Leon membatin.


“Tidak ada , kalian berdua berangkat sekarang. Bram kamu sama Kaila hadiri undangan Prama group”


 Leon kembali ke ruangannya.


“Apa Bos tidak apa-apa?” Tanya Bram.


“Dia akan gila lagi kali ini, kalau saja Non Hara menikah dan meninggalkannya,” ujar Ken.


“Kalau begitu, ayo kita gagalkan kedatangan dokter muda itu ke Indonesia,” ujar Bram,  baru kali ini ia memberi masukan untuk kedua seniornya, biasanya ia akan selalu mengikuti usulan-usulan Zidan dan Ken.


“Sepertinya aku setuju, ok bantu aku untuk mendapatkan infomasi  kapan dia berangkat dari Jepang,” ujar Zidan.


“Baik Bang.” Bram semangat  ketika usulnya di terima.


Tetapi seperti biasa.... Ken lagi-lagi tidak setuju  dengan hal seperti itu.


“Aku tidak  setuju dengan ide kalian.” Ken berjalan meninggalkan kedua rekannya.


Bram merencanakan menggagalkan rencana kedatangan Maxeel


                              *


Dalam ruangannya Leon mondar-mandir, ia ingin bicara dengan Hara. Tetapi ada Piter membuat Leon tidak mau . Ia menelepon Hilda meminta bantuannya, agar Hara bisa datang ke ruangannya, tetapi Hara belum siap mental  menemui Leon jadi ia menolak .

__ADS_1


 Hara beralasan ada pekerjaan penting yang ia kerjakan,  ia tidak mau dekat-dekat lagi dengan Leon,  karena berada dekat Leon sama saja mencari bahaya menurutnya.


Hilda setuju membantu ia mengajak Piter bicara, agar Leon bisa bicara dengan Hara.


Merasa di tolak, Leon yang turun kebawah, saat wanita cantik berambut panjang itu, lagi menyusun posisi  pot besar yang di sudut rungan lantai dasar.


“Hara ayo bicara di ruangan saya, sekarang” ucap Leon tegas.


Hara berdiri, ia menatap Leon dengan tatapan mendominasi.


'Jadi ... apa yang kamu lakukan saat itu, semuanya untuk menembus kesalahan di masa lalu?' Hara masih diam menatap lelaki yang dua tahun lalu hampir jadi suaminya.


"Hara ....!" Suara Leon lembut.


"Maaf Pak Leon, berikan saya waktu kita bicara nanti," ujar Leon menarik napas panjang.


Leon terdiam, melihat Hara enggan untuk bicara, ia juga tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


“Hara, saya ingin bicara tentang pekerjaan”


“Bapak  bisa katakan pada bu Nina sebagai atasan saya, dia tadi memintaku mengerjakan ini"


Leon tidak ingin membuat keributan  di depan pegawai, walau Hara menolak ia punya seribu cara untuk bicara dengannya.


Leon memilih pergi dan naik ke ruangannya, tapi ia menelepon Nina sebagai atasan Hara.


“Oh Baik Pak” ucap wanita itu dengan patuh, tidak ada bantahan seperti yang di lakukan Hara.


Wanita umur  tiga puluh tahun  itu, turun menemui Hara memberikan satu berkas ke tangan Hara,  menyuruhnya mengantarkan keruangan Leon.


“Hara tolong bawa ini keruangan pak leon” pinta wanita bertubuh gemuk itu.


Sebagai bawahan ia harus mau melakukan pekerjaan , walau , ia tidak suka dengan Leon.


Bersambung


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2