Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Kepergian Orang yang Disayang


__ADS_3

Leon masih takut untuk memberitahukan kepergian Bu Ina pada Hara.


‘Aku takut Hara akan terkejut mendengar kabar ini’ Leon membatin.


“Kapan terjadi?” Tanya Leon,  suara Piter  masih bergetar, sesekali diam.


Bagi Piter,  wanita itu sudah seperti seorang ibu yang melahirkan nya,  bahkan lebih dari seorang  ibu kandung bagi mereka, ia tidak pernah mendapat kasih sayang dari ibu  yang melahirkan nya karena ibu Piter,  sudah lama kehilangan orang tua.


Saat  ia dipecat dari tentara saat itu Piter kehilangan pegangan hidup, kehilangan tempat mengadu, karena keluarganya menolaknya karena malu. Tetapi saat ia tinggal di rumah bekerja sebagai pengawal Hara selain keluarga Hara yang sangat baik.  Teryata ada sosok lain yang selalu perduli pada Piter bu Ina dan Pak Darma, pasangan suami istri itu memperlakukan  dengan baik dan menganggap seperti anak, hal itulah yang tidak bisa Piter lupakan.


  Bu Ina  selalu ada untuknya memberinya makan, mencuci pakaian bahkan mengingatkan untuk selalu makan tepat waktu dan menjaga kesehatan. Mereka sudah bersama puluhan tahun.


Bahkan jodoh Bu Ina yang memilihkan untuknya dan anak-anaknya dianggap sebagai cucu sendiri.


 Piter pasti akan,  sangat kehilangan sosok ibu dan anak-anaknya akan kehilangan nenek satu-satunya, kerena istrinya juga anak yatim piatu.


“Om Piter,  masih di sana?” tanya Leon membangunkan Piter dari lamunan.


“Iya,  aku di sini, tadi malam masih baik-baik saja,  masih bersikap seperti  biasa. Tapi tadi pagi saat si mbak, mau membangunkan ibu,  dia tidak bangun lagi,” ucap Piter menahan guncangan di dalam dadanya mengusap air yang mengalir tiba-tiba dari sudut kedua matanya.


“Apa yang harus aku katakan pada Hara?”


“Katakan saja pelan-pelan jangan sampai dia shock.”


“Baiklah,” ucap Leon.


Piter menutup telepon.


Leon masuk ke meja makan lagi,  ia sampai melepaskan dasi dari lehernya,  ia merasa pasokan udara susah masuk kedalam rongga dadanya,  karena  Leon merasa dasinya sempit.


“Ada apa, Nak?” tanya Bu Atin melihat wajah Leon yang tegang.


Hara belum menyadari karena ia sibuk mengatur kedua bocah kembar,  Chelia lagi-lagi berebut duduk di dekat ayah mereka.


Leon menarik tangan Ibu Atin,  menuju  cabinet dapur, “Ada apa Nak?”


“Bu, bagaimana ini …  apa yang aku katakan pada, Hara?”


“Ada apa?” wajah Bu Ati tidak sabar lagi.


“Ibu Ina telah pergi, Bu.”

__ADS_1


“A-a-apa? tidak mungkin …  kemarin sore masih baik-baik saja,” wanita yang sudah menua itu juga kaget sebelah tangannya menutup mulutnya,


Sejak Hara dan Leon menikah.  Mereka bukan sebagai besan melainkan sebagai hubungan kakak adek . Kerena posisi mereka berdua sama, sama-sama ibu angkat untuk anak-anak  hebat itu.


Umur Bu Ina lebih tua sedikit dari Bu Ina,  maka ia memanggilnya dengan panggilan ‘mbak’


“Apa yang aku katakan pada Hara,?” tanya Leon lagi menyadarkan Bu Atin dari perasaan kaget.


“Katakan saja dengan pelan-pelan, ajak dia bicara santai dulu jangan langsung memberitahunya” Bu Atin memberinya nasihat.


Saat mereka sedang bicara bisik-bisik, tiba-tiba Hara datang mengangetkan keduanya dan Chelia berteriak.


“Nenek sama ayah ngapain sih … ayo kita sapa lagi Nek!” Teriak Chelia.


“Oh, iya sayang bentar iya.”


“Ayah, sama ibu lagi ngapain bisik-bisik?” Hara berdiri di depan mereka.


Leon menatapnya dengan tatapan  tegang, tetapi ia berusaha tenang.


“Sini kita serapan dulu,” ujar Leon melirik Bu Atin wanita yang masih terlihat terkejut itu hanya mengangguk.


Leon berpikir walau Hara akan menerima kabar buruk setidaknya ia punya tenaga , untuk mendengar beban berat itu. Leon pura-pura fokus  menyantap roti di tangannya.


Leon terlihat diam. Namun, dalam pikiran ia sudah memutar otaknya bagaimana caranya untuk memberitahukan  Hara tentang kabar duka itu. Otak pintarnya sudah memprediksi segala kemungkinan, salah satunya; Hara pingsan  atau ia akan kaget dan menangis keras.


‘Ah … sudahlah, aku harus mencobanya, jangan berpikir buruk’ Leon  membatin.


Lalu ia menarik selembar tissue dan mengusap mulut setelah meneguk air dalam gelas ingin bicara penting untuk Hara membuat tenggorokannya terasa sangat kering.


Bu Atin menganggukkan kepala, sebagai isyarat menyuruh Leon bicara.


“Sayang, ayo kita bicara sebentar,” ujar Leon.


“Oh.” Hara menarik dua lembar tissu. Lalu mengusap telapak tangannya dan meneguk segelas jus lemon hangat, tujuannya untuk menetralisir makanan bersantan yang ia makan tadi.


Leon mengajak Hara duduk di sofa ruang tamu,  melihat tingkah Leon dan wajahnya yang  tegang.


Hara kebingungan. “Ada apa?” matanya  menatap Leon dengan wajah serius.


“Ibu, tenang iya … Apapun yang aku kasih tahu nanti jangan terkejut,  cukup tenang dan dengar,” mendengar perintah yang tidak masuk akal itu. Hara hanya menyengitkan kedua alisnya.

__ADS_1


“Ada apa sih?” Hara mulai tidak sabar, Ibu atin juga ikut mendekat dan memeluknya.


“Sayang, Ibu Ina sudah pergi.”


“Pergi kemana?” tanya Hara berpikir wanita itu pergi keluar kota, “ke rumah siapa ibu pergi, tidak punya keluarga siapa-siapa.”


“Sayang, dia pergi untuk selamanya, Ibumu meninggal.”


 Dug ….


Bunyi jantung Hara berdetak bagai di pukul pakai palu, ia ,masih diam menatap Leon dan menatap Bu Atin bergantian,  kedua bola mata itu  berputar seakan-akan tidak percaya karena baru kemarin sore ia datang ke rumah itu menjenguknya.


Lalu buliran-butiran kristal  berjatuhan dari pipi Hara, saat ia mengingat bagaimana sikap wanita itu kemarin padanya, memberikan kalung berharga miliknya, lalu memberi pesan-pesan dan nasihat, Hara  baru menyadari kalau wanita itu sudah pergi untuk selamanya.


“Ibuuu ….” Hara akhirnya terisak dengan bahu  berguncang, ia kehilangan sosok seorang ibu.


Kabar meninggalnya Ibu angkat Hara membuatnya  terpukul, awalnya hanya sekedar isakan tangis kecil, lama-lama, akhirnya tangisannya pecah,  ia  menangis. Hara menangis menumpahkan kesedihannya saat itu juga.


Apa yang  ditakutkan Leon benar, Hara  sangat sedih.  Tidak ingin hal buruk terjadi pada Hara lagi, Leon menariknya ke dalam dadanya, membiarkan Hara meluapkan perasaanya.


“Menangislah, tapi jangan lama-lama, sayang aku takut kamu sakit. Kamu tidak boleh sakit karena kami bertiga membutuhkanmu.” Leon  membelai  puncak kepala Hara dengan lembut, ia  tahu bagaimana perasaan istrinya, kehilangan sosok seorang ibu baginya, seseorang yang selalu menyayanginya seperti anak sendiri.


“Ibu, aku tidak tahu kedatangan ibu kemarin pertemuan terakhir untuk kita,” ujar Hara semakin memeluk tubuh Leon dengan erat.


...Bersambung...


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2