
Karena melindungi Jovita Damian sekarat.
Toni juga tertembak di dekat ketiak, ia tidak menghiraukannya ia menunduk kearah jendela Villa dan ia menembak seorang musuh lagi.
Sesekali tangannya menekan lukanya yang tertembak, untuk menahan darah yang keluar.
Melihat tembakan mengincar Jovita, Leon dengan gerakan sigap mendorong tubuhnya ke badan Jovita, menjatuhkannya ke lantai dan menghindari sasaran tembakan yang memburu tubuhnya.
Leon menjauhkan Jovita dari arah jendela kaca dengar cara berguling, dan berakhir didinding di bawah jendela , ternyata ada seorang penembak jitu yang membidik Jovita dari pohon. Untung, Leon cepat melihatnya, saat ada sambaran kilat di luar.
Zidan. Ada seorang di luar di pohon sebelah timur,” ujar Leon lewat alat komunikas di kupingnya.
“Baik Bos!” Lelaki berbadan tegap, itu mengambil posisi dan mengarahkan bidikannya ke pohon di samping villa, dari teropong senjatanya Zidan melihat seorang penembak seperti dirinya, sedang mengarahkan senjata laras panjang itu kearah Leon. Zidan menembak tepat di kepalanya.
Door!
Lelaki itu terjatuh dari pohon dan mati di tempat karena Zidan menembus kepalanya.
Leon dan anak buahnya kalah jumlah , saat mereka hanya empat di tambah Damian yang terluka parah, ternyata musuh mereka ada puluhan termasuk para pekerja peracik barang setan tersebut.
Leon masih memeluk tubuh Jovita dengan satu tangannya, membawa tubuh wanita yang sedang ketakutan itu ke dadanya yang telanjang.
Leon terpaksa melepaskan pakaian miliknya karena basah kuyup, saat mereka menyingkirkan pohon besar tadi.
Kini ia menjadikan dada bidangnya menjadi sandaran untuk wajah Jovita dan tubuh koko itu, sebagai tameng untuk melindungi Jovita, sama seperti yang di lakukan Damian dan Toni tadi.
Leon menekan erat kepalanya, kearah dadanya, satu tangan ia gunakan menutup sebelah kupingnya dan sebelah lagi di tekan ke bagian dadanya. Lalu ia mengarahkan pistol ke arah seorang musuh yang datang dari pintu.
Dor …Dor …!
Musuh terjatuh, Leon semakin yakin kalau orang yang mengincar Jovita, bukan orang sembarangan. Leon yakin, kalau Villa yang saat ini mereka pijak adalah markas mereka juga. sebuah tempat pembuatan narkoba dan gudang penyimpanan.
Leon sadar, kalau mereka tidak akan bisa menang karen mereka merasa di kepung
“Zidan lindungi saya dan Jovita,” Leon berniat membawa Jovita ke dalam mobil. Matanya sangat waspada melihat kanan kiri, satu tangannya masih memeluk tubuh Jovita.
Menyadari ada Leon bersamanya. Jovita berhasil menyingkirkan lakban di mulutnya, tetapi saat ingin membuka penutup kain di matanya, Leon menahan tangannya. Tidak memperbolehkan Jovita melihat hal mengerikan itu, ada banyak darah di mana-mana .
“Biarkan saja, jangan buka penutup matamu,” ujar Leon sembari tangannya masih memeluk tubuh Jovita.
“Kak Damian … Tolong Pak Leon, dia terluka,” ujar Jovita dengan tangisan
__ADS_1
“Tenangkan dirimu. Jangan pikirkan orang lain. Pikirkan saja nyawamu,” ucap Leon marah, saat ia bertarung nyawa ingin menyelamatkan nyawanya Jovita, ia malah memikirkan orang lain.
“Tapi … di-dia-”
“JOVITA HARA …. Jangan memikirkan orang lain saat saya bertarung nyawa untuk kamu,” ujar Leon marah, ia mencengkram pundak Jovita dengan kuat dan menekannya tubuh mungil itu ke dadanya.
Saat Leon marah karena Jovita, ia lengang konsentrasinya hilang karena tangisan Jovita pada Damian.
Tiba-tiba ….
Dor …
Leon tertembak di lengan.
“UMMM.” Leon meringis menahan lengannya yang terluka.
“AH …. AAA Pak Leon TERLUKA?” Ia melepaskan penutup matanya
Maka pemandangan yang mengerikan, terpampang di depan matanya, lantai keramik merah itu di penuhi banyak bercak darah.
Darah dari tubuh Damian di tambah dua orang musuh tergeletak di lantai , ada genangan cairan berwarna merah itu di samping kepalanya.
Ia lelaki bertato yang ingin melecehkan Jovita dan orang yang menembak Damian, kini ia tergeletak di lantai setelah kepalanya diterjang timah panas dari senjata Toni yang saat itu di atas Plafon.
Mata Jovita melotot saat melihat Damian sekarat, dengan spontan Jovita merangkak dan mendekati tubuh Damian, ia lupa kalau Leon juga tertembak di belakangnya.
“Kak Damian …. AAA …. ! Bertahanlah.” Jovita menangis sembari memeluk tubuh lelaki yang mengangkatnya sebagai adik perempuan.
“Hara, terimakasih membuatku sangat bahagia hari ini, aku sangat berterimakasih pada Tuhan karena bertemu wanita sebaik dan secantik kamu,” ucap Damian dengan bibir sudah membiru.
“OH …. AAA …. Kak Damian, jangan memberikan kata-kata perpisahan padaku, aku tidak akan sanggup mendengarnya,” ucap Jovita memegang telapak tangannya.
“Lebih baik aku tertembak dari pada menanggung rasa bersalah seumur hidup, jika melihatmu terluka, aku tidak akan sanggup melakukan itu lagi untuk kedua kalinya …. Aku bahagia, aku akan pergi ke bintang bertemu, dia.”
“Tidak Kak. Kamu sudah berjanji padaku untuk jadi kakak lelakiku,” ucap Jovita ia menangis. Ia sangat terpukul.
“Aku minta Maaf padamu, karena tidak menepati janji, Hara. Aku akan selalu melihatmu nanti, jika kamu rindu lihat bintang di malam hari, seperti yang kita lakukan malam itu, berteriak memanggil bintang,” ucapnya sembari tersenyum kecil.
“Hara menunduk lah,” bisik Toni, ia terluka semakin parah, ia berbisik dari balik lemari, agar musuh tidak melihatnya.
Melihat itu, Leon merangkak ingin menyeret tangan Jovita, ternyata sebelah tangannya di tahan Damian, ia menatap Leon dengan tatapan sendu.
__ADS_1
“Maafkan aku Bos,” ucapnya dengan napas berat.
Leon tidak mau menatap wajahnya, Leon mengalihkan matanya ke arah Lain. Melihat Damian ingin menyampaikan permintaan maaf .
Jovita menarik tangan Leon dengan tangisan dan tatapan memohon, ia memberikan tangan Leon pada Damian.
“Bos Naga. Maafkan kesalahanku di masa lalu, aku telah melakukan kesalahan, aku meminta Maaf Bos. Aku menitipkan adikku Jovita untukku mu. Hari ini, kami resmi sebagai kakak adik. Tolong jaga dia, karena aku tidak bisa menempati janjiku, untuk menjaganya sebagai kakak,” ujar Damian, ia meletakkan tangan Jovita di telapak tangan Leon.
“Dengar. Saya bukan tempat penitipan orang, kalau kamu menganggap dia adikmu bertahanlah dan tetap hidup, agar kamu bisa menjaganya,” ujar Leon dengan tatapan sinis.
Mendengar ucapan Leon Damian hanya tersenyum kecil, dan ia mulai terbatuk-batuk dan cairan merah keluar dari mulutnya, ia menarik tangan Jovita dan memberikannya ke tangan Leon dan ia menutup mata selamanya. Ia pergi meninggalkan dunia ini tepat di hari lahirnya, wajahnya terlihat sangat tenang.
Melihat Damian tidak bergerak lagi, tubuh Jovita bergetar ia menangis begitu pilu,
“Tolong jangan pergi ….!”Ucap Jovita menangis dan terguncang lagi.
Bayangan malam naas itu muncul dalam benaknya, bayangan ibunya dan ayahnya yang tergelatak di kamarnya bersimbah darah, membuatnya shock.
“Ibu … ayah adikku.” Tubuh Jovita menggigil, melihat itu Leon memeluknya dengan erat membawanya ke dadanya, tetapi Jovita pingsan,
Leon sangat marah, ia meletakkan tubuh Jovita si samping Damian, lalu ia berdiri dan menembaki mereka semua membabi buta dan ia menggila.
“Kita mundur!” Teriaknya marah.
Zidan membawa Damian dan Iwan mengendong Jovita, membawa mereka berdua ke dalam mobil.
Leon masih tinggal, rupanya lelaki yang sedang murka itu, menyiram bensin dan membakar Villa, barulah mereka meninggalkannya. Mereka semua terluka kecuali Zidan si penembak jitu, makanya ia yang menyetir mobil membawa mereka ke rumah sakit.
Bersambung .....
JANGAN LUPA!!! … VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR AUTOR SEMANGAT
, Makasih, kakak semua”
DAN AUTHORNYA000
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)