Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Menghilang tanpa jejak


__ADS_3

Tangan Leon terkepal kuat, saat melihat jalan rahasia yang di gunakan Hara untuk keluar dari rumahnya. Sebuah pipa pembuangan pengap, gelap, berbahaya itulah hal pertama yang Leon lihat dari sana.


Leon memang kejam, ia memang belum pernah memberi kasih sayang dan perhatian pada siapapun dan sejak kematian kedua orang tuanya, ia juga belum pernah memberikan hatinya pada siapapun dan belum pernah merasakan arti cinta, tapi saat Jovita mengandung anaknya, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia memberikan hati dan segalanya pada Jovita dan pertama kalinya padanya merasa takut kehilangan.


Tapi sepertinya terbalik dengan Hara, ia tidak menyukai ayah dari bayi yang di kandungnya, kenapa? Karena Bokoy ayah angkat dari Leon, lelaki yang yang sudah membuatnya yatim piatu dan Leon tidak jujur padanya.


'Kamu sudah berjanji tidak menyakitinya Hara, kamu harus menepati janjimu' Leon membatin


“Dia merancang jalan untuk keluar yang bisa dia lalui sendiri, Jovita seorang lulusan Arsitek, dia pasti sudah mempelajari gambar bangunan rumah ini, dia lewat mana, tembus kemana ia sudah tahu, ia keluar masuk selama ini ternyata dari sini, ia wanita nekat," ujar Leon menggeleng.


“Aku terlalu menganggap sepele pada wanita ini, ternyata dia tidak sepolos yang aku pikirkan,” ujar Leon.


Tidak ada yang bisa masuk kelubang yang di buat Jovita, lubangnya terlalu kecil untuk badan untuk anak buahnya, jadi, saat ingin mengikuti arah jalan tidak ada yang muat.


“Bagaimana Bos, tidak ada yang muat badan yang masuk kedalamnya,” Rikko angkat tangan, ia menyerah.


“Bagaimana kalau dia masih terjebak di sana, bagaimana kalau dia ingin kabur malah terjebak di dalam,” ucap Bi Atin membuat semuanya tambah panik. Wanita itu tidak menduga kalau jalan yang di tempuh Hara selama ini seekstrem itu.


“Panggil pemadam kebakaran cepat,”pinta Leon.


Benar saja, karena ulah Hara rumah Leon di bobol dan di rusak, mencari arah jalan keluar, saat Rikko masuk dan tiba di dalam, ada tiga jalan yang menjadi pilihan.


“Bos arah yanga mana? Ada tiga jalur yang jadi pilihan?"


“Pilih sebelah kanan,”ucap Leon, memberi arahan.


Tapi saat di pilih malah mentok ke tembok, saat pilihan yang kedua masuk ke saluran pembuangan.


“Hara lewat yang mana Bos, ketiganya tidak masuk akal, bahkan berbahaya menurutku,,” ucap Rikko.


Leon sudah melakukan semuanya tetapi ia tidak menemukan jejak Hara


Dia keluar dari mana? dia pergi kemana?' Leon memegang leher belakangnya.


"Cari di cctv yang di pinggir jalan, sebelum lampu merah!" Pinta Leon setelah rumahnya di bobol.


Dengan cepat anak buahnya berlari dan mendapatkan cctv dari gedung sebelum perapatan, tetapi sayang, Hara tidak terlihat sama sekali.


Hara wanita yang sangat berharga pada Leon saat ini, karena Hara memiliki yang berharga untuk Leon. Bi Atin bahkan terlihat lemas saat Leon tidak mengetahui keberadaanya.

__ADS_1


*


Di satu villa.


Hara duduk dengan diam, melihat hamparan pohon pinus yang mengelilingi alam sekitar, udaranya semakin dingin sebagian alam sudah ditutupi kabut putih tepatnya di puncak Bogor.


Piter membawa Hara ke Villa, Villa itu tadinya milik kelurga Hara dan dijual, kini penjualnya pindah keluarga negeri dan Piter membelinya untuk Jovita Hara lagi.


“Apa yang kamu pikirkan” Tanya Piter.


“Pembalasan,” jawab Jovita, tanpa mengalihkan pandangannya dari pohon pinus.


“Kita sudah melakukan apa yang bisa kita lakukan, aku akan berusaha Hara, tenanglah"


"Om ...."


"Iya"


"Aku hamil"


Piter menelan ludahnya dengan susah paya ia menegang.


" Anak siapa?"


Tiba- tiba Piter menarik napas lega, tadinya ia berpikir Jovita Hara mengandung anak Toni, karena Toni beberapa hari lalu meminta izin menikahi Hara.


"Kenap tidak bilang sebelumnya Hara, kalau kamu sedang hamil. Apa Leon sudah tahu?" Piter panik saat tahu Hara melewati saluran pembuangan yang sempit dan berbahaya dengan keadaan hamil.


"Sudah, tapi itu tidak penting.


Aku tidak akan bisa tenang, jika orang yang menghabisi kedua orang tuaku, belum menerima hukumannya,” ucap Hara matanya menatap kosong.


“Bagaimana dengan kandunganmu, apa dia baik - baik saja?” Piter merasa bersalah membawa Hara keluar dari rumah Leon.


“Ini tidak penting Om, aku hanya ingin orang tua itu membusuk di penjara, kalau tidak aku ingin dia mati,” kata Jovita dadanya terlihat naik turun.


Rasa marah dan kecewa terlihat sangat jelas di wajah Hara, itu bisa di maklumi, saat orang yang menghabisi keluarganya ada di depan mata bisa melenggang bebas tidak dapat hukuman, sementara ia tersiksa dalam duka dan kesendirian saat ini. Hara hidup sebatang kara, tetapi orang yang melakukannya malah dengan enaknya bisa bebas.


Hingga malam sudah tiba, Leon tidak menemukan petunjuk kemana Hara pergi.

__ADS_1


Lelaki itu, terlihat sangat khawatir, ia takut anak buah Bokoy mencari Hara, ia sudah tahu bagaimana lelaki itu, kalau ada yang mengusik kehidupannya berulang - ulang, ia akan menghabisinya dengan cara apapun.


" Lelaki itu membawa Hara kemana?" Wajah Leon terlihat gelisah.


“Cari ke semua tempat, kerahkan semua anak buahmu, tambah kalau perlu,” perintah Leon pada Rikko, Iwan dan Ken.


“Baik bos” Iwan dengan sigap keluar dari ruangan Leon, menyebar anak buahnya.


Kini tinggal lelaki itu yang terlihat frustasi duduk sendirian dalam kamar, ia memikirkan dan mencoba mengingat


Apakah Hara punya tempat yang di tujuh?


Leon bertanya pada Bi, Ina tidak ada satupun mereka yang mau memberitahu tentang keberadaan Piter sang bodyguard


“Makan dulu Pak Leon, biar ada tenaga, ada kekuatan untuk mencari, pikiran juga tenang,” kata Bi Atin wajahnya terlihat sangat pucat, Leon sangat khawatir pada kandungan Hara.


“Maafkan Bi, karena aku tidak bisa menjaganya," ucap Leon, ia tahu, Bi Atin sangat menginginkannya anak di kandungan Hara.


“Bibi sangat khawatir, bibi takut dia tidak selamat,” ujar wanita itu dengan wajah sedih.


“Percayalah Bi, dia akan baik-baik saja”


Dengan terpaksa Leon memakan, makanan yang di bawa Bi Atin untuk menghargai wanita paru baya itu.


" Jika Hara terjadi kenapa- napa aku akan meledakkan istanamu," ujar Leon pada Bokoy. Ia sudah mulai menyiapkan rencana untuk bertarung melawan ayah angkatnya, jika saja Hara ditangkap Bokoy.


Padahal selama ini, ia selalu menghindar, agar tidak berurusan dengan lelaki tua itu, tapi kali ini, Setelah Leon menyelidiki kalau Bokoy dalang utama pada keluarganya.Leon bekerja keras bagaimana mengalahkan Bokoy


"Kemana kamu Hara ... ini sudah beberapa hari kamu menghilang, kemana lelaki itu membawamu?" Leon kehilangan jejak Hara.


Setelah beberapa hari sejak Hara kabur, tapi ia belum mendapat petunjuk kemana Piter membawanya. Sebagai mantan tentara terlatih Piter bisa menghilang tanpa jejak dengan Hara.


Di Villa di Bogor Hara.


“Aku akan melakukan sendiri Om,” kata Jovita.


“Apa yang ingin kamu lakukan dengan keadaan kamu seperti ini Hara? yang ada kamu mengantarkan nyawamu ke sana."


“Lebih baik aku mati setelah melenyapkannya dari pada aku mati dalam kesedihan,” ujar Jovita dengan linangan air mata.

__ADS_1


Bersambung ....


Bantu vote dan Like kakak jangan lupa kasih komentar terbaik.


__ADS_2