Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Pengakuan cinta


__ADS_3

Suasana di dalam hutan itu semakin gelap, melihat Jovita  lemas karena kelamaan di dalam air. Leon mulai  merasa panik, memeluk tubuh Jovita dengan begitu erat.


‘Bertahanlah sedikit lagi Hara' ujar Leon dalam hati, ia merasa mulai kehabisan napas juga,   bukan hanya menyebrang ternyata anak buah Bunox memilih istirahat di tepi sungai.


Leon juga sudah nyaris mati, karena kehabisan oksigen, ia menutup mata dan memohon dalam doa.


“Roh. Para leluhur tolong bantu selamatkan kami,” ucap Leon dalam doa dan kepercayaannya. Entah itu doanya yang yang terjawab atau atau hanya memang kebetulan.


Tiba-tiba angin  bertiup kencang seolah-olah pohon besar di tepi sungai ingin tumbang karena terpaan angin besar.


“Menjauh! Menjauh dari sini. Kita naik kearah bukit saja,” pinta salah seorang dari mereka.


Setelah mereka menjauh dari tepi sungai, Leon mengangkat tubuh Jovita yang sudah membiru seperti orang mati ke tepi sungai.


“Hara! Hara …! Hara …! Bangunlah. Aku mohon,” ucap Leon menekan dadanya dengan kedua telapak tangannya, Leon sangat ketakutan, memberi napas buatan. Namun, Jovita tidak bergerak lagi, bibir itu sudah benar-benar biru. Tubuhnya lemas tak bergerak lagi, walau sudah ditekan  dadanya  berulang kali tubuhnya tidak merespon.


“Hara … Hara! Bangunlah. Tolong. Tolong jangan tinggalkan aku. Aku mohon …,” ucap Leon, pundaknya terguncang-guncang,  Lelaki keras kepala itu, benar- benar ketakutan.Ia akhirnya merasakan, betapa takutnya kehilangan orang yang dicintai.


 Leon terlihat sangat panik, ia melakukan semua cara untuk membuat Jovita bangun. Namun gagal, tubuh Leon bergetar hebat,  ia benar-benar terlihat  sangat putus asa dan ketakutan.


“Oh. Tuhan! Tolong Tolong!”


Melihat Jovita tidak bernapas lagi Leon merasa sangat terpukul, apa lagi saat melihat telapak tangannya tergeletak tak berdaya.


“OH. Oh Tidak …. OH Tidak Hara. Jangan menghukum dengan cara seperti ini , aku mohon Hara.”


Leon memeluk tubuh  Jovita yang sudah tidak bergerak lagi, membawanya kedadanya memeluknya dengan tangisan . Akhirnya Leon meluapkan semuanya. Untuk pertama kalinya menangis seperti bayi yang ketakutan,  menangis memeluk erat tubuh Jovita dalam dadanya.


“Hara ….! Maafkan aku, jangan tinggalkan aku. Oh sayangku .... Aku mencintaimu Hara. Aku sangat mencintai. Aku sangat mencintai.” akhirnya ungkapan pengakuan kata cinta itu Keluar juga dari mulut Leon Wardana. Itulah cara alam mungkin memberi Leon pelajaran,  bagaimana rasa takut kehilangan orang yang ia cintai.


Desiran angin malam begitu kuat menyapu kulit Leon, tubuhnya masih bergetar memeluk tubuh Jovita dengan erat, mengkekap tubuh wanita cantik itu dengan kuat di dadanya.

__ADS_1


“Ibu, ayah tolong selamatkan dia, aku hanya  memiliki dia di dunia ini,” ujar Leon  dengan tangisan emosional dan semakin memendamkan wajah Jovita ke dada bidangnya.


Ruh para leluhurnya, seolah- olah menjawab doanya.


“Uhuuk …Uhuuk!” Jovita batuk-batuk di dada Leon dan memuntahkan air yang ia minum.


“Hara. Kamu bangun kamu selamat. Oh Hara.” Leon  menyerangnya dengan banyak kecupan di wajah dan memeluknya berulang-ulang serasa tida percaya.


“Aku capek,” ujar Jovita  setelah terbatuk-batuk, setelah beberapa menit terlentang memulihkan tubuh.


“Kemarilah.” Leon memeluk tubuhnya lagi. “Kamu membuatku sangat takut Hara”


“Apa mereka sudah pergi,” ujar Jovita kini tubuhnya menggigil kedinginan.


“Sudah. Tunggu di sini." Leon mengambil pakaian Jovita yang ia sembunyikan.


“ Buka saja  pakaian dalammu, agar kamu tidak mengalami hipotermia, karena kita tidak bisa menyalahkan api saat ini, mereka ada di atas bukit itu”


“Tapi aku tidak punya pakaian pengaman lagi"


Leon  bicara formal dengan Jovita kali ini, ia tidak memakai kata  'saya' lagi, tetapi bahasanya lebih santai.


“Ba-baiklah,  aku melepaskan bra saja celana segitiganya tidak usah. Tubuhku membeku Pak Leon, aku tidak bisa mengerakkan tanganku lagi,” ujar Jovita, tubuhnya sangat kaku ,  bibirnya pucat tubuhnya  menggigil karena kedinginan. Leon tidak tega melihatnya.


“Kamu belakangi aku, akan aku buka pengaitnya." Ia melepaskan kain pengaman dada Jovita, memakaikan jaket miliknya, ia tidak menghiraukan celananya juga basa kuyup,   bahkan Leon hanya memakai kaos  berlengan pendek.


Jovita  bahkan tidak bisa menekuk tubuhnya karena kedinginan, Leon  memegang telapak tangan Jovita dan menggosok-gosoknya untuk melancarkan peredaran darahnya.


“Maaf,” ucap Leon  lemah, ia melirik ke balik batu, kini para penjahat itu menyalakan api unggun tidak jauh dari mereka. Ia menarik tubuh Jovita ke dalam dadanya, memeluknya dengan erat, Mereka hanya bisa menunggu dan  duduk dibalik batu.


“Maaf untuk apa? Justru aku sangat senang karena ada Pak Leon  menemaniku di hutan gelap ini, aku tidak takut, karena aku tahu kamu itu anak Tarzan, anak hutan,” ujar Jovita dengan suara gemetaran karena tubuhnya kedinginan.

__ADS_1


 Leon tersenyum untuk kedua kalinya saat Jovita menyebutnya anak Tarzan.


Itu panggilan  kakak perempuannya untuknya saat mereka masih   kecil dulu, karena Leon  sering  main ke hutan  bahkan membuat rumah pohon, membuat keluarganya selalu mencarinya ke hutan.


“Hei bocah Tarzan! Ayo pulang. Ibu mencarimu,” panggil sang kakak saat mereka kecil dulu. Leon  menutup mata membayang kan wajah  cantik kakak perempuannya.


“Kenapa diam?” Tanya Jovita meraba wajah Leon,  karena langit sudah sangat gelap . Merasa  tangan Jovita merasa pipinya, pertama kali baginya  tidak menolak.  Leon menahan  telapak tangan Jovita di pipinya.


“Aku hanya mengingat panggilan Tarzan .... Itu panggilan kakak perempuanku”


“Bapak tidak marah lagi kan kalau  menyingung keluargamu ka-”


“Baiklah Hara,” potong Leon.


“Baiklah, aku juga  telah memaafkan mu, aku berpikir kamu hanya di manfaatkan sama lelaki  jahat itu, dan  keluargaku juga sepertinya telah memaafkanmu …. Kamu pasti berpikir aku hanya mengarang. Tetapi kembang   yang kamu letakkan di makam ibu, masih sangat segar walau sudah beberapa hari, itu tandanya ibu menyukai pemberianmu, Ibuku  sangat suka bunga, sama sepertiku, apa lagi kamu datang membawa bunga kesukaan ibu. Tetapi dari mana Bapak ibuku suka bunga ?”


“Aku sering melihatmu merawat bunga di samping rumah”


“Oh, baiklah berhubung kamu tidak marah lagi,  bisa kamu ceritakan masa kecilmu? Melihat Bapak mencabut talas besar tadi, aku penasaran bagaimana Bapak hidup saat kecil”


Leon bersikap baik pada Jovita, apapun permintaan Jovita ia  turuti, bahkan diminta menceritakan semua tentang masa kecilnya , hal yang tidak pernah ia lakukan kali ini ia mau. kalau biasanya Leon sangat tertutup  soal  masa lalunya dan tentang masa kecilnya, ia tidak bisa menolak.


“Tidak ada yang menarik Nona Hara tentang masa kecilku”


“Ceritakan lah agar aku bisa melupakan  rasa kedinginan ini,” ujar  Jovita.


“Baiklah.”


Leon untuk pertama kalinya menceritakan   kehidupan keluarganya pada orang lain, biasanya ia selalu tertutup, tetapi kali ini ia menceritakan semuanya pada Jovita. Jovita mendengarnya sesekali tertawa saat Leon menceritakan kenakalannya di sekolah dan sering bertengkar dengan sang kakak. Tidak terasa  malam semakin larut benar saja Jovita bisa melewati masa kritis itu karena  terbawa cerita masa kecil Leon. Saat ia menoleh ke belakang api yang di belakang mereka sudah mulai padam itu artinya penjahat itu meninggalkan hutan.


Bersambung …

__ADS_1


KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA IYA! SAYA IKUT CRAZI 3 BAB UPDATE SATU HARI.,  SELAMA TUJUH HARI. BANTU BERI KOMENTAR YANG BANYAK DI SETIAP BAB.


LIKE DAN VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. TERIMAKASI KAKAK SEMUA I LOVE ALL.


__ADS_2