
Layaknya wanita hamil yang selalu bersikap labil, kali ini Hara juga ia juga seperti itu, ia bangun dari sofa, berpikir kalau Leon masih berdiri di depan pintu kamar saat ia usir tadi.
Hara berpikir kalau Leon masih menunggunya di luar kamar, tetapi saat dibuka tidak ada siapa-siapa di luar kamar, hanya ada keset kaki tergelatak di depan pintu keset kaki yang bertuliskan I Love.
Melihat tidak ada Leon di sana, wajah Hara terlihat sangat kecewa, mendengus kesal, ia yang mengusir Leon, tetapi ia juga yang berharap lelaki itu masih berdiri di sana.
Orang hamil selalu banyak kemauan yang terkadang tidak masuk akal.
Hara membuka kamar di sebelah di mana Leon tidur, matanya memincing menatap dengan kesal, saat melihat lelaki berotot keras itu sudah tidur dengan pulas dengan tubuh telungkup memperlihatkan tonjolan otot dari tubuhnya.
“Kamu bisa tidur nyenyak seperti itu ternyata? dasar kura-kura,” ucap Hara menutup pintu itu kembali, kembali ke kamar berwarna pink tersebut. “Ini lagi kamar, kenapa juga jadi norak begini sih? bikin sakit mata saja.” Ucap Hara memarahi hasil kerjaannya sendiri. Tadinya ia ingin Leon marah, tetapi bukannya marah malah memujinya hasil karyanya.
Hara masih duduk di sisi ranjang belum bisa memejamkan matanya, saat ia tidak bisa tidur di sisi lain, Leon tertidur pulas karena kelelahan.
Apa yang di lakukan hari ini, membuat otaknya berputar keras.
Nominal belanjanya kali ini membuatnya kaget sendiri, tetapi sikap diam Leon membuatnya bertambah jengkel.
”Harusnya dia bertanya. ‘Apa yang kamu beli ? untuk apa?’ itu baru benar, ini kenapa dia tidak bilang apa-apa? Harusnya ia marah karena uang yang aku belanjakan lumayan banyak, Ah dasar, aku marah, aku kesal,” desisnya dengan wajah jengkel.
Hara masih mematung memandang barang –barang yang ia beli, sepatu, tas, pakaian semuanya bermerek, ia membelanjakan diri sendiri, semua yang ia inginkan, tetapi ia tidak merasa senang sedikitpun, walau ia sudah membeli barang yang mahal, Hara seakan-akan menghadiahi diri sendiri barang-barang mahal itu , karena sebenarnya ia bukan tipe wanita boros belanja, ia melakukan itu karena ia berpikir Leon belakangan ini terlalu sibuk bekerja.
*
Leon bangun saat mendengar alarm ponselnya berdering riang, Leon terbiasa menyetel alarm ponsel sebelum ia tidur malam, selalu bangun jam lima pagi. Seperti biasa ia akan melakukan olah raga pagi, sebelum melakukan kegiatan pagi, ia masuk ke dalam kamar mereka.
Ia tahu Hara tidak akan bangun jam lima pagi, wanita itu ia kenal, susah bangun pagi.
Melihat Hara masih tertidur pulas, Leon menyelimutinya dan mengecup kening Hara.
‘Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan Hara, aku tidak tahu bagaimana menjadi suami yang baik seperti yang kamu inginkan’
Ia bangun lagi dan menganti piyama dengan celana olahraga, lalu ia mulai dengan olah raga kecil berlari saat ia turun, Leon berhenti menatap dengan tatapan bingung kearah pos penjaga, para pengawal bertubuh tegap itu terlihat berkerumun membentuk lingkaran.
Tidak biasanya mereka semua bangun sepagi ini, ada Bimo yang terlihat memberi pengarahan dengan wajah tegas, sebagai kepala keamanan baru tanggung jawabnya yang lebih besar karena, ia juga kalau siang untuk sementara waktu harus duduk di meja sekretaris. Leon turun.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya leon mendekat.
“Ini Bos orang saya tadi malam mencurigai ada orang yang mengawasi kearah rumah.”
“Orang seperti apa?” Tanya Leon dengan tatapan tegas.
“Mereka mengunakan mobil, tapi anehnya semua platnya sengaja ditutup.”
“Jelaskan bagaimana kronologinya, sini satu orang,” pinta Leon tegas.
Toni dan Bram, Ken, Vincen ikut terbangun.
Satu orang yang berjaga tadi malam mendekat dan berdiri di depan Leon.
”Begini Pak, saat saya memeriksa keluar pagar tepat jam sebelas malam, saya melihat ada sebuah mobil yang berhenti tidak jauh dari pagar rumah ini, tadinya saya pikir tamu rumah yang di belakang, tapi saat saya melihat dalam monitor seorang turun menggunakan topi hitam, pakaian serba hitam dan mengunakan kaca mata hitam, ia turun dan mengambil gambar rumah ini, melihat itu saya dan pak Doni datang menghampiri tetapi mereka melarikan diri, jam dua pagi tadi mereka datang lagi dan posisi berhentinya lebih dekat. Mereka parkir tepat di depan gerbang seakan-akan memastikan sesuatu hal, karena salah seorang dari mereka memegang gambar mencocokkan dengan rumah ini, saya keluar mereka pergi lagi .”
“Ini tidak bisa dibiarkan, ini bahaya, kamu perketat lagi penjagaan, kalau perlu dua kali lipat” ujar Leon terlihat jelas ada kekhawatiran di wajahnya, hal itu bisa di maklumi karena istrinya sedang hamil.
“Baik Pak.”
Leon menghentikan olah raga pagi ini, ia tidak jadi melakukannya, ia memikirkan cara mengetahui siapa yang memata-matai rumahnya, Leon terlihat sangat panik ketakutan, ia takut para bajingan itu bukan mengincar dirinya melainkan mengincar Hara.
“Baik Bos,”
“Ken dan Vincen. Nanti pagi kamu ke kantor polisi apa wanita ada yang mengunjungi belakangan ini.”
“Baik Bos.”
Wajah mereka semua sangat tegang, apa lagi istri Zidan dan istri Bos mereka sedang hamil, karena di masa lalu Zidan, Leon, almarhum Rikko . Mereka bertiga yang paling banyak di benci dan di takuti musuh di masa lalu.
“Aku berharap tidak ada bajingan yang mengincar ku lagi. Ini sial kenapa di saat aku ingin bangkit ada saja yang mengusik hidupku,” ujar Leon.
“Tenanglah Bos, jangan sampai Ibu dan Hara, mendengar ini bisa panik nanti,” ujar Toni.
Bimo menambah pengamanan di area rumah Leon. Bahkan dari jam lima pagi, mereka semua sudah terlihat sangat sibuk menyisir sekeliling rumah, mengunakan anjing pelacak.
Bu Atin bangun mendengar suara krusuk dan suara ribut-ribut di pekarangan rumah.
__ADS_1
“Ada apa Nak Leon?”
“Oh Ibu kebangun, kata anak-anak tadi malam ada yang mengawasi rumah kita Bu.”
Wajah Bu Atin langsung terlihat gelisah, kekhawatiran akhirnya terbukti, ia tahu akan ada duri-duri yang masih menganggu perjalanan rumah tangga Leon dan Hara. Kalau mereka tidak saling menguatkan dan saling berpegangan mereka berdua akan terluka.
Setelah beberapa jam melakukan penyisiran dan penyelidikan tetapi tidak menemukan satu petunjuk. Leon dan orang-orangnya menghentikan penyusuran pagi ini.
Tetapi sebagai gantinya ia menambah penjagaan di area rumahnya, bahkan cctv di luar rumahnya ditambah lagi.
“Apa lagi ini? Apa Hara tahu ini?” tanya Bu Ati menatap Leon dengan tatapan panik.
“Jangan sampai dia ikut panik Bu, dia masih tidur, kalau bisa kita sembunyikan darinya.”
“Apa kamu sudah tahu kenapa dia marah?”
Leon menggeleng.
“Cari tahu apa penyebab dia marah padamu, kalau sudah tahu, meminta maaf dan segera berbaikan saat di seperti ini kamu dan dia tidak boleh bertengkar, jangan biarkan kesalahpahaman membuat kalian bertengkar.”
Karena Hara tidak mau bangun, Leon akhirnya pergi tanpa pamit pada Hara.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)