Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Kebahagian Masing-masing


__ADS_3

Setelah pulang dari  ziarah,  Leon  sengaja mengajak mereka untuk  mampir ke rumah. Saat tiba kembali di rumah, mereka semua menatap takjub.


Di halaman  sudah diubah jadi sebuah tempat bermain yang aman untuk anak-anak  mereka. Saat  berangkat Ziarah tadi,  Leon meminta para anak buahnya untuk mendirikan tempat bermain outdoor yang aman untuk anak kembarnya.


Tetapi mata Jovita Hara dibuat  kaget.


“Apa ini, kembangku sama ibu dikemanakan?” Tanya Hara melotot pada sang suami.


Karena halaman  depan dan samping rumah Leon, tadinya,  ditumbuhi berbagai tanaman hias, tetapi  saat itu, sudah di gantikan tempat bermain anak-anak.


“Bu, kembangnya ada …. tetapi diungsikan ke sana,” ujar Leon menunjuk sebuah  bangunan mirip castel.


“Apa kalian menumpuk di sana?” Tanya Hara protes.


“Bukan ditumpuk, tetapi si susun sampai mereka  muat,” ujar Leon mengedipkan mata pada Chelia yang terus nempel di gendongannya.


“Sama saja.  Pak Leon Wardana ….! kalian memaksanya   agar muat di sana,” ujar Hara.


“Sayang ….  kayaknya kamu sudah mengganti hobi mu, kan sudah ada anak-anak,” ujar Leon, mencoba bernegosiasi dengan hobi sang istri.


“Anak-anak tetap jadi anak-anakku Pak Leon, tidak ada hubungannya dengan kembang kesayanganku, pindahkan lagi kembangku! Aku tidak mau ditumpuk seperti itu mereka tidak bisa  bernapas,” ujar Hara, ia melotot pada Bimo, sebagai kepala keamanan rumah.


“Baiklah …. jangan marah begitu,  gak enak ada  Paman dan Bi Ina di sini,” ujar Leon ia meredakan kemarahan istri cantiknya.


Mereka semua hanya menahan senyum melihat  Leon tidak bisa berkutik dengan dua perempuan di rumahnya pada Chelia putrinya dan Jovita Hara istrinya.


Saat Hara marah, ia mengangguk pada Bimo meminta lelaki itu untuk menyusun pot-pot berisi tanaman langka itu  rapi.


Hara memang dari dulu sangat suka dengan namanya tanaman bunga, ia selalu  melihat dan merawat tanaman itu setiap hari.


Baik kali ini,  ia marah saat  sang suami memindahkan tempat tanaman- tanaman itu ke tempat lain.


Bimo dan beberapa orang rekannya kembali memindahkan tanaman bunga milik Hara, mengatur dengan baik, barulah wajah Hara kembali melunak.


Tidak lama kemudian para bayi mengemaskan itu bermain di  taman, Chelia kegirangan saat melihat banyak bola berwarna-warni, tetapi saat Leon berdiri, ingin pergi,  ia menangis, Okan mau sama siapa saja, tetapi tidak untuk baby Chelia, ia kesayangan ayahnya, selagi ia melihat Leon, ia akan terus menempel bak permen karet pada ayah tampannya.


“Hei cantik, lihat abang Jordan, Danish, Okan mereka bermain  bersama, ayah ingin mengobrol dengan nenek sama paman dulu,” bujuk Leon, ia memberikan untuk suster Ana. Tetapi bayi gembul itu tidak mau, ia hanya mau ayahnya yang selalu bersamanya.


“Makannya jangan di manjakan …. kan, jadi repot sendiri papake ,” ujar Hara meledek suaminya.


Mereka berdua memang punya perbedaan sedikit dalam hal mengurus anak. Leon, selalu menuruti dan melakukan apapun yang diinginkan kedua anak kembar tersebut. Sementara Hara ia ingin mendidik anaknya dengan cara yang disiplin, sementara Leon tidak bisa mendengar anaknya menangis walau ia sedang makan,   ia akan berhenti makan dan mengendong mereka berdua, jadi Chelia sangat manja pada Leon.

__ADS_1


Leon hanya tersenyum saat sang istri meledeknya,.


“Ibu sangat bawel iya , Dek,” ujar Leon mencium pipi  Chelia dengan gemas.


“Kenapa ayah tidak ikut main dengan mereka saja,” ujar Hara kembali becandain sang suami.


Leon hanya menahan tawa saat Hara meledeknya.


Karena Chelia tidak  mau di tinggal Leon mengendong  kembali dan duduk di sofa bersama yang lain, baru juga duduk ia meminta  ke tempat bermain lagi.  Lagi-lagi Leon menurut bahkan pakaian kaos yang ia pakai   mulai basah  karena Chelia  aktif dan tidak mau diam, ia kembali membawanya ke  tempat bermain.


“Leon tidak bisa  menolak permintaan putrinya,” ujar Piter tertawa.


“Ah, itu salah Om, dia selalu menuruti permintaan mereka berdua,” ujar Hara memajukan bibirnya  menandakan tidak suka.


Benar saja,  Leon ikut ke  tempat bermain  agar Chelia mau bermain. Setelah beberapa menit pikirannya teralihkan dengan mainan Bola, Leon keluar dari sana dengan diam-diam, ia tahu trik untuk mengalihkan perhatian putri kecilnya, jika anak yang lain  lebih akrap dengan ibu atau suster mereka, tetapi,  tidak untuk Chelia, ia lebih dekat dengan ayahnya.


Setelah lepas dari putrinya Leon meminta suster Ana yang  menggantikannya Leon  kembali ikut bergabung dengan mereka


Saat sedang mengobrol santai, Ken terlihat sangat gelisah.


“Ada apa Ken?” tanya Leon matanya menatap wajah lelaki berkulit gelap tersebut.


“Begini Bos, aku ingin membuat pengakuan,”ujar Ken.


“Setelah melihat mereka berempat, aku   berpikir sudah saatnya aku memberitahukan tentang putriku,” ujar Ken ia menatap leon dengan wajah sungkan.


“Iya katakan saja,” ujar Toni.


“Sebenarnya aku juga sudah memiliki anak,” ujarnya mengaku.


“APA?” Bu Atin terkejut, tetapi tidak untuk Leon dan Zidan.


“Lalu anak kamu di mana?” Hilda menatap dengan wajah serius.


“Ada di Bali.”


“Lalu kenapa tidak dibawa ke sini Nak?” Bu Atin ikut terkejut.


“Kami belum menikah, dia lahir di luar nikah.”


“HAA …!? Kamu jahat bangat, menghamili anak orang tetapi tidak dinikahi,” ujar Hilda.

__ADS_1


“Sebenarnya wania itu ….sebenarnya Rebeka,” ujar Ken dengan suara pelan dan kepala menunduk.


Bu Atin dan Toni melongo, mata mereka semua menatap Leon. Rebeka adalah wanita  dari masa Leon wanita-wanita peliharaan Leon di masa lalu.


“Maaf bos, tadinya kami berdua hanya bersenang-senang tetapi kami kebablasan,”ujar Ken mengaku.


“ Bos, sudah tahu Ken, sebaiknya katakan tujuan kamu,” ujar Zidan ia juga ingin membantu sahabatnya.


“Bos, sudah tahu? Baiklah aku minta maaf,” ujar Ken


“Itu  bagian masa lalu Ken, jangan pikirkan yang lain-lain, Hara pernah bilang padaku, tidak akan ada masa depan tanpa masa lalu, jadi kedua hal itu saling berkaitan, jadi, aku sudah melupakan semua masa lalau,” ujar Leon.


“Bos, tidak marah?”


“Ken untuk apa aku marah, justru aku sudah menunggumu  membawa anakmu ke Jakarta, nikahi wanita itu dan jangan biarkan anakmu jadi anak yang lahir tanpa sosok bapak,” ujar Leon, Ken sangat bahagia.


                             *


Besok paginya ia pulang ke Bali dan menjemput anak dan  Rebeka, lalu  membawa ke kampung  ke Kupang dan mereka  menikah di sana.


Leon tidak mau lagi, mereka bekerja sebagai anak buahnya,  tetapi sebagai saudara dan rekan bisnis. Zidan dan Clara kembali ke China mengurus  bisnis hotel dan restauran,  Ken kembali ke Bali sementara Toni dan istrinya ke Bandung. Leon merekrut pekerja baru lagi untuk bekerja padanya, tetapi Bimo dan Bram tetap bekerja untuk Leon.


Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2