
Hingga besok tiba, tidak ada yang mencurigakan, pembunuh bayaran itu hanya satu orang, semua aman, Piter dan Bram sudah pulih.
Beberapa hari kemudian kejadian di hotel, Hara sudah kembali ke rumah, pengawasan ketat masih di lakukan, pengawasan itu dilakukan Leon, karena belum mendapatkan kepastian siapa yang membayar pembunuh bayaran tersebut, Bianca yang mereka curigai menghilang entah kemana.
Hari ini, dijadwalkan Hara akan masuk operasi, karena luka lama di kepalanya mengalami pembengkakan ada cairan di kepala.
Kini Leon dihadapkan dua pilihan, apakah ia melakukan operasi atau menunggu Hara melahirkan, tetapi ia akan melihat istrinya sering mengalami sakit kepala. Pilihan kedua Hara melakukan Operasi dengan resiko keselamatan anak dalam rahim Hara di pertaruhkan.
“Tidak usah, biarkan aku tunggu menunggu lahiran baru melakukan operasi,” ucap Hara saat kondisinya sedang baik hari itu, ia akan tenang saat aroma terapi itu ia letakkan dan ia hirup, akan tetapi itu tidak akan mengurangi rasa sakit yang kadang datang tiba-tiba.
“Tapi, aku tidak tahan melihatmu menderita menahan sakit saat kambuh, Hara,” ucap Leon menatap dengan tatapan sedih.
“Jangan khawatir, aku ini wanita yang kuat, aku bisa menahannya sampai menunggu aku melahirkan.”
Leon memilih keputusan yang sulit, setuju dengan keputusan Hara yang menunggu hingga ia melahirkan, Leon saat ini fokus dengan kondisi Hara sampai-sampai ia harus cuti lama hingga Hara melahirkan.
Lelaki bertubuh besar itu bagai makan buah simalakama.
Saat fokus mengurus Hara, Leon akan membuat pilihan lagi yang lebih sulit dari pilihan pertama, Hara meminta ingin keluar rumah, ia merasa sangat jenuh di rumah.
Hara tidak mau dikurung dalam rumah seperti yang di lakukan Lon selama ini. Tetapi ia rasa sakit kepala itu akan semakin berkurang jika ia menghirup udara segar. Leon tidak punya pilihan lain, ia menuruti permintaan Hara membawanya jalan-jalan keluar rumah.
Tidak ingin istrinya terluka, Leon menambah anggotanya untuk menjaga Hara, dua orang penembak akan selalu menjaga empat bodyguard dan belum lagi anjing pelacak yang selalu diikut sertakan setiap kali ia keluar rumah.
“Zidan, kamu tidak usah ikut fokuslah pada istrimu,” ujar Leon.
“Tidak apa-apa Bos, Clara saat ini sering tinggal orang tuanya.”
“Biarkan saja, Ken dan Toni yang mengawal kami,” ujar .
“Baiklah.” Zidan mengangguk setuju.
Setiap kali melakukan jalan-jalan sore kehadiran Hara di taman itu selalu mengundang perhatian orang-orang karena memiliki banyak penjaga, layaknya orang yang sangat penting.
“Apa harus seperti ini, sayang?” tanya Hara tidak nyaman dengan pengawasan itu.
“Harus Hara , tolong mengerti aku,” ucap Leon dengan tatapan memohon.
__ADS_1
“Baiklah, walau aku kurang nyaman karena ada mereka tetap aku akan menikmati keindahan alam ini,” ucap Hara, menghirup udara segar pagi hari itu.
**
Tidak ingin Hara larut dalam ketakutan, untuk memberi semangat Bu Ina dan Vikky sepakat mengadakan acara tujuh bulanan untuknya, perayaan di rumah keluarga di Rumahnya BI Ina, sebagai keluarga dari Hara, tradisi tujuh bulanan, dalam adat keluarga biasanya di lakukan di pihak keluarga perempuan, maka BI Ina yang bertindak sebagai ibu.
Ibu Ina yang mempersiapkan semuanya, mengundang tetangga dan melakukan tradisi tujuh bulanan baru pertama bagi Leon, ia terlihat sangat kebingungan saat mengikuti adat Hara yang berbeda suku dengannya. Saat di minta menyuapi Leon dengan rujak tumpuk sebagai salah satu ciri khas dalam acara tujuh tumbuk sebagai ciri khas orang tujuh bulanan, wajah Leon mengkedut menahan rasa asam wajahnya meringkuk karena karena rasa asam dari rujak tumbuk itu beda dari yang saat itu ia makan.
Melihat ekspresi kecut dari ke empat, anak buah Leon yang ikut mencicipi rujak, mengundang tawa dari para tamu yang kebanyakan ibu-ibu tetangga Bu Ina. Bu Ina juga mengundang anak-anak yatim piatu dari satu yayasan yang biasa ia kunjungi.
“Nak Leon kamu harus mengunyah rujak itu jangan membuangnya,” ucap Bu Ina saat Leon menutup mata saat mengunyah rujak.
“Ini asam bangat, Bu.”
“Harus makan lakukan dengan baik .... sekarang kamu gentian beri satu suap untuk Hara,” pinta ibu Atin yang ikut datang , mengingatkan Leon dan memberikan sendok .
Leon ingin Hara merasakan rasa asam dari buah-buah mengkal yang di tumbuk itu, Leon menyendok satu sendok besar menyodorkan satu sendok ke mulut Hara, “Ini, kamu harus mengunyah dan tidak boleh membuangnya,” ucap Leon mengedipkan matanya, ia menantang mubil.
Ia membalas mengedipkan mata pada Leon. “Apa kamu tidak merasa ngilu,” tanya Leon mendekatkan wajahnya ke hadapan Hara.
“Beri aku satu sendok lagi,” ujar Hara membuka mulut Hara lebar.
Leon menatapnya dengan tatapan bingung,” Kamu masih kuat? Tidak merasa asam?” tanya Leon memastikan.
“Tidak, ini sangat menyegarkan, bukannya waktu aku hamil muda, kamu juga mengidam rujak?”
“Iya, tetapi kali ini aku kembali normal,” pungkas Leon.
Lalu Hara menyendok untuk Leon lagi, tetapi lelaki itu yang sudah merasakan giginya bergetar dan air liurnya seolah-olah akan tumpah satu ember. Leon menolak, memilih menyerah.
"Aku tidak mengidam lagi, ini asam bangat," ujar Leon.
Pada tradisi berikutnya. Leon dan Hara membawa bakul yang berisi rujak yang sudah di tumpuk. Mereka berdua harus bisa menjualnya pada tetangga Hara dan orang-orang di sekitarnya, banyak ibu-ibu yang mengerubuti Leon dan Hara. Karena melihat pesona dan wajah tampan yang di miliki Leon dan semua anak buahnya terlebih Zidan yang saat itu ikut mengawal.
__ADS_1
Para ibu juga penasaran dengan bodyguard yang semua berbadan tegap dan atletis yang selalu menjaga Hara dan Leon setiap kali bergerak, Leon tidak pernah melepaskan tangannya dari genggaman Hara, ia tidak ingin istrinya terjatuh ataupun lelah, baru jalan beberapa meter dari rumah Hara, rujak dalam bakul itu akhirnya habis laris manis faktor karena Hara dikelilingi para lelaki tampan.
Leon terlihat sangat antusias saat menghitung uang yang mereka dapat dari hasil jual rujak , ini pengalaman pertama dan menyenangkan untuknya dan semua anak buahnya . Sikap Leon sangat rama saat jualan rujak saat ada ibu membayar dengan uang recehan dan mendoakan perut Hara, ia tersenyum sopan dan mengatupkan kedua telapak tangannya tanda terimakasih, hal yang jarang ia lakukan.
Leon sangat banyak berubah sejak Hara hamil, ia lebih banyak sabar dan banyak mengalah dan dapat menerima pendapat orang lain.
“Wow …. Hasil jualannya banyak, kamu hitung dan berikan untuk Hara,” ucap Bu Ina yang selalu mengarahkan Leon.
Hara menerima hasil jualan mereka dengan tawa bahagia pengalaman pertama yang sangat berharga untuk keduanya.
" Zidan harus meminta Clara untuk melakukan seperti ini, ini seru," ujar Ken.
"Iya," Balas Zidan.
Acara bulanan Hara berjalan dengan baik dan lancar semuanya tidak ada yang terjadi. Leon bernapas lega, saat tamu sudah pulang dan ia membawa Hara istirahat.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)