
Terkadang dalam hidup ujian rumah tangga datang beruntun, hal itulah yang dihadapi Jovita Hara saat ini, jantungnya masih berdetak cepat. Tiba- tiba ada masalah baru lagi.
Telepon dari sebuah agensi tempat hara bernaung sebagai model. Hara mendapat surat peringatan karena tidak melakukan pekerjaan sesuai kontrak kerja. Hara sudah tiga kali mangkir dari jadwal syuting.
“Aduh kepalaku sakit,” ujar Hara lagi saat ia menerima surat panggilan.
“Ada apa Non?’ ada apa masalah?” Taya Bram.
“Begini yang membuat kepalaku sakit. Leon mengganti nomor ponselku dan tidak memperbolehkan ikut pemotretan. Lihat aku dapat surat somasi.”
“Lalu bagaimana Non?”
“Kak Ken tolong telepon Pak Leon jam lima sore nanti pemotretannya.”
“Tapi Non, tadi bos bilang agar kami menjaga di rumah.”
“Kak, ini darurat, pakaian itu akan launching bulan depan, sementara aku sudah menandatangi kontrak jadi modelnya. Dia desainer Terkenal, nanti namaku akan jelek.”
Hara menelepon Leon tetapi tidak diangkat, ia akhirnya menelepon Zidan.
“Bos lagi rapat penting Non, ada apa?”
“Kak Zidan bilangin Bos kalau aku mau syuting jam lima nanti iya.”
“Aduh, sebaiknya jangan dulu Non, dari tadi Bos terlihat marah.”
“Kak, kalau aku tidak ikut syuting lihat aku kirim surat somasinya, tinggal beberapa jam lagi, aku ibarat memegang sebuah Bom waktu ini Kak.”
“Tapi Bos permintaannya Non tetap di rumah.”
“Aku tidak akan apa-apa, ada Bram dan Ken menemaniku, aku dengar Bunox juga masih di Kalimantan kan, nanti jelaskan saja tentang somasinya.”
Hara mematikan teleponnya Zidan menghela napas panjang.
“Masalah lagi nanti ini,” ujar Zidan menggaruk kepala.
“Ada apa Bro?” Tanya rekan Zidan.
“ Nyonya Bos akan membuat kita dalam masalah, dia pergi syuting,” ujar Zidan.
Di rumah Leon.
“Bu, ini ada surat peringatan untuk Hara.”
“Surat apa?” Wanita paruh baya itu membaca.
“Bagaimana Bu? waktu syutingnya tinggal beberapa jam lagi, aku paling malam mendapat gosip ini dan itu di televisi, desainer ini kayak cewek dia tidak akan melepaskan ku Bu. Bagaimana Bu?”
“Telepon Leon.”
“Tidak bisa Bu, dia lagi rapat.”
“Hara, bukankah nanti jam lima kita janji sama dokter?’
__ADS_1
“Tunda dulu iya Bu.”
“Hara, Leon akan marah, dia akan berpikir kamu tidak niat ingin punya anak.”
“Ini juga kalau aku tunda, akan masalah besar nantinya Bu. Aku pergi dulu,” Hara amit keluar.
“Non, tunggu Bos beri perintah saja,’ ujar Ken memohon.
“Iya ampun kak, aku bukan bayi lagi. Kalau harus mati dibunuh di sana iya uda terima takdir saja. Semua manusia juga harus mati kalau memang sudah takdirnya …. Aku gak bisa begini terus donk di kurung kayak bebek, aku sudah sabar kak dikurung sebulan,” ujar Hara marah.
“Baiklah Non,” ujar ken menghela napas panjang, ia juga tidak bisa menolak Hara.
Tepat jam enam sore Leon keluar dari ruang rapat, wajahnya terlihat sangat dingin. Zidan beberapa kali menghela napas panjang melihat Leon datang ke arah mobil.
“Kita pulang saja Dan, aku capek bangat,” ujar Leon mengerakkan lehernya.
“Bos, tadi Non Hara telepon, dia bilang telepon Bos tidak bisa dihubungi.”
“Iya ponsel ada di hotel, rusak.”
Ternyata Leon menyadap ponsel Hara dan mendengar pembicaraan Leon dan Maxell, itulah membuatnya sangat kesal saat itu, saat dalam mobil tadi perjalanan ke hotel saat itulah Maxell menelepon.
Sampai di ruangannya di hotel ponsel berlogo apel bekas gigitan itu yang jadi pelampiasan leon, melemparnya ke tembok karena cemburu.
Mendengar ponsel Leon rusak Zidan tahu kalau sesuatu telah terjadi sama bos.
“Kenapa dia?”
“Non Bilang kalau dia pemotretan.”
Pundaknya semakin naik turun.
“Telepon Ken dan Bram aku mematahkan gigi mereka sekalian! Siapa yang jadi Bos!? omongan siapa yang mereka dengar!?”
“Baik Bos.”
Tidak lama kemudian dr Billy menelepon.
“Bos, ada telepon dari dr. Billy,” ujar Zidan.
“Halo!”
“Halo Pak Leon apa ada masalah dengan Non Hara?”
“Tidak kenapa?”
“Kenapa dia mendadak membatalkan janji dengan dr. Shena?”
“Memangnya pertemuannya hari ini?”
“Iya, Hara dan Ibu yang memilih waktunya, padahal dokternya sudah jauh-jauh datang ke rumah sakit.”
“Sampaikan permintaan maafku,” ujar Leon ia mulai panas.
__ADS_1
“Apa ada masalah Pak Leon?”
“Tidak ada,” ujar Leon ketus.
“Baiklah aku tutup teleponnya?”
Tiba di rumah Leon membuka pintu Mobil dan menutupnya dengan dengan cara membantingnya.
“Suruh Ken dan Bram melapor ke saya nanti!”
“Baik Bos,” ujar Zidan.
Leon berjalan tegas menuju kamarnya, cemburu akan selalu membuatnya ingin gila, ia menuju ruangannya.
Ia membuka laci dan mengambil ponsel yang lain lalu ia menelepon.
“Zidan hubungkan saya dengan studio pemotretan Hara, kirimkan gambar model pakaian Hara”
“Baik Bos” Zidan melakukan yang di perintahkan Leon, sementara rekannya menelepon Bra dan Ken.
Ternyata pemotretan pakaian kali ini ada yang sebagian pakaian bertemakan orang hamil, Hara berpose layaknya seorang wanita hamil, ia menggunakan perut karet untuk mendukung penampilannya. Hara berpose dengan seorang foto model lelaki sebagai pasangan.
“Apa ini? Kamu pikir lagi ngapain kamu Hara? Kamu menyakiti perasaanku, kamu menolak bertemu dokter, tetapi kamu berpose layaknya orang hamil.”
Leon melihat foto Hara selanjutnya, Leon akhirnya murka.
Pakaian Hara terbuka hal yang paling dibenci Leon.
Ia melempar laptop itu sampai hancur.
Mendengar barang pecah Bu Atin tahu kalau Leon marah.
“Aduh, aku sudah tahu kalau hal ini akan terjadi,” ujar Bu Atin memegang dadanya.
“Bu, tolong bicara sama Bos,” ujar Zidan, ia khawatir Bram dan Ken yang jadi pelampiasannya.
“Bisa apa Ibu Nak, dia akan menggila seperti itu jika urusannya sama Hara, pasti dia cemburu.”
“Aku khawatir Bos melampiaskannya pada Zidan sama Bram,” ujar Zidan.
“Baiklah ibu akan mencoba.”
Bu Atin datang ke ruangan Leon, Bu Atin mengetuk kamar Leon.
“Masuk Bu.”
Wanita itu hanya duduk dan melihat laptop Leon terlempar di lantai dan masih menyala, dalam layarnya terlihat Hara berpose berpakaian seksi.
“Dia dapat surat peringatan, karena nomornya tidak bisa dihubungi, dia bilang dia tidak mau dapat komentar-komentar jelek di televisi dan dia tidak mau komentar jelek itu dikaitkan denganmu, dari pada masalahnya semain merembet kemana-mana, ia berangkat setengah jam sebelum pemotretan.”
“Bu! lihat dia berpakaian seksi dan ada foto dia sama lelaki, dia sudah jadi istriku Bu, istri dari Leon Wardana!”
“Hara hanya bersikap profesional Leon, sebagai model,” ujar Bu Atin. “Leon jangan biarkan gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga,” ujar Bu Atin meninggalkan kamar Leon. Leon duduk melihat surat pemangilan itu .
__ADS_1
Bersambung