
Saat dokter Billy meninggalkannya mereka, Leon hanya diam, dadanya kian bergejolak. Di satu sisi ia benci pernikahan dan tidak mau terikat dalam satu hubungan. Tetapi sisi lain apa yang dikatakan Billy membuatnya resah.
Leon hanya diam tanpa mengucapkan apapun, ini semua tidak terduga baginya.
Hingga Dokter pulang setelah menjelaskan banyak hal tentang pemikirannya dan ia juga bercerita tentang bahaya yang akan mengincar Jovita kalau ia tidak menjaganya.
Leon duduk di samping ranjang, matanya menatap wajah cantik Jovita. Dari mata, hidung, pipinya yang putih mulus, hingga matanya berhenti di bibir mungil berwarna pudar tersebut.
Leon memukul kepalanya saat tiba-tiba bayangan saat kejadian di villa di Bogor tiba-tiba melintas di benaknya, bagaimana ia menikmati bibir manis itu dengan begitu bersemangat, tanpa beban, tanpa merasa bersalah karena Jovita sendiri yang menyerahkannya dengan suka rela, demi menyelamatkan dirinya, dari siksaan hasrat yang terbakar.
"Aku tidak ingin kamu terluka lagi," bisiknya pelan.
Ia menyelimutinya dan mengusap rambutnya dengan lembut, ia tidak ingin Jovita melakukan balas dendamnya lagi, melihatnya terluka seperti ini, banyak hal yang ia sesali dalam hidupnya. Tadinya ia ingin melupakan masa lalu dan ingin hidup lebih baik, makanya ia lebih banyak menerima proyek belakangan ini.
Setelah larut malam, ia membaringkan tubuhnya di samping Jovita, setelah tidur nyenyak saat menjelang pagi Jovita bangun.
Sepertinya, efek obat penghilang rasa sakit itu sudah hilang. Jovita terbangun meringis kesakitan, ia memegang Tangannya yang terluka.
Mendengar ada suara meringgis Leon terbangun dengan sikapnya yang sangat perhatian, ia bangun menyodorkan segelas air putih padanya.
“Apa kamu merasa sakit?”
“Iya”
Menahan sakit, Jovita ingin bangun. Tapi tangan Leon menahan pundaknya menekannya agar tetap duduk,
“Tetaplah di sini jangan kemana-mana, lukamu sangat parah, kamu tidak mengobatinya, ia sudah mulai infeksi, istirahat saja di sini nanti, baru kamu turun ke kamarmu dan sepertinya banyak hal yang ingin kita bicarakan,” ujar Leon
“Apa yang kamu lakukan pada mereka? Apa kamu menghabisi mereka?” Mata Jovita berkaca-kaca,
“Baiklah, kamu belum makan, aku sudah menyuruh bibi untuk menyiapkan serapan untukmu, tunggu saja,”ujar Leon menghiraukan pertanyaan Jovita.
“Pak Leon ... saya bertanya. Apa yang kamu lakukan pada mereka?” tiba-tiba Jovita menangis terisak-isak. “ Itu salahku tidak seharusnya aku menyuruh mereka membantuku , saya menyesal. Tolong jangan hukum mereka”
Tidak tahan melihat Jovita menangis ;
“Mereka baik-baik saja”
Tangisan itu langsung berhenti, mata besar berbulu lentik itu mengerjap-erjap menatap Leon dengan tatapan tidak percaya.
“Benarkah, apa mereka baik-baik saja?” Jovita menatap penuh harap.
“Selagi kamu berbuat baik di sini, mereka juga akan baik-baik saja, sekarang katakan padaku luka di tanganmu gara-gara apa?”
__ADS_1
“Aku belum bisa mengatakannya, nanti suatu saat kamu akan mengetahuinya sendiri, untuk saat ini, biarkan dulu seperti ini,”ujar Jovita. Mata Jovita menatap Leon dengan tatapan kasihan karena mereka berdua bernasib sama. Sama-sama yatim piatu dengan orang yang sama. Namun Leon lebih malang otaknya di cuci dan dimanfaatkan.
‘Aku khawatir padamu Pak Leon bagaimana nanti kamu menghadapi ini … Jika kamu tahu orang yang kamu anggap berjasa dalam hidupmu , justru memanfaatkan dirimu’ Jovita membatin menatap Leon dengan tatapan dalam.
“Ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Tanya Leon menatap wajah Jovita.
Tidak lama kemudian,
Bi Atin membawa nampan ke depannya membawa makan malam tetapi melihat menu makan membuatnya tidak berselera, ia memintanya di bawa ke dapur kembali.
“Aku tidak selera Bi”
“Rasa sakit di tanganku lebih kuat daripada rasa lapar”
“Kamu harus makan setidaknya makan Roti.” Tatapan Atin selalu menatap perutnya dengan curiga, membuat Jovita harus mengalihkan wajahnya.
‘Kenapa Bibi selalu menatapku aneh seperti itu’ Jovita membatin.
“Baiklah Bi saya makan rotinya saja”
Bu Atin meninggalkan kamar itu lagi.
“Sekarang aku siap untuk mendengar ceritamu,” ujar Leon menatapnya dengan jarak dekat.
“Cerita apa Pak Leon saya tidak punya cerita yang ingin dibagi setidak tidak untuk saat ini"
Jovita lagi-lagi menatapnya dengan tatapan mendominasi, ada rasa sesak yang menumpuk di dadanya.
Ia tidak tahu bagaimana caranya ia menceritakan bagaimana Boyko ayah angkat yang ia hormati pembunuh keluarganya yang sesungguhnya.
Jovita senang karena akhirnya ia bisa membuktikan kalau ayahnya bukanlah pembunuh seperti yang di katakan Leon selama ini. Ia enggan untuk menjawabnya ia diam. Baginya ini terlalu dini memberitahukannya, ia ingin menangkap sendiri otak di balik kematian orang tuanya. Namun karena Leon terus memaksa ....
“Apa kamu tidak ingin memberitahukannya? Apa kamu terlibat hilangnya anak buah Bokoy?” Mata Jovita menatap tajam kearah Leon, s ia kaget saat Leon sudah mengetahuinya.
“Kamu sudah mengetahuinya?” Tanya Jovita kaget.
“Jadi benar, kamu terlibat, jadi benar luka kamu karena malam itu?”
“Iya, benar kami yang melakukannya , puas rasanya saat orang yang menghabis kedua orang tuaku, akhirnya mati juga walau bukan tangan ini yang menghabisinya langsung. Namun melihatnya mati …. Ah sudahlah.” Jovita menunduk.
“Kenapa kamu begitu yakin?” tanya Leon ia mulai ikut penasaran.
“Malam itu, saat kedua orang tuaku di habisi, kamu ingat kan, saya bersembunyi di balik sofa, saya melihat lelaki lengan bergambar kepala macan dan satu lagi lelaki bertubuh tinggi memakai cincin tengkorak, mereka akhirnya mengaku.”
“Saya ingin katakan pada Bapak dan ingin membuktikan padamu, kalau bukan ayahku yang melakukan pada keluargamu, kamu ingin mendengar rekaman ini, ini dengarkan!”Jovita meminjam laptop Leon malam itu ia sudah mengirim semua rekaman itu ke email-nya karena saat merekam menggunakan ponsel milik Piter.
__ADS_1
Wajah Leon menegang .
“Pengakuan apa?”
“Bapak dengarkan sendiri dan nilai sendiri”
Sebuah rekaman pengakuan anak buah Bokoy dan tujuan menghabisi ayahnya karena Iwan Santosa, tahu rahasia besar Bokoy dan ingin mengungkapnya.
Leon terdiam pengakuan itu membuat bagai tersambar petir di siang bolong ia terlihat shock.
"A-Apa ini!?"
“Jadi kesimpulannya kematian orang tuaku dan yang melakukan itu pada keluargamu adalah dia, Bokoy lelaki yang kamu anggap ayah angkat mu dialah yang menggusur rumahmu,” ucap Jovita degan serius.
“Saya sudah bilang ayahku hanya kontraktor Pak Leon ....! Bokoylah ownernya dan ia yang menggusur keluargamu, tadinya semuanya baik-baik saja.
Tetapi belakangan, setelah kamu dewasa dan terus mencari pelaku yang menggusur rumahmu, ia membuat alibi, kalau pemilik bangunan itu adalah Ayahku dan semua atas nama ayahku. Padahal milik Bokoy.
Ayahku terlalu baik dan terlalu percaya pada orang lain, tanpa ia tahu Bokoy menjadikanya umpan untuk kamu buru.
Hari itu, ia menelepon mu, ingin memberitahumu, kalau Bokoy yang melakukan itu pada keluargamu. Namun dia keburu dibunuh.
Saya bisa menemukan satu petunjuk penting karena lelaki gondrong yang menculikku saat itu, bilang pelakunya pemilik bintang.
Saya sungguh kesulitan dengan julukan sang pemilik bintang hingga akhirnya saya menemukan Star Hotel atas namamu yang baru-baru ini dia hadiahkan untukmu. Rumahmu yang di gusur dulu, dijadikan hotel dan sudah milikmu saat ini 'Star Hotel'
Ayah berniat menceritakan kebenarannya padamu . Namun sebelum itu terjadi, malam itu Bokoy menghabisi keluargaku”
Mata Leon menatap dengan nanar, ia mundur sempoyongan, ia tidak percaya orang yang ia cari selama ini ada di dekatnya. Ia mencarinya sepanjang hidupnya. Rasa marah dan dendam yang ia simpan selama ini, ia lampiaskan pada orang yang salah.
Ingatannya kembali melintas, saat ayah Jovita menyebut 'Pemilik Bintang' sebelum ajal menjemputnya malam itu, ternyata ayah Jovita ingin memberitahukan petunjuk pelakunya.
Leon sangat kaget dan terpukul matanya menatap kosong, shock , tidak terpercaya dan tidak tahu harus berkata apa. Bukti yang ditunjukkan Jovita begitu lengkap.
Bersambung ….
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)