
Menikah dengan Hara membuat hidup Leon jadi berwarna, tetapi lelaki yang selalu terlihat serius itu, akan belajar banyak menghadapi sifat sang istri . Sifat keduanya sangat berbeda, Hara yang selalu bersikap ceria , tetapi suaminya kebalikannya. Leon sudah terbiasa bersikap tegas, hidup dengan situasi tenang dan hening.
Tetapi saat menikah dengan wanita pilihannya, semuanya berubah, Hara sering sekali membuat merasa kesal karena istrinya sering bercanda.
Baik pertengkaran kecil diantara mereka kali ini. Leon ingin istrinya bergantung padanya, ia ingin memliki hidup wanita itu sepenuhnya, ia ingin tahu apa yang dikerjakan, apa yang ia makan, apa yang pakai, ia terlalu berlebihan menjaga dan mencintai istrinya. Banyak hal yang sudah berubah dari Leon, hanya satu yang sulit ia ubah dalam hidupnya, sikap cemburu. Leon selalu cemburu baik dalam hal kecil sekalipun.
Sementara Hara wanita yang punya sikap mandiri, ia tidak ingin hidupnya bergantung pada orang lain walaupun itu suaminya sendiri.
Ia ingin mencintai secukupnya, tetapi, tidak ingin mengantungkan hidup sepenuhnya pada sang suami. Pahit jalan hidup yang di jalani Hara semenjak ditinggal kedua orang tuanya dan dikhianati tunangannya, karena itulah, ia tidak mau mengantungkan hidupnya sepenuhnya pada Leon.
Setelah perdebatan kedua dalam mobil hari itu, ternyata Leon masih marah, ia keluar dari mobil dan berjala dalam kamar.
“Makasih Kak Ken,” ujar Hara ia menyusul sang suami naik ke lantai atas.
“Iya Non.”
“Apa Bos akan bertengkar dengan Nona Hara?’ Tanya Bram.
“Tenang, Nona Hara akan menjinakkannya,” ujar Ken.
Leon kalau biasanya ia marah akan meledak-ledak, kalau tidak akan ia akan minum banyak, tetapi untuk menghadapi kelakuan Hara kali ini ia memilih diam, walaupun Hara bercanda, ia memilih diam.
Tiba di rumah masih siang, ia masuk ke ruang kerja, ruangan di sebelah kamar mereka. Hara tahu kalau suaminya marah beneran, ia lebih memberi waktu untuk Leon.
Hara tahu kalau ia memaksa Leon akan semakin murka, ia memilih turun menemui Bu Atin mengobrol santai.
Tetapi ada saja godaan iman untuk Hara setiap kali mereka berdua bertengkar atau Leon mendiamkannya. Baik Kali, saat duduk santai tiba-tiba sebuah pesan masuk ke nomor Hara dan itu nomor Maxell.
Dug ….! Dug ….!
"Maxell? '
Jantung Hara berdetak cepat, ia melirik ke atas gorden jendela ruang kerja Leon tersingkap, itu artinya suaminya bekerja dari sana. Ia diam untuk menenangkan jantungnya, memasukkan ponsel ke kantung celananya.
Tidak lama kemudian Leon turun, tangan Hara semakin gemetar, ia diam.
"Ibu aku mau ke kantor lagi."
Hara masih diam, biasanya ia bercanda setiap kali Leon pamit bekerja, tetapi kali ini, ada yang berubah, ia gugup seperti pencuri yang takut ketahuan.
'Ada apa dengannya? kenapa wajahnya merah begitu, ada yang dia sembunyikan ?' tanya Leon dalam hati.
"Hara."
__ADS_1
"Iya!" Ia terkejut.
"Dengar.... Jangan ke mana-mana, di rumah saja sama Ibu."
"Iya baik,"jawab Hara
Leon semakin curiga, biasa Hara akan protes kalau diminta di rumah, kali ini ia. menjawab dengan asal.
" Baiklah aku pergi."
Lagi-lagi Hara hanya mengangguk.
Leon berangkat lagi.
Tiba-tiba Maxel menelepon.
‘Maxell …? Dari mana dia tahu nomorku? bukankah Leon sudah mengganti nomorku?’
“Bu Bentar iya ada teman,” ujar Hara .
Ia berjalan menjauh menuju pinggir kolam renang.
'Ada apa? kenapa? Maxell menelepon'?
Hara menekan tombol berwarna hijau.
“Halo Hara ….!”
“Hara apa ini adil bagiku ….? Kata Om Piter, aku diminta melupakanmu, aku ingin kita bicara baik-baik Hara.”
“Kak Maxell aku minta maaf, aku sudah menikah dengan Leon.”
“Lalu aku bagaimana Hara ….? Apa salahku?”
“Aku minta maaf Kak, aku berharap Kak Maxell menemukan wanita yang lebih baik.”
“Aku tidak tahu apa aku bisa mendapatkan yang lebih baik darimu Hara, aku ingin bertemu kamu Hara, banyak hal yang harus aku utarakan padamu, Mami sangat sedih.”
“Kak Maxell, kamu lelaki yang sangat baik dan keluargamu sangat baik, mari kita saling melupakan untuk kebaikan kita berdua.”
“Hara berikan aku kesempatan untuk bicara.”
“Aku minta maaf Kak,” ujar Hara memelas berharap Maxell tidak meneleponnya lagi.
“Hara, aku tidak mengharapkan apa-apa hanya ingin bertemu, untuk mengembalikan cincin lamaran . Hara, kalau kita tidak berjodoh tidak apa-apa, tapi kita biasakan bicara."
__ADS_1
“Aku minta maaf Kak Maxell, aku tidak bisa. Sungguh! Nanti, Leon akan marah besar padaku jika aku melakukan itu.”
“Kalau begitu aku yang akan datang ke rumahmu, aku hanya ingin penjelasan yang real. Karena sampai sekarang aku masih belum percaya kalau kamu sudah menikah, padahal keluargaku sudah mempersiapkan semuanya Hara. Lalu bulan lalu Om Piter dan Bu Ina datang minta maaf dan mengatakan kalau kamu sudah menikah dengan Leon, aku bingung. Kenapa? Kenapa....?"
Hara diam rasa bersalah menyelimuti perasaanya.
“Aku hanya bisa menyampaikan kata maaf pada Keluarga dan padamu Kak Maxell.”
“Ini tidak adil bagiku Hara, kamu tahu bagaimana perjuangan Papi untuk menyembuhkan matamu , memberimu tempat tinggal, bahkan memberimu karier. Apa ini pantas untuk mereka? Kasihan ibu menangis terus karena hal ini.”
Hara diam, ia sungguh bingung harus mau ngomong apa.
“Kak … aku bingung harus ngomong apa lagi, aku minta maaf.”
“Hara, kamu tahu kan kita pernah berjanji jika ingatanmu pulih, kamu tidak akan meninggalkanku, kamu berjanji jika kamu mengingkarinya kamu akan mendapat hukuman.”
“Kak Axell mengutuk pernikahanku?”
“Hara, aku tidak mengutuk, kamu yang membuat janji saat itu, baik kamu atau aku akan mendapat dampaknya. Maka itu ayo kita bertemu dan mengembalikan cincin lamaran kita masing-masing. Aku datang ke Jakarta atau kamu yang datang ke Jepang pikirkan dan hubungi aku kembali.” Maxell menutup teleponnya.
Hara tiba-tiba terdiam ia bingung.
Keluarga Maxell keluarga yang sangat baik, menyembuhkan mata Hara, membantu kariernya hingga ia bisa jadi seorang model.
Mendengar Hara tiba-tiba sudah menikah membuat keluarga Maxell sangat terpukul, terlebih Maxell sendiri karena ia sangat mencintai Hara, dokter tampan itu merasa sangat dikhianati.
“Apa yang harus aku lakukan? kalau aku bicara sekarang sama Leon pasti ia sudah marah mendengar ini, ia pasti akan bertambah murka.”
Hara bingung harus melakukan apa. Hara menemui ibu mertuanya.
“Ada apa Hara?”
“Bu, kalau .... Maaf Bu tidak jadi,” ujar Hara ia tidak ingin Bu Atin bertambah beban pikiran.
Hara keluar dari kamar Bu Atin , ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Piter.
“Ada apa Hara?”
“Om, Maxell tadi meneleponku dia minta bertemu.”
“Lalu apa yang kamu katakan?"
"Aku belum bilang apa-apa Om.”
“Hara sebaiknya bicara apa adanya sama suami,” ujar Piter. Ia tidak ingin Hara mendapat masalah.
"Om keluarga Maxell keluarga yang baik, kita harus bicara baik-baik pada mereka."
__ADS_1
"Hara, Om tahu, tetapi Leon akan mengamuk jika kamu bertemu, tanpa sepengetahuannya."
BERSAMBUNG.