Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Nyaris Celaka


__ADS_3

Leon masih ada di hotel, niatnya hanya ingin menyelesaikan masalah agar Hara tidak punya beban pikiran lagi.


“Kamu tidak sedang cemburu lagi padaku kan?” Tanya Hara saat Leon menjaganya dengan begitu ketat saat di hotel.


“Ini bukan tentang cemburu Hara .... Ini tentang keselamatan mu, aku merasa tidak tenang, kita pulang saja” ujar Leon tiba-tiba ia merasa tidak tenang, setelah mengumumkan pernikahannya ke publik.


“Kamu yakin bukan karena cemburu?” Tanya Hara lagi.


“Bukan, aku takut ada orang yang berniat jahat,” ujar Leon menatap kanan- kiri.


“Kita pulang saja Zidan siapkan mobil,"ujar Leon.


“Iya,  tapi aku ke kamar mandi dulu …. Perutku mules mungkin masuk angin, tunggu sebentar.” Hara bergegas.


“Jangan lama-lama, Iya,"


“Iya, tidak lama hanya sebentar” ucap Hara memegang perutnya.


“Baiklah pergilah, aku akan mengobrol dengan mereka dulu,” Leon memberi kode pada Bram untuk. mengawasi Hara dari jauh.


“Baiklah” Hara berjalan.


Ia berjalan kearah kamar mandi, tetapi saat di sana bertemu Tiara.


“Hara, Nyonya bos! iya ampun apa kabar, aku merindukanmu,” Ucap Tiara memeluk  sahabat yang kini sudah jadi istri sang bos. Tidak ada yang berubah Hara tetap ramai, ceria dan akrap, mengobrol santai di kamar mandi.


“Aku juga sangat merindukan kalian semua,” Hara membalas pelukan mantan rekan kerjanya.


"Hara, kamu sudah nyonya Bos, ajak dong kami ke rumahmu," ujar Tiara.


"Boleh, kapan kamu libur kabarin aku saja, nanti kita masak-masak sam Ibu mertuaku, aku tidak boleh kerja sama Ibu dan Sama Leon, aku senang jika kalian datang," ujar Hara.


"Eh, enaknya jadi Nyonya Bos," ujar Tiara heboh


Tenyata kehebohan Tiara karena rasa senang atas kebahagiaan sahabatnya, membangunkan iblis dari kamar mandi, seseorang yang menaruh dendam pada Leon. Ingin melakukan hal jahat pada Hara.


Dihinggapi rasa iri dan  cemburu penyakit besar seorang wanita , apa lagi  melihat orang lain lebih sukses darinya, rasa iri itulah membuat  seorang pegawai hotel gelap mata. Saat Hara  duduk dan saling bercerita, ia tidak menyadari ada iblis betina yang mengincarnya di dalam toilet. Bram hanya melihat dari jauh karena ia berpikir Hara masuk ke dalam toilet.


Wanita itu Nani  mantan atasan Hara yang memiliki dendam dengan Hara, wanita yang pernah ingin dipecat Leon karena sering  bergosip tentang Hara.  Namun, Hilda menyelamatkannya, ia hanya diturunkan jabatannya tidak jadi dipecat. Tetapi rasa sakit hati pada Hara dan Leon masih membekas, saat ia mendengar Leon sudah menikahi Hara  beberapa bulan Lalu, ia menyebarkan gosip yang menyudutkan Leon.

__ADS_1


Ia menyebarkan gosip Leon membatalkan  hari pernikahannya dengan Bianca  dan menikahi selingkuhannya Hara, ia juga bilang  gara-gara hal itulah Bianca masuk rumah sakit jiwa. Fitnah yang keji.


Leon tidak ingin membuat masalah semakin buruk, karena itulah ia datang dengan Hara untuk mengklarifikasi masalah tersebut ,  ia membawa Hara  datang ke  hotel, agar semuanya tahu kalau Haralah istrinya , istri satu-satunya, ia berharap semua karyawannya berhenti bergosip tentang keluarganya, ia tidak ingin istrinya banyak pikiran. Tetapi  niat baik  nyaris membuat Hara kehilangan nyawa karena Leon banyak musuh.


Leon , tadinya sudah  merasa ada  bahaya , karena itulah ia meminta Zidan, Ken, Bram dan Vincen  berjaga.


Sebelumnya  ia juga menelepon Haris yang berjaga di Kalimantan,  Haris mengatakan kalau Bunox masih di Kalimantan.


Tetapi saat Leon sedang  mengobrol dengan  tamu  hotel, tiba-tiba suara teriakan mengagetkan mereka.


“Aaa …. tolong!”


“Haraa ….?”


Leon  berlari menuju toilet wanita, di ikuti Bram dan Ken yang berjaga tidak jauh dari Leon.


Mata mereka melotot tajam melihat pemandangan yang mengerikan, seorang wanita terkapar di lantai dengan kepala terluka parah sebuah pot bunga menimpah kepalanya darah segar membanjiri lantai.


Tiara terkapar  di lantai dengan kepala terluka, wanita itu tadinya ingin mencelakai Hara menjatuhkan pot bunga dari bilik kamar mandi ternyata Tiara yang kena.


Leon meraih tubuh Hara dan memeluknya dengan erat.


“Tidak apa-apa sayang. Tidak apa-apa... aku di sini untukmu .” Leon memeluk Hara erat dan membawa ke pala ke dadanya.


Leon menutup wajah Hara agar tidak melihat genangan darah di lantai.


“Tidaka apa-apa kita pergi dari sini” Tubuh Hara  gemetaran menyaksikan kejadian tragis di depan matanya.


Hara terpaksa di beri suntikan obat penenang karena tubuhnya menggigil.


Mungkin kalau hanya kecelakaan biasa, Hara tidak takut. Namun, jika sudah bersimbah darah dan terkapar itu akan mengingatkannya pada keluarganya. Tubuhnya menggigil  dengan wajah pucat berkeringat.


“Hara akan seperti ini kalau ia sudah melihat orang  bersimbah darah,” ucap Piter.


“Bram dan Ken kalian bantu jaga Hara di sini,  aku akan ke kantor polisi.”


“Baik Bos,” ujar Ken, mereka semua kecolongan karena penjahatnya  seorang pegawai hotel.


Leon   menyusul Zidan ke kantor Polisi, ingin tahu apa motif karyawannya  mengincar Hara, Leon tidak boleh lalai sedikitpun, karena ia sadar, Leon banyak musuh yang membahayakan keselamatannya dan istrinya.

__ADS_1


Tindakan nekat karyawannya membuatnya  berpikir kalau ada orang yang tidak menyukainya.


Dalam ruangan penyelidikan seorang polisi menginterogasi. Zidan dan Vincent dengan cepat menangkap pelakunya dan membawanya ke kantor polisi, tidak lama kemudian Piter  datang menyusul.


Namun, Piter, Leon  menyadari ada yang  tidak biasa dari wanita itu, saat diperiksa polisi,  ia tidak sedikitpun merasa takut ataupun bilang menyesal.


“Aku hanya dendam pada wanita itu,  kenapa bos  lebih memilih dia dari sekian perempuan cantik di hotel,” ujarnya mencari alasan.


“Kenapa kamu keberatan jika bosmu memilih wanita itu?” tanya polisi.


“Tentu saja saya keberatan, gara-gara dia saya hampir dua kali dipecat,” kilahnya tanpa ada raut penyesalan.


Leon terlihat  tenang mendengar setiap penuturan wanita gila itu, malah Hilda yang terlihat sangat emosi.


“Selidiki keluarga kedua orang ini, saya curiga ada seseorang di balik tindakan nekatnya,” bisik Leon pada  Vincen.


“Baik Bos.” Ia  meninggalkan kantor polisi.


“Wajahnya terlihat sangat tenang tidak ada rasa bersalah maupun rasa takut,  menurut pikiranku ada dalang besar di belakangnya, kamu harus hati-hati Pak Leon, aku tidak tahu  musuh  dari mana yang  keluar lagi  sekarang,” ujar Piter. Ia sangat takut kalau Hara terluka lagi.


“Ada yang mendukung? Tapi siapa?” tanya Hilda mimik wajahnya terlihat serius. “Benar juga, kalau dipikir-pikir sebagai seorang wanita diseret ke kantor polisi,  itu sudah satu hal yang menakutkan. Namun,  bagi perempuan itu, dia tidak tampak takut, terlihat santai padahal kejahatan yang dilakukan sudah sangat fatal, karena hampir menghilangkan nyawa orang lain,” ucap Hilda  merasa bersalah  karena tidak memecatnya saat itu.


“Ayo kita pulang, serahkan semua pada polisi,” ucap Leon  meninggalkan kantor polisi, sebelum ia masuk ke dalam mobil, matanya mengawasi sekitar,  ia berpikir ada orang lain yang mengawasinya.


“Ada apa Pak?” tanya Hilda ikut melihat sekitar mereka.


“Saya bisa  merasa ada seseorang mengawasi kita.”


“Saya tidak  melihat ada yang mencurigakan pak, kita pulang saja,” ujar wanita cantik itu mengajak bosnya masuk ke dalam mobil.


Ia  menelepon Ken dan Bram yang menjaga Hara di dalam hotel, meminta mereka menjaga Hara lebih ketat.


"Inilah salah satu yang aku takutkan padamu selama ini Pak Leon, banyak orang yang tidak suka sama kamu dan ujung-ujungnya menjadikan Hara sasarannya, untung dia selamat hari ini, kalau tidak bagaimana? Tanya Piter.


“Zidan kumpulkan semua orang-orangmu, tambahkan penjagaan di rumah."


“Baik Bos.”


"

__ADS_1


Bersambung …


Bantu Vote like komen iya Kakak


__ADS_2