
NB. Lagunya yang dinyanyikan Hara khusus request dari Kakak @syalala. Semoga berkesan
Leon menunggu Jovita Hara bernyanyi dengan gelisah
“Apa masih lama?” Tanya Leon pada Hilda yang berdiri di belakang meja, wanita cantik itu melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.
“ Lima menit lagi Pak,” ujar Hilda pelan.
Leon menarik dasi yang terasa mencekik lehernya dan meneguk air dalam gelas. Ia merasa sangat gugup terakhir ia melihat Hara saat wanita cantik itu, salah masuk ke kakamarnya, tidak lama kemudian.
Hingga akhirnya yang tunggu akhirnya muncul, ia menolah saat tepuk tangan dari tamu yang datang riuh menyambut Hara.
Ia naik ke panggung di papah seorang petugas hotel, tetapi kali ini Hara tidak tampil sendiri, dan penampilannya juga saat berbeda kali ini, ia sangat cantik dengan gaun pilihan Hilda, seorang pianis ikut andil menemaninya untuk tampil kali ini, biasanya ia hanya sendiri yang bernyanyi menggunakan gitar, tetapi kali ini Hilda membawa satu rekan untuknya … karena penampilannya kali ini, dapat undangan dari tamu spesial.
Awalnya mereka bergembira saat Hara membawakan beberapa lagu hasil request para tamu. Namun di pengunjung acara, Hara memberikan kata penyambutan.
“Terimakasih untuk semua untuk tepuk tangan yang meriah ini, terimakasih untuk bapak dan ibu, saya yakin ibu-ibu wanita yang cantik dan bapak-bapak lelaki yang tampan”ujar Hara tangannya meraba ke depan, ingin menggeser tiang mikrofon dan seorang petugas hotel berlari sigap, membantunya menggeser tiang mick dan membantu menurunkan dari kursinya yang tinggi.
“Maaf bila pertunjukkan saya kurang nyaman di lihat, karena saya hanya seorang gadis buta,” ujar Hara menunduk kepala sedikit tanda minta maaf.
“Cantik bangat. Apa benar dia buta?”Tanya seorang ibu-ibu yang duduk di samping Leon.
“Kasihan sekali iya padahal dia cantik bangat ,” ujar seseorang yang duduk di meja depan Leon lagi.
Leon merasakan rasa nyeri di ulu hatinya, tangannya terkepal dengan kuat di bawah meja.
Seketika ruangan itu menjadi hening, saat Hara mau menyanyikan lagu terakhirnya. Karena sebagian dari mereka tidak menduga wanita cantik bersuara bagus, seorang wanita buta
“Sebagai penutup saya ingin menyanyikan dua lagu untuk seseorang yang telah meninggalkanku dan inilah isi hatiku saat ini untuknya, saya tidak pernah menduga dia akan pergi dariku dan meninggalkanku sendiri,” ujar Hara.
Sebenarnya lagu itu ditujukan untuk Toni yang pergi meninggalkan Indonesia, tetapi siapa sangka, lagu itu mencabik-cabik hati seorang Leon Wardana.
Ini namanya kelinci yang dilempar tetapi kucing yang mengeong.
Lagu pertama Hara menyanyikan lagu Mandarin
Mei You Ni Pei Ban Zhen De Hao Dan
(Tanpa Dirimu Disisi , Sungguh Sangat Kesepian)
Lagu pertama yang ia nyanyikan membuat suasana mengharu biru, walau sebagian para tamu tidak mengerti artinya, tetapi mendengar lirik saja sudah sangat menyentuh sampai ke ulu hati, belum lagi Hara sangat menghayati saat menyanyikannya.
Tetapi percayalah Leon sangat mengerti arti dari lagu Hara, karena lelaki bertampang dingin itu pernah tinggal di China dan sekolah bisnis di sana, saat mengawasi bisnis narkoba milik Bokoy. Jadi apa yang dinyanyikan Hara . Leon mengerti, mata Leon berkaca-kaca saat Hara menyanyikan lagu itu, ia mendongak kepalanya ke atas sebelum air matanya tumpah.
Tidak cukup sampai di situ … Hara menyanyikan lagu terakhir, ia memilih lagu berbahasa Inggris, Hara berpikir apa yang ia sampaikan lewat lagunya dapat dimengerti semua tamu yang datang.
__ADS_1
Lagu terakhir;
Nothing’s gonna change my love for you
(Takkan ada yang bisa mengubah rasa cintaku padamu)
Lagu inilah yang membuat Leon merasa dadanya di pukul pakai batu besar, awalnya ia masih menahan diri, tetapi saat layar besar di sampingnya menampilkan kalau si cantik Hara menangis menyanyikan lagu tersebut. Pertahanan Leon akhirnya runtuh, ketika matanya melihat kalung yang di pakai Hara memakai gantungan cincin pertunangan mereka.
Seketika bayangan Leon saat ia melamar Hara tiba-tiba melintas di benaknya, hari di mana ia melamar Hara dan bagaimana ia dengan susah payah mengungkap kata cinta pada Hara, bagaimana mereka berjuang melewati masa sulit bersama.
Tiba-Tiba Leon merasa pusing dan ingin muntah, lalu ia berlari ke kloset kamar mandi. Di sana ia menangis penuh emosional, sampai ia memuntahkan semua isi perutnya, tubuhnya menggigil dan dia pingsan di kamar mandi.
Saat ia terbangun sudah di ranjang hotel.
“Bapak sudah bangun?” Tanya Bram yang mendekat.
“Jam berapa sekarang?” Tanya Leon.
“Jam dua pagi Pak”
“Hara … ?”
“Oh, Non Hara sudah pulang tadi pak saat selesai manggung ibunya dan ayahnya menjemput”
“Baik, itu bukan ibunya, mereka pembantunya,” ujar Leon menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan ia bangun dari ranjang.
Bram hanya mengangguk kecil.
*
Tadi setelah selesai membawakan lagu penutup Hilda membawanya Hara ke ruangannya.
Hara berterimakasih dan bergegas ingin pamit.
Hilda memberikan amplop tebal untuknya yang dipesan Leon untuk diberikan pada Hara, saat meraba amplop ditangannya mata Jovita Hara memutar terlihat bingung, karena amplopnya terlalu tebal.
“Itu bonus dan gaji kamu selama bekerja”
“Tapi boleh aku tahu nominalnya? sepertinya terlalu banyak”
“Itu hanya sepuluh juta”
“Haa…! bukan kah itu terlalu banyak Bu, dalam perjanjiannya kerja, aku hanya di bayar 400 ribu sekali manggung dan aku baru dapat gaji beberapa hari lalu, saya pikir ini terlalu banyak.” Ia merasa takut.
“Tidak apa-apa, anggap saja itu gaji kamu di bayar dua kali lipat, tadi tamu yang mengundang kamu ia juga memberikan amplop ini, mereka sangat tersentuh dengan lagu-lagu yang kamu bawakan,” ujar Hilda.
“Terimakasih Bu”
“Baiklah kita bisa selang –seling saja iya waktunya manggung untuk kamu, agar tidak terlalu capek, saya akan atur waktu dan jadwal ulangnya nanti,”ujar Hilda. Raut wajah Jovita bersemangat.
__ADS_1
Saat mengobrol dengan Hilda Bu Ina menelepon karena wanita paruh baya itu tiba-tiba kehilangan Hara, saat ia mengejar lelaki yang mirip Leon tadi.
“Non kamu di mana? Bibi dari tadi mencari kamu di sini,” suara Bi Ina diujung telepon.
“Aku di atas Bi, di ruangan Bu Hilda, aku turun, tunggu aku di Lobby”
“Mari saya bantu bertemu ibunya” Hilda menuntun tangan Jovita, tapi saat turun tubuh Leon di gotong melewati mereka.
Jovita berhenti, bau parfum yang di ruangan saat itu, sama dengan sosok yang berpapasan dengan mereka.
“Kenapa berhenti” Hilda ikut menghentikan langkah kakinya, melihat Leon yang pingsan lalu di gotong Bram menuju kamar.
“Aku yakin orang yang berpapasan dengan kita seorang berpenampilan kren,” ucap Jovita.
“Kenapa?”
“Ia sangat wangi”
“Iyalah, ia Pemilik Hotel ini, dia lelaki dingin tidak pernah senyum, semua orang menggilainya, dia tampan tapi tidak seorangpun yang berhasil mendekatinya, dia seakan membangun sebuah tembok penghalang untuk lawan jenisnya.” Hilda tahu orang yang dimaksud Hara adalah Leon. Lelaki yang sedang di gendong Bram.
.
“Aku yakin dia sangat angkuh dan sombong,” Kata Jovita asal menebak.
“Benar bangat, dia tegas tidak pakai kompromi, saat aku bekerja di Hotel ini, jarang bertemu dengannya, tapi sekali bertemu dan bicara dengannya saat itulah aku mengerti, bukan hanya balok es yang dingin bahkan pemilik Hotel ini lebih dingin dari es di kutub utara.” Kata Hilda berbisik-bisik.
“Siapa nama pemilik Hotel ini, Bu?”
“Non!”
Belum juga dijawab. Bi Ina sudah berada tepat di depannya, “Non kita pulang iya sudah larut malam” Bi Ina berterimakasih pada Hilda karena sudah membantu Jovita, wanita cantik berkulit eksotis itu meninggalkan mereka berdua
Bu Ina sempat melihat leon tadi saat lari ke kamar mandi, tetapi saat ia menunggu lama Leon tidak kunjung keluar karena ia pingsan. Jadi Bi Ina belum tahu kalau hotel itu milik Leon. Toni juga tidak memberitahukannya. Tetapi Bi Ina sudah mulai curiga.
Bersambung
KAKAK TERSAYAN JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Baca juga cerita yang lain;
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing