
Piter menolak dengan keras untuk bertemu Leon, bagi Piter Leon orang yang angkuh yang mengunakan kekuasaannya untuk mendapatkan Hara, Piter tidak tahu, kalau Leon sudah banyak berubah demi Hara, ia tidak tahu kalau cinta bisa mengubah segalanya.
“Jangan lihat dari Leon, lihatlah dari segi Hara, kalau Hara bahagia dengan pilihannya, kenapa kita harus melarangnya? karena dia tahu mana yang terbaik untuk hidupnya, dia sudah dewasa Bang, biarkan di menentukan pilihannya, ia bukan lagi anak kecil yang terus kamu jaga, sampai kapan kamu menjaganya seperti anak –anak, kamu juga harus memikirkan hidupmu sendiri, pikirkan masa depanmu, tugasmu sudah selesai, kamu hanya perlu menyerahkannya pada Leon agar suaminya yang menjaga Hara,"ucap Vikky menasehati Piter,
“Lelaki seperti Leon mana bisa menjaga Hara, dia hanya lelaki sombong yang mengunakan kekuasan untuk menyelesaikan masalah,” ucap Piter ketus.
Melihat Piter yang tidak mau menemui keluarga Leon, Bi Ina memutar otak, ia menelepon Hilda lagi, wanita yang saat ini jadi kekasih Piter,
Mendengar keluhan Bi Ina, Hilda datang membantu, ia juga membawa kerabatnya untuk ikut meyambut kelurga Leon yang tak lain adalah Bosnya sendiri.
Piter tidak bisa mengelak lagi, ia mengganti pakaiannya, memakai setelan kemeja batik yang senada dengan gaun Hilda, keduanya terlihat serasi dengan pakaian coupel seperti sepasang suami istri.
Berkat Hilda juga menu hidangan bisa di atasi, ia terpaksa membawa hidangan dari restaurant Leon untuk mempersiapkan makanan untuk menjamu keluarga Leon.
“Aku berharap Bos, tidak memotong gajiku gara-gara ini Pak.” ujar Hilda pada Zidan dan Ken yang saat itu ikut membantu.
“Tenang Bu, kalau dipotong kita lapor saja Nyonya Bos, di gertak sekali Bos langsung ciut sama Nona Hara,” ujar Ken tertawa.
“Berarti Pak Leon suami takut istri maksudnya?” Tanya Hilda.
“Iya,” jawab Bram ia juga tiba-tiba datang.
Mereka bertiga tertawa membahas Leon Wardana sang Bos.
Tepat jam sepuluh pagi, rombongan Leon akhirnya tiba juga di rumah Hara, Leon beberapa kali menghela napas panjang karena gugup, ia juga beberapa kali menarik dasi di lehernya, merasa ada yang menghimpit kerongkongannya,
“Ini minum dulu” ucap Bu Atin sebelum turun dari mobil, ia tahu Leon terlihat sangat gugup.
“Tidak apa-apa sayang, aku bersamamu,” ucap Hara tersenyum manis, ia meraih tangan Leon dan menggenggamnya.
Hara tertegun, karena telapak tangan Leon terasa dingin dan berkeringat.
__ADS_1
“OH …. Mafia juga bisa takut,” ujar Hara menahan tawa.
“Ra, aku takut karena aku sadar salah,”bisik Leon membela. “Rasa takutku, karena takut kehilangan kamu, "bisiknya lagi.
‘Apakah kamu harus setakut itu menghadapi om Piter, ini pertama kalinya aku melihatmu terlihat cemas seperti ini, kalau biasanya kamu selalu percaya diri untuk segala hal, kenapa saat ini sangat berubah, sebesar itukah rasa bersalah yang kamu pikul selama ini?’ Ucap Hara semakin menggenggam tangan Leon.
Keluarga Leon akhirnya turun dari mobil, disambut piter dan Vikki, Bu Ina dan suaminya. Hilda juga ikut dalam rombongan keluarga Hara.
Sementara Zidan, Ken, Bram mengawasi dari wartawan, acara tertutup hanya yang diundang orang terdekat Leon.
Setelah serangkaian penyambutan sebelum masuk, kini keluarga Leon dipersilahkan masuk membawa kotak hadiah untuk keluarga Hara,
Acara di mulai seorang bapak menyampaikan maksud kedatangan mereka.
Hadiah yang pertama diberikan pada Vikki yang sebagai paman kandung dan untuk berikutnya Piter sebagi orang yang di takuti dalam rumah itu, ia tidak ada sedikitpun menunjukkan sikap ramah dan tidak pernah tersenyum.
“Berikutnya kami akan memberikan pada saudara pak Piter sebagai orang tua dari Hara ,” ucap seorang lelaki paruh baya itu memegang buku dan sesekali berbisik pada ke tua suku dan bertanya pada Leon juga.
“Kami persilahkan bapak menerima hadiah pemberian dari keluarga lelaki, sebenarnya dalam adat kami semua ini akan diserahkan berupa beberapa ekor kerbau atau pig, saat kami ingin membawa saudara Hara. Namun, karena mereka sudah menikah jadi kami menggantikan dengan barang-barang sebagai seserahan, bukan seserahan ini lebih tepatnya cindera mata,” ucap Lelaki itu meralat ucapannya lagi. “Ini kami berikan pada orang tua mempelai wanita sebagai ucapan terimakasih karena sudah menjaga dan membesarkan Hara dengan baik” ucap lelaki itu ingin memberikan kotak kedua pada Piter
Benar dugaan Leon, kalau Piter tidak akan semudah itu memaafkannya, ia terlihat marah, tiba-tiba suasana dalam rumah itu jadi hening. Para tetua ada beserta rombongan ada sekitar sepuluh orang.
“Om, kalian sudah sebagai ayah untukku, Om Vikki dan om Piter baik Bibi dan bapak, bagiku kalianlah keluargaku,” ujar Hara dengan suara bergetar.
“Hara, kalau kamu menganggap ku sebagai keluarga, harusnya kamu akan mendengarkan apa yang aku katakan, bagimu aku hanya seorang pesuruh dan penjagamu tidak lebih, kalau kamu ingin meminta restu dan berterimakasih, sana kekuburan keluargamu Hara bukan pada saya”
Suasana semakin menegang karena kemarahan Piter.
“Om, maafkan aku, aku salah kerena tidak meminta izin pada keluarga sebelum menikah,” ucap Hara ber urai air mata.
Melihat Hara menangis tiba-tiba Leon merasa hatinya bagai diperas, ia berpikir semua itu karena dia, Leonlah yang menjadikan Hara tidak punya kesempatan untuk meminta izin pada keluarganya Leonlah yang memaksa Hara menikah saat itu, kalau ada yang ingin disalahkan itu adalah Leon. Hal yang paling membuat Leon merasa sakit melihat Hara menangis.
__ADS_1
'Ok ini salahku jangan menangis Hara' Leon tidak kuat melihat Hara menangis.
Tiba-tiba Leon berdiri dan berlutut, “ Maafkan aku, aku yang salah, kalau ada yang ingin disalahkan aku yang pantas di salahkan , aku yang memaksanya menikah saat itu, tidak memberikan waktu untuk meminta izin pada keluarga, aku yang salah pak Piter, Hara tidak salah sedikitpun , aku sangat mencintainya, maka itu aku memaksa menikah denganku” ucap Leon degan kedua lutut bersimpuh di lantai.
Leon sadar apa yang dilakukan di masa lalu saat ia menyekap Hara satu kesalahan besar, ia takut semua diungkit Piter, Jalan satu - satu-satunya minta maaf, ia yang seharusnya di lakukan lelaki sejati, jika Leon egois dan keras kepala ia akan kehilangan Jovita Hara.
Semua mata melotot kaget dengan apa yang di lakukan Leon , tidak ada yang menduga kalau seorang Leon wardana akan berlutut di hadapan orang lain, demi seorang wanita.
Mulut Ken sampai menganga dan mata melotot melihat apa yang di lakukan Leon. "Bos berlutut..."
“Bos ….” Zidan lebih kaget lagi.
“Gila! aku tidak tahan melihatnya kalau Pak Piter sampai menolak,” ujar Bram mengalihkan, wajah dari bos mereka.
“Leon! Apa yang kamu lakukan?” Hara terkejut.
Bukanya hanya dia, semua orang yang datang terkejut atas apa yang di lakukan Leon.
“Apa tujuan kamu menikahinya?” tanya Piter, ia masih marah, walau Leon sudah berlutut meminta maaf.
“Aku mencintai”
“Cinta kamu bilang! saat itu juga kamu bilang kamu mencintainya dan menjaga Hara padaku, akan tetapi, apa yang kamu lakukan, kamu meninggalkannya pada saat dia sedang buta, apa kamu ingat itu? dan sekarang saat ia sudah sembuh dan bisa melihat kamu menikahinya, apa itu yang dinamakan cinta? Nanti kalau Hara terjatuh lagi, apa kamu juga akan meninggalkannya?” tanya piter geram dan marah.
“Bangunlah, hadapin aku,” ucap Piter di depan semua orang, dia berjalan ingin mendekati Leon ingin menghajarnya, namun, vikki melarangnya dan menahannya.
Tiba-tiba Hara maju berlutut juga di samping Leon, ia tidak membiarkan Leon sendirian.
“Om, terimakasih untuk menjagaku selama ini terimakasih sudah menjadi mataku dan sudah menjadi tongkatku, aku menghargai Om sebagai ganti Ayah dan Ibu, namun jika aku tidak bersama Leon izin kamu pergi selamanya”
Leon menatap dengan panik, hal yang tidak ingin ia dengar, ia tidak ingin kata pergi lagi dari Hara.
__ADS_1
“Saat itu …. aku juga membencinya atas apa yang di lakukan padaku, aku sangat membencinya karena itu aku pergi. pernikahan adat Leon, pernikahan singkat, tanpa rencana, semua dia lakukan karena ia mencintaiku, Om, aku juga mencintainya, apa memaafkan orang yang kita cintai sebuah kesalahan? Apa memberi kesempatan kedua padanya tidak boleh? jawablah om agar aku mengerti.” Ucap Hara masih dalam berlutut.
Bersambung.