Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Ingin Selalu Bersamanya


__ADS_3

Setelah serangkaian acara ulang tahun dan perayaan  Valentine, hari sudah semakin malam, Leon mulai  memasang  mata ala polisi patroli pada Hara. Saat Hara masih terlibat obrolan serius ala emak-ema muda dengan istri Billy dan Hilda. Leon mulai mengawasi Hara.


“Sttt … ke kamar ayo,” bisik Leon pada istrinya.


Mendengar bisikan suami untuk ngamar Hara tertawa.


“Di sini masih banyak orang, ngapain kamu mengajakku ke kamar,” bisik Hara mengarahkan bibirnya ke kuping suami.


“Jangan salah paham dulu, aku hanya gak mau kakimu pegal,” ujarnya kemudian.


“Tenang Bos … sepatuku teplek kok, aku pakai tidak pakai tumit,” ujar Hara.


Lalu ia melanjutkan obrolannya dengan para wanita yang bekerja di bagian medis tersebut.


Leon mulai mondar-mandir melewati Hara ia seperti hansip yang sedang jaga ronda tangannya   ke belakang.


‘Mereka bicara apa ….? tidak ada habis-habisnya dari tadi’ ujar Leon dalam hati, ia menggaruk kepala bagian kepalanya.


“Lihat Bos, ia terlihat seperti hansip  jaga malam,”ujar Ken menahan tawa.


“ Sebenarnya Bos itu ingin merayakan Hari Kasih sayang di kamar,” ujar Bram.


Zidan ikut melirik Leon, melihat Leon yang gelisah Zidan mengajak Clara untuk pulang . Suami istri itu saat ini tidur di hotel Leon.


Saat Clara bergegas  pulang Hilda dan lain ikut  pulang.


“Kenapa tidak dari tadi,” ujar Leon pelan.


Lalu ia memegang tangan Hara.


“Ayo.”


“Kemana?” Tanya Hara kedua alis diangkat.


“Ke kamar tidur.”


“Sini  masih ada orang,” ujar Hara.


“Sudah tidak apa-apa.” Leon  mengajaknya naik.


Sebelum naik ke kamar atas, Leon berpesan pada Ken untuk membereskan semua. “ Ken tolong urus iya.”


“Baik Bos.” Lelaki berkulit gelap  itu mengangguk tegas.


“Ibu, Bagaimana?”


“Tidak apa-apa Hara, suster Kikan sudah membawanya ke kamar.”


“Bibi Ina?”


“Sudah pulang sama Pak Piter.”


Masuk ke kamar Hara duduk di sofa Leon ikut duduk lalu ia  kembali menatap wajah Hara, seolah-olah ia tidak percaya kalau  Hara tidak hamil, selepas semua kutukan yang di tujukan padanya.


“Sayang, mata foto USGnya?” tanya Leon lagi.


“Kamu  belum percaya aku hamil?” Tanya Hara tertawa.

__ADS_1


“Aku merasa …. tidak nyata,” ujar Leon.


Hara membuka laci dan mengeluarkan foto USG baby twins mereka.


Leon juga mengeluarkan foto USG Ichiro anak pertama mereka,  lalu Leon  menyeka   sudut matanya.


“Chiro Ibu saat ini sudah hamil adik kecil lagi, kamu bahagia di sana iya Nak,” ujar Hara. Leon hanya menatap  foto  USG itu tanpa berkata apa-apa.


Leon meletakkan tangannya di perut Hara.


“Hai Nak, Ayah berjanji akan jadi ayah yang baik untuk kalian berdua, sehat terus iya Nak,” ujar Leon mencium dan memeluk Hara lagi.” Terimakasih untuk Roh para leluhur karena  memberiku kesempatan, dan tolong jaga istriku sampai anak-anak kami lahir ke dunia ini,” ujar Leon.


Hara berdiri ia ingin  berganti pakaian, tetapi Leon selalu mengikutinya  dari belakang.


“Mau ngapain?” Tanya Hara bingung,


“Hanya ingin  melihatmu.”


“Melihatku ganti pakaian?’ Tanya Hara lagi.


“Iya ingin melihat perut kamu.”


“Iya ampun  sayang iya belum kelihatan lah,” ujar Hara melepaskan pakaiannya di depan Leon.


“Tapi perutnya masih rata.”


“Iyalah mereka masih delapan minggu masih kecil bangat.”


“Tetapi waktu hamil Ichiro sudah ada kelihatan tonjolan,” ujar Leon ia masih penasaran.


“Oh,” ujar Leon menggaruk kepala  belakangnya.


“Apa kamu ingin kita USG lagi, agar kamu lebih yakin?” Tanya Hara.


Leon mengangguk.


“Baiklah, aku capek aku ingin tidur,” ujar Hara ia masuk ke kamar mandi   membersihkan wajahnya dan berganti pakaian lalu  merebahkan tubuhnya di ranjang.


Leo  juga  masuk ke kamar mandi karena  dari sore ia belum mandi, ia mandi.


“Sayang apa kamu kemalaman mandinya?” Tanya Hara.


“Aku nanti tidak bisa tidur kalau tidak dulu,” jawab Leon dari kamar mandi. “Aku takut kamu  tidak mau dekat denganku saat tidur nanti,” ujar Leon.


Hara hanya tersenyum  mendengar penuturan Leon.


Saat ia keluar dari kamar mandi, Hara sudah tertidur karena  capek, saat ia melihat kaki Hara di ganjal di atas bantal ia tahu kalau kaki istrinya pegal.


Ia membuka laci dan mengeluarkan botol minyak gosok, mengurut kaki sang istri, Hara membuka mata saat ia merasakan tangan Leon memijit kakinya dengan lembut.


“Apa kamu tidak capek?” Tanya Hara .


“Tidak istirahatlah,” ujar Leon  menahan ngantuk.


Tidak lama kemudian ia juga merasa sangat mengantuk, karena tadi malam saat Hara pulang ke rumah Piter ia juga tidak bisa tidur, ia tidur setelah menjelang pagi, tidak lama kemudian ia juga merebahkan tubuhnya dan  tertidur pulas, seakan-akan ia membayar waktu tidur yang tidak ia dapatkan selama beberapa hari ini.


Baik Hara juga seperti itu,  ia masih tertidur pulas  di bawah selimut

__ADS_1


                      *


Saat pagi tiba,


Panggilan ke ponsel Leon membuatnya terbangun degan cepat ia mengangkat dan berjalan menjauh dari ranjang, ia tidak mau menganggu tidur Hara.


“Ada apa, Kai?”


“Bapak hari ini akan bertemu klien dari Jepang, saya hanya mengingatkan,” ujar Kaila sekretarisnya di ujung telepon.


“Kai, suruh Hilda saja untuk menggantikan, saya ingin menemani Hara hari ini.”


“Baik Pak.”


Leon meletakkan ponselnya di atas nakas dan  berbaring lagi di samping Hara, matanya menatap wanita itu dengan tatapan  dalam dan penuh cinta.


Menyadari Hara saat ini sedang hamil membuat Leon ingin selalu dekat dengan Hara.


Ia mendekatkan wajahnya ke kening Hara mendaratkan satu ciuman hangat di kening.


“Aku berharap aku tidak bermimpi Hara.”


Ucap leon, ia kembali memeluk Hara dan melanjutkan tidur tidur, mereka berdua tidak menghiraukan sinar mentari yang mengintip dari balik  gorden.


Hara terbangun saat panggilan alam  mengganggu, ia ingin duduk tangan Leon  melingkar di pinggangnya, dengan perlahan Hara mengangkat tangan Leon.


“Mau ke mana?” tanya Leon menatap Hara dengan mata masih memerah.


“Aku mau ke kamar mandi ingin pipis, awas aku tidak tahan lagi,” ucap Hara dengan sikap buru-buru.


“Hati-hati jangan buru-buru,” ujar Leon memperingatkan.


Mendengar nasihat Leon, Hara berjalan hati-hati, ia juga menjaga kehamilan kali ini dengan hati-hati.


Hara memohon pada Tuhan agar kehamilannya  kali ini sehat dan selamat, walau terkadang, ia merasa ada ketakutan dalam hatinya, ia takut hal-hal buruk dari masa lalu datang lagi menganggu.


 Bersambung.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2