
Kepulangan Okan ke Jakarta di sambut dengan jamuan makan , Hara mengundang keluarga Piter datang ke rumahnya,
Jordan anak pertama Hilda menjadi seorang militer sementara adiknya Kiano bekerja di perusahaan ayahnya di bagian kontraktor .
Di kediaman Hilda.
“Mami … cepatlah!” Panggil Kiano dari dalam mobil.
“Biarkan saja, artis kan dandannya lama,” cletuk Jordan, lelaki berbadan tegap itu memegang setir.
“Mamimu, memangnya mau kemana sih harus dandan berjam- jam,” keluh piter merapikan rambutnya yang ber uban.
Hilda wanita satu-satunya di dalam keluarga mereka, tidak ada teman berbagi atau teman curhat, karena kedua anaknya laki-laki.
“Mi …! Buruan sudah malam!” panggil piter kesal, karena sudah hampir sepuluh menit mereka menunggu dalam mobil.
“Iya …! Pada bawel bangat sih, mami juga belum bedakan,” rutuknya kesal ia masuk ke dalam mobil dan memoles wajahnya dengan bedak.
“Lah … mami kenapa dandan lagi? Dari tadi ngapain?” tanya Piter.
“Dar tadi mami milih pakaian yang tepat”
“Aduh Mi, kit hanya diundang makan ke rumah Hara, bukan ke rumah pejabat”
“Eh … pejabat tidak ada apa-apanya bagi mami, ke rumah Okan baru mami berdandan seperti ini,” ujar Hilda.
“Aduh … mulai lagi dah. Udah donk Mi jangan seperti itu, jangan mengharapkan hal seperti itu, biarkan Jordan memilih pilihannya sendiri, jangan pernah memikirkan perjodohan,"ujar Piter.
“Kenapa Pi. Chelia wanita yang sangat baik. Dia dokter putraku juga militer apa salahnya," Balas Hilda bangga.
“Hentikan mi … Hentikan! Aku muak mendengar hal seperti itu, Hara sudah seperti keponakanku sendiri, jangan pernah lagi membicarakan itu, biarkan kita nyaman seperti ini,” ujar Piter.
Jadi, Hilda sangat menginginkan si cantik Chelia jadi menantunya, sementara Piter tidak mau, baginya Hara keponakannya dan anak dari majikannya dan Leon juga mantan atasan Hilda.
“Papi kenapa sih?”
“Mi … apa yang dikatakan papi benar, Chelia sudah seperti adik perempuan bagiku dan aku berteman baik dengan Okan”
“Tuh … dengar itu,” ujar Piter kesal.
“Jordan … kamu dan Chelia cocok loh Nak, kamu tampan dan dia cantik”
“Bukan itu Mi, lalki-laki mana yang menolak Chelia, masalahnya dia menganggapku hanya sebagai abang tidak lebih, apa aku harus memaksa?”
“Mami kenapa kuno bangat pemikirannya, saat ini tidak ada lagi jaman perjodohan,” ujar Kiano membela Jordan.
“Ibu hanya ingin orang yang terbaik untuk anak mami,a pa salahnya,” kilah Hilda membela diri.
“Terbaik untuk mami, belum tentu terbaik untuk Kak Jordan,” balas Kiano.
__ADS_1
“Hei kamu! Awas mami lihat kamu menemui Thiani ya!” bentak Hilda kesal.
“Aku tidak menemuinnya dia yang datang ke kantor, benar kan Pi, lagi dia datang meminta nomor kak Jordan”
“Apa? Lalu kamu kasih?”
“Iya”
“Ah … kenapa dikasih! Jauhi perempuan murahan itu, buah busuk tidak jauh jatuh dari pohonnya, "ujar Hilda.
“Mami jangan seperti itu”
“Benarkan … setelah dia tidak berhasil menjerat Okan lalu dia sama putraku"
“Mami jangan sperti itu,” ujar Piter menesehati istrinya.
“Mi kasihan, dia hanya korban dari broken home, tadinya dia anak baik-baik sebelum tante Rebeka berpisah dengan Om Ken,” ujar Keano.
*
Tidak berapa lama mereka tiba di rumah keluarga Leon.
“Selamat datang om.” Hara menyambut kedatangan Piter.
Okan bangun dari sofa ia memeluk Piter dan memberi salam ala anak muda pada Jordan juga Keano.
“Bagaimana keadaan Chelia?” Tanya Hilda setelah mereka duduk.
Tidak berapa lama wanita cantik itu sudah turun.
“Eh … abang Jordan juga datang”
Chelia menyalam keluarga Piter, jika mereka semua bersikap biasa saja tetapi Hilda punya keinginan lain, tetapi Piter memberi dengan tatapan tajam agar tidak mengatakan apa-apa . Melihat tatapan tajam dari Piter ia mengurungkan niatnya.
“Kak Jordan mana ...? katanya mau ajak aku makan, aku tungguin tapi tidak ada kabar,” ujar Chelia bercanda dengan Jordan.
“Bu, dokter mana mau makan di tempat seperti itu,” uji Jordan.
“Maulah Kak … kapan kita pergi?”
“Ok, nanti kita atur, lagian Okan juga ada,” ujar Jordan, ia tidak mau Okan salah paham padanya.
Setelah acara makan malam sudah selesai, Okan mengajak Jordan untuk bicara berdua.
“Bagaimana Jo?” Tanya Okan.
“Kamu benar Danis bergabung dengan salah satu organisasi, parahnya lagi Juna juga ikut-ikutan ,” ujar Jordan.
“Aku berniat menyelidiki diam-diam, ayah tidak perlu tahu, aku ingin tahu apa motifnya mendekati Chelia, "ujar Okan.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan mendukungmu,” balas Jordan.
Okan Putra Wardana
Setelah mereka pulang Okan masih berdiri di taman rumahnya padahal sudah malam, ia persis seperti Leon jika ada masalah dalam keluarganya ia tidak bisa tidur, berdiri di luar dan kedua tangan ia masukkan ke kantung celana, tatapan matanya menatap nanar kearah lampu jalanan ibu kota.
Melihat saudaranya masih berdiri di luar, Chelia datang menghampiri.
“Apa ada masalah? Apa masih memikirkan Giovani?” Tanya Chelia dia berdiri di samping Okan.
“Tidak … aku tidak mau memikirkan orang yang tidak perduli padaku dan keluargaku,” ujar Okan ia duduk di kursi taman.
“Kenapa tidak bersabar saja dan menunggunya, hubungan kalian kan sudah berjalan lama, ibu berharap banyak untuk kalian, mendengar kamu pulang sendirian tanpa Vani dia langsung jatuh sakit,” ujar Chelia.
“Dia tidak ada niat untuk pulang ke Indonesia, itu artinya dia tidak niat pernikahan kan?”
“Abang kenapa membuat keputusan sendiri sih, belum tentu, mungkin dia hanya ingin waktu”
“Waktuku sudah terlalu banyak terbuang sia-sia Chelia! Waktuku terbuang sia-sia, hanya untuk menunggunya dia selama bertahun-tahun, kami sudah bertunangan lama, butuh waktu berapa lama lagi?”
“Tetapi kalian sudah bersama lama, masa harus putus?”
“Untuk apa bertahan lama jika kita sudah tahu, dia bukan milik kita,” ujar Okan santai.
Okan sudah punya kekasih bernama Giovani, mereka sudah bertunangan selama bertahun-tahun, wanita itu teman satu sekolah Okan, seorang model. Namun, saat diajak pulang ke Indonesia ia menolak, bahkan belakangan itu ia enggan untuk membicarakan pernikahan.
Bahkan sebelum mereka putus malam itu Vani membeberkan alasannnya menolak menikah, ia tidak mau punya anak ia karena akan menghambat kariernya. Mereka berdua bertengkar hebat, padahal dulu mereka berdua punya impian punya anak empat agar rumah selalu ramai seperti di rumah Okan, awalnya ia setuju. Tetapi belakangan sikapya berubah.
Ia menolak untuk pulang yang paling mebuat Okan marah, ia juga menolak menikah dan punya anak. Padahal mereka berdua sudah lama tinggal bersama layaknya suami istri. Okan marah dan memutus hubungan dengannya.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasi untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-Turun Ranjang( on going)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1