Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Menjadi tawanan kembali


__ADS_3

Keluar dari kamar Leon Hara melenggang ke kamar Bu Atin.


“Ada apa Non?”


“Si manusia kutub utara itu sekarang menyebutku anak kecil Bi”


“Ha, bukannya tadi Non tidur bareng dia”


Hara menutup mata dan menarik napas panjang,.


“ Tadi aku sama dia tadinya baik-baik saja dan kami akur, tiba-tiba dia menyebutku anak kecil, kan, bikin marah," ujar Hara, ia mengadu ke Bu Atin  ia seperti seorang istri yang mengadukan suaminya ke ibu mertua.


“Penyebabnya. Apa?” Tanya bu Atin mendengar dengan serius, ia bersikap peduli, ia tahu, menghadapi wanita hamil muda, seperti Hara haruslah seperti itu, jadi pendengar yang baik dan mau mengerti mereka.


“Hanya tidur, aku tidak sadar tidur telungkup, bibi tahu kan aku memang biasa seperti itu, tidak ada niat yang lain. Lalu di marah, kan, bikin kesal,” ujar Hara mengomel kesal.


“Leon memang pantaslah di beri julukan manusia kutub utara, kanebo kering apa lagi ….?” Tanya Bu Atin.


“Kulkas dua pintu,” sahut Hara.


“ Ya .... Tapi Non, dia memang kaku, tetapi hatinya baik  Kok Non. Bibi  sudah menjaga dia dari remaja”


“Apa dia dari dulu memang kaku seperti kanebo kering, Bi?”


“Keadaan yang mengubahnya seperti itu Non, dia pernah bilang saat bersama keluarganya. Leon bilang dia anak yang ceria.


“Ayahnya meninggal karena apa Bi?” Tanya Hara.


“Perang suku”


“Ha? Leon emang anak kepala suku pedalaman Bi?”


“Kapan-kapan kita ceritakan Non,ceritanya sangat panjang kisah hidup Leon itu sangat panjang,” ujar Bua Atin.


“Bibi mau pergi?”


“Iya,  Bibi ada urusan ingin bertemu seseorang. Non tidur di saja, bibi mau pergi dulu”


“Baik Bi.”  Hara menatap telepon di atas nakas.


                             **

__ADS_1


Mentari pagi, masih mengintip dengan malu-malu dari ufuk timur, kini ia datang lagi menjalankan tugas mulianya, menyinari dunia dengan sukarela.


Hara duduk di balkon kamarnya, menatap kearah timur di mana matahari muncul, tangannya memegang segelas susu coklat. Bi Atin sangat menjaga kehamilan Hara. Memperlakukannya seperti anaknya sendiri, walau Leon seorang Bos untuknya, tapi bagi wanita umur lima puluh tahunan itu, Leon sudah seperti anaknya sendiri.


Ia berpikir anak yang di kandung Hara akan ia rawat dengan baik, layaknya seorang cucu, karena itu, ia selalu menjaga Hara, menjaga asupan makanannya, menjaga waktu istirahatnya Hara, Bii Atin tidak punya keluarga lagi, suaminya sudah meninggal dan anaknya semata wayang juga sudah meninggal.


Takdir yang mempertemukannya dengan Leon, saat Leon masih remaja,  ia terluka parah dan pingsan di hutan pedalaman Kalimantan, Bi Atin yang merawatnya,


Jadi rumah rahasia milik Leon di Hutan pedalaman  itu gubuk persembunyian bi Atin dan suaminya , suaminya terlibat pertikaian dengan perebutan kekuasaan  dengan suku pedalaman, Bi Ati dan keluarganya, pendatang tidak diterima, mereka diusir dan suami dan anaknya terbunuh itulah kisah singkat dari Bu Atin.


Ia bertemu dengan Leon, karena saat itu Leon melarikan diri dari preman-preman yang mempekerjakannya di jalanan sebagai pengemis dan di paksa melakukan tindakan kriminal , Leon menolak melakukanya satu pekerjaan besar, ia di pukuli sampai terluka parah, ia melarikan diri ke hutan pedalaman dan  bertemu dengan Bi Atin, jadi wanita itulah yang menyelamatkan hidupnya  waktu itu, ia di rawat sampai sembuh.


Jadi rumah persembunyian Leon yang di tengah hutan, itu dulunya  gubuk Bu Atin dan suaminya dan anaknya.


Leon mengubahnya jadi rumah bawah tanah yang nyaman tentunya jadi tempat persembunyian  dan rumah rahasia untuknya.


Jadi Bu Atin sudah seperti seorang ibu baginya mengerti semua tentang Leon mengetahui semua tentang rahasia hidup Leon.


“Selamat pagi dunia”ucap Jovita Hara menyeruput  susu coklat di tangannya.


Karena Leon menghalanginya untuk keluar dari rumah,  itu sebanyak ia tidak tahu kabar dari luar, ia tidak tahu, ada berita apa tentang Bokoy, apakah Piter  berhasil  membuatnya masuk penjara apa bukan?


Hara menelepon Piter kemarin saat Bu Atin meninggalkan di kamarnya. Piter bilang kalau Ia memasukkan tuntutan ke Bokoy lagi dan hari ini, lelaki tua itu di panggil polisi.


Saat Leon  selesai olahraga, seperti biasa ia akan duduk di pinggir kolam membaca berita dari tabletnya,  Bi Atin membawa segelas  kopi fullcream  kesukaan Leon.


“Apa yang dia pikirkan  menatap serius begitu,” ucap Bi Atin menatap Hara yang terlihat  melamun.


“Apa tadi malam dia tidur di kamar Bibi?”


“Iya saat dari sore dia di kamarku, saat kamu menyebutnya anak kecil”


Leon tiba-tiba diam.


“Apa bibi juga tahu?”


“Tau, dia marah-marah”


“Bi aku tidak bermaksud berkata seperti itu sebenarnya”


“Baiklah, sikap-sikap marah itu akan  sering kamu dengar Pak Leon” Bu Atin selalu menasehatinya.

__ADS_1


“Baiklah Bi. Apa ia sudah serapan?”


“Sudah, tapi seperti biasa ogah-ogahan” Bi Atin meninggalkan Leon ia kembali  mengatur semua orang yang bekerja di bagia dapur.


Leon, melihat Hara berdiri di Balkon, pikiran khawatir itu muncul lagi, ia berpikir setiap kali Hara  berdiri di balkon dan menatap jauh kearah laut, Leon yakin ada sesuatu yang besar yang ingin ia lakukan, leon mengusap keringat menggunakan handuk kecil, tapi mata dan pikirannya tidak lepas dari  Hara.


‘Bagaimana, aku bisa menjinakkanmu Jovita Hara?” Gumam Leon pelan masih menatap Jovita.


Kring …!


Panggilan dari  sekretarisnya Jeny  dari kantor, mengingatkannya untuk mengikuti rapat nanti.


“Pagi Pak saya hanya mengingatkan bapak kalau pagi ini  ada rapat, karena sudah dua kali, bapak melewatkan  rapat penting,” ujar sang sekretarisnya di ujung  telepon.


“Baiklah nanti saya datang”


Leon  tidak ingin Hara keluar  dari rumahnya, Leon mengumpulkan orang-orang meminta mengawasi Hara  hari ini, selama ia pergi, bahkan di rumah Leon melarang untuk menyalahkan  telivisi, ia benar-benar tidak ingin Jovita Hara mengetahui keadaan  di luar.


‘Maaf Nona cantik kalau aku mengurung lagi seperti tawanan, aku terpaksa ingkar janji memberimu kebebasan  ini semua demi kebaikanmu dan keselamatan  calon pewarisku’ ucap Leon Pelan matanya masih  melirik si cantik Hara yang masih berdiri cantik menikmati udara pagi.


Lalu Leon kembali mengumpulkan semua  anak buahnya.


“Saya, sama Rikko ke kantor pagi hari ini,  siapkan mobil.  Iwan aku ingin kamu mengawasi di rumah, aku ingin kamu mengawasi Non Hara dengan baik, hari ini, ingat jangan sampai ia kenapa-napa  dan yang terpenting jangan biarkan ia keluar dari rumah ini,” ucap Leon dengan tegas.


“ Siap Bos,”  jawab  mereka serempak.


Leon berangkat kekantor setelah sebelumnya ia  juga sudah izin pad Bi Atin agar membantunya untuk mengawasi Hara.


Bersambung…


KAKAK TERSAYANG MOHON BANTUANYA UNTUK KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA,  AGAR DAPAT FROMOSI. TERIMAKASIH JUGA SAYA UCAPKAN BUAT KAKAK YANG KASIH TIPS BUAT AUTHORNYA. PELUK HANGAT UNTU KALIAN SEMUA.


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing


__ADS_2