Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Membatalkan perasaan suka


__ADS_3


  Mansion Leon di Kalimantan.


Setelah di paksa  belajar  menembak , Jovita Hara merasa  sangat ketakutan. Ia hanya duduk di dalam kamar, duduk di lantai menyandarkan tubuhnya di sisi tempat tidur,  bayangan para penjahat yang menghabisi kedua orang tuanya kini membayangi pikirannya



Saat peristiwa tragis di rumah Jovita.


Jovita masih mengingat jelas kejadian tragis  di rumahnya malam itu, ia masih sempat melihat ibu dan ayahnya tergelatak di kamarnya bersimbah darah, ia juga masih mengingat jelas kedua pelaku  yang berpakaian serba hitam dan  menggunakan topi dan penutup mulut. Ia tidak  mengenal  kedua pelaku yang membuatnya yatim piatu.


Ia tidak ingin larut hidup dalam kesedihan, ia berpikir harus bangkit.


“Tidak, aku bukan  orang manja seperti yang kamu ucapkan  Ular Naga, akan aku buktikan padamu , duniaku lebih indah dari duniamu yang suram itu.


Kedua orang tuaku  memberiku banyak cinta dan kasih sayang. Tak aku biarkan kamu menggantikan cinta yang aku miliki dengan duniamu yang gelap itu,” ucap Jovita bersemangat.


“Ibuku bilang;  jika kamu memiliki cinta kamu akan  kuat, aku kuat.


Ya, kamu benar, aku ini tuan putri yang kehilangan istananya,  tetapi aku akan membangun istana yang baru untukku sendiri,  aku  tidak akan masuk ke dunia mu,” ucap Jovita lagi.


 Aku berharap suatu saat kamu sadar Tuan Naga.  Dicintai dan saling mencintai hal yang sangat indah:


‘Kelak, akan datang  masanya , kamu yang menungguku. Dan aku tidak akan datang lagi padamu’ ucap Jovita dalam hati.


Jovita mengingat ucapan Bu Ati dan Rikko  yang memintanya  menjadi diri sendiri.


Jovita  mengusap air matanya dengan kasar dan membasuh wajahnya menganti pakaiannya , lalu ia berdiri di depan cermin dan bicara sendiri.


“Iya … aku Jovita Hara gadis  yang  kuat,” ujarnya kemudian.


                                            


Ia keluar dari kamar, matanya tertuju pada taman di depan rumah Leon tanaman-tamanan cantik,  ia mendekat dan memetik bunga-bunga yang bermekaran.



Di sisi lain Leon  duduk di meja kerjanya memijit keningnya yang semakin berdenyut. Kurang tidur, ditambah lagi, Jovita yang ia pikir ingin melarikan diri belum lagi. Damian yang mulai mencari gara-gara dengannya


“Brengsek kepalaku  makin pusing,” meletakkannya kepalanya di atas meja dan matanya menatap jendela kaca kearah taman.


Tetapi alis Leon menyengit, ia memperjelas penglihatannya, karena melihat  Jovita bersikap ceria sedang  memetik kuntum bunga dan mengumpulkannya di satu tangan. Sesekali bibirnya tersenyum melihat kupu-kupu.



“Apa kepalanya terbentur pintu tadi?”Tanya Leon,  ia berdiri  di depan jendela mempertegas penglihatannya.


“Bukannya  dia tadi ... habis menangis ketakutan, tapi sekarang ....?"


Tidak lama kemudian Iwan juga datang.


Iwan mendekat dengan mimik  wajahnya kaget.


Ia mendekati Jovita dengan  mulut sedikit terbuka dan  badan membungkuk.


“Non Hara …?”


“Eh Kak Iwan”


“Apa semua baik-baik saja?” Tanya Iwan, masih menatap bingung, baru beberapa jam yang lalu gadis muda itu  menangis ketakutan. Tetapi saat ini wajahnya kembali mekar dan ceria melebih indahnya  kuntum- kuntum bunga yang ia pegang.


“Baik, baik Kak, tolong  bikini mahkota dari  bunga-bunga kecil ini dong Kak”


“Ha? tetapi tadi ....?"


“Kak Iwan kenapa sih, Ha,ha mulu”


“Bukan Non Hara, masalahnya tadi  itu … kamu”

__ADS_1


“Oh ,maaf karena membuat kalian cemas”


“Bukan cemas lagi, tetapi sangat panik, lagian kenapa harus melarikan diri sih, Non?”


“Gak Kak, aku tidak melarikan diri,  aku  hanya ingin jalan-jalan di tepi pantai dengan  Bi Atin, kalau tidak percaya telepon Bi Atin,”


“Tapi tadi kenapa bos berpikir kalau kamu …”


“Coba telepon saja," ujar Jovita.


Iwan mengeluarkan ponselnya dan menelepon kedua rekanya dan menelepon Bu Atin, benar saja wanita paruh baya itu menangis ketakutan.


"Jangan menangis lagi Bi, dia ada disini selamat kok, tubuh masih utuh," ucap Iwan bercanda


Setelah menelepon Bu Atin, Iwan akhirnya tahu Leon salah paham, tetapi ia meminta Bu Atin menelepon Leon.



Rikko juga datang.


Padahal  mereka bertiga baru  saja menyusun rencana untuk mengeluarkan Jovita dari istana Leon dengan menumbalkan Toni.


“Apa semua  baik-baik saja, Non Hara?” Rikko mendekat.


“Aku baik- baik saja Kak yang tidak baik itu. Itu noh … Bosmu si Ular Naga”


Mendengar julukan baru pada bos-nya, mereka bertiga tertawa.


Raut wajah Iwan merasa bersalah setelah menelepon Bu Atin, biar bagaimanapun dia yang membawa Jovita tadi.


“Bagaimana Kak, aku benar kan?”


“Iya, bos sepertinya salah paham”


Saat leon masih berdiri melihat mereka


 Bu Atin, akhirnya menelepon dan memberi tahunya kalau Jovita tidak  ada niat kabur.


“Iya Pak, satu dari siang dia di kamar bibi tidur satu harian,  bahkan malamnya dia juga sama bibi ke pantai itu, dia sama bibi juga, hanya Bibi, kembali ke rumah ambil jaket”


“Oh, baiklah Bi, dia bersamaku di sini,” ujar Leon.


Ia kembali duduk di meja kerjanya dan membuka laptop dan meminta anak buahnya yang di  Jakarta untuk memeriksa cctv di sudut rumah.


“Ah sial, sepertinya saya melakukan kesalahan kali ini,” ucap Leon, melihat Jovita lewat pintu belakang menuju kamar Bi Atin.


“Gila ... apa yang harus saya katakan padanya? Leon merasa malu pada Jovita dan pada ketiga anak buahnya.


‘Baiklah  saya bisa mengatasinya, saya Leon Wardana, semua masalah bisa diselesaikan’ ucap Leon dalam hati, ia percaya diri.


Ia menekan nomor Iwan.


“Bawa Jovita menemui saya”


“Baik Bos”


Bos meminta ke ruangan nya, kamu yakin tidak apa-apa Non?”


Ketiga lelaki berwajah tampan itu menatap Jovita dengan  penasaran.


“Tidak apa-apa, santai saja” ucap Jovita dengan ceria, seolah-olah ia punya kartu Joker untuk mengalahkan Leon.


“Apa ada sesuatu  yang baik terjadi?” Toni menatap Jovita dengan sangat cemas.


“Tidak ada Kak, untuk melawan api jangan gunakan api, kita harus menyiramnya dengan air, biar apinya reda dan mati”


Mereka bertiga saling melihat.


“Non, saran aku ... lakukan apapun yang diminta Bos dengan begitulah , kamu tidak tersakiti lagi,” ujar Rikko.

__ADS_1


“Baik Kak.” Hara berjalan mengikuti Iwan menuju ruangan Leon.


 Tok … Tok …!


“Masuk”


“Bos  saya membawa Jovita”


“Baiklah kamu boleh keluar,” ucap Leon. Namun, ia tidak menoleh, ia berdiri di  jendela kaca membelakangi mereka . Leon berdiri   kedua tangannya ia masukkan ke saku celananya, ia terlihat sangat gagah dan berwibawa dengan posisi tubuh seperti itu, apalagi di tambah dengan kemeja berwarna navi yang ia kenakan.


“Duduklah." Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Jovita dengan tatapan yang berbeda.



Kali ini tatapan matanya tidak brigas seperti tadi, saat ia melatih dirinya, pegang senjata.


'Ada apa dengannya, apa dia tersenyum, ah ... sudahlah saya malas' Jovita membatin.


Wanita cantik itu masih memegang kuntum bunga-bunga yang tadi ia petik.


Jovita tidak ingin berdebat ataupun membantah, ia duduk menunggu   ular Naga itu membuka mulut lagi.


“Begini … mari kita bicara  masalah ini”


“Boleh saya bicara duluan Pak Leon?”


Potong Jovita.


“Ya”


“Begini … mari kita perjelas lagi, biar  tidak ada salah paham,  Saya menarik kata-kata suka yang saya ucapkan pada Bapak,” ucap Jovita dengan sopan, bahkan ia bicara formal pada Leon, kalau biasanya ia selalu bicara pakai bahasa informal aku dan kamu. Tetapi kali ini, ia memakai kalimat yang Formal.


“Maksudnya?” Wajah Leon datar.


“Saya membatalkan perasaan suka ke Bapak”


'Kamu pikir pesan ojek online, bisa dibatalkan' Leon membatin.


“Dibatalkan bagaimana maksudnya?” Alis Leon menyengit.


“Begini, Bapak benar, saya terlalu muda dan Bapak terlalu tua untuk saya. Bapak itu cocoknya jadi om saya atau bapak saya”


‘Sialan kamu, saya tidak setua itu’ Leon membatin, merasa kesal.


“Berarti kamu masih gadis kecil yang labil,” ujar Leon.


“Sebenarnya bukan Labil Pak, hanya  saja hati saya mudah jatuh cinta pada orang yang berbuat baik pada saya. Lalu kalau dia berbuat jahat lagi otomatis hati saya tidak suka lagi”


Leon menatapnya  dengan tatapan aneh, raut wajahnya tidak bisa di jabarkan.


“Jadi …”


“Jadi, saya tidak suka dengan bapak lagi, saya mau yang seumuran saya saja”


“Oh, baguslah kalau begitu, berarti kamu tidak akan nangis-nangis lagi  mengemis cinta pada saya?”


“Iya tidak lagi”


Bersambung ..


KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI


DAN AUTHORNYA


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)


__ADS_2