
Beberapa hari kemudiaan Hara belum sadarkan diri, Leon memilih merawat Hara di rumah.
Pagi itu, dua orang perawat yang bertugas merawat Hara, mengganti pakaiannya mengganti infus, setelah selesai berganti pakaian dan tubuh Hara sudah dilap pakai handuk hangat, kedua perawat itu keluar, kini Leon yang memberi pijatan-pijatan ringan di lengannya. Namun, saat Leon menggenggam tangan Hara dan memberi pijatan di jari-jari, seperti yang biasa ia lakukan beberapa hari ini, kali ini sesuatu hal yang terjadi.
Leon terdiam,saat ia merasakan jari tangan Hara bergerak, lalu ia menoleh kearah tangannya , jantungnya berdetak cepat seakan-akan ingin melompat dari rongga dada.
“Apa tanganmu bergerak sayang?” Leon mencium telapak tangan Hara, tetapi tidak ada gerakan lagi.
Sementara di luar kamar itu, kedua bayi kembar itu sedang menangis keras, karena mendapat suntikan imunisasi dari dr Shena.
Saat baby Chelia mendapat suntikan kedua, suara tangisan baby berpipi gembul itu, lebih keras tiba-tiba jari-jari Jovita Hara bergerak lagi.
“Haraa?”
Leon menggenggam kuat, memastikan gerakan jari-jari Hara benar terjadi bukan khayalan, setelah beberapa menit melihat dan merasakan.
Leon memiliki ide gila, ia keluar kamar, lalu meminta kedua suster membawa kedua bayi itu masuk.
“Leon ada apa?” tanya Bu Atin bingung melihat bapak dua anak itu.
“Tadi Hara mengerakkan jari-jarinya, saat mereka berdua menangis,” ucap Leon bersemangat. Lalu ia mengendong baby Chelia.
Sementara kedua bayi kembar yang mengemaskan itu sudah diam dari tangisan mereka, keduanya menangis karena disuntik, Tetapi mata keduanya masih sembab karena baru menangis.
“Nak, kita akan membangunkan ibu,” ujar Leon pada kedua bayinya.
“Nak kemarin juga kamu bilang tangannya bergerak, tetapi kata dokter tidak ada.”
“Tidak Bu, kali ini dia menggerakkan jarinya, aku melihatnya sendiri,” mata mereka melihat Hara, tetapi tidak ada yang percaya, karena bukan pertama kalinya Leon berkata melihat Hara mengerakkan jari-jarinya.
“Sudah Nak, biarkan mereka tidur, berikan pada suster.”
__ADS_1
“Tunggu dulu Bu,” ucap Leon.
Mereka semua diam, merasa kasihan pada Leon, berpikir lelaki bapak dua anak itu depresi karena Hara tidak kunjung bangun sudah beberapa hari .
“Kamu kesini Sus.” Ia memangil suster Okan, meminta baby Okan, lalu ia menarik empeng dari mulutnya baby lelaki berwajah tampan tersebut ia menangis.
Mereka semua saling melihat satu sama lain, menatap Leon dengan tatapan iba.
‘Kamu mempermainkan ku? Tadi tanganmu bergerak Hara’ ia membatin, menatap Hara dengan sedih. Dalam gendongan Leon, Baby Celia, baby berwajah bak boneka hidup itu sedang mengantuk lalu empeng dalam mulutnya terjatuh, awalnya ia menangis kecil merengek seakan-akan meminta tolong pada ayahnya untuk mengambil mainan mulutnya.
Suster itu mengambilnya dan membersihkannya , saat ia ingin memberikan pada baby Celia.
Leon menolaknya, mata mereka semua terlihat kasihan pada baby Chelia yang merengek menangis karena kehilangan mainannya.
Leon terlihat seperti bapak yang kejam, ia menarik empeng baby Okan lagi dan ia menangis melihat kembaranya menangis, Baby Celia menangis lebih mengkelekar.
Suara mereka berdua memenuhi ruangan, kedua dokter itu hanya diam.
“Biarkan saja , kita tunggu,” ujar dr Shena.
Saat Leon yakin Hara akan bangun, keyakinan cintanya memberinya kekuatan dan memberinya kesabaran.
Tidak ada yang lebih besar cinta di dunia ini melebihi cinta seorang ibu pada anak-anaknya , hal itulah yang terjadi pada Hara.
Leon yakin Hara sangat mencintai buah cinta mereka, ia tahu selama mendampingi Hara saat hamil bagaimana ia bicara pada baby kembar itu, bagaimana ia melakukan semua yang terbaik untuk anak-anaknya.
Benar saja ….
Saat kedua kembar itu dibiarkan menangis tersedu-sedu dan sampai sesenggukan. Hara mengerakkan jari-jarinya.
“Leon cukup! kasihan anakmu, suaranya sampai habis karena kamu biarkan menangis seperti itu,” ucap Bu Atin tidak tega melihat sang cucu menangis.
__ADS_1
Mereka berdua seakan di hukum ayah mereka sendiri, Bu Atin mengusap air matanya, ia sungguh tidak tahan melihat mereka dibiarkan menangis sampai kelelahan.
Kedua suster yang sudah menjaga kedua baby kembar merasa sangat kasihan.
Saat Bu Atin ingin mendekat untuk mengambil anak-anak malang itu dari tangan Leon. Dr Billy melarang dengan cara merentangkan tangannya, ia melihat tangan Hara terangkat dengan susah payah, seakan-akan meminta anaknya untuk mendekat.
Melihat tangan Hara, Leon dengan teganya, meletakkan mereka berdua di atas lengan Hara, Chelia diatas dada ibunya, ia menggeliat semakin menangis kencang, dengan suara parau yang hampir habis, pipi tembemnya memerah bagai tomat matang.
Baby Okan terbatuk-batuk, karena terlalu lama menangis, tetapi dengan teganya Leon tidak memberikan apa yang diminta kedua baby malang itu. Kejam itu yang di lihat semua saat itu. Tetapi itulah cara yang ajaib membangunkan Hara, Leon ingin sang istri bangun mendengar tangisan kedua anak mereka.
“Menangislah dengan kuat! jika mencintai ibu kalian, menangis dengan kencang dan bangunkan dia,” ujar Leon membiarkan kedua bayi kembar itu di dekat tubuh ibu mereka.
“Ya Tuhan, kasihan sekali, aku tidak tahan lagi melihatnya, tolong hentikan itu, mereka berdua sudah kelelahan,” ucap Bu Atin memegang dadanya . Ia tidak tega melihat kedua cucunya menangis sampai kehabisan suara, sampai-sampai anak buah Leon ikut penasaran melihat apa yang terjadi. Karena tidak biasanya kedua bayi lucu itu dibiarkan menangis dengan begitu lama.
Ken, Bimo, Toni berlari ke arah pintu kamar Hara. “Apa yang terjadi? kenapa mereka dibiarkan menangis begitu lama?” tanya Bimo pada kedua suster.
“Aku tidak tahan lagi, aku tidak kuat melihat mereka di biarkan menangis begitu,” ucap suster Ana, ia suter merawat Baby Chelia. Ia menutup mulutnya menahan tangisan.
“Mereka berdua di suruh menangis untuk membangunkan ibunya dari koma.”
Mereka semua terdiam melihat keajaiban yang terjadi, tangan Hara bergerak lemah memeluk kedua tubuh bayi malang yang di letakkan di atas tubuhnya, mencoba mengerakkan tangannya sekuat mungkin untuk memegang kedua bayi kembar. Batin seorang ibu, ibu terbangun dari koma saat mendengar kedua bayi itu menangis.
“Hara, sayang! Akhirnya kamu bangun?” Leon memeluk Hara, mata itu masih setengah terbuka, ia terbangun air matanya menangis, walau tidak bicara, merasa sedih, mendengar kedua bayinya menangis . Ajaibnya baby Celia yang tangisan seakan-akan sampai ke langit, tiba-tiba tertidur pulas di dada Ibunya. Ia sangat nyaman tidur diatas tubuh Hara, seolah-olah ia tahu kalau tubuh yang ia peluk saat ini, adalah ibunya, ikatan batin ibu dan anak memang kuat.
Okan masih merengek manja , tangan mungilnya menyentuh wajah Hara, air mata Hara semakin mengalir deras, saat tangan mungil Baby Okan dengan manja menari di wajahnya.
“Dok, Hara bangun,dia membuka matanya,” teriak Bu Atin dengan suara parau.
“Oh, iya ampun syukur Tuhan” Bu Atin semain menangis haru.
“Alhamdulillah.” Kedua perawat itu dengan wajah penuh syukur.
dr Billy dan dokter yang merawat Hara mendekat dan memeriksa Hara, senyum bahagia terukir di wajah ke dua dokter tersebut, mereka ikut senang karena Hara sudah membuka mata. Hara akhirnya bangun karena kekuatan cinta pada anak-anaknya, Cinta ibu sepanjang masa.
__ADS_1
Bersambung ...