Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Saat Hati Istri Tersakiti


__ADS_3

Saat mobil Clara meninggalkan gedung senam,


mereka semua masih diam.


“Apa kalian juga bertengkar?” Tanya Ken, ia melirik Toni, karena selama ini  mereka  tidak ada kabar miring.


Kikan selalu menutupi apa yang terjadi dalam rumah tangganya, ia menyimpan dalam hati rasa sakit yang ia alami. Ibu Kikan sudah meninggal beberapa tahun lalu dan saudara laki-lakinya sudah pulang ke Manado.


Sejak kematian ibunya Kikan merasa semakin depresi, karena ia tidak punya tempat untuk curhat lagi.


Sementara Toni semakin hari semakin berubah, apa lagi sejak Kikan keguguran  beberapa tahun lalu dan  sejak itu ia tidak bisa hamil lagi, sejak saat itu Toni  menekannya,  lelaki tampan itu menyalahkan dirinya karena ia keguguran, ia menyebut Kikan tidak becus mengurus dirinya.


Kikan selalu diam apapun yang di katakan Toni, ia juga merasa bersalah karena kelelahan dari acara teman lamanya  membuatnya ke guguran beberapa tahun lalu, keadaan semakin buruk karena dokter memvonisnya tidak bisa hamil lagi.


Toni seolah-olah menghukumnya sejak saat itu,  suaminya memintanya untuk ikut kelas kesuburan, ikut kelas ini itu, Kikan merasa sangat tertekan atas perlakuan Toni. Toni tidak tahu ia juga merasa sedih karena kehilangan calon bayi dan lebih sedih lagi karena tidak bisa hamil lagi. Bertahun-tahun lamanya Kikan selalu menahan diri dan menuruti apapun yang dikatakan Toni


Tetapi  saat itu ia tidak bisa menahan diri lagi, puncak kemarahannya  Kikan pagi itu, tepat saat di kantor Toni ada  perayaan di kantor.


“Aku boleh ikut Pi?” tanya Kikan bersemangat, ia sudah mempersiapkan pakaian untuk pembukaan restauran baru Toni di surabaya. Restauran yang bekerja sama dengan Zidan.


“Kamu  di rumah saja Clara juga tidak ikut,” ujar Toni ketus.


“Loh … kenapa? Aku hanya mendampingi mu,” ujar Kikan memelas.


“Tidak usah Kikan, aku tidak butuh di dampingi, kamu di rumah saja  cari kegiatan ke salon mempercantik diri biar muka kamu tidak kusam.”


“Tapi aku sudah kurus kok sekarang, papi tidak lihat,” ujar Kika memutar-mutar tubuhnya di hadapan sang suami.


“Segitu bukan kurus Kikan, kamu masih terlihat seperti gajah bunting,” ujar Toni melirik perut sang istri.


“Aku sudah turun timbangannya serius … lihat deh.” Kikan mengangkat timbangan portabel dari dalam kamar.


“Cukup Kikan …. aku ingin berangkat takut terlambat,” ujar Toni.


Kikan langsung terdiam, ia menatap Toni dengan tatapan sedih, kini lelaki  di hadapannya sudah berubah, ia bukan Toni yang baik yang ia kenal dulu. Kini lelaki berkulit putih itu seperti sudah bosan padanya.


“Apa kamu bosan denganku?” lirih Kikan pelan.

__ADS_1


“Kikan hentikan  … kamu sudah berapa kali mengatakan itu padaku, kita  sudah tua , bukan pengantin baru yang harus bicara seperti itu, kalau kamu bertanya bosan  …? Itu sudah pasti apa lagi dengan penampilanmu yang kian hari seperti nenek-nenek,” ujar Toni.


Kikan terdiam,  mendengar ucapan Toni , seolah-olah ada batu besar yang memukul bagian dadanya.


“Aku  hanya berusaha ingin jadi istri dan ibu yang baik Toni, apa itu tidak cukup?”


“Tugas istri bukan hanya di rumah Kikan, cobalah melihat suasana luar, maka itu cari kegiatanmu, ikut kelas kecantikan ikut kelas kebugaran, aku membawamu keluar dengan penampilan kucel seperti itu,” ujar Toni, lelaki  itu ternyata sudah berubah.


“Baiklah,” ujar Kikan pergi ke kamar hatinya sangat sedih.


Saat ini Toni hanya diam, ia mengingat pertengkaran mereka  beberapa bulan lalu.


“Ton ….! Apa kamu mendengar ku.” Ken menepuk bahu Toni yang melamun.


“Iya, kami bertengkar,” ujar Toni.


“Pertengkaran  dalam rumah tangga hal yang biasa, jangan terlalu dipikirkan,” ujar Leon ia ikut duduk di kursi panjang di halaman gedung senam  milik istrinya.


“Tetapi pertengkaran kami kali ini, memaafkannya lagi.


Jika wanita sudah marah semua akan tampak rata,  Rebeka  melihat dunia yang ia jalani saat ini tampak rata, ia  ingin  kencan dengan lelaki yang lebih mudah seperti yang di inginkan Clara.


“Ayo kita … ikuti mereka.” Ken berdiri.


“Kalian pergilah,” ujar Zidan.


“Apa kamu  menyerah?” Toni menatap Zidan.


“Aku akan membiarkan apa yang membuat hatinya bahagia,” lirih Zidan .


Leon menatap Zidan, ia melihat sesuatu yang si sembunyikan Zidan.


‘Apa benar Zidan tidak menginginkan Clara lagi, ada apa dengan para pria ini …? Kenapa mereka menyakiti hati wanita yang telah lama berjuang dengan mereka, kasihan Clara dan Kikan, ternyata tidak ada manusia yang benar-benar setia sampai mati, mereka semua berubah’ Hara membatin sebagai sesama wanita ia  merasa kasihan pada ketiga  wanita itu.


“Hal biasa  Ton, tidak apa-apa  nanti juga mereka luluh,” ujar Ken santai, ia tidak tahu istri juga punya  batas kesabaran dan  kali ini Rebeka tidak akan memaafkannya.


“Kali ini bencana besar dalam rumah tanggaku,” ujar Toni.

__ADS_1


“Mari kita ikuti mereka.” Ken berdiri


.


“Baiklah.” Toni masih punya sedikit rasa perduli pada istrinya.


Tetapi tidak demikian pada Zidan ia memilih  pulang ke rumah dari pada mengikuti istrinya ke bar. Sementara Toni dan Ken mengikuti  istri mereka.


“Aku berharap mereka semua baik-baik saja,” ujar Hara, ia mengikuti Leon menuju mobil.


“Tidak apa-apa semua akan baik -baik saja.” Leon membuka pintu mobil untuk istrinya.


Jika rumah tangga mantan anak buahnya di guncang badai, tetapi tidak untuk Leon, rumah tangga mereka baik-baik saja.


Di sisi lain Clara, Rebeka, Kikan akhirnya tiba di sebuah bar di daerah Jakarta  Selatan, ketiga wanita cantik itu  masuk ke sebuah bar  mewah.


Pertama mereka  bertiga duduk di depan bartender memesan  satu gelas whisky sebagai pemanasan.


“Apa kamu yakin untuk minum?” teriak Rebeka pada Kikan yang  tiba-tiba menatap gelas di depannya.


“Aku akan mencobanya, aku yakin setelah meminum satu gelas ini, aku akan mabuk,” ujar Kikan ia wanita baik-baik yang tidak permah masuk ke dalam bar, tetapi siapa sangka di usianya yang tidak muda lagi ia harus menginjakkan kakinya di tempat hiburan malam seperti itu.


Lain hal dengan Rebeka, dulu sebelum menikah  bar dan klup  malam sudah jadi persinggahan tiap malam, tetapi saat ia ingin lepas dari semua dunia gemerlap itu, ternyata suratan takdir hidupnya memaksanya untuk kembali ke sana, begitu juga dengan Clara ia harus masuk ke tempat gemerlap itu untuk melepaskan beban dalam hatinya.


Mereka bersenang-senang minum  sampai mabuk turun ke lantai dance, Toni dan Ken tidak dapat menemukan mereka, karena Rebeka punya orang dalam yang menyembunyikan keberadaan mereka.


Saat menjelang pagi, mereka bertiga keluar.


“Aku mabuk bangat, aku tidak mungkin pulang seperti ini ke rumah, aku takut Juna melihatku mabuk,” ujar Kikan, walau ia mabuk masih memikirkan tentang putranya, ia tidak mau merusak mental putra  semata wayangnya.


“Aku juga tidak ingin Dimas melihatku mabuk,” ujar Clara memegang kepalanya.


“Kita ke apartemenku saja, beberapa hari ini aku sering ke sana, aku bawa kuncinya.” Rebeka menunjukkan kunci apartemennya dan menuntun mereka masuk ke dalam mobil, ia  yang menyetir mobil dan membawa Kikan dan Clara ke apartemen.


Sementara Toni dan Ken pulang ke rumah, karena tidak menemukan Rebeka dan Kikan.


Saat  ketiga wanita itu marah , apakah ada kesempatan kedua untuk suami-suami mereka? Apa  mereka akan luluh lagi?

__ADS_1


Bersambung....


Bantu like dan vote iya kakak.


__ADS_2